KH. SHOLEH QOSIM, ULAMA KHARISMATIK PEJUANG LASKAR SABILILLAH TUTUP USIA

0
131
views

Pada hari Kamis (10/05) kemarin, Indonesia, khususnya dunia pesantren berduka atas wafatnya KH. Sholeh Qosim, ulama kharismatik asal Sidoarjo, Jawa Timur. Mustasyar PWNU Jawa Timur ini tutup usia di kediamannya, dalam kondisi sujud ketika salat magrib dan masih memegang tasbih.

“Ditunggu hingga lama kok tidak bangun-bangun. Setelah dibangunkan ternyata wajah beliau sudah pucat,” kata Bu Nyai Muttholi’ah, salah satu putri dari KH. Sholeh Qosim.
Nama Kiai Sholeh Qosim sudah tidak asing lagi terdengar di kalangan nahdliyyin. Kiai pengasuh Pondok Pesantren Bahaudin al-Islami, Sidoarjo ini merupakan tokoh yang pernah berjuang di barisan Laskar Sabilillah.

Dalam peringatan HUT TNI ke-72 pada 5 Oktober 2017 lalu, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo meminta Presiden Joko Widodo untuk menyerahkan tumpeng kepada tiga orang yang terpilih. Mereka adalah Paimin (92 tahun), Kiai Sholeh Qosim (88 tahun), dan Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi sebagai perwakilan TNI masa kini.

Presiden Joko Widodo mencium tangan Kiai Qosim pada peringatan HUT TNI ke-72

Pada tahun 1943-1945, banyak diantara santri yang terlibat dalam mempertahankan NKRI, dan pada saat itu hampir di semua Pondok Pesantren membentuk laskar-laskar jihad. Pembentukan laskar jihad ini didahului oleh Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober 1945. Namun laskar ini dibentuk bukan dengan cara yang mudah.
KH. Sholeh Qosim bercerita bahwa pada saat itu KH. Hasyim Asyari sowan kepada KH. Cholil Bangkalan, mengutarakan segala maksud dan tujuan. Oleh Kiai Cholil, Kiai Hasyim disarankan untuk membaca surat Ghafir sebanyak 99 kali selama 41 hari.

Berbekal keluasan dan kematangan ilmu, Kiai Hasyim mengumpulkan seluruh ulama-ulama dari berbagai penjuru nusantara. Dibentuknya kala itu, Laskar Ahlusunah wal Jamaah yang berpedoman pada Alquran, Hadis, Ijmak, dan Qiyas. Pada 21 Oktober 1945 para kiai se-Jawa dan Madura berkumpul di kantor ANO (Ansor Nahdlatul Oelama). Setelah mengadakan rapat sehari semalam, maka pada 22 Oktober 1945 dideklarasikanlah seruan Jihad fi Sabilillah yang belakangan dikenal dengan istilah Resolusi Jihad.

Disinilah cikal bakal munculnya Laskar Hizbullah dan Sabililah. Laskar Hizbullah dibawah komando KH. Hasyim Asyari (spiritual), dan KH. Zainul Arifin (militer), serta Laskar Sabilillah dibawah komando Kiai Masykur.

Kata KH. Sholeh Qosim, masing-masing laskar memiliki tugas yang berbeda-beda. Laskar Hizbullah berisi para pejuang dan santri-santri muda yang turun dalam pertempuran fisik, sedangkan Laskar Sabilillah berisi para ulama yang turut berjuang dalam menyiasati strategi pertempuran. Meskipun tidak semuanya Laskar Sabilillah terjun ke medan perang, namun mereka senantiasa berdiri di belakang Laskar Hizbullah.

Kiai  Qosim yang ketika itu merupakan santri yang dekat dengan ulama, lebih banyak membantu perjuangan Laskar Sabilillah. Beliau mengaku mendapat tugas mencuri persenjataan ke benteng pertahanan Belanda. Namun untuk bisa masuk kedalam markas musuh tentu tidak sembarangan.

Kiai Sholeh Qosim berkata bahwasanya banyak orang yang tidak percaya dengan karomah yang dimiliki para ulama, apalagi di zaman sekarang, banyak diantaranya yang malah cenderung meremehkan ulama. Saat itu, kehebatan para ulama sangat ditakuti para penjajah. KH. Sholeh Qosim sendiri masih ingat ketika beliau diberikan sujen (tusuk sate) yang di tanam di tanah. Beliau baru percaya setelah melakukannya sendiri. “Begitu sujen ditanam, pasukan Belanda didepan saya tidak bisa melihat,” tuturnya.

Tak hanya itu saja, bahkan ada ulama dari Cirebon yang mampu menjatuhkan pesawat Belanda hanya dengan menggunakan jari telunjuk, atau beberapa pasukan dari Laskar Sabilillah yang mampu menghancurkan tank-tank hanya dengan ketapel berisi batu kerikil.
Kiai Qosim memang percaya akan karomah yang sudah dibuktikan sendiri oleh para kiai. Namun Kiai Qosim mengungkapkan bahwa ada kemampuan lain yang lebih penting dari itu, yakni menyusun strategi lahir batin.

“Saat itu kita punya prinsip yang diterapkan pada laskar-laskar muda Hizbullah, yaitu maju hidup merdeka masuk surga, atau mundur dijajah mati masuk neraka” kata Kiai Qasim.
Kiai Qosim mengutip sebuah ayat yang seringkali dijadikan dasar perjuangan para laskar :

قَالَتْ إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَا أَذِلَّةً ۖ وَكَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ
Artinya : “Dia berkata: Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.” (Q.S. AN-Naml : 34)

“Para kiai selalu memandang penjajah kalau masuk negara akan membuat derajat pemimpin direndahkan, dan kalau sudah begitu akhlak rakyat rusak. Maka jalan satu-satunya adalah berperang. Inilah yang membuat semangat para pejuang membara. Mereka jihad untuk mati syahid,” kata Kiai Qosim.

Arti jihad, lanjut Kiai Qosim adalah berperang di jalan Allah. Hanya ridla Allah yang mereka cari. Tapi jangan disamakan dengan jihad para teroris zaman sekarang yang berjihad mencari mati syahid bukan semata demi Allah.

“Para pejuang kala itu murni berjihad demi agama dan negara. Mereka bertempur dengan segenap kekuatan yang mereka miliki. Kehadiran para ulama dalam perjuangan terutama dengan turunnya KH. Masykur dalam pertempuran, menumbuhkan perasaan positif bagi pejuang yang lain. Anggota Laskar Sabilillah saat bertempur di Surabaya berasal dari sejumlah ulama dan pesantren di seluruh wilayah Jawa Timur. Mereka berkumpul dan bertempur di Surabaya bersama di bawah bendera Laskar Sabilillah dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia yang usianya masih terhitung bulan,” kenang Kiai Qosim.

Pemakaman KH. Sholeh Qosim

Kiai Sholeh Qosim meninggal di usianya yang ke-88, dan dimakamkan usai salat Jumat di makam keluarga Ngelom Pesantren, Sidoarjo diiringi ribuan santri dan para peziarah. Tampak hadir di pemakaman Kiai Qosim antara lain mantan Menteri Pendidikan, Muhammad Nuh, Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin, Ketua MUI Jawa Timur, KH. Mutawakkil Alallah dan Wakil Rais Aam PBNU KH. Miftahul Akhyar.

Peran kiai dalam memperjuangkan kemerdekaan sudah tidak bisa diragukan lagi. Kita sebagai generasi penerus sudah seharusnya untuk melanjutkan perjuangan yang telah dirintis oleh para ulama, dan para pejuang lainnya dengan darah, nyawa maupun harta.

Selamat jalan Kiai Sholeh Qosim, semoga semua perjuanganmu dibalas oleh Allah dengan beribu-ribu kebaikan, dan kami semua bisa memperoleh berkah, meneruskan perjuanganmu untuk membela tanah air sampai akhir hayat.//(Opan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here