Santuy for Life

0
75
views
Gambar: manaberita.com

“Udah bro … hidup itu santuy. Nggak perlu dibawa serius. Dibuat ngalir aja kayak air. Intinya santuy …”

Sering nggak sih denger ungkapan kayak gitu? Hidup sukses jika santuy. Hidup santuy tapi sukses. Semakin kesini, fenomena santuy jadi fenomena yang digandrungi oleh orang-orang masa kini. Apalagi sama generasi muda millenial yang yaa … mau nggak mau harus terima bahwa ada beban di pundak sebagai penerus bangsa dan dunia di masa depan. Dengan maraknya fenomena santuy, seolah-olah menunjukkan bahwa cara ‘paling bener’ dan ‘paling bahagia’ menjalani hidup di dunia ini salah satunya adalah dengan cara: santuy.

Kata santuy sendiri sebenarnya merupakan kata tren yang dipelesetkan dari kata baku ‘santai’ yang menurut KBBI bermakna “bebas dari rasa ketegangan, dalam keadaan bebas atau senggang.”. Sebagai kata yang menjadi tren di Indonesia akhir-akhir ini, santuy melebarkan sayap eksistensinya ke berbagai kalangan mulai dari paruh baya, remaja, sampai anak-anak. Menakjubkan sekali! Santuy merupakan satu kata yang dapat memiliki efek pengaruh dahsyat untuk sekitar.

Menindak lanjuti kata santuy yang semakin populer, muncul juga istilah ‘kaum rebahan’ sebagai implementasi dari gaya hidup santuy yang dianut sebagian orang. Menurut kompasiana.com dalam salah satu artikel tentang fenomena santuy disebutkan, bahwa kata santuy ampuh mempengaruhi aktivitas atau kegiatan masyarakat hingga membuat mereka lebih memilih hidup santai dan tidak peduli sekitar serta ngerinya mampu memicu efek negatif yang lainnya.

Lantas apakah benar santuy berefek besar untuk kehidupan seseorang?

Di masa lockdown yang memangkas aktivitas ini, tentunya santuy menjadi salah satu lifestyle yang mewarnai rebahan-rebahan kita di rumah. Main game online, scroll instagram artis sampai ngepo-in instagram mantan yang baru nikah kemarin, nonton streaming acara gosip, dan lain sebagainya. “Ya mau gimana lagi, gue santuy juga karena takdir …” seloroh para santuyers ketika ditanya kenapa santuy jadi pilihan.

Tapi miris sekali rasanya, jika santuy dijadikan sebagai pondasi seseorang untuk menjalani kehidupan. Apa-apa dibuat santuy. Dimana-mana selalu santuy. Jadi apa aja tetap santuy. Rasanya hidup itu gitu-gitu aja. Karena penyikapannya pun sama: santuy. Ketika orang diluar sana berbondong-bondong galang bantuan, orang santuy ada di kamar, asyik dengan dunianya. Ketika orang-orang diluar sana, panas-dingin menggali apa bakatnya supaya bisa bermanfaat, orang santuy masih saja berpegang pada teori ‘Hidup-hidup gue. Suka-suka gue’. Lebih bagus lagi kalau aktivitasnya membawa manfaat untuk dirinya. Kalau yang dilakukan justru membawa efek buruk untuk dirinya, untuk apa? Bermanfaat untuk orang lain nggak. Merugikan diri sendiri iya.

Untuk itu mengapa santuy itu boleh. Asal sesuai porsi. Untuk itu kenapa rebahan itu boleh. Asal nggak berlebih. Sebab dalam usia kita, terutama jika kita anak muda, ada hal-hal yang perlu kita lakukan untuk sekeliling. Bayangin ya bagaimana keren dan menakjubkanya usia muda, ketika anak kecil sering bertanya kapan dia tumbuh jadi pemuda dan orangtua menyesal andai dia bisa kembali muda. Nah, bagi yang masih muda, jangan sampai masa-masa yang ‘akan berakhir’ ini dilewati dengan hal-hal yang nggak berarti. Ada kontribusi dari kita yang ditunggu penduduk bumi. Ada produktivitas yang menjadi hal penting untuk menjadi prinsip kita menjalani hari-hari. Dan juga ada karya-karya -entah kecil atau besar- yang dinanti orang lain.

Ungkapan yang mengatakan “jalani aja hidup dengan santuy kayak air mengalir” sepatutnya perlu dipertanyakan. Pernah nggak melihat air mengalir? Kemana sebenarnya arah air mengalir itu? Keatas atau kebawah? Bukankah air mengalir itu mengalir “ke bawah”? Apa mau hidup kita standarnya kebawah terus? Nggak pernah naik. Nggak pernah meningkat dari hari ke hari. Nggak mau pastinya. Lantas jika begitu, apa yang mampu membuat air mengalir bisa naik keatas? Tentu butuh pipa-pipa yang dipompa sekuat tenaga, butuh dobrakan, butuh gerakan baru untuk membuat air mengalir kebawah bisa naik keatas! Butuh perubahan nyata dari arus air yang lazimnya selalu mengalir kebawah. Butuh hal yang baru yang menantang zona nyaman! Butuh gebrakan dari hidup yang selama ini biasa-biasa saja!

Memilih mengubah hidup dari rebahan jadi menciptakan perubahan atau dari santuy jadi hidup produktif semampunya, bukan berarti melulu kita harus menciptakan satu artikel per harinya, rutin mengisi ceramah di media sosial, turun ke jalan bantu relawan, dan contoh gerakan-gerakan besar lain di sekitar. Mengganti apa topik yang kita cari di media sosial dari yang biasanya hanya stalker dan scroll timeline menjadi lihat tutorial resep sederhana untuk dipraktekkin atau cara sederhana mendekorasi rumah biar lebih enak di tinggali selama lockdown juga salah satu hal kecil yang bisa dilakukan. Memangkas jam tidur yang kelebihan porsi dan mulai kepoin berita-berita update di internet juga menjadi alternatif lain bagi yang mau produktif melalui cara yang kecil.

Jadi kalau emak masih mergokin kita yang rebahan sambil bilang, “Kerjaannya hp-an mulu!”. Nah, kita bisa menjelaskan bahwa rebahan kita kali ini sudah berevolusi. Yang dulunya main game sampai lupa daratan jadi nyimak kajian keilmuan online di aplikasi Whatsapp. Yang dulunya sering ngehabisin waktu buat video tik-tok sekarang ngehabisin waktu buat podcast faedah atau video booster yang memotivasi. Yang dulunya sibuk meniru atau nge-cover suara artis sekarang mulai belajar nge-cover suara Imam Masjidil Haram yang sedang baca ayat suci. Karena semua produktivitas tidak selalu menciptakan hal nyata. Misalkan ketika kita membaca buku, kita tak akan memperoleh efek riil sebagaimana kita memutuskan menyuci baju atau memasak. Tapi dengan membaca buku, pada hakikatnya kita sedang berusaha produktif dengan mengambil wawasan baru dalam buku tersebut. Walaupun efeknya nggak bisa dilihat mata, setidaknya membekas di hati dan akal untuk ber-progress lebih baik kedepannya.

Intinya santuy for life itu boleh. Asal nggak kelebihan porsi. Rebahan itu boleh. Asal jangan mengklaim diri sebagai kaum rebahan untuk ‘melegalkan’ kemalasan kita yang sudah overdosis. Berubah itu perjuangan. Tapi tak selalu harus langsung menciptakan perubahan besar. Mari berbenah dari hal kecil. Mari produktif dengan cara unik. Mari isi masa muda dengan kebermanfaatan –minimal untuk diri sendiri- Lebih bagus lagi kalau bisa menular ke orang lain. Allah SWT berfirman “Demi Masa …” maka bukankah jika demikian waktu itu sangat berharga? Yuk mulai ubah waktu rebahan jadi perubahan. Mari ubah santuy jadi manfaat semampumu!

Salam Perubahan!

Penulis: Bulan Cahaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here