Lockdown Jangan #dirumahaja

0
145
views
Illustrasi Lockdown
gambar hanya illustrasi lockdown

Kebijakan lockdown yang berlaku di tengah masyarakat berbagai belahan dunia, sebagai langkah yang diambil dalam menanggapi kasus pandemi Covid-19 yang menghebohkan dengan gerakan penyebarannya yang semakin hari semakin menunjukkan angka yang mengkhawatirkan, menjadi kebijakan yang menimbulkan cemas sekaligus pro-kontra dari berbagai pihak. Pasalnya, virus yang muncul di Wuhan, China pada akhir bulan Desember 2019 ini yang diperkirakan berdiameter hanya 125 nanometer atau setara dengan 0,125 mikrometer, akan tetapi memiliki efek dahsyat yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan, pneumonia akut, dan yang paling parah; kematian.

Dengan penyebaran yang teramat pesat ke lebih dari 100 negara bagian hanya dalam kurun waktu 2 bulan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis status pandemi Corona pada tanggal 11 Maret 2020. Adapun opsi lockdown sendiri menjadi alternatif yang dipilih oleh beberapa negara terdampak Corona seperti China, Italia, Polandia, Spanyol, Belanda, Denmark hingga negara Perancis yang baru-baru ini memberlakukannya pada 16 Maret 2020.

Sebagaimana pengertian lockdown menurut kamus Merriam Webster yang berarti mengurung warga atau sebagian warga untuk sementara demi menjaga keamanan.  Lockdown juga diartikan sebagai tindakan darurat di mana orang-orang dicegah untuk meninggalkan atau tidak memasuki suatu kawasan untuk sementara waktu demi menghindari bahaya.

Dengan ulasan tersebut, maka kebijakan lockdown yang ditetapkan oleh Pemerintah di berbagai negara merupakan salah satu alternatif jitu yang mungkin dilakukan untuk mencegah penyebaran virus Corona yang semakin parah. Akhir-akhir ini ajakan lockdown memiliki berbagai julukan unik yang trending di sosial media Indonesia, salah satunya adalah tagar #dirumahaja.

Tentunya kebijakan #dirumahaja ini memiliki efek yang tidak sedikit bagi kehidupan manusia. Ajakan #dirumahaja bagi sebagian orang dapat menjadi suatu beban karena kebijakan ini secara otomatis memangkas waktunya dalam bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Adapun bagi kalangan pelajar, #dirumahaja menjadi halangan dalam menuntut ilmu dan pembatasan ruang gerak dalam belajar yang lebih besar dari sebelumnya.

Baca Juga: Etika di Era Milenial

Diluar pro-kontra yang ada, fakta menyedihkan harus kita terima bahwa penyebaran virus Corona memang semakin memakan banyak korban jiwa dan berbagai negara, termasuk negeri kita Indonesia, yang memiliki fasilitas kesehatan minim, harus bekerja keras dalam menangani kasus pasien terdampak Corona. Sebagian staf medis pun harus mengorbankan nyawa ditengah masa tugas mereka menangani para pasien terdampak.

By the way, dalam kemirisan yang tumpang-tindih yang sedang terjadi di sekitar, sejujurnya masih ada kemirisan yang muncul dengan ditetapkannya kebijakan #dirumahaja. Yaitu orang-orang yang bingung melakukan kegiatan apa di rumah hingga menghabiskan masa-masa lockdown hanya untuk rebahan, makan-tidur-makan lagi-tidur lagi, sampai seterusnya. Bangun untuk tidur lagi, tidur untuk nanti makan lagi. Kaum rebahan bertambah jumlahnya bersamaan dengan grafik korban virus Corona yang ada di sekitar. Menggelikan.

Untuk itu, kebijakan lockdown tidak cukup hanya membuat kita #dirumahaja, sebab hanya dengan #dirumahaja maka tingkat produktivitas kita tidak akan berjalan maksimal. Penulis pribadi tidak setuju jika kita sebagai masyarakat hanya menghabiskan masa-masa lockdown hanya #dirumahaja. Please, jangan habiskan masa lockdown dengan #dirumahaja!. Jika kita bisa melakukan lebih dari mematuhi kebijakan #dirumahaja mengapa tidak melakukannya? Lantas jika demikian, apakah kita harus membuat gerakan ‘nakal’ yang menyelisihi kebijakan sekitar untuk melegalkan gerakan lockdown jangan #dirumahaja?.

Bukan, bukan itu maksudnya. ‘Lockdown Jangan #dirumahaja’ merupakan suatu gagasan bahwa tidak cukup mengisi lockdown hanya sekedar #dirumahaja. Lockdown #dirumahaja harus diiringi dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat yang dapat meningkatkan kualitas diri, lebih-lebih membawa kebaikan bagi orang lain.

Kalau kita lihat kilas balik sejarah, nyatanya kebijakan #dirumahaja yang ditetapkan di masa kita ini tidak apa-apanya dengan tokoh-tokoh besar zaman dahulu yang juga dibatasi ruang gerak dan pengaruhnya. Namun hebatnya tetap bisa menghasilkan kontribusi di tengah keterbatasannya. Keterbatasan ruang gerak tidak menjadikan mereka membatasi produktivitas untuk menghasilkan suatu karya, padahal dengan zaman yang berbeda, tentu kemajuan teknologi di zaman mereka terlampau jauh tertinggal dengan kemajuan teknologi  yang kita rasakan sekarang.

Kita mengenal karya fenomenal Buya Hamka; tafsir Al-Azhar yang rampung justru ketika beliau ditahan di jeruji besi pada tahun 1964. Kita mengenal bagaimana kumpulan surat RA. Kartini yang teramat menginspirasi; ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ justru hadir di tengah masa pingitannya yang mengekang RA. Kartini untuk bergerak bebas. Atau kita tahu Bung Karno menyusun pledoi bertajuk “Indonesia Menggugat” yang memantik semangat rakyat untuk melawan penjajah justru pada saat beliau di penjara pada tahun 1929. Bung Hatta senada dengan Bung Karno menulis karya ‘Indonesia Vrij’ sebagai pembelaan dirinya yang disidang di Den Haag, Belanda pada 22 Maret 1928.

Dengan fakta-fakta mengagumkan itu, kita tahu bahwa lockdown yang dalam pandangan kita sebagai pembatasan diri untuk menjadi produktif salah besar. Hal itu terbukti dengan banyaknya tokoh-tokoh besar zaman dahulu yang membuktikan bahwa keterbatasan tak membuat mereka berhenti bergerak dalam berkarya. Justru sebaliknya, tantangan-tantangan yang ada menjadikan lecutan semangat mereka untuk berkarya dan berkontribusi besar untuk orang banyak.

Rekam tinta emas semakin membuat kita yakin, bahwa menghabiskan masa lockdown dengan #dirumahaja tidaklah cukup. Butuh inovasi yang produktif untuk mengisi kegiatan selama #dirumahaja. Nyatanya dengan semakin mudahnya teknologi zaman sekarang, semakin memudahkan kita untuk mencari kegiatan produktif selama lockdown berjalan. Misalkan membaca, mencoba resep-resep baru, memperbaiki sudut-sudut rumah yang rusak, menonton video-video inspiratif, hingga menciptakan penemuan-penemuan baru yang kreatif. Apakah mungkin? Tentu saja. Tidak ada yang tidak mungkin. Jadi sayang sekali jika lockdown hanya sebatas berdiam diri #dirumahaja tanpa kegiatan yang berarti. Yuk … bersama jadikan lockdown jangan sekedar #dirumahaja. Lebih dari itu, mari isi menjadi sarana untuk tetap berkarya dan produktif selama kebijakan lockdown masih berjalan.

Dan dengan wabah Corona yang masih beredar di berbagai belahan bumi, jangan lupa jaga iman dan kesehatan, patuhi kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan di sekitar, dan jangan lupa untuk senantiasa menghubungi keluarga serta sanak-kerabat untuk bertukar doa dan kabar. Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari hal-hal buruk yang tidak pernah kita inginkan. Aamiin.

Sumber:
https://www.sehatq.com
https://tirto.id
https://m.detik.com
“Produktivitas Tokoh-Tokoh Besar Pada Kondisi yang Terbatas” karya Muhammad Yusuf.

Penulis: Bulan Cahaya (nama pena)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here