JANGAN PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH!

0
97
views

#ngajiposonan 2 : JENAZAH YANG TERASINGKAN

وﻋﻠﻰ ﻫﺬا ﺣﻜﺎﻳﺔ أن رﺟﻼ ﻣﺎت ﻋﻠﻰ ﻋﻬﺪ ﻣﻮﺳﻰ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺴﻼم ﻓﻜﺮﻩ اﻟﻨﺎس ﻏﺴﻠﻪ ودﻓﻨﻪ ﻟﻔﺴﻘﻪ ﻓﺄﺧﺬوﻩ ﺑﺮﺟﻠﻪ وﻃﺮﺣﻮﻩ ﰱ اﳌﺰﺑﻠﺔ ﻓﺄوﺣﻰ اﷲ ﺗﻌﺎﱃ إﱃ ﻣﻮﺳﻰ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺴﻼم

Ada sebuah cerita yang berkaitan dengan hadis di atas (larangan putus asa) bahwa ada seorang laki-laki fasik yang mati pada zaman Nabi Musa ‘alaihi as-salam. Pada saat itu, orang-orang enggan memandikan dan menguburkan jenazahnya karena kefasikannya. Kemudian mereka memegang kakinya, menyeretnya dan membuangnya di tempat kotoran. Kemudian Allah memberikan wahyu kepada Musa ‘alaihi as-salam :

وﻗﺎل ﻳﺎ ﻣﻮﺳﻰ ﻣﺎت رﺟﻞ ﰱ ﳏﻠﺔ ﻓﻼن ﰱ اﳌﺰﺑﻠﺔ وﻫﻮ وﱄ ﻣﻦ أوﻟﻴﺎﺋﻰ وﱂ ﻳﻐﺘﺴﻠﻮﻩ وﱂ ﻳﻜﻔﻨﻮﻩ وﱂ ﻳﺪﻓﻨﻮﻩ ﻓﺎذﻫﺐ أﻧﺖ ﻓﺎﻏﺴﻠﻪ وﻛﻔﻨﻪ وﺻﻞﻋﻠﻴﻪ وادﻓﻨﻪ

Allah berfirman : “Hai Musa! Ada seorang laki-laki yang telah mati di kampung ini dan dibuang di tempat kotoran ini. Ia adalah salah satu kekasih-Ku. Orang-orang enggan memandikan, mengkafani, dan menguburkan. Pergilah! Mandikanlah ia! Kafanilah ia! Salatilah ia! Dan kuburkanlah ia!” perintah Allah.

ﻓﺠﺎء ﻣﻮﺳﻰ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺴﻼم إﱃ ﺗﻠﻚ اﶈﻠﺔ وﺳﺄﳍﻢ ﻋﻦ اﳌﻴﺖ

Kemudian Musa ‘alaihi as-salam mendatangi kampung tersebut dan bertanya kepada penduduk tentang mayit laki-laki itu.

ﻓﻘﺎﻟﻮا ﻟﻪ ﻣﺎت رﺟﻞ ﰱ ﺻﻔﺔ ﻛﺬا وﻛﺬا وأﻧﻪ ﻛﺎن ﻓﺎﺳﻘﺎ ﻣﻌﻠﻨﺎ ﻓﻘﺎل أﻳﻦ ﻣﻜﺎﻧﻪ ﻓﺈن اﷲ ﺗﻌﺎﱃ أوﺣﻰ إﱄ ﻷﺟﻠﻪ ﻗﺎل ﻓﺄﻋﻠﻤﻮﱏ ﻣﻜﺎﻧﻪ

“Laki-laki itu telah mati dalam keadaan demikian dan demikian. Ia adalah orang fasik dan terlaknati,” kata penduduk. Musa ‘alaihi as-salam bertanya, “Dimana tempat mayitnya? Allah telah memberiku wahyu untuk mengurusnya. Beritahu aku dimana mayit itu berada?”

ﻓﺬﻫﺒﻮا ﻓﻠﻤﺎ رآﻩ ﻣﻮﺳﻰ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺴﻼم ﻣﻄﺮوﺣﺎ ﰱ اﳌﺰﺑﻠﺔ وأﺧﱪﻩ اﻟﻨﺎس ﻋﻠﻰ ﺳﻮء أﻓﻌﺎﻟﻪ ﻧﺎﺟﻰ ﻣﻮﺳﻰ رﺑﻪ ﻓﻘﺎل إﳍﻰ أﻣﺮﺗﲎ ﺑﺪﻓﻨﻪ واﻟﺼﻼة ﻋﻠﻴﻪ وﻗﻮﻣﻪ ﻳﺸﻬﺪون ﻋﻠﻴﻪ ﺷﺮا أﻧﺖ أﻋﻠﻢ ﻣﻨﻬﻢ ﺑﺎﻟﺜﻨﺎء واﻟﺘﻘﺒﻴﺢ

Lalu penduduk memberitahu dan mengantarkan Musa ke tempat mayit laki-laki itu berada. Akhirnya, Musa pergi ke tempat itu. Sesampainya Musa di tempat yang diberitahukan oleh penduduk, ia pun melihat mayit laki-laki itu terbuang di tempat kotoran. Penduduk memberitahu kepada Musa tentang keburukan perbuatan-perbuatan si mayit ketika ia masih hidup. Setelah mereka selesai menjelaskan, Musa bermunajat kepada Allah: “Ya Allah! Engkau memerintahku untuk mengubur dan mensalati mayit laki-laki itu. Sedangkan orang-orang telah memberikan kesaksian keburukan atasnya. Egkau adalah Dzat yang lebih tahu daripada mereka tentang perihal memuji dan merendahkan,” kata Musa.

ﻓﺄوﺣﻰ اﷲ ﺗﻌﺎﱃ إﻟﻴﻪ ﻳﺎ ﻣﻮﺳﻰ ﺻﺪق ﻗﻮﻣﻪ ﻓﻴﻤﺎ ﺣﻜﻮا ﻋﻨﻪ ﻣﻦ ﺳﻮء أﻓﻌﺎﻟﻪ ﻏﲑ أﻧﻪ ﺗﺸﻔﻊ إﱄ ﻋﻨﺪ وﻓﺎﺗﻪ ﺑﺜﻼﺛﺔ ﺷﻴﺎء ﻟﻮ ﺳﺄل ﺎ ﻣﲎ ﲨﻴﻊ اﳌﺬﻧﺒﲔ ﻣﻦ ﺧﻠﻘﻰ ﻷﻋﻄﻴﺘﻪ ﻓﻜﻴﻒ ﻻأرﲪﻪ وﻗﺪ ﺳﺄل ﻧﻔﺴﻪ وأﻧﺎ أرﺣﻢ اﻟﺮاﺣﻴﻤﻦ

Lalu Allah berfirman, “Hai Musa! Benar apa yang telah dikatakan oleh penduduk tentang keburukan perbuatan-perbuatan laki-laki itu, hanya saja laki-laki itu meminta syafaat dari-Ku pada waktu kematiannya dengan merayu-Ku melalui tiga hal yang mana andai seluruh pendosa meminta-Ku dengan rayuan tiga hal tersebut, maka Aku akan memberikannya. Lantas bagaimana bisa Aku tidak mengasihi laki-laki itu? Padahal ia meminta kepada-Ku dengan hatinya. Sedangkan Aku adalah Allah Dzat Yang Maha Paling Mengasihi.”

ﻗﺎل ﻣﻮﺳﻰ ﻳﺎ رب وﻣﺎ اﻟﺜﻼﺛﺔ ﻗﺎل اﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﳌﺎ دﻧﺖ وﻓﺎﺗﻪ ﻗﺎل ﻳﺎ رب أﻧﺖ ﺗﻌﻠﻢ ﻣﲎ اﱏ ﻛﻨﺖ أرﺗﻜﺐ اﳌﻌﺎﺻﻰ وﻛﻨﺖ أﻛﺮﻩ اﳌﻌﺼﻴﺔ ﰱ ﻗﻠﱮ ﻟﻜﻦ اﺟﺘﻤﻊ ﰲ ﺛﻼث ﺧﺼﺎل ﺣﱴ ارﺗﻜﺒﺖ اﳌﻌﺼﻴﺔ ﻣﻊ ﻛﺮاﻫﺔ اﳌﻌﺼﻴﺔ ﰱ ﻗﻠﱮ أوﳍﺎ ﻫﻮى اﻟﻨﻔﺲ واﻟﺮﻓﻴﻖ اﻟﺴﻮء وإﺑﻠﻴﺲ ﻟﻌﻨﺔ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﻫﺬﻩ اﻟﺜﻼﺛﺔ اﻟﻘﺘﲎ ﰱ اﳌﻌﺼﻴﺔ ﻓﺈﻧﻚ ﺗﻌﻠﻢ ﻣﲎ ﻣﺎ أﻗﻮل ﻓﺎﻏﻔﺮ ﱃ

Musa bertanya, “Apa tiga hal tersebut? Ya Allah!
Allah menjelaskan, “(Pertama) Ketika ajal laki-laki itu telah dekat. Ia berkata, ‘Ya Allah! Engkau adalah lebih mengetahui daripadaku. Sesungguhnya aku telah melakukan kemaksiatan dengan keadaan hatiku membenci kemaksiatan tersebut. Akan tetapi, ada tiga hal yang terdapat pada diriku hingga aku berani melakukan kemaksiatan itu dengan kondisi hati yang membencinya. Pertama adalah hawa nafsu. Kedua adalah teman buruk. Ketiga adalah Iblis, Semoga laknat Allah menimpanya. Tiga hal ini telah menjerumuskanku ke dalam lubang kemaksiatan. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang mengetahui apa yang aku ucapkan. Oleh karena itu ampunilah aku!’.

واﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻗﺎل ﻳﺎ رب اﻧﻚ ﺗﻌﻠﻢ ﺑﺄﱏ ارﺗﻜﺒﺖ اﳌﻌﺎﺻﻲ وﻛﺎن ﻣﻘﺎﻣﻰ ﻣﻊ اﻟﻔﺴﻘﺔ وﻟﻜﻦ أﺣﺐ ﺻﺤﺒﺔ اﻟﺼﺎﳊﲔ وزﻫﺪﻫﻢ واﳌﻘﺎم ﻣﻌﻬﻢ ﻛﺎن أﺣﺐ إﱄ ﻣﻦ اﻟﻔﺎﺳﻘﲔ

(Kedua) Ketika ajal laki-laki itu telah dekat, ia berkata, ‘Sesungguhnya Engkau mengetahui kalau aku telah melakukan kemaksiatan-kemaksiatan dimana posisiku saat itu adalah bersama orang-orang fasik. Akan tetapi aku senang berteman dengan orang-orang saleh dan aku menyukai kezuhudan meraka. Posisiku bersama mereka adalah lebih aku sukai daripada bersama orang- orang yang fasik’.

واﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻗﺎل إﳍﻰ إﻧﻚ ﺗﻌﻠﻢ ﻣﲎ ان اﻟﺼﺎﳊﲔ ﻛﺎﻧﻮا أﺣﺐ إﱄ ﻣﻦ اﻟﻔﺎﺳﻘﲔ ﺣﱴ ﻟﻮ اﺳﺘﻘﺒﻠﲎ رﺣﻼن ﺻﺎﱀ وﻃﺎﱀ ﻟﻘﺪﻣﺖ ﺣﺎﺟﺔ اﻟﺼﺎﱀ ﻋﻠﻰ اﻟﻄﺎﱀ

(Ketiga) Ketika ajal laki-laki itu telah dekat, ia berkata, ‘Ya Allah! Sesungguhnya Engkau tahu daripadaku kalau orang-orang saleh adalah lebih aku sukai daripada orang-orang fasik hingga andai ada dua orang, yang satu adalah orang saleh dan yang satunya adalah orang buruk, mendatangiku, maka aku akan mendahulukan memenuhi hajat orang satu yang saleh dan mengakhirkan hajat orang satunya yang buruk.”//(Ridwan)

Referensi : عصفورية ص ٨-٩ دار الكتب الإسلامية

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here