Antara Emansipasi dan Budaya Patriarki

0
92
views
Sumber: freepik.com

Perempuan adalah makhluk Tuhan yang diciptakan dengan segala keistimewaannya. Sifat lembut dan kebesaran hatinya yang membuat ia makhluk penyayang dan kuat. Bagaimana tidak? Di rahim setiap perempuan, Allah tiupkan nyawa dan titipkan janin yang dikandungnya selama kurang lebih 9 bulan, lalu ia harus berjuang untuk melahirkan yang akan mempertaruhkan nyawa. Tidak cukup sampai di situ, ia juga harus merawat dan membesarkan anaknya serta menjadi sekolah pertama bagi putra-putrinya. Maka jelaslah, perempuan sangat istimewa dan perannya pun sangat penting di segala aspek kehidupan.

Perjuangan perempuan sejatinya sudah ada sejak dulu, oleh karena itu sudah seyogyanya untuk menghormati dan memuliakan perempuan, tidak merendahkan dan menghinakannya.

Menyoal perempuan, martabat dan derajatnya erat kaitannya dengan emansipasi karena pada masa lampau hak dan martabat perempuan belum dijunjung tinggi, yang ada hanya budaya patriarki yang dikembangkan.

Emansipasi menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kata “emansipasi” adalah pembebasan dari perbudakan; persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat (seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria). Sedangkan “emansipasi wanita” dalam KBBI adalah proses pelepasan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju. R.A. Kartini sang pionir emansipasi wanita Indonesia pada masa itu berhasil mendobrak belenggu perempuan untuk memperjuangkan hak pendidikan dan martabatnya, karena laki-laki dan perempuan sebenarnya mempunyai potensi yang sama dengan porsi yang berbeda seperti yang disebutkan dalam al-Qur’an:

…وليس الذكر كالأنثى

Artinya: “….dan laki-laki tidak sama dengan perempuan” (Q.S Al-Imran: 36)

Akan tetapi, untuk mencapai derajat tinggi di hadapan Rabbnya, laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama, yang membedakan hanya tingkat keimanan dan ketakwaannya, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيراً وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan Muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Q.S Al-Ahzab: 35)

Pada zaman dahulu (masa jahiliah), di Jazirah Arab masih kental dengan budaya patriarki, kedudukan perempuan sangat direndahkan, bagaimana tidak? Perbudakan dan perdagangan perempuan sudah menjadi suatu kebiasaan orang Arab pada masa itu. Orang-orang sangat mendambakan kelahiran anak laki-laki, karena anak laki-laki pada masa itu dipercaya akan membawa keberuntungan, melindungi keluarganya menjadi panglima perang, menjadi pemimpin, dan seterusnya. Sedangkan anak perempuan? Mereka sangat takut akan melahirkan anak perempuan karena jika ada yang melahirkan anak perempuan, pilihannya ada dua; dibiarkan hidup dengan penuh aib dan kehinaan atau melakukan perbuatan teramat keji dan kejam yaitu ditimbun atau dikubur hidup-hidup di dalam tanah. Kemudian turunlah ayat al-Qur’an tentang pertentangan dan celaan bagi orang yang mengubur hidup-hidup bayi perempuan:

وَإِذَا ٱلۡمَوۡءُۥدَةُ سُىِٕلَتۡ

Artinya: “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya” (Q.S At-Takwir: 8)

Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup karena takut tercela mempunyai anak perempuan dan takut jatuh miskin (ditanya) untuk menjelek-jelekkan pelakunya (Tafsir Jalalain).

بِأَیِّ ذَنۢبࣲ قُتِلَتۡ

Artinya: “karena dosa apa dia dibunuh?” (Q.S At-Takwir: 9)

Karena dosa apakah dia dibunuh? Dibaca qutilat karena mengisahkan suatu dialog, jawab bayi-bayi perempuan itu; kami dibunuh tanpa dosa. (Tafsir Jalalain)

Padahal jika mereka mau berpikir lebih maju saja, justru dengan mereka mengubur hidup-hidup anak perempuan, mereka tidak akan mungkin bisa menambah keturunan dan generasi jika tanpa adanya perempuan. Sebagaimana firman Allah SWT:

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَـٰكُم مِّن ذَكَرࣲ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَـٰكُمۡ شُعُوبࣰا وَقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوۤا۟ۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِیمٌ خَبِیر

Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (Q.S Al-Hujurat: 13)

Zaman Jahiliah ini adalah ketika masa fatrah yaitu masa kosong atau terputus, artinya waktu kosong antara dua Rasul yaitu masa setelah Nabi Isa alaihissalam dan sebelum Nabi Muhammad SAW diutus. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an:

یَـٰۤأَهۡلَ ٱلۡكِتَـٰبِ قَدۡ جَاۤءَكُمۡ رَسُولُنَا یُبَیِّنُ لَكُمۡ عَلَىٰ فَتۡرَةࣲ مِّنَ ٱلرُّسُلِ أَن تَقُولُوا۟ مَا جَاۤءَنَا مِنۢ بَشِیرࣲ وَلَا نَذِیرࣲۖ فَقَدۡ جَاۤءَكُم بَشِیرࣱ وَنَذِیرࣱۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَیۡءࣲ قَدِیر

Artinya: “Wahai Ahli Kitab! Sungguh, Rasul Kami telah datang kepadamu, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan, “Tidak ada yang datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.” Sungguh, telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Surat Al-Ma’idah: 19)

Setelah masa fatrah itu, kemudian diutuslah Nabi Muhammad SAW, nabi terakhir, penutup, dan pembawa risalah Islam yang telah merubah kehidupan pada masa Jahiliah menjadi masa kejayaan dan keemasan. Pada masa itulah, perempuan mulai diangkat lagi martabat dan derajatnya dengan syariat Islam. perempuan juga sangat dijaga dan dimuliakan sebagaimana yang kita tahu ada dua perempuan mulia, berjasa, dan bermartabat yang menemani, membantu, dan mendukung penuh dakwah Nabi Muhammad SAW, siapa lagi kalau bukan Ibunda Khadijah dan Ibunda Aisyah radliyallahu anhuma, keduanya adalah istri Rasul, Ummahatul Mukminin (Ibunya para orang beriman).

Ibunda Khadijah adalah sosok perempuan yang bijaksana, lembut, sabar, kuat, tangguh, penyabar, penyayang, dan saudagar kaya pada masa itu. Beliau yang telah menginfakkan seluruh hartanya demi keberlangsungan dan keberhasilan dakwah Nabi SAW dalam menyebarkan risalah agama Islam. Jiwa dan raganya pun seluruhnya telah ia perjuangkan dan dedikasikan untuk dakwah dan tabligh ar-risalah (menyampaikan risalah).

Kemudian Ibunda Aisyah juga tak kalah juang dengan Ibunda Khadijah, beliau pun mengikuti jejak sang istri pertama Nabi Muhammad SAW untuk membantu, menemani, dan mendukung penuh dakwah Nabi SAW. Semangat dan daya juang yang tinggi membuat ia menjadi perempuan hebat, tangguh, kuat, dan cerdas, bahkan selepas Nabi SAW wafat, ia dijadikan referensi dan sumber pengambilan ilmu serta pendapat dalam mengambil suatu hukum. Mengapa demikian? Karena beliau salah satu perempuan yang paling banyak meriwayatkan hadis Nabi SAW, beliau juga belajar dan diajari langsung oleh Nabi SAW. Jadi, sudah tidak diragukan lagi kualitas keilmuan dan kecerdasannya meskipun beliau pada waktu itu masih di usia yang sangat muda. Akan tetapi, hal itu tidak membuat semangatnya goyah dan luntur.

Sungguh, apabila perempuan masa kini menjadikan beliau sebagai suri tauladan dan mencontohnya, maka akan lahir kembali sosok-sosok ulama perempuan yang memiliki semangat juang tinggi dan hebat.

Untuk saya, kamu, kami dan kita semua perempuan, kita bisa jika kita mau, kita mampu jika kita ingin. Sebagaimana manqul dari pepatah Arab

من جد وجد

“Barang siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan mendapatkan”

Penulis: Nurul Fadhilah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here