Etika di Era Milenial

0
307
views
Gambar: nu.or.id
Gambar: nu.or.id

Etika merupakan kebiasaan seseorang dalam pergaulan. Ia dapat dirumuskan sebagai suatu batasan yang mampu menilai salah benar suatu tindakan serta baik buruknya. Dalam perkembangannya, etika sangat mempengaruhi kehidupan manusia dalam bertindak dan bersikap. Hal yang perlu kita pahami bersama bahwa “etika” mampu diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan.

Dilihat dari segi sifatnya, etika bersifat relatif, yakni dapat berubah-ubah sesuai tuntutan zaman. Hal ini menjadikannya sebagai sebuah pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan untuk dikatakan baik atau sebaliknya. Oleh karena itu, manusia bisa dihargai dan dihormati oleh orang lain.

Etika islam mengajarkan manusia serta menuntunnya menuju pada tingkah laku yang baik. Islam sendiri menetapkan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai sumber moral serta standar baik buruknya perbuatan seseorang. Sebagaimana telah digambarkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ (الأحزاب: 21)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan bagimu…” (QS. Al-Ahzab: 21)

Di era kemajuan IPTEK seperti sekarang, atau lebih sering kita sebut dengan era milenial, akhlak serta moral seseorang sangat mudah terpengaruh oleh keadaan dan lingkungan sosial. Era ini memiliki karakter yang sangat unik. Salah satu ciri utamanya adalah kemajuan aspek komunikasi, media, dan eknologi digital.

Era ini merupakan era dimana teknologi masuk dalam berbagai aspek kehidupan. Bukti nyata akan hal itu ialah penggunaan gadgetoleh kebanyakan kalangan remaja dalam beraktifitas. Namun, ada hal yang disayangkan, mereka belum begitu mampu untuk membedakan aktifitas yang bersifat positif dan aktifitas yang negatif. Inilah yang menjadikan keluhan orang tua bahkan masyarakat secara umum pada akhir-akhir ini. Melihat dari permasalahan yang terjadi, maka sudah seharusnya perlu dilakukan upaya-upaya yang dapat menggugah remaja masa kini untuk menjaga etika, akhlak, dan moralitas.

Baca Juga: Lockdown Jangan #dirumahaja

Seorang muslim seharusnya menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai pedoman dan standar normatif akhlak. Akhlak yang luhur serta mulia merupakan perkara yang ditekankan oleh Islam. Ia mendorong umatnya untuk berhias dengan akhlak yang mulia terhadap Allah Swt. Rasulullah, dan hamba-Nya. Sebagaimana telah dianjurkan Allah Swt. dalam firman-Nya:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيَّبَة   (النحل: 97)

“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik…” (QS. An-Nahl: 97)

Ketahanan moral remaja sangat diperlukan. Remaja dengan moral yang rapuh akan mudah terombang-ambing oleh lingkungan sosialnya, seperti media komunikasi dan pergaulan. Sebaliknya, remaja dengan ketahanan moral yang kuat tidak akan mudah terpengaruh oleh lingkungan sosialnya. Ia akan pandai memilah informasi yang didapatkan juga memiliki pendirian yang kuat mengenai nilai-nilai kebenaran dan kebaikan.

Salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk menjaga perilaku masyarakat milenial adalah dengan pendidikan. Ki Hajar Dewantara menghimbau kepada penerus bangsa: “Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak dapat dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak.”

Pendidikan memiliki implikasi dominan dalam menunjukkan eksistensi bangsa melalui pendidikan karakter dan moral. Aktualisasi pendidikan berbudaya dalam membangun generasi yang cerdas secara pemikiran dan berbudi dalam moral. Maka dari itu, pendidikan termasuk langkah strategis untuk memajukan peradaban bangsa yang memiliki moral yang luhur.

Untuk mengukur keberhasilan pendidikan karakter adalah dengan melihat sejauh mana tindakan dan perbuatan seseorang dapat bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعَهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٍ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً . . . رواه الطبراني

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, sedangkan amal yang paling dicintai oleh Allah adalah kebahagiaan yang engkau berikan kepada seorang muslim atau menghilangkan kesulitannya” (H.R Ath-Thabrani).

Dari penjabaran yang ada, dapat kita simpulkan bahwa salah satu yang bisa mengatasi berbagai persoalan yang terjadi adalah penguatan karakter melalui pendidikan, karakter yang sesuai dengan nilai-nilai yang dibawa oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. Hal itu bertujuan untuk menjaga etika di era milenial.

Penulis: Rojwa Ula (Muslimat NU Sudan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here