Warga Nahdliyin Kunjungi Khalawi Tertua Kedua Di Sudan

0
78
views

Khartoum, PCINUSUDAN.COM – Lembaga Pengkajian al-Qur’an Nahdlatul Ulama (LPQNU) Sudan kunjungi khalawi tertua di Sudan pada Jumat (17/01/2020).

Khalawi merupakan tempat kholwah atau semacam pondok pesantren yang menampung para santri, mulai dari anak-anak, remaja, sampai orang tua untuk menghafalkan Al-Qur’an. Tempat-tempat ini banyak dijumpai di daerah yang biasanya berada jauh dari perkotaan.

Salah satu dari beberapa khalawi tertua di Sudan yaitu khalawi Ghubs, sebuah khalawi yang terletak di provinsi Nahr Nil dan dibangun pada abad 10 Hijriah oleh Syekh Quthbul Faqih Abdullah al-Aghbasy. Tercatat sebagai khalawi tertua kedua di Sudan setelah khalawi Dongola yang terletak di daerah Sudan bagian Utara.

Sebagai bukti sejarah atas tuanya khalawi ini yaitu dengan keberadaan museum yang memuat peninggalan-peninggalan zaman terdahulu, seperti peninggalan-peninggalan Al-Mahdi, seorang pejuang kemerdekaan negara Sudan yang juga merupakan santri dari khalawi ini. Maka tak heran, banyak para peziarah yang datang untuk mengunjunginya, begitu juga warga Nahdliyin PCINU Sudan.

Terasa cukup mengesankan ketika berziarah ke tempat ini karena kedatangan kami disambut dengan ramah oleh penduduk desa. Kami juga dipandu untuk melihat-lihat museum dan dijelaskan beberapa situs kuno yang berada di situ. Tak hanya itu, oleh karena penduduk desa mengetahui bahwa orang Indonesia sangat pandai dan suka bersalawat kami juga diminta untuk bersalawat bersama.

Khalawi yang telah berusia sekitar 500 tahun ini sekarang dipimpin oleh Syekh Utsman at-Tijani. Beliau merupakan pemegang tertinggi di khalawi ini, sekaligus sebagai Mursyid Thariqah Tijaniyah di Ghubs, Sudan.

Sistem hafalan al-Quran di tempat ini sama dengan sistem hafalan di Sudan pada umumnya yaitu sistem hafalan lisan juga tulisan. Para santri menuliskan ayat-ayat al-Qur’an yang sudah dihafalnya ke Lauh (Papan persegi panjang dengan tebal kira-kira 1,5 cm) dengan bantuan Khandam (Pena kayu) yang dicelupkan kedalam tinta. Tulisan tersebut kemudian disetorkan kepada Syekh untuk ditashih mulai dari huruf, kaidah imla’, harakat dan tanda baca lainnya yang sesuai dengan mushaf rasm Utsmani. Setelah selesai setoran, papan-papan tersebut dibersihkan lagi dengan direndam air, kemudian digunakan lagi untuk menghafal.

Kegiatan menghafal biasanya dimulai satu jam sebelum waktu Subuh. Kemudian dilanjutkan lagi pada waktu dluha untuk memurajaah (mengulang) dan menulis ayat-ayat yang sudah dihafalkan menggunakan Lauh. Kegiatan tersebut berlanjut hingga malam hari dengan diselingi beberapa jam untuk beristirahat.

Pada malam hari setelah Isya, mereka melakukan muraja’ah hafalan bersama-sama dengan membentuk lingkaran yang mereka sebut dengan istilah Subu’. Mereka berkeliling di halaman masjid dengan berbaris membentuk lingkaran besar dengan satu partner temannya untuk saling menyimak hafalan layaknya seperti Tawaf mengelilingi Ka’bah.

(Maulana)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here