Hidup Hanya Mampir Ngopi

0
36
views

Di sini, di sebuah tongkrongan depan step by step. Ramai orang berlalu-lalang dengan kesibukan masing-masing. Aku akan menulis. Sudah seharian di sini, rasanya aku betah sekali. Kopi di sini enak. Meski hawanya tak begitu sejuk. Orang-orangnya ramah dan suka tersenyum, walau tak banyak yang mengajak bicara. Tiap kali minum kopi, aku selalu saja teringat pada kata-kata yang sering diucapkan orang-orang jawa zaman dulu, “Urip mung mampir ngombe-hidup hanya mampir minum”. Ya, hidup hanya mampir ngopi.

Hidup adalah sebuah rangkain peristiwa bermakna, banyak alur yang dilewatinya melalui akal, pikiran, hati nurani, denyut nadi, raga, hingga bersama alam, selalu ada lika-liku yang datang menghampiri untuk menambahkan rasa nikmat dalam setiap rangkaian yang menjelma menjadi sebuah kata.

Seperti halnya secangkir kopi, bisa terasa pahit, bisa pula terasa manis, bahkan bisa terasa masam bagi penikmatnya. Oleh sebab itu dibutuhkan ketelitian khusus bagi pembuatnya untuk menghasilkan secangkir kopi yang nikmat, dengan kesederhanaan kopi saja dapat kita nikmati bersama, maka banyaklah yang membeli kopi di tempat yang sama, terlebih jika sang pembuatnya juga mencintai kopi tersebut, seperti halnya dengan hidup.

“Kang!”

Haa, ada apa mas?”

Sahutku mengernyitkan dahi.Kawanku terdiam sejenak lalu menyeruput kopi yang ada di hadapannya. Ia tersenyum kemudian melontarkan kata kepadaku.

Baca juga : Santri Mbeling: Pewaris Tunggal Pesantren Tua

“Mengapa kau duduk melamun, minumlah seteguk kopimu dahulu, bintik air masih berpeluk mesra, jangan pikir kau tak dapat pulang ke rimbamu.”

“Haha, apaan sih! tiba-tiba jadi puitis gitu,” ledekku disusul senyum kecut.

“Tahu nggak kang, kenapa kopi butuh rasa pahit?” tanya kawanku.

“Nggak tahu, memang kenapa mas?”

“Karena rasa pahit pada kopi akan menambah cita rasa yang enak. Jika terlalu manis, intisari kopi malah akan berkurang. Paduan rasa manis dan pahit pada kopi akan membuatnya semakin nikmat disesap. Seperti halnya hidup, ada hal pahit yang terasa begitu getir dan manis yang membuatnya jadi sempurna. Jika dipadukan, kedua rasa tersebut adalah kombinasi terbaik untuk membuat hidup semakin bermakna. Butuh sedikit rasa pahit agar kita tahu kalau hidup ini tak selalu indah, namun dibalik rasa pahit tersebut, terselip hal baik yang terasa begitu manis. Gitu kang.”

“Oh, gitu yak,” ujarku mengangguk-angguk paham.

Kami pun menyeruput kopi bersamaan, lalu sedikit memperhatikan keadaan di sekitar. Ramai akan mahasiswa yang juga nongkrong di tempat itu.

Kali ini aku balik memberinya pertanyaan.

“kenapa menikmati segelas kopi tak boleh terburu-buru?”

“Kenapa kang?”

“Karena kita perlu menghirup aromanya dan meneguknya perlahan. Begitu juga dengan hidup, nikmati saja setiap prosesnya dengan benar. Untuk bisa merasakan kopi dengan benar, kita tak boleh meminumnya terburu-buru. Pertama, kita hirup aromanya yang begitu wangi, lalu teguk sedikit demi sedikit. Dengan begitu, kita bisa menikmati kopi tersebut mulai dari sisi pahit dan manisnya. Begitu juga dengan jalan hidup kita, cukup nikmati saja setiap prosesnya. Walau terkadang berat kita jalani saja dengan benar. Proses yang kita jalani lebih penting daripada sekedar hasil akhir, oleh sebab itu kita nikmati setiap hal yang dirasakan sekarang.”

Weh, weh mantap,” seru kawanku.

“Haha, bisa aja.”

Adzan dzhur berkumandang, kami pun segera menyudahi percakapan tersebut. Kopi diseruput, angin sepoi-sepoi menyambar, membawa kesejukan sesaat di bawah pohon.

“Ayo kang, kita shalat dulu di masjid Atiq sebelum balik ke rumah.”

“Ayo!” jawabku santai.

Bersambung ….

Penulis: Suprianto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here