Santri dan Sastra dalam Pesantren; Sharing Literasi Bersama Usman Arrumy

0
94
views
Syafiqurrahman, Santri NU Sudan yang melantunkan puisi bahasa Arab dalam acara Lailah Tsaqofiyah di International University of Africa, Khartoum, Sudan

Dalam perkembangannya, lambat laun pesantren mulai mengalami banyak perubahan seiring dengan dinamika kehidupan, baik dalam hal sistem tata kelola kepesantrenan maupun hal-hal lainnya. Faktor-faktor seperti berubahnya ranah sosial, ekonomi, budaya, dan juga teknologi dalam kehidupan masyarakat memang di antara hal yang menjadi pemicunya. Salah satu contoh berubahnya sistem tata kelola adalah adanya lembaga pendidikan formal yang sudah mulai banyak didirikan di area pesantren.

Selain itu, perubahan yang terjadi dalam pesantren juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap tradisi budayanya. Pergeseran pemikiran kaum santri kian dinamis mengikuti arus perkembangan zaman, oleh karenanya para santri harus tetap mampu mengawal tanpa meninggalkan identitasnya. Santri dan sastra merupakan dua istilah yang saling terkait. Keduanya berasal dari akar kata yang sama dari bahasa sanskerta yaitu sashtra atau sastra. Sashtra mempunyai arti teks yang mengandung pedoman. Sedangkan santri adalah orang yang mengkaji keindahannya.

Harapannya, sastra pesantren dengan citra rasa ideal, citra hati dan jiwa yang mengena mampu menyintesakan problem kehidupan terlebih menjadi obat yang mujarab yang menarik untuk dinikmati.

Usman Arrumy yang menjadi perwajahan meneruskan tradisi puisi sufi yang sejak ratusan tahun lalu dikembangkan di Timur-Tengah dan negeri-negeri lain yang mendapat pengaruh Islam dirasa sosok yang pas dengan segudang karya dan pencapaiannya. Buku yang telah terbit antara lain: Antologi Puisi Pesantren Jadzab (2012), Mantra Asmara, Kumpulan Puisi (2014), Kasmaran, Kumpulan Puisi (2017), Asmaraloka, Kumpulan Puisi + Musikalisasi (2020), Anjangsana, Kumpulan Essai (2020). Beliau juga menerjemahkan puisi-puisi Nizar Qobbani dengan judul Surat Dari Bawah Air (2016), dan menerjemahkan puisi-puisi Sapardi Djoko Damono ke dalam bahasa Arab dengan judul Hammuka Daimun (2016). Nama dan kiprahnya tercatat dalam buku “Apa & Siapa Penyair Indonesia” terbitan Yayasan Hari Puisi, 2018.

Beliau lahir di Jogoloyo, Demak, pada 6 February 1990, merupakan seorang sastrawan berkebangsaan Indonesia. Beliau menghabiskan masa kecilnya di lingkungan pesantren Jogoloyo, Demak yang diasuh oleh ayahnya sendiri. Pernah menimba ilmu di pesantren Yang diasuh KH. Wahid Zuhdi, Bandungsari, Grobogan, dan pesantren asuhan KH. Dimyati Rois, Kaliwungu, Kendal. Saat ini sedang menimba ilmu di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Pengalamannya sejak kecil di lingkungan pesantren itulah yang membuat puisi-puisinya sarat nilai sufistik.

Genre Sastra Pesantren

Menurut Usman Arrumy, sebenarnya genre sastra pesantren masih diperdebatkan padahal itu masih absurd. Terlepas dari apakah penulisnya seorang santri atau bukan, kita akan mengasumsikan karya sastra pesantren itu seperti apa? Sebab, begitu banyak orang yang tidak pernah mondok (belajar di pesantren) tetapi karya-karyanya sangat pesantren seperti disiplin ilmu yang dijadikan pelajaran di dalam pesantren diserap oleh mereka yang bukan pesantren untuk dijadikan sebuah referensi menulis karya. Oleh karena itu, untuk dijadikan genre itu masihlah absurd.

Beliau dari kecil mondok di pesantren (2001 – sekarang), yang diajarkan sama sekali tidak ada kaitannya dengan tata cara menulis karya. Bisa diidentifikasi bahwa karya sastra yang ditulis oleh anak-anak santri belum tentu memenuhi kualifikasi sebagai karya sastra pesantren.

Berbicara karya sastra pesantren itu ada dua sudut pandang; pertama, yang menulis adalah seorang santri, kedua, yang menulis bukan seorang santri tetapi di dalam tulisannya mengandung unsur-unsur nilai yang diajarkan di pesantren.

Inspirasi Membuat Karya Sastra

Mencari inspirasi ibarat kita sedang memancing ikan di sungai. Semakin besar umpannya, maka potensi untuk mendapatkan ikan juga besar. Semakin kecil umpannya, maka potensi untuk mendapatkan ikan juga kecil. Nah dalam dunia sastra, umpan tersebut bisa dipahami sebagai peristiwa yang dialami oleh setiap manusia yaitu semakin kita menghadapi masalah besar, maka semakin besar pula potensi untuk mendapatkan inspirasi, imajinasi, dan impresi. Ketika seseorang menghadapi masalah sebatas bagaimana cara membayar hutang, besok harus makan apa, chat tidak dibalas, pastinya inspirasi yang kita dapatkan hanya sebatas hal-hal remeh itu saja.

Tidak heran pula, Pramodya Ananta Toer ketika menulis Tetralogi, dia sedang menghadapi masalah besar dan ditulis di dalam penjara, dia dituduh komunis, dia dituduh macam-macam, dan diasingkan ke Pulau Buru. Dia menghadapi persoalan besar di dalam hidupnya sehingga inspirasi yang muncul itu besar juga, lahirlah Tetralogi. Jadi datangnya inpirasi itu tergantung dengan peristiwa yang dialami.

Debut Menulis

Beliau lupa kapan tepatnya debut menulis, kalau debut menulis untuk dibukukan terjadi pada tahun 2014. Beliau pertama kali menulis puisi di pesantren, hanya saja dibukukannya ketika sudah di Mesir. Tiba-tiba beliau sangat mencintai puisi. Sekitar 2006-2007, beliau gemar membaca biografi para Kiai Indonesia. Kebetulan di dalam pondok pesantren tempat beliau mukim, tidak boleh keluar pondok kecuali hari Jumat, maka setiap hari Jumat beliau gunakan untuk membaca buku di toko buku yang ada di depan masjid sambil menunggu tiba waktu sholat Jumat.

Penulis: Luthfiana

Baca juga: Ilmu Kalam; Antara Teosentris dan Antroposentris

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here