Eksplorasi 17 Desember; Menuai Hikmah Jalaluddin Rumi

0
200
views
Sumber: akun Facebook @RumidanCintaUniversal
Sumber: akun Facebook @RumidanCintaUniversal

Apa yang dapat aku lakukan, wahai ummat Muslim?
Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi, bukan Majusi, bukan Islam.
Bukan dari Timur, maupun Barat.
Bukan dari sumber alam, bukan dari surga yang berputar,
Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
Bukan dari dunia kini atau akan datang: surga atau neraka;
Bukan dari Adam, Hawa, taman Surgawi atau Firdaus;
Tempatku tidak bertempat, jejakku tidak berjejak.
Baik raga maupun jiwaku: semuanya adalah kehidupan kekasihku ….

Syair di atas merupakan salah satu dari sekian banyak syair-syair Rumi yang begitu memukau, menenggelamkan jiwa, hanyut dalam lautan aksara, mengisi kekosongan hati nan hampa, entah itu makna atau bagian dari makna itu sendiri, semuanya melebur dalam satu kesatuan hingga tak nampak lagi bagian yang terpisah dari-Nya.

Bagi sebagian pecinta syair, pecinta sastra, dan kalangan sejarawan islam, pastinya tidak asing lagi dengan nama Jalaluddin Rumi. Beliau merupakan ulama besar, sufi dan juga penyair. Nama lengkapnya Jalaluddin Muhammad bin Muhammad bin Husyain al-Khatibi al-Bakri (Maulana Jalaluddin Rumi) atau sering pula disebut dengan nama Rumi. Murid-murid dan para sahabatnya memanggil beliau dengan panggilan Maulana (Tuanku). Adapun nama julukan al-Rumi dikenakan kepada dirinya karena sang sufi menghabiskan sebagian besar hidupnya di Konia, Turki, yang dahulu merupakan bagian dari wilayah kemaharajaan Rumawi Timur. Rumi dilahirkan pada tanggal 6 Rabi’ul Awal 604 H atau sama dengan 30 September 1207 M di Balkh, Afghanistan sekarang. Ketika itu wilayah tersebut merupakan bagian dari wilayah kerajaan Khawarizmi yang beribukota di Bukhara, Transoksiana. Rumi wafat pada tanggal 5 Jumadil Akhir tahun 672 H atau sama dengan 16 Desember 1273 M di Konya.

Ayah Rumi, Muhammad bin Husyain al-Khatibi alias Bahauddin walad yang merupakan seorang ulama terkemuka dari Balkh. Rumi kecil dan ayahnya Bahauddin sekeluarga hidup berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain. Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut). Dari Sinabur pindah ke Baghdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran tenggara) dan terakhir di Konya, Turki. Sepeninggal ayahnya, Rumi berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat dan pengganti ayahnya memimpin perguruan. Setelah Burhanuddin wafat, pada tahun 652 H saat usianya menginjak 48  tahun, ia mengubah hidupnya ke arah kehidupan sufi setelah berjumpa dengan  seorang penyair sufi pengelana, Syamsuddin at-Tabrizi.

Dalam salah satu Syair yang menggambarkan bagaimana kesedihannya berpisah dengan sang guru (Syamsuddin), yang dibunuh oleh warga Konya. Rumi menuangkan syairnya yang dikenal dengan nama Diwan Syams Tabriz. Syairnya tertulis sebagai berikut:

Ketahuilah, dengan kepergianmu, jiwa dan imanku tercabik.
Hatiku yang malang tak lagi kuat dan sabar.
Janganlah bertanya tentang wajah pucatku, hatiku yang gundah, atau jiwaku yang terbakar.
Lihat sendiri, tak ada kekuatan kata yang dapat memperjelas semua ini.

Setelah kepergian Syams, Rumi bersahabat dengan Syekh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Berkat sahabatnya itu, selama 15 tahun terakhir masa hidupnya, ia berhasil menghasilkan himpunan syair yang mengagumkan dan diberi nama Mathnawi. Buku yang terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini ajaran-ajaran tasawuf dituangkan secara mendalam dan disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain. Karya tulisnya yang lain adalah Ruba’iyyat (sajak empat baris dalam jumlah 1600 bait). Fihi ma Fihi (dalam bentuk prosa; merupakan himpunan ceramahnya dalam bentuk tasawuf), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat dan pengikutnya.

Tarekat Maulawiyyah  yang dikembangkan oleh Rumi dan sahabatnya Syekh Hisamuddin, Dikenal di Barat dengan nama The Whiring Dervishes (Para Darwisy yang berputar-putar). Nama tersebut diberikan karena para penganut tarekat ini melakukan tarian berputar-putar yang diiringi gendang dan seruling dalam dzikir mereka untuk mecapai ekstase.

Menurut A.j. Arberry, Rumi adalah seorang penyair sufi yang profolic. Ia telah menuilis kurang lebih 34.662 bait syair dalam bentuk ghazal (diwan), ruba’I dan Mathnawi.

Adapun karya-karya Rumi yang terkenal ialah:

1. Diwan-I Syamsi Tabriz (Sajak-sajak pujian kepada Syamsi Tabriz)
2. Mathnaw-I Ma’nawi
3. Ruba’iyyat
4. Fihi Ma Fihi (Di Dalamnya Ada Seperti yang Ada di Dalamnya)
5. Makatib
6. Majalis-I Sab’ah

Baca juga: Bendo-Sarang: Napak Tilas Perjalanan Intelektual Kiai

Berbagai syair-syair dahsyat yang tertuang dari hati Rumi mampu menghadirkan eksistensi Tuhan, begitu menyentuh dan merebak ke relung jiwa yang paling dalam, sehingga mencapai tingkat spiritual dengan dimensi yang berbeda. Semuanya tidak lain karena cinta. Cintalah yang mampu membakar hasrat dan melahirkan tarian mistikal “Menari menghampiri Sang Khalik”:

Bila tak ku nyatakan keindahan-Mu dalam kata,
Kusimpan kasih-Mu dalam dada.
Bila ku cium harum mawar tanpa cinta-Mu,
Segera saja bagai duri bakarlah aku.
Meskipun aku diam tenang bagai ikan,
Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan
Kau yang telah menutup rapat bibirku,
Tariklah misaiku ke dekat-Mu.
Apakah maksud-Mu?
Mana ku tahu?
Aku hanya tahu bahwa aku siap dalam iringan ini selalu.
Ku kunyah lagi mamahan kepedihan mengenangmu
Bagai unta memamah biak makanannya,
Dan bagai unta yang geram mulutku berbusa.
Meskipun aku tinggal tersembunyi dan tidak berbicara,
Di hadirat kasih aku jelas dan nyata.
Aku bagai benih di bawah tanah,
Aku menanti tanda musim semi.
Hingga tanpa nafasku sendiri aku dapat bernafas wangi,
Dan tanpa kepalaku sendiri aku dapat membelai kepala lagi.

Referensi:
Abdul Hadi W. M. Rumi, Sufi dan Penyair. Bandung: Pustaka, 1985.
Abdul Hadi W. M. Masnawi, Senandung  Cinta Abadi Jalaluddin Rumi. RausyanFikr Institute ,Yogyakarta, 2006.
Leslie Wines, Menari Menghampiri Tuhan, Biografi Spiritual Rumi, Mizan Pustaka, Bandung, 2004.

Penulis: Suprianto

Tinggalkan Balasan