Cinta Dulu, Baru Iman

0
101
views
google.com

Oleh Muthiullah

Ada relasi yang sangat erat antara iman dan cinta dalam Islam. Menegaskan hal ini habib Ali Zainal Abidin al-Jufri mendahulukan cinta kepada sesama sebelum beragama, kemanusiaan dahulu sebelum beragama, Al Insaniyah qobla at tadayyun (2015: 201)

Dalam bagian keempat buku tersebut Habib Ali al-Jufri mencantumkan percakapan singkat antara baginda Nabi SAW dengan seorang laki-laki pada awal diutusnya Nabi Muhammad SAW.
“Siapakah kamu?” lelaki itu bertanya. Baginda Nabi SAW menjawab: “Utusan Allah,” lelaki itu melanjutkan, “Siapa yang mengutusmu?” Nabi menjawab, “Allah,” kemudian, “Apa yang diutuskan padamu?” Nabi pun menjawab, “Untuk menyambung silaturahmi, menjaga -agar tidak adanya- pertumpahan darah, mewujudkan keamanan, menghancurkan berhala dan menyembah hanya pada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya.”

Dalam tanya jawab singkat di atas, risalah yang diberikan Allah pada Nabi-Nya mendahulukan cinta dengan menjalin silaturahmi, memberikan kedamaian dengan jaminan keselamatan jiwa dan barulah di urutan ketiga masuk pada hal yang berkaitan dengan iman, yakni menghancurkan berhala dan hanya menyembah kepada Allah.

Pentingnya iman, aqidah tidak perlu dipertanyakan lagi, tapi mengapa dalam percakapan itu Nabi SAW tidak mendahulukan cinta? Hadis di atas bukan satu-satunya hadis yang memberi pesan mendahulukan cinta sebelum beriman, salah satunya:

والذي نفسي بيده لا تدخلون الجنة حتى تؤمنوا، ولا تؤمنوا حتى تحابوا ألا أدلكم على أمر إذا فعلتموه تحاببتم، أفشوا السلام بينكم

“Demi Dzat yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya, kalian semua tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai, akan aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai, sebarkanlah salam di antara kalian”

Ada tiga poin penting dalam hadis tersebut, pertama, tidak akan masuk surga orang yang tidak beriman, kedua, tidak akan sempurna iman seseorang yang tidak saling mencintai. Dua muqoddimah atau premis ini akan memunculkan natijah (konklusi) orang yang berhak masuk surga adalah orang-orang yang saling mencintai. Dan selain memberikan kabar, hadis tersebut memberikan solusi agar saling mencintai yaitu, sebarkanlah salam di antara kalian.

Ada beberapa poin dalam hadis di atas yang perlu digarisbawahi. Pertama, Nabi Muhammad SAW menggunakan sumpah atau qasam sebagai pembuka sabdanya, mengindikasikan pentingnya kandungan hadis.

Kedua, dalam riwayat ini kalimat la tu’minu menggunakan bentuk nahi atau larangan, sebagian ulama menyatakan bahwa, I’rab jazm pada kalimat negative atau nafi populer digunakan oleh orang Arab, meskipun lebih berlaku untuk menunjukkan makna nahi.
Sebagian lain menyatakan bahwa yang dikehendaki adalah melarang beriman sebelum mencintai, karena ketika kalimat negatif dibentuk dalam pola larangan menunjukkan adanya tekanan lebih dalam kandungan nafinya.

Salam; Kunci Surga

Di akhir hadis, Rasulullah SAW memberikan perintah untuk menyebarkan salam. Imam Ibnu Hajar al Asqolani(w. 852) dalam Fath al Bari mengutip pendapat Ibnu Daqiq al ‘Ied(625-702 H.), mufti dua mazhab; Maliki dan Syafi’i, menerangkan bahwa para ulama berbeda pandangan mengenai pengartian kata salam ini, namun beliau mengungkapkan pendapatnya sendiri bahwa makna salam dapat bervariasi tergantung dari konteks. Bisa berarti nama dari sekian asma’ Allah, bisa bermakna penghormatan, keselamatan atau kedamaian.

Menukil dari pengajian tafsir al Ibriz dari Gus Mus yang viral di media sosial, makna kedamaian lebih cocok dengan arti salam di sini. Maka arti dari afsyu as salam, sebarkanlah kedamaian.
Perpecahan, kebencian, dengki dan semacamnya sangat bertentangan dengan Islam, tanpa jauh-jauh kita mencari, begitu bertebaran ayat atau hadis yang menyampaikan hal ini, baik secara terang-terangan ataupun tersirat. Akhlaq al karimah, cinta, kedamaian merupakan ruh dari ajaran Islam, sebagai kunci dari surga yang dijanjikan Tuhan. Maka bercintalah dalam damai, wahai para pecinta.

Khartoum North, 2 April 2017

Penulis adalah mahasiswa University of Holy Quran and Islamic Sciences  Sudan dan juga anggota LAKPESDAM PCINU Sudan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here