Ilmu Kalam; Antara Teosentris dan Antroposentris

1
121
views
Ilustrasi Berdoa. /- Foto : Portal Jogja/ Muslim SG

Dalam memetakan ilmu kalam yang terpenting adalah kategorisasi yang bersumbu pada ketuhanan (teosentris) dan kemanusiaan (antroposentris). Ilmu kalam teosentris merupakan arena berdebat para mutakallimin era klasik dan kalam antroposentris merupakan garapan bagi ahli kalam kontemporer. Jika kalam klasik melakukan pembelaan terhadap Tuhan dengan mengurai nama, sifat, dan af’al Tuhan, maka kalam antroposentris berupaya melakukan pembelaan terhadap peran, eksistensi, dan hak-hak kemanusiaan yang sesuai dengan teks-teks dasar ajaran Islam.
Sebagaimana kita ketahui, interaksi antara manusia dan Tuhan terjalin dengan tiga komponen utama; Tuhan, manusia, dan teks/wahyu. Manusia dan pemahamannya adalah domain (wilayah) yang menjadi tempat bagi proses interaksi tersebut. Teks adalah media perantara Tuhan untuk menyampaikan konsep dirinya kepada makhluk ciptaan-Nya. Dialektika antara pemahaman manusia dan sesuatu yang tersirat (mafhum) maupun tersurat (manthuq) dalam teks merupakan sebuah gambaran sebagai bentuk konsekuensi upaya pemahaman manusia terhadap kandungan isi teks ketuhanan.

Dalam tahapan ini, proyeksi pemahaman terhadap Tuhan berarti pemahaman terhadap makna yang terkandung dalam teks wahyu. Nilai sakral yang terkandung dan diwariskan sebagai sifat natural pemahaman ketuhanan dari teks yang menitis kedalaman parameter pemahaman manusia. Pemahaman yang dicapai menjadi absolustik, transedental, dan sakral. Adanya mata rantai warisan proyeksi pemahaman tersebut menciptakan proses absolutisasi alami dan tak mampu dihindari.

Otoritas transenden yang menitis dalam pemahaman manusiawi menjadi semakin kokoh. Sedangkan otoritas-otoritas intrasenden yang suci diabaikan, dimarjinalkan, dan dimusnahkan. Manusia cenderung mensakralkan konsep Tuhan sebagaimana yang dipahaminya dan melupakan atau bahkan mengabaikan adanya upaya penalaran pemahaman yang terjadi dalam dirinya disaat berusaha mencapai konsep tersebut. Jati diri kemanusiaan lenyap, lebur kedalam konsep yang dibangun.

Baca Juga: Studi Pemikiran Teologi Islam; Pengantar Teologi Islam (Bag.01)

Adanya konteks sejarah para perawi dengan pelbagai dinamika kehidupan yang mengiringinya dalam pembacaan konstruksi pemahaman tersebut menjadikannya sebagai akar atau pondasi dasar yang bersifat konstan. Sifat “konstan/tetap” yang dalam pengejawantahannya berkamuflase kedalam realitas praksis dan menciptakan nuansa kejumudan serta stagnisasi dalam ranah pengetahuan dalam pemahaman ketuhanan. Pemaksaan pembenaran terhadap pemahaman yang dicapai serta klaim kebenaran yang absolut dan sakral menjadi perkara yang kerap kali terjadi pada era milenial ini.

Identitas wahyu dalam sebuah adagium dikatakan “menuhankan Tuhan dan memanusiakan Manusia” menjadi terabaikan. Identitas tersebut berubah menjadi “dari Tuhan untuk Tuhan”. Sisi kemanusiaan menjadi termarjinalkan, hilang. Petunjuk Tuhan tidak lagi dipahami sebagai petunjuk untuk mengenal hakikat dirinya dan mengenal Tuhannya. Sebaliknya pemahaman manusiawi menghegemoni pemahaman manusia dianggap sama dengan pemahaman sang Tuhan. Paradigma yang disusun adalah, “Tuhan menuhankan manusia menjadi Tuhan”.

Problematika ini, salah satunya dapat diasumsikan kembali ke dalam ranah pengetahuan yang digunakan dalam metode pendekatan untuk mencapai pemahaman terhadap jati diri Tuhan. Penggunaan soft science media sebagai alat pendekatan satu-satunya menimbulkan pertentangan yang tidak akan pernah habis. Benturan-benturan paradigma yang merupakan hasil proses aksiomatisisi semakin melapangkan jalannya pertentangan tersebut. Semakin aksiomatis landasan yang dicapai semakin pula mudah diterima. Inilah sebuah kekayaan sekaligus kelemahan dalam disiplin ilmu kalam.

Satu hal yang diabaikan dalam ranah ilmu kalam/teologi islam adalah pesan yang tertera dalam teks hadits, perintah untuk mendekati tuhan melalui hasil ciptaannya bukan melalui zat internalnya. Dalam penjabarannya materi adalah alam. Pengejawantahan alam adalah ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi. Sains dan teknologi akan menjadi bukti konkret yang menunjukkan kesucian, keabsolutan, dan kesakralan Tuhan. Proses memahamai alam mengajak manusia memahami hakikat, keberadaan, kebutuhan dan keberadaannya di alam dan dihadapan Tuhan. Proyeksi pemahaman ini akan menciptakan interaksi harmonisasi antara Tuhan sang khaliq dan manusia sang makhluk.

Dengan upaya fungsionalisasi dan reorientasi yang dapat menyentuh seluruh aspek kehidupan, ditambah lagi pemahaman yang etnosentris, niscaya teologi islam akan senantiasa dianggap relevan dengan perkembangan kekinian; tidak lagi dipandang mengawang diatas angkasa tapi betul-betul membumi bersama kehidupan manusia. Peran strategis dan posisi sentral teologi islam ini betul-betul terwujud dan dapat dirasakan oleh umat islam, bila dalam system ini ada upaya inovatif dan reorientasi, terutama perluasan diberbagai ruang lingkup dalam aspek kehidupan, dengan pendekatan dari atas ke bawah, sehingga kehadirannya dirasakan aktif, dinamis, dan solutif. Dengan demikian, sekali lagi bukan bahasan manusia tentang Tuhan saja yang ditonjolkan, tetapi bahasa Tuhan tentang manusia dan persoalan kehidupannya yang sangat perlu dielaborasi oleh ilmu kalam/teologi islam.

Penulis: Gedibal Sandal

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here