Bagaimana Menghadapi Fenomena Politik (2)

0
91
views
Gambar: kompasiana.com

Setelah adanya rentetan penjelasan mengenai politik Islam pada artikel sebelumnya (Pengantar Politik Islam 1) kita sebagai penerus agama dihadapkan kepada pertanyaan besar, bagaimana menghadapi fenomena politik pada saat ini? Kecerdasan dalam memilah antara fakta politik dan gosip politik sangat diperlukan bagi kita sebagai penerus agama dan masyarakat, tidak cukup jika hanya memiliki pengetahuan mengenai politik, tetapi juga harus melek politik. Inilah yang akan menjadi titik awal dan akhir pembahasan pada kesempatan kali ini. Semua tentang sikap.

CHALLENGE

Tantangan menurut kami yang paling berat pada zaman sekarang ini adalah menjadi seorang muslim yang layak jadi panutan sejarah. Kenapa sejarah? Karena untuk menjadi panutan pada saat ini adalah sebuah fatamorgana di tengah padang rumput hijau. Penuh dengan kebohongan.

Awal mula sejarah islam dalam berpolitik adalah proses pemilihan khalifah (pengganti) Rasulullah SAW, dimulai dengan dibaiatnya Abu Bakar as-Shiddiq oleh beberapa sahabat dari muhajirin dan anshar. Tapi dari sekian banyak sahabat yang ada dalam lingkaran baiat tersebut ada juga beberapa sahabat senior yang tidak ikut di dalamnya. Diantaranya adalah Sayyidina Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Fokus kita bukan kepada pertanyaan mengapa dan bagaimana bisa mereka tidak terlibat atau bahkan tidak dilibatkan? Tetapi yang paling penting dan perlu kita anut adalah sikap mereka ketika telah mengetahui bahwa Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq lah yang telah dibaiat menjadi kholifah atau pengganti Rasulullah SAW. Inilah yang kami maksud sebagai panutan sejarah.

Apakah iya kalau seorang muslim tidak boleh masuk selain dalam lingkaran agama? Benarkah seorang muslim semuanya harus menjadi ahli agama? Ahli hukum agama? Ahli bahasa agama? Tentu tidak, karena Nabi sendiri pun bukan diutus hanya untuk orang Islam melainkan untuk semuanya.

Dari kalimat ‘semuanya’ itulah kita sebagai muslim agar bisa mengisi kekosongan pada segala aspek kehidupan. Hal itu juga sudah dicontohkan oleh panutan sejarah, para ilmuwan dan cendekiawan muslim pada zaman keemasan Islam. Dan salah satunya adalah aspek politik.

Maka tantangan kita pada zaman sekarang pada level aksi perjuangan politik ini adalah untuk bersaing dengan beberapa kelompok diantaranya:

1. Kelompok internal, yaitu gerakan islamis yang berpendapat bahwa antara agama dan negara “politik” sebagai sesuatu yang harus terintegerasi secara total.

2. Kelompok eksternal, yaitu golongan sekuleris yang berpendapat bahwa agama dan negara “politik” harus ada pemisahan secara tegas dan jelas.

3. Kelompok yang mempunyai sikap acuh terhadap kehidupan sekitar baik agama maupun negara “politik”.

Melihat tantangan tersebut maka seharusnya kita menyiapkan diri untuk bisa terjun ke masyarakat dan membawa mereka pada perubahan lebih baik dalam perbagai aspek kehidupan yang akan kita dalami.

Sekarang kita berbicara tentang politik Islam, maka seharusnya kita sudah sedikit banyak mengenal, membaca dan mengetahui apa itu politik, politik Islam, dan atau Islam politik.

Banyak sekali pemikiran politik Islam yang dikenalkan oleh cendekiawan muslim pada masa lampau seperti:

1. Ibn Abi Rabi’ yang mengatakan didalam kitabnya suluk al-malik fi tadbir al-mamalik, bahwa sistem monarki lah yang paling tepat dan terbaik untuk sebuah negara. Buku ini ditulis untuk dipersembahkan kepada khalifah al-Mu’tashim, khalifah kedelapan dari bani Abbasiyah.

2. Al-Farabi yang lebih pada pendekatan bagaimana seorang pemimpin negara adalah mereka yang arif dan bijaksana, sehingga mengatakan bahwa pemimpin negara itu boleh dari kalangan filosof yang telah mendapat kearifan dan rasio.

Lebih detailnya al-Farabi memberikan dua belas kriteria bagi seorang kepala negara:

a. Lengkap anggota badan,

b. Baik daya pemahamannya,

c. Tinggi intelektualitasnya,

d. Pandai berdialektika,

e. Menyukai pendidikan,

f. Tidak rakus,

g. Cinta Kejujuran dan benci kebohongan,

h. Berjiwa dan budi luhur,

i. Tidak memandang penting kesenangan duniawi,

j. Cinta keadilan dan benci kedzaliman,

k. Tanggap keadilan dan sukar tindak keji dan kotor,

l. Kuat pendirian, tegas, penuh keberanian, tinggi antusiasme, serta bukan penakut dan berjiwa lemah.

CHANCE

Selanjutnya adalah kesempatan kita untuk bisa mengembangkan potensi diri dalam bidang yang akan kita tekuni. Dari kesempatan apapun yang ada, jangan pernah sekalipun mengatakan tidak bisa atau bahkan menolak. Karena itu semua akan memberikan pelajaran yang berharga kepada kita.

Misalnya kita sekarang mempunyai kesempatan untuk bisa belajar di luar negeri, maka jangan sia-siakan kesempatan itu hanya dengan pergi dari asrama ke kampus untuk mendengarkan keterangan dosen. Lebih dari itu kita harus bisa mengetahui dan mengembangkan potensi yang kita miliki.

Seorang Muhammad Husein Haikal, politikus ternama pada zamannya di Mesir. Mendapatkan gelar Ph.D di Universitas De Paris di Perancis. Pada tahun 1937 diangkat sebagai Menteri Negara Urusan Dalam Negeri, pada tahun berikutnya 1938 menjadi Menteri Pendidikan sampai pada tahun 1945.

Menurut Haikal bahwa di dalam Islam tidak ada pembahasan secara rinci tentang sebuah pemerintahan, al-Quran hanya menerangkan secara garis besarnya saja. Mengenai apakah Islam lebih mementingkan sistem republik atau kerajaan, beliau mengatakan bahwa Khalifah lebih mendekati pada kepala negara sebuah republik.

CHANGE

Ketika kita telah memilih untuk terus berjuang, maka sikap kita terhadap politik Islam pada sekarang ini adalah bagaimana menghadapi tantangan dengan terus berkembang, memahami dan mengambil kesempatan untuk bisa mengubah diri sendiri, lingkungan sekeliling kita, dan tujuan utama adalah bisa mengubah dunia menjadi lebih baik dengan jalan kesantunan dan kerahmatan Islam yang ada.

Catatan: Hasil rangkuman kajian politik islam yang diselenggarakan oleh LAKPEDAM NU Sudan pada 24 Juni 2019 dengan narasumber bapak Drs. Rossalis Rusman Adnan, M.B.A. dan Ustadz Azim Aufaq, BS. dan disusun kembali dari berbagai sumber.

Editor: Lukman Al Khakim

Tinggalkan Balasan