Lockdown? Harus Ngapain?

0
227
views
Gambar: ayobekasi.net

Dunia sedang siaga. Alarm dibunyikan dimana-mana, mengingat semakin meluasnya virus korona atau yang biasa dikenal dengan Covid-19. Sejak dikabarkan muncul pada akhir Desember lalu, virus ini telah menginfeksi lebih dari 2.800.000 orang di 200 negara di dunia. Segala tindakan preventif dilakukan demi mengantisipasi terjadinya penyebaran yang nantinya berdampak fatal. Mulai dari memasang alat disinfektan di mana-mana, penyebaran video sosialisasi, pembagian masker, sampai PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan lockdown.

Berbicara tentang lockdown, setiap daerah memiliki mekanisme yang berbeda-beda dalam menerapkan kebijakan lockdown. Pengambilan tindakan dari tiap-tiap negara tergantung pada level keparahan kasus epidemi. Semakin tinggi level epedemi di suatu negara, maka makin tinggi pula upaya kerja keras dari pemerintah utuk menanggulanginya. Seperti di Wuhan, misalnya. Kota kecil berpenduduk 11 juta tersebut menutup semua akses transportasi massal baik darat, laut, maupun udara. Lockdown dilakukan secara bertahap, hingga benar-benar membatasi mobilitas warga. Mereka yang ingin belanja kebutuhan-pun sudah dibantu oleh volunteer yang siap membantu kapan saja. Berbeda halnya di Italia, warga masih boleh berkeliaran keluar rumah untuk berbelanja kebutuhan, asal dengan syarat tidak berkumpul di tempat umum. Berbeda lagi dengan Belgia yang dibatasi waktu belanja hanya selama 30 menit saja. Sementara Spanyol dan Libanon menutup semua kantor dan unit usaha, kecuali yang memberikan pelayanan penting.

Di wilayah Sudan sendiri, pemberlakuan lockdown total dimulai sejak Sabtu (18/4), dan rencananya akan diberlakukan sampai tiga minggu ke depan. Pasalnya, kasus positif terus melonjak. Sampai tulisan ini diturunkan, sudah ada 237 orang yang positif terinfeksi Covid-19. Masih belum diketahui secara pasti, apakah ke-237 orang ini benar-benar terinfeksi Covid-19, mengingat tenaga dan peralatan medis di Sudan yang masih sangat terbatas dan apakah hanya 237 saja yang terinfeksi, sementara rapid test belum dilakukan secara merata. Bagaimanapun yang terjadi, kita harus tetap waspada dan berhati-hati dengan mengunci diri untuk sementara waktu di dalam rumah. Keinginan untuk jalan-jalan dan nongkrong harus di tahan dulu, paling tidak sampai suasana kembali kondusif.

Bagi saya pribadi, lockdown total bukanlah sebuah ancaman, apalagi hanya selama tiga minggu. Karena pada waktu sebelumnya, saya pernah melakukan -kerja rodi- di sebuah ‘perusahaan’ yang mewajibkan karyawannya berada di dalam perusahaan selama 24 jam penuh. Itu-pun, semuanya adalah warga asing. Meski hanya bertahan selama dua bulan, setidaknya saya sudah mengalami fase penderitaan yang cukup serius. Nah, pemberlakuan lockdown total ini pasti membuat banyak diantara kalian yang sangat bosan dan jenuh. Berikut sudah saya rangkumkan, 15 aktivitas produktif yang bisa dilakukan di rumah ketika lockdown!

1. Membaca dan menulis

Bagi sebagian orang, membaca dan menulis merupakan hal yang sepantasnya dilakukan ketika lockdown. Namun sebagian (besar) yang lain, menganggap bahwa kegiatan ini teramat sangat membosankan. Apalagi yang tidak terbiasa, kegiatan membaca dan menulis akan terasa sama halnya dengan obat penenang. Lama kelamaan menyebabkan bosan, serangan ngantuk, impotensi berfikir, gangguan kesadaran dan tidur. Padahal, disaat suasana seperti ini buku dapat menemani kita melewati kebosanan. Tanpa harus ribet, dengan membaca buku kita bisa jalan-jalan, berkeliling dunia, maupun berimajinasi dengan menyelami kata demi kata di setiap tulisan.

Bila sudah terlalu overheat dalam membaca, kita bisa beralih dengan menulis. Kedua kegiatan ini memang tidak bisa dipisahkan, alias saling melengkapi satu sama lain. Suka nulis tapi tidak suka baca, sama saja seperti barista tak suka kopi. Membaca adalah nutrisi tambahan agar kualitas menulis semakin meningkat, (dan) suasana menyepi dalam rumah inilah, barangkali jadi waktu yang tepat untuk mulai lebih giat menulis. Bebas! Apa saja. Menulis catatan pribadi, artikel, cerpen, laporan, atau surat cinta. Ha? Surat cinta? Belajar menulis kok dari surat cinta! Jangan salah, salah satu tokoh sastrawan besar Indonesia, Ahmad Tohari, belajar menulis dan mengawali karirnya, dari surat cinta. Atau kalian mau meniru Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Pramoedya, Buya Hamka, yang masih terus menulis, meski mendekam di dalam penjara?

“Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas”. (Buya Hamka)

2. Memasak

Aktifitas selanjutnya yang tak kalah menarik, adalah memasak. Memasak merupakan salah satu kegiatan “berseni” yang membutuhkan kekuatan berfikir, analisa, dan indra perasa. Pada kasus-kasus tertentu, memasak menjadi alternatif tersendiri bagi beberapa orang untuk mengobati stres. Mulai dari memilih barang yang akan dimasak, memperhatikan tingkat kesegaran, memotong dengan kaidah pemotongan yang tepat, menjalankan rukun-rukun komposisi secara berurutan, memasak di suhu yang pas, kolaborasi rempah-rempah yang seimbang, sampai dengan penyajian yang menarik, kesemuanya merupakan bagian dari ilmu gastronomi yang mampu menciptakan suasana kebahagiaan.

Di tengah pandemi yang sedang melanda ini, memasak memang jadi salah satu pengobatan alternatif yang efektif untuk mengobati stres. Coba saja, masak dan rasakan sensasinya. Jangan bingung memasak apa, karena banyak sekali menu-menu pilihan, seperti sweet steamed underground cassava (gethuk), racing rice cake (lontong balap), Claw with Fireworks (ceker mercon), cabbage carrot and broccoli with chicken gravy (sop), vegetables floor fried (bakwan), half baked eye cow (ndog ceplok), back show, but a gore, of war I am, buck me, dan masih banyak lagi. Semuanya dapat menjadi menu spesial yang lezat untuk disantap bersama keluarga. Stres hilang, perut kenyang! Hm, nya-mi.

3. Membuat konten kreatif

Teknologi makin hari makin canggih. Berawal dari telepon gelas, handy talky, telepon selular, esia hidayah, sampai merambah hingga ke internet berkecepatan 5G. Tiap hari makin canggih! Kita dapat berekspresi dengan bebas, kapanpun di manapun. Bagi sobat yang sedang LDR (Long Distance Rela-diboonginship), menghubungi kekasih yang jauh di sana bukanlah hal yang sulit lagi. Tiba-tiba kangen rumah, langsung saja video call dengan keluarga. Ingin jalan-jalan ke luar negeri (tapi buat makan aja susah), tinggal beli paket internet dan nonton Youtube sepuasnya. Selamat datang di zaman serba bisa.

Oleh sebab itu, yang seyogianya dilakukan ketika masa pandemi ini masih mengintai adalah dengan membuat konten-konten kreatif. Lepas dari persoalan mutu dan kualitas, proses melakukan dan lahirnya karya merupakan konsentrasi utama yang harus direalisasikan. Sudah banyak sekali aplikasi pendukung untuk membantu kita berkarya. Kalau (merasa) kekurangan ide atau kesulitan menjalankan aplikasi, Syekh Yousuf sudah siap membantu kapan saja.

Kita bisa memulai semuanya dari hal yang sederhana. Bisa saja, lho; Berawal dari iseng, lama-lama jadi hobi. Sobat-sobat yang suka berdakwah, mulai-lah dengan merekam diri sendiri (atau orang lain), mengeditnya, dan kemudian unggah ke media sosial. Bagi sobat yang suka kekonyolan, buat video hiburan yang bisa dinikmati banyak orang. Banyak dari teman-teman PCINU Sudan yang sudah memiliki akun Youtube. Tanpa ragu, mereka menuangkan kreatifitasnya dengan mengedit dan mengunggahnya ke media sosial. Kalian bisa tonton dan subret mereka di kanal Youtube : pcinusudan, asbaq film, semut ijo, santri kutorejo, marifatdzaki, al misky, nurul fadhilah, ARA channel, bukan studio channel, falah aziz, basyarelqolam channel, dan masih banyak lagi kanal-kanal lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

4. Olahraga

Hal positif berikutnya yang tak kalah seru, adalah berolahraga. “Memang bisa olahraga di rumah?” Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang (hanya) diucapkan oleh mereka yang lebih memilih tidur bermimpi ketemu Galgadot daripada harus mengisi waktu luang mereka dengan berolahraga.

Bagaimanapun juga, masa-masa pandemi seperti ini adalah masa dimana aktivitas yang biasa dilakukan : ditiadakan. Asupan energi dan kalori akan selalu masuk, namun belum tentu terbakar dengan baik, sehingga menimbulkan lemak-lemak jahat yang mampu merusak fungsi organ-organ tubuh secara perlahan. Oleh karenanya, olahraga menjadi hal yang -tak hanya bisa-, namun wajib dilakukan selama lockdown. Banyak sekali olahraga yang dapat dimainkan, seperti sepakbola, voli, bulu tangkis, senam, lempar lembing, tinju, membanting teman dan lain-lain. Jika masih keberatan, bisa dengan olahraga lainnya. Seperti lari (60 k/1 km), lompat tali (375 k/30 menit) push-up, pull-up, squat (13 k/1 menit). Jika masih keberatan, mungkin coba kombinasikan dengan kegiatan rumah, seperti menyapu, mencuci, mengangkat galon, atau beres-beres.

5. Diskusi

Aktivitas berikutnya yang tak kalah asyik dan bermanfaat adalah diskusi. Baik secara langsung bersama teman-teman di rumah, ataupun secara online dengan menggunakan aplikasi pendukung seperti instagram, facebook, periscope, whatsapp, zoom, dan masih banyak lagi.

Mulai dengan membuat jadwal, memilih tema, dan mendiskusikan secara santai. Kegiatan diskusi akan melatih seseorang untuk berbicara, berpikir kritis, dan menemukan solusi. Ingat, yang didiskusikan adalah tema-tema yang aktual dan menarik untuk dibahas, bukan malah ngobrolin orang. Itu bukan diskusi, tapi nggosip. Heu~

6. Memelihara hewan

Selanjutnya, memelihara hewan atau menggembala menjadi opsi lain untuk melengkapi aktivitas harian selama pandemi. Memiliki hewan peliharaan di rumah akan memenuhi kebutuhan afeksi, terutama bagi mereka yang jomblo dan suka berhalusinasi, sehingga dapat mengurangi efek yang fatal akibat kesepian.

Selain dapat menghilangkan rasa jenuh, memelihara hewan dapat melatih kita untuk memiliki rasa tanggung jawab dan disiplin penuh. Mulai dari membelikan makan, mengurus, menjaganya, sampai memahami betul apa yang diinginkan hewan tersebut. Jangan salah, dengan memelihara atau menggembala hewan ternak, akan melatih seseorang untuk menghadapi problematika di tengah masyarakat. Sebagaimana dikatakan oleh Syekh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari, bahwasanya hikmah di balik para Nabi menggembala adalah agar terbiasa mengatur hewan-hewan ternak miliknya, dengan begitu Nabi akan terbiasa pula menangani problematika umat manusia. Disebutkan pula, bahwa dengan menggembala, akan melatih kesabaran, karena ketika hewan terpisah dari rombongan yang banyak, ada yang taat ada pula yang membangkang, begitu juga dengan manusia, maka dengan bekal kemampuan itu, Nabi akan terbiasa dalam mengatur orang-orang yang memiliki watak atau tabiat yang berbeda.

Tidak harus dengan menggembala hewan ternak, sobat gabut bisa memelihara hewan semampu dan seadanya, seperti singa, gajah, kuda, lumba-lumba, kelinci, ayam, kucing, burung, laler atau semut jahannam. Barangkali dengan menyayangi mereka sepenuh hati, tak hanya mengobati stres akibat lockdown, tapi juga jadi perantara Rahmat Allah di Hari Akhir.

“Barang siapa menyayangi meskipun terhadap hewan sembelihan, niscaya Allah akan merahmatinya kelak pada hari kiamat.” (HR. Bukhari)

7. Bercocok tanam

Layaknya zaman mesolitikum, bercocok tanam sepertinya sangat cocok menemani kita dalam melewati masa lockdown. Menyibukkan diri dengan bercocok tanam, akan membuat pikiran menjadi segar. Bisa dengan menanam bawang, buah-buahan, sayuran atau tanaman hias. Mula-mula menanam, menyirami, mengawinkan, hingga tumbuh besar menjadi bagian dari keluarga, seperti Malika.

Tak sekedar menghibur saja, namun dengan bercocok tanam diharapkan bisa mengingatkan kita akan kepedulian terhadap alam. Sekembali ke Indonesia, akan banyak sekali yang pandai mengaji, pandai menata masyarakat, pandai berinteraksi dengan manusia, namun tidak bisa berinteraksi baik dengan alam. Indonesia masih kekurangan pahlawan-pahlawan yang peduli terhadap alam dan lingkungan.

Sekedar contoh, ada Bang Idin (Jakarta) yang telah membersihkan sampah, dan menanam 40.000 pohon di sepanjang Kali Pesanggrahan, Pak Slamet (Lombok) yang telah membelah bukit sejauh 9 kilometer untuk membuat kanal ke arah sungai, Mbah Sadiman (Wonogiri) yang dengan segala upaya, menghijaukan 800 hektar hutan gundul. Mereka bekerja bertahun-tahun tanpa bantuan orang lain! Mulanya dianggap sebagai orang gila, namun akhirnya ribuan penduduk desa berterimakasih pada mereka, karena mendapatkan banyak manfaat dari apa yang telah mereka lakukan. Mereka sadar, bahwa alam perlu dijaga; dengan begitu, ekosistem jadi stabil, kebersihan lingkungan terjaga, dan akan berdampak baik bagi banyak makhluk.

Maka dari itu, momen lockdown ini (barangkali) bisa jadi kesempatan emas untuk belajar menanamkan rasa cinta pada alam, dengan mulai bercocok tanam, karena cepat atau lambat, suatu hari nanti kita semua juga akan ditanam.

“Jangan cari aku, jika aku pergi ke hutan dan lama tak kembali. Aku tak tersesat, tapi menemukan diri.” (Sam Haidy)

8. Bisnis

Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Begitulah hidup ini. Meskipun kadar bahagia tidak bisa diukur dengan uang, namun nyatanya dengan uang, dapat membuat kita bahagia. Makan, minum, tidur, sewa rumah, listrik, air, bahkan pipis ke wc umum butuh uang. Nah, uang tidak bisa jatuh begitu saja, seperti peristiwa hujan uang di Bekasi (29 Juni 2016), Kuningan (28 Februari 2018), dan Serang (1 Juni 2008). Hujan uang memang nyata pernah terjadi, tetapi apakah kita akan bersantai-santai menjadi pengangguran, dan menunggu sampai ada hujan uang? Tentu saja tidak, Bung. Ingat, anda bukan Rafatar.

Untuk menghasilkan banyak uang, kita harus bekerja dan berusaha, dan usaha itu harus pula disertai dengan ide, inovasi, kreativitas, dan perjuangan yang tidak mudah. Revolusi industri di zaman sekarang, terus meningkat dan telah sampai pada era percepatan. Teknologi menjadi salah satu senjata utama dalam strategi perdagangan. Seperti yang dikatakan oleh Johan Sudanta, salah satu tokoh pengusaha sukses e-commerce di Salatiga. Jika ingin jadi pebisnis yang sukses, mau gak mau, kita harus tahu internet, kita harus tau rumus-rumus marketing, kita harus pelajari semuanya, kalau gak, kita akan ketinggalan jauh bersama dengan sistem tradisional yang tergerus zaman. “Bisnis boleh sama, tapi sepurane wae lur, keuntungan kita berbeda.” Begitu katanya. Hanya dengan membuka bisnis pemandian kucing, ia mampu meraup keuntungan bersih hingga 100 juta per-bulan. Apalagi dengan sistem autopilot, ia hanya duduk manis di dalam rumah, mengatur karyawan, dan rekening menggemuk dengan sendirinya. Selamat belajar dan mencoba hal-hal baru di rumah…

9. Bermain dan mengasah keterampilan bermain game

Bermain game memang sering dikonotasikan negatif oleh beberapa kalangan, karena dianggap hanya membuang-buang waktu dengan permainan yang jelas-jelas bersifat fantasi. Namun nyatanya, banyak sekali dampak positif yang ditimbulkan ketika bermain game, bila dilakukan dengan benar.

Sebagaimana kata Tobias Justin, atau yang biasa dikenal dengan Jess No Limit, ”Game itu kayak pisau, bisa bunuh atau kasih makan orang.” Dia mengatakan bahwa di satu sisi memang kecanduan game membuat lupa aja saja, namun disisi lain, ia bisa berdampak baik untuk menyegarkan otak. Jadi sebagaimana pisau, semua urusan dikembalikan pada masing-masing gamers.

Lagipula, game sudah menjadi e-sport yang diakui dunia. Ribuan atlit saling bersaing untuk jadi posisi terbaik. Bahkan, tak sedikit orang yang menjadikan game sebagai pekerjaan utamanya, karena penghasilan yang didapatkan sungguh fantastis. Jadi, tidak ada salahnya ketika lockdown di rumah, game menjadi salah satu media untuk belajar dan menghibur diri agar tidak cepat konslet. Siapa tahu, nanti akan lahir atlit-atlit e-sport yang berasal dari alumni Sudan, mwehe. Tetapi perlu diingat, bahwa di tengah asyiknya bermain game, kita juga tidak boleh melupakan hal-hal penting lainnya, seperi Salat, belajar dan membayar hutang. Heu~

10. Bermusik

Musik memainkan peran yang penting dalam segala aspek kehidupan. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, kita tidak bisa lepas dari musik. Wajar saja, karena musik dapat mempengaruhi suasana hati dan pikiran sesuai dengan ritme dan nada yang didengarkan.

Di tengah pandemi, beberapa musisi tanah air tak mau ketinggalan mengabadikan kejadian ini kedalam lagunya, diantaranya Rhoma Irama (Virus Corona), Didi Kempot (Ora Bisa Mulih, Tamba Teka Lara Lunga), Oswald Piga (Dunia Berduka), Bimbo (Corona), Sabyan (Al-Wabaa’), Alvi Ananta (Covid-19), Sule (Corona Melanda), Andra Respati (Musibah Negeri), dan lain-lain. Tak hanya sebagai pelipur lara, musik juga dijadikan oleh banyak kalangan untuk menggali dukungan memberantas Covid-19, diantaranya Najwa Shihab, yang sukses menyelenggarakan konser musik #dirumahaja bersama 35 musisi tanah air papan atas, dan berhasil mengumpulkan uang sebanyak 10 M, Kompas TV; juga melakukan konser musik dengan menggaet Didi Kempot, mampu mengumpulkan dana sebesar 7,6 M, konser musik Rhoma Irama, berhasil kumpulkan donasi sebesar 771 juta, dan masih banyak lagi.

Hal ini membuktikan bahwa musik tak hanya soal instrumen, lagu, nada, maupun melodi. Lebih dari itu, musik adalah bagian dari peradaban, yang terus lestari turun temurun dari zaman ke zaman, karena mampu mewakili perasaan, menerjemahkan rasa, menumbuhkan solidaritas, memupuk persaudaraan, menggerakkan pikiran, menggetarkan hati, menumpahkan ekspresi, dan meredam kegelisahan.

Nah, ketika sedang lockdown begini, bermusik menjadi salah satu pilihan yang tepat. Kesempatan semedi di rumah ini, bisa kalian gunakan untuk belajar mengarang, memainkan, mengaransemen, atau mengomposisikan lagu. Dengan begitu, perlahan kalian akan terlatih untuk menjadi seorang komposer atau musisi handal, yang tak hanya bisa mendengar, akan tetapi mampu mengolahnya menjadi sebuah mahakarya yang bisa dinikmati banyak orang.

“Musik dapat mengubah dunia, karena musik dapat mengubah seseorang.” (Bono Vox)

11. Nonton film

Tanpa harus merekomendasikan nonton film, sepertinya kalian semua sudah melakukan hal ini di rumah masing-masing. Memang, suasana liburan seperti ini enaknya digunakan untuk nonton film. Mulai dari genre yang memeras otak, membuat jantungan, menggelitik , sampai menguras air mata. Semua dapat diakses dengan mudah, dan ditonton bersama teman-teman.

Selain menghilangkan kejenuhan, dengan sering menonton film, dapat mendatangkan manfaat yang lain, diantaranya mendapatkan informasi baru, mengasah ketrampilan analisa, memberikan inspirasi, memotivasi, dan meningkatkan kemampuan berbahasa asing.

Jangan lupa, untuk merekam banyak kejadian dan hal-hal baru ketika nonton film, kombinasikan dengan imajinasi yang kalian miliki dan tulis menjadi beberapa naskah. Setelah itu bisa dikirimkan kepada Asbaq Film, agar bisa direalisasikan menjadi film sungguhan, mwehe

12. Bermain dengan teman

Lockdown total di Khartoum ini mengingatkan kita pada diputusnya akses internet secara total pada tahun lalu. Ternyata, dengan diputusnya internet, membuat keakraban keluarga menjadi sangat terasa. Semua gara-gara gadget : mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.

Meskipun akses internet tetap berjalan seperti biasa, namun dengan penerapan lockdown ini semoga mampu merekatkan hubungan kekeluargaan. Tinggalkan HP sejenak, dan mulai bermain dengan teman. Tidak usah bingung, kita bisa mulai dengan bermain petak umpet, panco, masak-masakan, memancing emosi, dan lain-lain.

Jangan sampai kita melewatkan momen berharga ini, supaya kelak ketika sudah berpisah dan berkeluarga, kita bisa ceritakan hal yang bahagia ini ke anak cucu.

13. Memancing gairah berseni

Berbicara mengenai suatu karya, tentu tak bisa lepas dari ide. Ide merupakan sesuatu yang mahal dan berharga. Selihai apapun pelukis menggerakkan kuasnya, ketika tidak menemukan ide untuk ditumpahkan, maka kanvas akan tetap polos tak bergambar. Sehebat apapun Syahiduddin di dunia desain grafis, tanpa menemukan ide, maka karya-pun tak bisa dihasilkan, apalagi ketika hanya dibayar dengan syukron. Eh.

Para seniman menghasilkan karya yang sangat indah dan bisa dinikmati banyak orang, berawal dari ide yang diterlintas dalam fikirannya. Proses mendapatkan ide itu pun bermacam-macam. Ada yang dengan cara menyendiri di kamar mandi, berinteraksi dengan alam, mendengarkan musik, mimpi, dan lain-lain.

Dikesempatan yang sangat ‘berbahagia’ ini, alangkah baiknya kita bisa memancing gairah berseni, menemukan ide, dan mulai membuat karya. Bisa dengan melukis, menggambar, menari, atau membuat kerajinan tangan. Memancing gairah berseni memang tak semudah memancing emosi, akan tetapi dengan kesungguhan niat untuk memulainya, inspirasi akan saling berdatangan dengan sendirinya. Apalagi di tengah kondisi yang super berantakan sekarang ini, dengan aktivitas berseni, kegalauan hati akan dengan mudah teratasi. Seperti yang dilakukan oleh Ho Chi Minh, yang menghibur dirinya dengan membuat puisi selama mendekam di dalam penjara.

Bagi tahanan, tidak ada alkohol dan bunga

Tetapi, malam sangatlah indah

Lantas bagaimana kami bisa merayakannya?

Saya pergi ke lubang udara dan menatap bulan

Dan melalui lubang udara, bulan tersenyum pada penyair.

(The Prison Diary of Ho Chi Minh)

14. Mengatur konsep dan menyiapkan masa depan

Sebagaimana niat awal dari rumah, bahwasanya tujuan utama merantau adalah mencari bekal ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya. Ada yang sudah punya rencana matang, ada pula yang hanya sekedar mengikuti arus kehidupan dan zona nyaman. Apalagi dengan kondisi Sudan yang tidak tahu kapan pulih kembali, membuat hidup jadi semakin mengambang. Belum selesai satu masalah, datang lagi masalah berikutnya.

Barangkali ketika lockdown inilah, jadi kesempatan emas untuk berfikir lebih matang, tentang perjalanan ke depan, dan juga rencana-rencana tak terduga lainnya yang dapat membuat perubahan drastis pada hidup kita. Bisa dengan merenung, mencari inspirasi, atau berkonsultasi dengan orang-orang yang sudah berpengalaman.

Awali dengan menata niat kembali, lakukan defragmentasi, susun dan rangkai menjadi pola yang tak hanya menjadi rencana belaka, akan tetapi diwujudkan jadi kenyataan. Terus optimis, berinovasi, dan mencari tantangan; karena zona nyaman tidak akan memberi perubahan. Seperti kata Fred DeVito : “Sesuatu yang tidak menantangmu, tidak akan mengubahmu.”

15. Merawat diri

Opsi terakhir dari 15 pilihan aktivitas produktif yang bisa dilakukan di rumah, adalah merawat diri. Self care ditengah pandemi seperti ini dirasa sangat cocok untuk memperbaiki penampilan. Karena kulit yang jarang terkena make up, polusi debu, sinar matahari, akan lebih terhindar dari keriput, hiperpigmentasi, dan juga peradangan kulit lainnya. Maka jangan kaget, ketika lama tidak berjumpa dengan teman kamu yang hitam, dekil, buluk, kusam, berminyak, bau dan kacau, tiba-tiba berpenampilan menjadi putih, bersih, berkilau, wangi dan mempesona. Mungkin ia rajin merawat diri setiap hari dengan mandi kembang dan rutin mengenakan masker wajah.

Berbeda dengan kaum pria yang ‘seadanya’, kaum wanita lebih peduli terhadap kualitas kulit mereka. Mereka berusaha mempertahankan kualitas kulit agar tetap glowing, meling dan kenyal seperti agar-agar, dengan mengenakan skin care, pelembab, cream pagi siang malam, lotion, obat nyamuk dan lain sebagainya.

Namun self care tak melulu soal skin care. Terkadang pembatasan sosial #dirumahaja membuat beberapa orang mengabaikan kesehatan kulit. Terutama bagi orang yang nolep. Seperti jarang mandi, tidur tidak teratur, makan sembarangan, tidak membersihkan tempat tidur, dan lain-lain. Hal ini dalam jangka panjang akan membuat kulit tidak sehat, dan berujung pada timbulnya jerawat, bisul, panu, gudik, dan lain-lain.

Blaik! Bagaimana? 15 Aktivitas produktif yang dapat membantu sobat semua menghadapi kebosanan yang nyata di tengah pencila’an-nya Covid-19. Praktikkan saja semua, agar hidup makin menyala-nyala! Amarga Urip iku Urup. Meskipun diam di rumah, libur kuliah, badan lelah, mau ngapa-ngapain wegah, tidak boleh menyurutkan niat kita untuk tetap produktif, bermanfaat bagi diri sendiri dan juga orang lain.

Penulis: Rodo Suloyo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here