Kajian Teologi Islam; Kritik Aswaja terhadap Rasionalitas Mu’tazilah

0
87
views
Gambar: cosygallery.blogspot.com

Sabtu, 6 Februari 2021 LAKPESDAM (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia) NU Sudan sukses menggelar Kajian Teologi Islam pada temanya yang ke-7 dan dalam rangka memeriahkan Hari Lahir Nahdlatul Ulama ke-95 yang bertempat di Wisma PCINU Sudan.

Kajian Teologi Islam mengangkat tema “Kritik Aswaja terhadap Rasionalitas Mu’tazilah” dikupas tuntas oleh Ust. Ahmad Dliyaul Mubarok, SH., Selaku pemateri. Acara ini dihadiri oleh KH. Dzakwanul Faqih, B.Sh. selaku Rais Syuriyah, KH. Khafidzul Umam, B.Sh. selaku wakil Rais Syuriyah, Moch Hibatullah Zain, BA. selaku ketua Tanfidziyah beserta jajaran, M. Abdurrokhim, selaku Ketua LAKPESDAM beserta jajaran, dan oleh segenap santri NU Sudan yang sangat antusias dalam mengikuti acara.

Ulasan singkat tentang Teologi Islam

Dalam kajian keilmuan Islam, mempelajari Teologi Islam merupakan hal sangat penting dan sangat menarik untuk ditelaah secara kritis dan mendalam. Berbicara soal teologi tidak dimaksudkan sebagai pembicaraan ringan sehari-hari layaknya cemilan, melainkan dalam artian pembicaraan yang bernalar, menggunakan logika dan parameter landasan yang kokoh. Menelaah teologi Islam itu sendiri bertujuan memperkuat keimanan ataupun keyakinan terhadap Allah SWT melalui nalar atau akal yang berlandaskan dalil-dalil. Beberapa fungsi mempelajari teologi Islam, pertama, Dapat memberikan solusi atau jawaban atas kegelisahan umat Islam ketika mencul penyimpangan teologi. Kedua, keimanan akan jauh lebih kuat karena kebenarannya tidak hanya diperoleh secara filosofis, tetapi juga secara logisataurasional.

Tentang Mu’tazilah

Mu’tazilah jika kita merujuk ke dalam kitab al-Milal wa an-Nihal yang ditulis oleh Imam As-Syahrostani maka Mu’tazilah tergolong dalam sekte atau aliran teologi dalam Islam yang sering kali kontra dengan muslim ortodoks dan Ahlusunnah wal Jama’ah. Namun di sisi lain aliran Mu’tazilah telah memberikan banyak kontribusi dalam perkembangan Islam dan menambah Khazanah dalam Islam itu sendiri. Bahkan Mu’tazilah menurut Ahmad Amin adalah sebagai bamper tatkala beradu argument dengan agama lain seperti Yahudi, Kristen, Zoroaster maupun kaum materialis.

Sepanjang perjalanan, perjuangan Mu’tazilah telah dibuktikan oleh sejarah yang mengacu pada beberapa kekhalifahan seperti khalifah Ma’mun, Wasiq, dan Mu’tasim. Terlebih pemahaman Mu’tazilah pernah dijadikan sebagai pilar pada pemerintahan dalam kurun waktu yang cukup lama. Berdasarkan beberapa penelitian, Karya-karya dalam Aliran Mu’tazilah telah dijadikan paradigma berfikir oleh ilmuwan barat pada abad ke-19. Mereka memandang bahwa Mu’tazilah memilki kualitas dalam berfikir dan layak dijadikan pijakan dalam melihat realita kehidupan manusia.

Kritik Aswaja terhadap Rasionalitas Mu’tazilah

Adanya Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diplopori oleh Abu Al-Hasan Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi memandang dan membaca kembali gagasan-gagasan aliran Mu’tazilah dan menemukan bahwa pendapat-pendapat yang digagas oleh Mu’tazilah adalah tidak moderat karena Mu’tazilah dalam memandang nash selalu menggunakan akal sebagai rujukan pertama dan mengebirikan kesakralitasan wahyu. Pendapat Mu’tazilah yang begitu liar dianggap hampir liberal dan itu dapat dibuktikan dari pendapat-pendapat Mu’tazilah diantaranya seperti pendapat Mu’tazilah yang mengatakan bahwa Alquran adalah mahluk, pekerjaan manusia yang menciptakan bukan Allah Swt namun manusia itu sendiri dan pendapat mengenai pelaku dosa besar diposisikan diantara dua posisi yang dikenal sebagai pendapat manzilah bain manzilatain. Dari semua pendapat-pendapat itu timbullah pendapat yang kontroversial di dalam Islam dan kemudian Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai penengah antara dua aliran yaitu aliran muslim ortodok dan aliran Mu’tazilah.

Di dalam Mu’tazilah terdapat ajaran tentang lima pokok keimanan yaitu, al-Tawhīd, al-Wad wa al-Wa’īd, al-Manzilah bayn al-Manzilatayn, al-Amr bi al-Marūf wa an-Nahyu an al-Munkar. Seluruh aliran Mu’tazilah dengan berbgai variannya mengakui lima pokok keimanan ini. Dari kelima pokok keimanan ini, al-Tawhid dan al-Adl menurunkan berbagai gagasan kontroversial yang muncul dari penjabaran logis atas kedua ajaran tersebut.

Al-Tawhid dipahami Mu’tazilah sebagai pengesaan yang utuh terhadap Tuhan. Tuhan maha esa, tidak ada yang menyerupaiNya, bukan benda, bukan materi tak terbagi, tidak bertempat, tidak bersuhu, tidak berkelembaban, tidak tdisebut bergerak juga tidak diam, tidak berdimensi, tidak memiliki kekurangan ataupun cela. Tuhan tidak seperti apapun yang tergambar dalam halusianasi manusia.

Keimanan ini menurunkan gagasan nafy al-ṣifāt (meniadakan sifat-sifat Tuhan). Nafy al-ṣifāt pertama kali digagas oleh pendiri Mu’tazilah Washil bin Atho. Menurutnya, tidak mungkin ada dua tuhan yang qadīm. Dan menetapkan sifat-sifat kepada Tuhan sama dengan menetapkan qadīm-qadīm lain selain Tuhan. Demikian pun al-Al-Quran tidak mungkin bersifat qadīm. Sebab jika demikan, Al-Quran akan menjadi qadīm-qadīm yang lain selain Tuhan. Dan karenanya Mu’tazilah berpendapat bahwa Al-Qur`an adalah makhluk. Konsekwensi logis dari ajaran tersebut di atas adalah bahwa setiap ayat yang sekilas mengesankan adanya sifat-sifat yang mencederai keesaan Tuhan harus ditafsirkan lain atau disebut ta’wīl.

Gagasan lain yang diturunkan dari doktrin keimanan al-tawhid adalah nafy al ru’yah, yaitu bahwa Tuhan tidak dapat dilihat. Menurut Mu’tazilah, Tuhan tidak dapat dilihat. Sebab, jika Tuhan bisa dilihat berarti Tuhan berhadap-hadapan dengan orang yang melihat. Dan itu artinya Tuhan memerlukan tempat. Padahal seperti telah dikemukakan di muka, Tuhan tidak memerlukan tempat. Sebab yang bertempat hanyalah materi. Oleh karena itu mengatakan bahwa Tuhan bisa dilihat sama dengan mengatakan Tuhan adalah benda atau materi, dan itu sama dengan mencederai keesaan Tuhan.

Sedangkan al-Adl, menurut Mu’tazilah adalah suatu perbuatan yang sesuai dengan kearifan akal, yaitu perbuatan yang baik dan bermanfaat untuk makhlukNya. Jika Tuhan tidak berbuat selain untuk kebaikan dan kemanfaatan makhlukNya, hal itu berarti bahwa Tuhan wajib menjaga kepentingan hambaNya[15]. Dalam diskursus teologi, kewajiban Tuhan in idikenal dengan istilah al-Ṣalāḥ wa al-Aṣlaḥ atau yang baik dan terbaik.

Konsekwensi logis dari ajaran tersebut adalah bahwa manusia harus memiliki kebebasan dalam memilih antara yang baik dan buruk. Sebab, jika kehendak buruk manusia disematkan kepada Tuhan, maka Tuhan akan bersifat buruk. Sebab dalam logika Mu’tazilah, menghendaki keburukan adalah keburukan. Dan seperti telah disebutkan di muka, berdasarkan doktrin al-Adl, Tuhan tidak mungkin bersifat buruk. Disamping memiliki kebebasannya, menurut Mu’tazilah manusia juga menciptakan perbuatan buruknya sendiri. Sebab, seperti disebutkan di atas, Tuhan hanya menghendaki kebaikan. Jika perbuatan buruk manusia diciptakan Tuhan, berarti Tuhan melakukan sesuatu yang tidak dikehendakinya. Dan melakukan sesuatu yang tidak dikehendakinya adalah sebuah ketololan atau keterpaksaan yang tidak mungkin terjadi pada Tuhan. Tema tentang kebebasan berkehendak ini dikenal dengan istilah qadlā’ dan qadar.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan beberapa tema teologis yang dimunculkan oleh Mu’tazilah, yaitu: nafy al-ṣifāt, nafy al-ru’yah, ta’wil, al-Ṣalāḥ wa al-Aṣhlaḥ serta qadlā’ dan qadar. Sebenarnya masih banyak gagasan lain Mu’tazilah yang menyulut kontroversi.

Fundamen-fundamen perbedaan Aswaja dan Mu’tazilah:

  1. Tuhan dan sifat-sifat Tuhan
  2. Kehendak bebas Manusia
  3. Janji dan ancaman Tuhan
  4. Standarisasi kebaikan dan keburukan
  5. Melihat Tuhan
  6. Kemakhlukan al Qur’an
  7. Dasar tindakann Tuhan yang rasional dan nonrasional
  8. Apakah Tuhan wajib memberikan sesuatu yang terbaik kepada hambanya
  9. Kemungkinan Tuhan membebani kepada hambanya tentang beban yang tak mungkin di lakukannya

Perbedaan Aswaja dgn Mu’tazilah:

  1. Sifat-sifat Tuhan
  2. Melihat Tuhan
  3. Janji dan ancaman Tuhan
  4. Pencipta perbuatan Manusia
  5. Kehendak Allah

Kajian teologi Islam yang diadakan oleh LAKPESDAM NU sudan ini berakhir setelah sebelumnya tampak antusias dari penyimak yang menyampaikan gagasan dan mengajukan pertanyaannya setelah mendengar pemaparan dari pemateri. Banyak gagasan-gagasan kritis yang dibumbui landasan-landasan kuat selama berjalannya acara kajian teologi islam. Harapan ke depannya dapat melahirkan pemikir-pemikir islam yang tidak hanya kritis, namun juga dapat menganalisa secara tepat sasaran dan tidak keluar dari rel-rel yang telah ditentukan.

Penulis: Suprianto

Baca juga: Muslimat NU Sudan Berbincang Islam Moderat

Tinggalkan Balasan