Syekh Awwadl; Islam di Indonesia Dan Nahdlatul Ulama

0
159
views
Syekh Awwadl Menjelaskan Tentang Nahdlatul Ulama

Allah telah menjamin dan menjaga keberlangsungan agama Islam. Ketika agama Islam ini terbenam di suatu negeri, maka akan terbit di negeri lain. Ketika Khilafah Islam di Andalusia sirna, maka agama Islam muncul dan berkembang di kepulauan Melayu yang meliputi; Indonesia, Malaysia, dan negara-negara sekitarnya.

Indonesia ditaklukkan bukan dengan jalan peperangan, melainkan dengan Al-Quran, ilmu, dan dakwah. Islam tidak masuk ke Indonesia dengan peperangan, akan tetapi para penduduknya masuk Islam secara sukarela tanpa perang, dan menerima dengan senang lapang dada. Tidak pernah sekalipun penduduk Indonesia memerangi Islam atau benci terhadap Islam. Ketika para da’i Walisongo menyebarkan Islam di tanah Jawa, para penduduk menerimanya dengan hati yang sukarela.

Negeri Indonesia ini mengeluarkan banyak ulama, orang-orang soleh, dan para wali. Diantaranya Masyayikh atau para tokoh-tokoh besar seperti Syekh Maulana Mahfudz At-Tarmasi, Syekh Maulana Nawawi Al-Bantani, dan Syekh Hasyim Asy’ari. Ilmu beliau semua berasal dari Mekkah di mana mereka menuntut ilmu. Lalu setelah dari Mekkah, mereka membawa ilmu ke tanah Indonesia. Begitu juga Syekh Alamuddin Muhammad Yasin bin Isa Al-Fadhani yang berasal dari Padang.

Indonesia merupakan negeri ilmu, negeri para alim, negeri karomah, negeri kemuliaan, dan negeri dengan akhlak yang mulia. Mereka saling bahu-membahu untuk menghormati kedatangan kami (Syekh Awwadl dan rombongan) dan mengerahkan apa yang mereka punya untuk menghormati kami. Semoga Allah membalas ulama Indonesia dengan pembalasan yang terbaik.

Saya (Syekh Awwadl) sudah pernah pergi ke Indonesia beberapa kali dan di sana saya tidak menemukan kecuali akhlak yang mulia. Dan salah satu ulama yang kami kunjungi adalah KH. Maimun Zubair Sarang dari Rembang, Jawa Tengah, semoga Allah merahmati beliau. Allah telah memberikan kami kesempatan untuk bertemu dengan beliau (KH. Maimun Zubair), belajar beberapa kitab, kemudian beliau memberikan ijazah.

Salah satu karomah beliau ketika kami di sana, beliau berkata, “Saya telah berusia 94 tahun, wahai murid-muridku. Dan saya tidak mengharapkan apapun kecuali meninggal atas iman mengucapkan kalimat syahadat, dan dimakamkan di Negeri Hijaz, Tanah Haram.” Dan ketika kami sudah pulang ke Sudan, demi Allah, kami mendengar kabar bahwa beliau pergi haji lalu meninggal di tanah Hijaz, Makkah al Mukarromah. Demi Allah, karomah yang dimiliki oleh Mbah Maimun Zubair telah kami buktikan sendiri bahwa apa yang beliau minta telah dikabulkan oleh Allah dan telah terjadi.

Syekh Hasyim Asy’ari merupakan tokoh besar dunia. Beliau lah yang mendirikan Jam’iyah ini, Jam’iyah Nahdlatul Ulama yang menjadi benteng bagi madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah, dan juga menjadi benteng bagi madzhab asli Indonesia, yaitu madzhab Syafi’i dalam Fikih, madzhab Asy’ari dalam berakidah, serta Imam Junaid al Baghdadi dalam tasawuf atau suluk.

Dengan keluasan ilmu dan wawasannya, beliau menginginkan agar para pengikutnya menjadi penduduk yang bermanfaat bagi negerinya, tidak membahayakan negerinya sendiri, berusaha untuk berkhidmah melayani negerinya, dan menjaga kerukunan masyarakat. Beliau memadukan antara ilmu dan akhlak dan juga memadukannya dengan cinta tanah air, hubbul wathon, dan memotivasi untuk membela negaranya sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Baca juga: Perayaan Maulid Nabi Muhammad Menurut Syekh Awadl Al-Karim Utsman Al-Aqli

Beliau menanamkan kepada para pengikutnya untuk cinta tanah air dan mencintai negara muslim. Jika ada orang Indonesia yang pergi ke luar negeri maka harus menjadi orang yang sholeh, menjadi contoh yang baik bagi negaranya, dan menjadi contoh teladan yang baik untuk negaranya serta negara lain. Maka dari itu, warga Nahdliyin di seluruh dunia wajahnya bersinar, memperlihatkan kebaikan akhlaknya. Ini menunjukkan bahwa Syekh Hasyim Asy’ari merupakan tokoh yang bijak, alim, penuh wawasan, dan berpikiran maju ke depan.

Kita lihat banyak kelompok atau madzhab yang menjadi bencana dan bahaya bagi para penduduk negerinya sendiri dan tidak dapat dijadikan contoh untuk negaranya. Bahkan menjadi sisi gelap dari lembaran sejarah. Tetapi Jam’iyah Nahdlatul Ulama ini, karena madzhabnya benar yang dibangun Syekh Hasyim Asy’ari, tidak pernah sama sekali memunculkan teroris, dan tidak pernah memunculkan orang yang berbuat jahat kepada negerinya serta negeri yang dia singgahi. Akan tetapi Jam’iyah Nahdlatul Ulama inilah yang memunculkan orang-orang yang menunjukkan Islam yang moderat, berpemikiran tengah-tengah, pemahaman moderat baik dalam keilmuan, akhlak, suluk, maupun perilaku Mua’malah. Warga Nahdliyin ini menjadi pemandangan bagi hakikat kemoderatan yang merupakan ajaran Islam yang sebenarnya.

Penerjemah: Khildan Aulia Rahman

Sumber: Sambutan Syekh Awwadl Al-Karim Utsman Al-Aqli dalam acara Pelantikan Pengurus PCINU Sudan 2020-2021.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here