ABU AL HASAN AL ASY’ARIYY, IMAM AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

0
97
views
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.nu.or.id%2Fpost%2Fread%2F120935%2Fbiografi-imam-abu-hasan-al-asy-ari--sang-penyelamat-umat&psig=AOvVaw3jBnYUXNtNuo11Htb4Iex2&ust=1609750869531000&source=images&cd=vfe&ved=0CAIQjRxqFwoTCIi7jMGz_-0CFQAAAAAdAAAAABAD
Gambar: nu.or.id

Abu Al Hasan Al Asy’ariyy, nama lengkapnya adalah Abu al Hasan ‘Aliyy bin Isma’il bin Abu Bisyr Ishaq bin Salim bin Isma’il bin ‘Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa ‘Abdullah bin Qays al Asy’ariyy al Yamaniyy al Bishriyy. Tentang kaumnya, Allah taala telah menurunkan ayat:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَن يَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَسَوۡفَ يَأۡتِي ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ يُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَآئِمٖۚ ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ {المائدة:54}

Maknanya, “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [Q.S. al Ma`idah: 54] Setelah turun ayat ini, Rasulullah shallAllahu ‘alayhi wasallam menunjuk kepada Abu Musa al Asy’ariyy seraya berkata, “Mereka (kaum yang dimaksudkan dalam ayat ini) adalah kaum orang ini,” sambil Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam menepuk punggung Abu Musa al Asy’ariyy.

Imam Abu Al Hasan Al Asy’ariy dilahirkan pada tahun 260 H di kota Bashrah. Dan ada yang mengatakan pada tahun 270 H. Imam Abu al Hasan al Asy’ariyy adalah keturunan Abu Musa al Asy’ariyy, salah seorang sahabat yang menjadi rujukan dalam fatwa dan sangat merdu suaranya dalam membaca al Qur`an. Nasab Abu Musa al Asy’ariyy bersambung pada al Jamahir bin al Asy’ar, salah satu keturunan Saba` yang dulu ada di Yaman.

TAUBAT DARI PAHAM MU’TAZILAH

Pada awalnya, Imam Abu al Hasan al Asy’ariyy adalah seorang sunniyy yang dibesarkan dari keluarga Ahlussunnah. Kemudian ia mempelajari paham Mu’tazilah dari Abu ‘Aliyy al Jubba`iyy dan ia menjadi pengikutnya hingga menjadi seorang imam besar bagi kalangan Mu’tazilah. Kemudian al Asy’ariyy bertaubat meninggalkan aliran Mu’tazilah. Ia menaiki sebuah kursi di Masjid Jami’ Bashrah di hari Jum’at dan berseru dengan suara lantang:

مَنْ عَرَفَنِيْ فَقَدْ عَرَفَنِيْ، وَمَنْ لَمْ يَعْرِفْنِيْ فَإِنِّيْ أُعَرِّفُهُ بِنَفْسِيْ، أَنَا فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ، كُنْتُ أَقُوْلُ بِخَلْقِ الْقُرْءَانِ وَأَنَّ اللهَ لَا تَرَاهُ الْأَبْصَارُ وَأَنَّ أَفْعَالَ الشَّرِّ أَنَا أَفْعَلُهَا وَأَنَا تَائِبٌ مُقْلِعٌ، مُعْتَقِدٌ لِلرَّدِّ عَلَى الْمُعْتَزِلَةِ مُخْرِجٌ لِفَضَائِحِهِمْ وَمَعَايِبِهِمْ

“Barangsiapa yang telah mengenalku, maka dia telah tahu siapa aku. Dan barangsiapa yang belum mengenalku, akan aku perkenalkan diriku. Aku adalah Fulan bin Fulan. Dulu aku meyakini bahwa al Qur`an adalah makhluk (dengan makna mengingkari sifat Kalam Allah), Allah tidak dapat dilihat dengan mata kepala, dan bahwa perbuatan buruk itu aku yang menciptakannya (beberapa keyakinan Mu’tazilah) dan kini aku telah bertaubat dan meninggalkan keyakinan tersebut. Aku bertekad untuk membantah golongan Mu’tazilah, dan akan aku buka keyakinan-keyakinan keji dan buruk mereka.”

Al Faqih Abu Bakr ash-Shayrafiyy mengatakan: “Dahulu golongan Mu’tazilah telah berkuasa, hingga akhirnya al Asy’ariyy tumbuh dan mematahkan syubhah-syubhah mereka sehingga mereka tidak berkutik dan menghambat perkembangan dakwah mereka.”

PUJIAN ULAMA TERHADAPNYA

Semua ulama Islam dari masa ke masa adalah pengikut Imam Abu Al Hasan Al Asy’ariyy, beraqidah Asy’ariyah. Ulama seperti Imam an Nawawi, ibnu Hajar al Atsqolani, ibnu Rajab, as Syairazi, al Qurthubi, ar Razi kesemua ulama tersebut tidak diragukan lagi merupakan al Asya’iroh pengikut Imam al Asy’ari, bukan pengikut ibnu Taimiyah atau ibnu Abdil Wahhab. Imam as Suyuthi, ar Rafi’I, al Baihaqi, al khathib al Baghdadi, al Bajuri, ibnu Asakir pengarang kitab at Tarikh al Kabir, dan Imam al Ghozali semuanya menyatakan mereka adalah Asy’ariyah, semuanya adalah rujukan beragama bagi milliyaran umat hingga sekarang.

As-Subkiyy dalam kitabnya “Thabaqat asy-Syafi’iyyah al Kubra” mengatakan: “Ketahuilah bahwa Abu al Hasan al Asy’ariyy tidak memunculkan sebuah madzhab baru. Beliau hanya mengulas madzhab ulama salaf dan membela keyakinan para sahabat Rasulullah. Maka, berafiliasi dengan beliau hanyalah sebatas karena beliau meramu ajaran dan jalan salaf, berpegang teguh dengannya dan menegakkan argumen-argumen dan bukti-bukti atasnya. Dari sinilah orang yang mengikutinya dalam hal itu dan meniti jalannya dalam dalil-dalilnya dinamakan seorang pengikut Asy’ariyy.”

Abu al Qasim al Qusyayriyy mengatakan, “Para ahli hadits bersepakat bahwa Abu al Hasan al Asy’ariyy adalah salah satu imam bagi para ahli hadits, dan madzhab beliau adalah madzhab para ahli hadits. Beliau menjelaskan Ushul ad-Din sesuai dengan jalan Ahlussunnah, beliau pun membantah ahli bid’ah yang menyimpang. Beliau ibarat pedang yang terhunus bagi golongan Mu’tazilah, ahli bid’ah dan orang-orang yang keluar dari agama ini. Barangsiapa yang menghina, mencela, memaki atau mencacinya, maka dia telah menyebarkan ucapan-ucapan kotor terhadap seluruh Ahlussunnah.”

Ahli sejarah Ibn al ‘Imad al Hanbaliyy mengatakan, “Di antara hal yang mengharumkan nama baik Ahlussunnah an-Nabawiyyah dan menghitamkan panji-panji pengikut Mu’tazilah dan Jahmiyyah adalah perdebatannya (al Asy’ariyy) dengan gurunya al Jubba`iyy yang di dalamnya ia (al Asy’ariyy) mematahkan syubhah setiap ahli bid’ah yang hanya ingin cari muka.”

‘Izzu Ad-Din bin ‘Abd as-Salam mengatakan, “Keyakinan al Asy’ariyy mencakup hal-hal yang ditunjukkan oleh nama-nama Allah yang sembilan puluh sembilan.” Beliau juga mengatakan, “Ini adalah sekumpulan keyakinan al Asy’ariyy rahimahullah ta’ala dan keyakinan salaf, ahli thariqah dan haqiqah.”

As-Subkiyy juga mengatakan: “Para ulama madzhab Hanafiyy, Syafi’iyy dan Malikiyy serta para ulama terkemuka dari kalangan madzhab Hanbaliyy itu dalam hal ‘aqidah memiliki satu pegangan yang sama. Seluruhnya mengikuti pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah, memeluk keyakinan pada agama Allah dengan jalan Syaykh as-Sunnah Abu al Hasan al Asy’ariyy rahimahullah.”

Beliau juga berkata: “Secara garis besar, keyakinan yang diajarkan al Asy’ariyy adalah yang terhimpun dalam kitab ‘Aqidah Abi Ja’far ath-Thahawiyy yang telah diterima oleh para ulama semua madzhab dan telah mereka ridlai sebagai keyakinan (yang benar dan boleh diikuti).”

Al Bayhaqi mengatakan, “Guru kami al Asy’ariyy tidak membawa hal baru di dalam agama Allah, dan tidak mendatangkan bid’ah dalam agama-Nya. Melainkan beliau mengambil perkataan para sahabat, tabi’in, dan ulama-ulama setelah mereka dalam ushul ad-din, kemudian beliau menguatkannya dengan tambahan penjelasan dan keterangan. Dan yang beliau katakan dalam hal ushul dan hal-hal yang ada dalam syari’at adalah hal yag dibenarkan akal, tidak seperti anggapan orang-orang yang menyimpang. Jadi, keterangan beliau adalah penguatan terhadap ulama-ulama ahlussunnah, seperti Abu Hanifah dan Sufyan ats-Tsawriyy dari penduduk Kufah, al Awza’iyy dan lainnya dari penduduk Syam, Malik dan asy-Syafi’iyy dari penduduk dua tanah suci, Ahmad bin Hanbal dan lainnya dari kalangan ahli hadits seperti al Bukhariyy dan Muslim yang merupakan dua pimpinan ahli hadits dan para Huffadz yang membukukan hadits-hadits yang menjadi rujukan syari’at.”

Abu Ishaq Al Isfirayiniyy mengatakan, “Aku dibandingkan dengan Syekh al Bahiliyy seperti setetes air dibandingkan lautan. Dan aku pernah mendengar Syekh Abu al Hasan al Bahiliyy berkata, ‘Aku dibandingkan dengan Syekh al Asy’ariyy ibarat setetes air dibandingkan dengan lautan’.”

Abu Bakr al Baqillaniyy berkata: “Sebaik-baik keadaanku adalah ketika aku bisa memahami perkataan Abu al Hasan (al Asy’ariyy).”

Ada sebagian kalangan yang mengklaim bahwa al Asy’ariyy bermadzhab Malikiyy, ini tidak benar. Melainkan al Asy’ariyy adalah pengikut madzhab Syafi’iyy. Beliau belajar ilmu fiqh dari Abu Ishaq al Marwaziyy.

Sedangkan tokoh besar ulama Asya’irah dari kalangan madzhab Malikiyy adalah Imam al Qadli Abu Bakr al Baqillaniyy.

Baca Juga: ILMU KALAM; ANTARA TEOSENTRIS DAN ANTROPOSENTRIS

PRINSIP DASAR AL ASY’ARIYY

Berbeda dengan golongan Mu’tazilah, Jahmiyyah dan Mujassimah, al Asy’ariyy menegaskan bahwa “Allah bersifat dengan sifat Maha Mengetahui tetapi tidak seperti pengetahuan makhluk, sifat Mahakuasa yang tidak seperti sifat kuasa makhluk, sifat Maha Mendengar tetapi tidak seperti pendengaran makhluk, dan sifat Maha Melihat yang tidak sama dengan penglihatan makhluk.”

Berbeda dengan Jahmiyyah dan Mu’tazilah, al Asy’ariyy menegaskan bahwa “hamba tidak mampu menciptakan perbuatannya sendiri tetapi mampu untuk melakukan kasb terhadap suatu perbuatan.”

Berbeda dengan golongan Musyabbihah di satu sisi dan golongan Mu’tazilah, Jahmiyyah dan Najjariyyah di sisi lain, al Asy’ariyy menegaskan bahwa “Allah bisa dilihat tanpa menempati suatu tempat, tanpa memiliki ukuran, dan tanpa disifati dengan sifat makhluk. Allah tidak mempunyai ukuran dan tidak bersifat dengan sifat makhluk, maka demikian pula Allah kita lihat tanpa berukuran dan tanpa bersifat dengan sifat makhluk.”

Baca Juga: Menanggapi Wahabi: Mengapa Madzhab Fikih Syafi’i Tetapi Akidahnya Asy’ari?

Berbeda dengan golongan Najjariyyah dan Mujassimah, al Asy’ariyy mengajarkan bahwa “Allah bukan bertempat atau bersemayam di atas ‘Arsy. Karena sebelum menciptakan tempat, Allah ada tanpa tempat. Kemudian Allah menciptakan ‘Arsy dan Kursiyy, namun Allah tidak membutuhkan pada keduanya dan tempat manapun. Dan setelah menciptakan tempat, Allah tetap seperti sebelum menciptakan tempat, ada tanpa tempat.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here