Apakah Perang Cina-AS Akan Terjadi ?

0
130
views
Sumber: Forbes.com

Sebuah argumen dari salah satu dosen Harvard University – Graham T Allison. Dalam sebuah konferensi organisasi Technology, Entertainment, and Design dimana organisasi tersebut adalah organisasi non profit yang mengumpulkan para tokoh inspiratif dari berbagai bidang di Amerika untuk tampil dan memberikan presentasi tentang suatu hal. Dalam konferensi tersebut Graham T Allison berkesempatan untuk menceritakan sebuah cerita internasional terbesar dalam kehidupan sekaligus tatanan internasional yang sangat penting yang tampaknya mesti dihadapi oleh dunia. Cerita ini mengenai kebangkitan Cina. Belum pernah ada begitu banyak orang yang mengalami perkembangan kemajuan sejauh ini dengan sangat cepat di berbagai dimensi yang berbeda. Tantangannya adalah dampak dari bangkitnya Cina. Kekhawatiran ini akan berpengaruh terhadap Amerika Serikat dan tatanan Internasional dimana AS merupakan arsitek dan pemeran utama.

Seratus  tahun terakhir oleh sejarawan, yang saat ini menyebutnya “Abad Amerika”.
Warga Amerika sudah terbiasa dengan posisinya di bagian atas pada setiap peringkat  kekuasaan. Maka cita-cita sebenarnya dari negara lain agar bisa sebesar dan sekuat AS atau malah lebih besar lagi mengusik warga Amerika sebagai peringatan supaya mereka sadar. Sebagai acuan apa yang sekarang tampak dalam persaingan ini perlu untuk kita lihat dalam peta sejarah yang lebih besar. Lima ratus tahun terakhir terdapat 16 kasus dimana kekuatan baru ingin menggantikan yang sedang berkuasa. Dua belas diantaranya berakhir dengan perang. Tepat di bulan November kita semua akan rehat demi mengenang 100 tahun peringatan hari terakhir perang yang meletus dimana-mana hingga mengharuskan sejarawan membuat kategori terbaru yaitu Perang Dunia. Nah, pada jam 11 di hari ke-11 bulan ke-11 tahun 1918, senjata perang dunia I berhenti, namun 20 juta orang tewas. Kita semua pasti tahu tentang kebangkitan Cina. Oleh karena itu, kita fokus pada dampak kebangkitan Cina terhadap AS dan tatanan internasional, kemudian tentang kemungkinan perang serta perdamaian. Kita menelisik 42 tahun lalu yaitu tahun 1978, Cina memulai perjalanannya. Disaat itu 90% dari 1 milyar rakyat Cina bisa bertahan hidup dengan uang tidak lebih dari dua dollar dalam sehari. Sembilan dari setiap sepuluh orang mengantongi kurang dari dua dollar dalam sehari.

Tahun 2014 hingga 2018 yaitu tepat 40 tahun kemudian dan hingga saat ini bagaimana angkanya, berapa kira-kira? Perhatikan gambar ini:

Sumber : start up town

Kurang dari 1% tingkat kemiskinan Cina menurun drastis. Presiden Cina sudah bertekad dalam kurun waktu tiga tahun kemudian puluhan juta sisa penduduk Cina yang miskin akan ditingkatkan taraf hidupnya diatas angka 90%. Seperti itulah keajaiban dalam hidup kita. Sangat sulit dipercaya, tetapi kenyataan yang terjadi bahkan lebih sulit untuk dipungkiri. Sebuah negara yang bahkan tidak terdaftar dalam kompetisi internasional 25 tahun lalu telah meningkat pesat untuk menyaingi dari berbagai bidang bahkan melampaui Amerika Serikat. Maka inilah tantangan yang akan menentukan dunia: kebangkitan Cina yang sepertinya Sulit dibendung dan bergerak semakin cepat mendekati negara adikuasa (Amerika serikat) ke arah yang bisa jadi bentrokan termegah dalam sejarah. Agar membantu kita untuk memikirkan tantangan ini, kita melihat catatan sejarah tentang seorang pemikir hebat yang menyampaikan ide luar biasa yaitu Thucydides.

Dia adalah bapak dan seorang penemu sejarah. Dia seorang penulis buku sejarah pertama yang berjudul “The History of the Pheloponnesian War” tentang perang di Yunani yaitu 2500 tahun yang lalu. Perang yang menghancurkan Yunani kuno ini, dibuatkan tulisan yang terkenal oleh Thucydides yaitu “bangkitnya Athena yang berakibat kepanikan di Sparta menyebabkan perang tak terhindarkan”, sebuah kebangkitan di salah satu pihak dan reaksi nya oleh pihak lain meracik koktail beracun rasa bangga, arogansi, paranoia yang meracuni kedua kubu untuk berperang. Thucydides menginspirasi saya dalam ide yang sangat luar biasa yaitu Jebakan Thucydides. Jebakan Thucydides adalah istilah yang saya buat tahun lalu untuk memperjelas wawasan Thucydides. Jebakan Thucydides adalah dinamika berbahaya yang terjadi. Saat kekuatan baru mengancam ingin menggantikan yang sedang berkuasa seperti Athena atau Jerman 100 tahun silam atau seperti Cina saat ini dan dampaknya terhadap Sparta atau Britania Raya lalu, atau Amerika Serikat kini. Seperti kata Henry Kissinger saat memikirkan hal ini, ingatlah terhadap konsep Jebakan Thucydides yang memberikan lensa pada kita untuk membantu mengamati suatu berita dan kebisingan saat ini agar memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Pertanyaan masuk akal tentang dunia kita saat ini adalah: akankah kita mengikuti jejak sejarah? atau bisakah kita menggunakan kombinasi imajinasi dan akal sehat serta keberanian menemukan cara untuk mengendalikan persaingan ini tanpa perang yang tidak kita inginkan dan semuanya tau ini semua akan mengakibatkan malapetaka besar? Mari kita uraikan.

Jika kita lihat dari piramida terbalik kemiskinan, Cina memang sudah meningkat pesat cepat sekali. Mantan presiden Ceko yaitu Haclav Havel, saya pikir sudah sangat jelas dalam mengatakan,“semuanya terjadi dengan sangat cepat untuk mengingatkan pada hal yang menbuat kita terkejut lagi adalah jembatan yang menyebrangi sungai Charles antara Kennedy School dan Harvard Business School”.

Di tahun 2012 negara bagian Massachusetts mengatakan akan merenovasi jembatan ini, dan butuh waktu dua tahun. Tahun 2014, mereka bilang belum selesai. Di tahun 2015, kata mereka masih satu tahun lagi. Di tahun 2016, katanya belum juga selesai, kami tidak akan menyampaikan lagi kapan selesainya. Akhirnya tahun lalu selesai dengan tiga kali lipat total anggaran. Nah, bandingkan dengan jembatan serupa yang saya lintasi dengan mobil bulan lalu di Beijing, namanya jembatan Sanyuan. Tahun 2015, Cina memutuskan untuk merenovasi jembatan tersebut. Jalur lalu lintasnya dua kali lipat lebih banyak. Berapa lama mereka selesaikan proyek ini? Jawabannya adalah 43 jam saja. Tentunya itu tidak bisa terjadi di New York. Di balik kecepatan pengerjaan proyek ini ada pemimpin dengan motivasi tujuan dan pemerintah yang bekerja. Pemimpin paling ambisius dan kompeten di panggung internasional sekarang ini adalah presiden Cina, Xi Jinping. Dia selalu terbuka tentang apa yang diinginkannya seperti kata beliau saat menjadi presiden enam tahun lalu, tujuannya yaitu membuat Cina lebih besar lagi. Satu slogan yang sudah digunakannya sejak lama sebelum Donald Trump. Xi Jinping telah mengumumkan target khusus bagi Cina sesuai rencananya untuk tahun 2025, 2035, 2049. Di tahun 2025 Cina ingin menjadi kekuatan utama pada mayoritas pasar di 10 teknologi unggulan termasuk mobil tanpa sopir, robot, artificial intelligence (kecerdasan buatan), dan komputasi kuantum. Di tahun 2035 Cina ingin menjadi pemimpin inovasi di semua teknologi maju. Hingga di tahun 2049, di saat peringatan ke 100 berdirinya republik rakyat tersebut, Cina jelas ingin menjadi nomor satu termasuk (kata Xi Jinping) satu pasukan yang dia sebut “bertarung dan menang”. Jadi, ini adalah sebuah tujuan berani, tetapi seperti yang anda bisa lihat, Cina sudah baik pada jalurnya saat ini.

Tiga puluh tahun lalu sebelum internet bahkan belum ditemukan, siapa yang akan merasakan dampak kebangkitan Cina secara langsung ? Jelas yang sementara menjadi nomor satu ini karena Cina makin besar, makin kuat dan makin kaya, secara teknologi lebih maju pasti akan bersinggungan dengan posisi dan hak prerogatif Amerika Serikat.Empat tahun lalu senator John McCain meminta saya untuk membuktikan hal ini ke bagiannya pada komite bidang persenjataan di senat. Saya pun membuktikan grafik seperti yang anda bisa lihat:

Bandingkan antara AS dan Cina dengan analogi anak-anak di setiap ujung papan jungkat-jungkit, masing-masing ditunjukkan dengan standar ekonominya. Akhir 2004, Cina hanya setengah dari Amerika. Tahun 2014 PDB nya sama dengan Amerika. Dengan perkembangan saat ini, di dunia tahun 2024 nanti, Cina bakal setengah lebih besar. Konsekuensi dari perubahan besar ini akan terjadi dimana-mana. Misalnya, dalam konflik perdagangan saat ini, Cina sudah menjadi mitra dagang nomor satu dari semua negara-negara besar di Asia sehingga mengingatkan kita lagi pada sejarah Yunani yaitu “Fille Kasus Jebakan Thucydides” di Harvard:

Setelah meneliti sejarah 500 tahun terakhir dan menemukan 16 kasus dimana kekuatan baru ingin menggantikan yang sedang berkuasa, dua belas diantaranya berakhir dengan perang. Tragedi ini mencatat beberapa diantaranya yaitu kedua kubu sama-sama menginginkan perang; beberapa perang ini dinilai oleh kekuatan baru ataupun yang berkuasa. Lalu, bagaimana sebenarnya? yang terjadi adalah provokasi pihak ketiga memaksa satu kubu atau yang lain untuk bereaksi dan makin memperuncing keadaan dengan membawa keduanya ke suatu tempat yang mereka tidak inginkan. Jika hal itu tampak gila memang betul, tetapi itulah kehidupan. Ingatlah Perang Dunia I. Pemicunya saat itu adalah pembunuhan tokoh strata kedua, Archduke Franz Ferdinand yang kemudian memimpin kekaisaran Austro-Hungaria dan mengeluarkan ultimatum ke Serbia. Mereka melibatkan banyak sekutu dalam waktu dua bulan lalu, kemudian semua negara Eropa terlibat perang. Bayangkan jika Thucydides melihat keadaan dunia sekarang ini. Apa yang akan dia katakan? Bisakah dia temukan pemimpin yang lebih cocok untuk negara adikuasa ketimbang Donald J Trump? Atau yang lebih baik bagi kekuatan baru daripada Xi Jinping? Pasti dia akan menggaruk-garuk kepalanya dan tentu saja berkata tak bisa memikirkan provokator yang lebih bersemangat, kecuali seperti pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. Mereka tampaknya ditakdirkan untuk memainkan perannya masing-masing dan tepat sesuai naskah. Akhirnya kita simpulkan lagi dengan pertanyaan sangat logis, pertanyaan dengan konsekuensi paling penting di sisa hidup kita: Apakah Amerika dan Cina akan membiarkan kekuatan sejarah yang memaksa kita untuk berperang dimana pasti akan merugikan keduanya? Atau bisakah kita dapatkan inspirasi dan keberanian menemukan cara hidup bersama, berbagai kepemimpinan di abad ke-21? Atau (kata) Xi Jinping, menciptakan format baru dari hubungan kekuatan besar? Itu permasalahan yang saya ikuti dengan penuh semangat selama dua tahun terakhir. Saya berkesempatan bicara dan tentunya mendengar para pemimpin dari semua pemerintahan terkait, diantaranya adalah Beijing, Washington, Seoul, Tokyo, dan para tokoh pemikir di segala bidang baik seni maupun bisnis. Kabar baiknya adalah para pemimpin makin menyadari dinamika Thucydidesini dan bahaya yang mungkin terjadi. Kabar buruknya adalah tak ada yang punya rencana bijak agar terlepas dari sejarah pada umumnya. Bahkan dari beberapa lembaran tempat lain mari kita ingat apa yang terjadi setelah adanya Perang Dunia ke II.

Sekelompok orang Amerika, Eropa dan negara lain yang luar biasa bukan hanya dari kalangan pemerintah, tetapi juga ada dari kalangan kebudayaan ataupun bisnis, berkumpul dalam semangat menyatukan visi. Apa yang mereka bayangkan dan ciptakan adalah tantangan internasional baru. Tantangan yang membuat anda bisa menikmati hidup sampai saat ini tanpa adanya perang kekuatan besar dan lebih sejahtera dari yang pernah terjadi sebelumnya di muka bumi. Ceritanya luar biasa. Menariknya, setiap sendi proyek yang membuahkan hasil ini, ketika pertama kali diusulkan tertolak oleh penetapan kebijakan asing, seakan-akan bodoh atau tidak realistis. Saya senang dengan ‘MarshalPlan’. Setelah Perang Dunia II Amerika kelelahan, menarik 10 juta orang dan fokus pada rencana lokal yang mendesak. Tetapi ketika orang mulai prihatin betapa hancurnya Eropa dan sangat agresifnya komunisme Soviet waktu itu, warga Amerika akhirnya memutuskan untuk membayar pajak satu setengah persen dari PDB per tahun selama empat tahun dan mengirimkan uang tersebut ke Eropa untuk bantuan rekonstruksi, termasuk Jerman dan Italia, yang pasukannya baru saja membunuhi warga Amerika. Momen inilah yang membentuk PBB, mengagumkan. Deklarasi umum Hak Asasi Manusia (HAM), Bank Dunia, NATO, semua elemen ini bertujuan untuk perdamaian dan kesejahteraan. Jadi, singkat kata, yang perlu kita perbuat adalah melakukannya lagi. Saya rasa saat ini kita perlu menambah imajinasi dan kreativitas yang diberikan oleh sejarah sebagaimana pada ahli filosofi, Santayana mengingatkan kita akhirnya “mereka yang tidak mau mempelajari sejarah bakal mengulangi dosa masa lalu.”

Author & translator : Laila Aghnia

Source: forbes.com, organizational conference of technology entertainment and design talk, Destined for War: Can America and China Escape Thucydides’s Trap? Oleh Graham T Allison.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here