Abu Manshur al Maturidiyy dan Prinsip Dasar Teologinya

1
92
views
Sumber: en.wikipedia.org

Nama lengkap beliau adalah Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al Maturidiyy as-Samarqandiyy. Kata al Maturidiyy adalah penisbatan kepada kota Maturid yang merupakan sebuah wilayah di daerah Samarqand di seberang sungai Jayhun.

Al Maturidiyy dan Imam Abu al Hasan al Asy’ariyy adalah dua imam besar yang telah mengulas dan menyusun keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah dengan dalil-dalil naqliyy dan ‘aqliyy.

Al Maturidiyy dijuluki dengan Imam al Huda (pemimpin kepada jalan kebenaran) dan Imam al Mutakallimin (pemimpin para ulama ilmu Kalam) dan julukan-julukan lainnya. Julukan-julukan tersebut menunjukkan tingginya kedudukannya dalam pandangan umat Islam dan ahli sejarah di masanya. Tetapi, meski namanya telah populer, dan meski pengikutnya yang dikenal dengan al Maturidiyyah sudah tersebar di mana-mana, tidak banyak ahli sejarah yang menuliskan biografinya.

Buku-buku sejarah tidak mencatat tahun kelahirannya secara pasti. Namun bisa dikatakan bahwa ia dilahirkan di masa Khalifah al Mutawakkil dari Dinasti ‘Abbasiyyah, dan ia lahir dua puluh sekian tahun sebelum Imam Abu al Hasan al Asy’ariyy.

Imam Abu Manshur al Maturidiyy dilahirkan dari sebuah keluarga yang sangat mencintai ilmu. Iapun belajar ilmu agama sedari kecil. Dan ia tidak pernah mundur sedikitpun dalam menyebarkan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah, membelanya dan berpegang teguh dengannya. Semangatnya tidak pernah pudar dalam menggeluti ilmu Kalam, menulis kitab-kitab, dan menegakkan dalil, argumen dan bukti yang kuat.

GURU-GURU DAN KEILMUANNYA

Hanya beberapa guru saja yang disebutkan dalam referensi-referensi sejarah. Semua guru al Maturidiyy sanad keilmuannya kembali kepada Imam Abu Hanifah radliyallahu ‘anhu. Di antara guru al Maturidiyy adalah Abu Nashr Ahmad bin al ‘Abbasiyy bin al Husayn al ‘Iyadliyy, Abu Bakr Ahmad al Juzajaniyy, Nushayr bin Yahya al Balkhiyy dan Muhammad bin Muqatil ar-Raziyy.

Dari segi keilmuan, al Maturidiyy menguasai ta`wil al Qur`an, Ushul al Fiqh, ilmu Kalam dan yang berkaitan dengannya. Ia mempelajari ilmu-ilmu ‘aqliyy dan naqliyy dengan sangat mumpuni dan mendalam. Ia menekuni hingga ke detail-detailnya sehingga menjadi seorang imam yang terkemuka di dalam ilmu Fiqh, Ta`wil al Qur`an dan ilmu Kalam.

Setelah mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang luas, al Maturidiyy kemudian menyibukkan diri dengan mengajar dan mendidik. Ia pun menulis, mengarang dan membaktikan seluruh hidupnya untuk membela agama Islam dan memperjuangkan keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah sampai akhirnya para ulama menyebutnya sebagai seorang imam yang agung, pejuang agama dan penegak ‘aqidah Ahlussunnah. Al Maturidiyy telah mengalahkan golongan Mu’tazilah dan golongan ahli bid’ah lainnya dalam berbagai forum perdebatan hingga mereka terdiam tanpa bisa memberikan jawaban.

PUJIAN RASULULLAH TERHADAPNYA

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 لتفتحن القسطنطينية ولنعم الأمير أميرها ولنعم الجيش ذلك الجيش

“Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin mereka, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan tersebut.” HR. Ahmad.

Dan setelah 800 tahun Nabi bersabda demikian, Konstantinopel (sekarang Istanbul, Turki) benar-benar ditaklukkan oleh pemuda bernama Sultan Muhammad Al Fatih. Secara tidak langsung Nabi Muhammad memuji Sultan Muhammad Al Fatih, seorang pemimpin pasukan penaklukan Konstantinopel yang hidup beratas-ratus tahun setelah beliau, seorang pengikut Imam Abu Hanifah dalam Fikih, dan pengikut Imam Abu Manshur al Maturidiy dalam ‘aqidah. Apakah mungkin Nabi Muhammad memuji seseorang yang menyimpang ‘aqidahnya? Apakah Nabi memuji suatu komunitas yang melenceng agamanya? Tentu saja tidak. Maka dapat dipastikan ‘aqidah al Maturidiyyah adalah ‘aqidah yang benar dengan legalitas dari Rasulullah sendiri.

KARYA TULIS

Imam Abu Manshur al Maturidiyy memiliki sekian banyak karangan, baik di dalam ilmu Kalam dan ‘Aqidah, Ushul Fiqh maupun Ta`wil al Qur`an. Dalam ilmu Kalam, beliau mempunyai kitab “at-Tawhid”, “al Maqalat”, “ar-Radd ‘ala al Qaramithah”, “Bayan Wahm al Mu’tazilah” dan lain-lain.

Sedangkan dalam kajian Ushul Fiqh, disebutkan dalam kitab “Kasyf azh-Zhunun” bahwa Imam al Maturidiyy mempunyai 2 kitab, yaitu kitab “al Jadal” dan kitab “Ma`khadz asy-Syara`i’ fi Ushul al Fiqh”.

Dalam kitab “Bada`i’ ash-Shana`i’” disebutkan bahwa ketika menggali hukum waktu-waktu shalat lima waktu dari ayat:

فَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ حِينَ تُمۡسُونَ وَحِينَ تُصۡبِحُونَ (١٧) وَلَهُ ٱلۡحَمۡدُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظۡهِرُونَ (١٨) [الروم:17-18]

Imam Abu Manshur al Maturidiyy mengatakan: “Mereka memahami dari ayat tersebut difardlukannya shalat lima waktu. Seandainya pemahaman mereka seperti pemahaman orang di zaman kita, maka mereka tidak akan memahami dari ayat ini lebih dari sekedar tasbih yang dituturkan di dalamnya.”

Karya-karya al Maturidiyy dalam ilmu Ta`wil al Qur`an adalah delapan jilid kitab “Ta`wilat Ahl as-Sunnah” atau juga dikenal dengan “Ta`wilat al Maturidiyy fi at-Tafsir” dan “Ta`wilat al Qur`an.” Imam ‘Abd al Qadir al Qurasyiyy mengomentari kitab ini seraya berkata bahwa ini adalah kitab yang tidak ada tandingannya dari kitab lain, bahkan tidak ada kitab para ulama terdahulu dalam ilmu ini yang mendekatinya.

Disebutkan dalam kitab Ta`wilat ini bahwa ketika menafsirkan ayat:

قَالَ رَبِّ أَرِنِيٓ أَنظُرۡ إِلَيۡكَۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِي [الأعراف: 143]

Maknanya: “Musa berkata: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (Dzat-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu”. Allah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku (di dunia)”.” [Q.S. al A’raf:143]

Imam Abu Manshur al Maturidiyy mengatakan: “Melihat Allah di akhirat menurut kita (Ahlussunnah) adalah hal yang pasti terjadi, dan benar adanya tanpa Allah menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya dan tanpa disifati dengan sifat-sifat makhluk.”

Di antara karya al Maturidiyy lainnya adalah kitab “Syarh al Fiqh al Akbar” yang merupakan syarh, penjelasan dan uraian terhadap kitab Imam Abu Hanifah yang berjudul “al Fiqh al Akbar.”

PRINSIP DASAR TEOLOGINYA

Manhaj al Maturidiyy, sebagaimana yang dituturkan oleh Dr. Abu Zahrah dalam Kitab Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah, memakai argumentasi nalar yang besar tanpa melampaui batas dan berlebihan. Sedangkan, manhaj al Asy’ariyy berpegang teguh dengan dalil Naql serta mengukuhkannya dengan argumentasi nalar akal. Sehingga sebagian pengkaji ilmu ‘aqidah meneguhkan bahwa manhaj al Asy’ariyy berada di antara pemikiran sekte Muktazilah dan ulama ahli fikih dan ahli Hadits sedangkan manhaj al Maturidiyy berada di antara pemikiran sekte Muktazilah dan manhaj al Asy’ariyy.

Memang benar, ada perbedaan pendapat di antara golongan al-Maturidi dan golongan Al Asy’ariyy dalam beberapa permasalahan, seperti hakikat iman orang yang taqlid (pengikut mazhab) dan sejenisnya sebagai imbas dari analogi pemikiran yang berbeda. Akan tetapi, perbedaan tersebut tidak sampai membuat satu golongan mengafirkan dan membid’ahkan golongan yang lain. Bahkan, sebagian ulama pembesar mazhab al Asy’ariyy juga beberapa kali lebih condong terhadap pendapat Abu Manshur al Maturidiyy begitu juga sebaliknya.

Sebagaimana yang dicatat oleh Musthalah ad-Din Musthafa al-Kastali (w. 901 H):

 والمحققون من الفريقين لا ينسب أحدهما الآخر إلى البدعة والضلالة

“Dan para ulama ahli tahqiq dari dua golongan (Al Maturidiyy dan Al Asy’ariyy), di antara keduanya tidaklah menisbatkan bid’ah dan sesat kepada satu sama lain” (Hasyiyah al-Kastali ala ‘Aqaid an-Nasafiyyah)

Sikap moderat dalam menyikapi akal dan nash juga ditegaskan oleh Abu Manshur al Maturidiyy dalam kitab at Tauhid, ia mengatakan, “Agama hanya dapat dikenal dengan mendengarkan (nash) dan nalar akal.” Oleh karena itu, Abu Manshur al Maturidiyy memberikan batasan yang jelas dalam seluruh karyanya tentang penggunaan nalar akal. Dan ada kalanya akal harus tunduk terhadap nash sahih dalam Al-Qur’an dan Hadits. Selain itu, al Maturidiyy juga banyak menukil pendapat Aristoteles tentang sepuluh dasar ilmu logika dalam kitab at-Tauhid. Hal ini menunjukkan keluasan ilmunya yang tak terbatas hanya meneliti nalar pemikiran sekte-sekte dalam Islam tetapi juga meneliti perkembangan nalar pemikiran para filsuf Yunani kuno.

WAFAT

Pengarang kitab “Kasyf azh-Zhunun” mengatakan bahwa Imam Abu Manshur al Maturidiyy wafat pada tahun 332 H. Namun beliau kemudian menarik perkataan tersebut dan menuturkan sesuai dengan mayoritas ahli sejarah bahwa al Maturidiyy wafat pada tahun 333 H. Al Maturidiyy dimakamkan di Samarqand.

Penulis: Muhammad Najmuddin

Baca juga: Gusti Allah yang Suka Guyon dengan Hujan

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here