Ngaji Sorogan Sebagai Upaya Mengukuhkan Identitas Santri

0
82
views
PCINU Sudan tetap menjaga tradisi sorogan

Ngaji merupakan sebuah kata yang tidak asing lagi di telinga kaum muslim khususnya muslim Indonesia, lebih khusus lagi di kalangan warga Nahdlatul Ulama. Dalam falsafah jawa, ngaji berarti nga (ngatur) dan ji (jiwo), proses dalam mengatur jiwa supaya hidup penuh makna. Sebagian orang juga mengatakan ngaji bermakna nga (sanga) dan ji (siji), sanga atau songo artinya sembilan lubang yang merupakan anggota badan yaitu 2 lubang mata, 2 lubang hidung, 2 lubang telinga, 1 lubang mulut, 2 lubang bawah yaitu bagian depan dan belakang.

Dalam bahasa arab, ngaji bisa juga diartikan thalabul ilmi (menuntut ilmu), yang bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun berada. Di Indonesia ngaji selalu disebut dan diidentikkan dengan santri dan pesantren. Santri yang ngaji dengan kiai serta pesantren yang menjadi tempat tinggal santri dan menjadi hak milik Kiai (ulama).

Bagi santri ngaji merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan, menjadikannya sebagai laku rutinitas harian. Adapun yang menjadi tipologi ngaji khas santri adalah ngaji bermetodologis sorogan. Bagi orang Arab sorogan biasa disebutnya dengan talaqqi, yakni sebuah tradisi yang selalu melekat dan menjadi ruh pesantren dalam mengikuti manhaj salafus sholih, yang muncul sejak abad awal Islam masuk ke Indonesia, dan lebih kentara lagi sebagai sebuah metode yang ditanamkam dalam diri santri dengan cara mengasah kemampuan membaca, baik membaca al-Qur’an maupun membaca kitab, kemudian menyetorkan hasil bacaannya kepada seorang Kiai (ulama).

Salah satu tokoh besar dalam khazanah peradaban ilmu keislaman bahkan memiliki pengaruh yang luar biasa besar terhadap manusia, seorang pimpinan madzhab, dan juga murid dari seorang pimpinan madzhab (Imam Malik), beliau adalah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i atau dikenal dengan Imam Syafi’i. Syafi’i kecil memiliki keilmuan yang tajam dan prisma berfikir yang dialektik. Salah satu sebab yang mendasarinya adalah karena Syafi’i kecil memakai metode ngaji al-Qira’ah ala syekh (sorogan) ini.

Itulah bagian dari sebuah sistem kesederhaan metode ngaji santri, karena bagi santri belajar kesederhanaan adalah belajar untuk menjadi biasa-biasa saja, belajar ilmu tangan kosong, belajar kantong bolong, belajar kitab kosong (tidak berharakat), belajar berbicara untuk diam, belajar berkhidmah untuk melayani, belajar mengalah untuk menang, belajar mati sebelum mati, sebab kualitas manusia itulah panen dari pertanian di dunia yang akan dituai di akhirat kelak.

Baca juga: Masa Depan Bahasa Arab di Indonesia

Begitulah identitas santri yang amat kuat akan ketawadukannya dari buah hasil proses ngaji dengan menyetorkan hafalan dan materi kepada para Kiai (ulama). Maka dengan itu, upaya untuk mengukuhkan identitas santri akan terwujud kembali dengan ngaji sorogan yang menjadi ciri khas ala pesantren dan dibarengi pula niat yang benar dalam setiap amal. Menyitir salah satu maqolah ulama kelahiran Damaskus Ibnu al Qayyim berkata: “Niat adalah ruh amal, inti, dan sendinya, amal itu mengikuti niat, amal menjadi benar karena mengikuti niat yang benar, amal menjadi rusak karena mengikuti niat yang rusak”.

Bagi kita, identitas santri sudah begitu mengakar di benak sebagian besar masyarakat Nusantara. Setuju atau tidak, jejak santri telah eksis sejak zaman sebelum kemerdekaan Indonesia. Sampai sebegitu menariknya, jejak santri begitu banyak sekali dibahas dalam literatur ilmiah, ranah literasi, maupun observasi masyarakat dalam atau bahkan luar negeri. Dalam hal ini, santri menjadi sebuah tipologi sendiri untuk masyarakat Indonesia dari segi sistem ngaji dan ekosistem krusial khas pesantrennya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here