Selamat Jalan Rangga, Pahlawan Cilik

0
59
views

Jagat dunia maya dalam kurun satu minggu ini dikagetkan dengan kisah pilu yang menimpa salah satu keluarga kecil bermukim di Aceh. Rangga, seorang bocah kecil yang tewas karena berusaha melindungi ibunya yang akan diperkosa, Rangga, kurang lebih seperti itu. Seorang anak laki-laki yang tak bisa tinggal diam saat melihat ibunya dalam ancaman sang pemerkosa, mungkin itulah fitrah kasih sayang seorang anak kepada ibunya.

Tidak bisa dipungkiri hingga dewasa ini, kasus pemerkosaan, penindasan, pelecehan seksual yang dialamatkan kepada perempuan belum juga mereda. Hampir setiap hari kasus-kasus tersebut muncul dalam laman media sosial kita, hehehe wah.. keviralan di laman media sosial seakan-akan menjadi notifikasi terdepan untuk kejadian yang seperti ini. Mengutip dari judul salah satu tulisan penggerak feminism, mbak Dea Safira, “Kekerasan Seksual Marak, Kenapa Harus Viral Dulu?” Hehehe apa benar begitu ya?

Sebenarnya apa yang salah ketika kita diciptakan sebagai seorang perempuan? ya.. Segala sesuatu tentang perempuan memang asyik untuk dikaji dan terus ditafsiri lebih lanjut. Menurut Gus Dhofir Zuhry dalam tulisannya yang berjudul Perempuan & The Second Sex, “perempuan adalah pancaran dari Tuhan yang paling lengkap dan indah, sementara laki- laki , tak lebih dari sekadar penafsir akan keindahan dan keluhuran perempuan”. Seakan-akan hanya perempuan yang memiliki keistimewaan khusus, hehehe.

Dalam pandangan agama Islam, segala sesuatu diciptakan Allah dengan kodrat, “sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan Qadar.” QS Al- Qamar/ 54:49. Dengan demikian, baik laki- laki maupun perempuan sebagai individu & jenis kelamin memiliki kodratnya masing-masing, tidak ada yang perlu diperdebatkan fungsinya.

Membicarakan tentang perempuan memang tiada habisnya, ada saja celah dari sisi perempuan yang menarik untuk diulas. Dalam struktur sosial, posisi seorang perempuan masih sering dihadap- hadapkan dengan posisi laki-laki, posisi perempuan selalu saja dihubungkan dengan lingkungan domestik yang masih berhubungan dengan urusan keluarga dan juga rumah tangga. Sementara posisi laki-laki sering dikaitkan dengan lingkungan publik yang berhubungan dengan urusan-urusan di luar rumah. Dalam perspektif sosial, posisi perempuan yang demikian, sulit untuk mengimbangi posisi laki-laki. Bagi perempuan yang ingin memiliki peran diluar rumah masih sering dihantui dengan beban ganda yang  harus diembannya, ada anak yang harus diasuhnya, harus diberikan kasih sayang yang utuh dan lain-lain, hal tersebut sudah menjadi kebudayaan yang melekat pada masyarakat, yah.. Seakan-akan ikatan kebudayaan sangat lengket terhadap perempuan.

Well, sebagai muslimah yang sama-sama  berkembang di negara yang maju, tepatnya era industrial 4.0, memperjuangkan kesetaraan tanpa mengesampingkan tanggung jawab merupakan suatu keharusan, yap.. Kita mulai dari hal-hal yang kecil, mindset“Kekuasaan tidak diberikan kepadamu, kamu harus mengambilnya dan memeperjuangkannya”.

Baca juga: Syekh Awwadl; Islam di Indonesia Dan Nahdlatul Ulama

Kembali lagi ke topik besar kita, pemerkosaan yang mengakibatkan seorang anak kecil meregang nyawa demi melindungi ibunya. Rangga adalah seorang bocah kecil yang masih duduk di bangku SD, berumur sekitar 9 tahun, tetapi dia sudah memiliki rasa yang mendalam. Dikutip dari laman kompas.com, sekitar sepekan yang lalu (10/10/20) seorang pria menyelinap di sebuah rumah dan melakukan pemerkosaan. Diketahui ada seorang ibu dan 2 anak yang menghuni rumah tersebut, pada saat itu sang ayah sedang tidak berada di dalam rumah. Aksi pemerkosaan terhadap seorang ibu (28 th) mengakibatkan perkelahian antara pelaku dan korban, sehingga tangan sang ibu pun terkena bacokan. Rupanya keributan yang terjadi membuat anak korban, Rangga terbangun dari tidur pulasnya. Rangga yang melihat ibunya dalam bahaya bergegas melindungi ibunya, naasnya hal tersebut membuat pelaku dengan sekejap menghabisi Rangga dengan parangnya. Sontak seorang Rangga yang memilih melindungi ibunya daripada lari menghindari kejadian tersebut menjadi sorotan publik.

Penuh liku dan dramatis, mungkin begitu kiranya yang bisa menggambarkan tentang kasus ini. Setelah ditangkap oleh polisi, pelaku pemerkosaan tersebut dikabarkan meninggal dunia di dalam sel tahanan (18-10-20). Belum sempat sosial mengadilinya dengan hukuman penjara, maut sudah mendahuluinya. Kejadian tersebut membuktikan bahwasanya kejahatan ada dimana-mana dan bisa menyerang siapa saja. Sebagai makhluk sosial, saling melindungi adalah tugas sesama manusia tanpa harus membeda-bedakan warna kulit, jenis kelamin, dan lain-lain.

Mungkin Rangga juga belum mengerti tentang teori maskulinitas dan sebagainya, tetapi Rangga mengerti bagaimana cara melindungi ibunya, orang yang melahirkan dan merawatnya sedari kecil. Seperti yang sudah saya tulis di awal, itu adalah fitrah kasih sayang dari seorang anak.

“Rangga, kukirimkan fatihah untukmu, selamat berbahagia. Semoga ibumu segera pulih fisiknya maupun batinnya.”

*Penulis: Faridhotun Nisa, merupakan Ketua Muslimat NU Sudan 16/17 dan Mahasiswi pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang​.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here