Menyelesaikan Problematika Umat dengan Bahtsul Masail

0
118
views

PCINUSUDAN.COM – Dalam rangka menghadapi tantangan dan perubahan zaman, serta memeriahkan peringatan Harlah NU ke-95, Lapesdam PCINU Sudan mengadakan sebuah tradisi keagamaan Nahadlatul Ulama berupa forum Bahtsul Masail pada Kamis (11/02) di halaman Wisma PCINU Sudan. Pembahasan yang diangkat di antaranya; Problematika Ikhtilath, Transaksi Dinar Dirham, dan Pembubaran Ormas.

Acara ini dimaksudkan untuk membangun tradisi keagamaan yang selalu up to date dan tanggap terhadap tantangan dan perubahan zaman dengan upaya pemahaman secaa manhaji atau istislahi dalam al-kutub al-mu’tabarah secara kontekstual demi mencapai kemaslahatan esensial.

Bahtsul Masail yang diadakan satu tahun sekali ini diikuti banyak delegasi dari setiap lembaga, badan otonom, angkatan, serta tamu undangan organisasi lain. Dihadiri pula Kiai H Khafidul Umam dan Kiai Eri Prasetiyanto sebagai Muharrir, dan Kiai H Dzakwanul Faqih sebagai Mushohih. Syafiqurrahman membuka acara ini pada pukul 09.00 CAT dan berjalannya acara dimoderatori oleh Muhammad Shodiqi.

Ustadz Hibatullah Zain selaku ketua Tanfidziyah memberikan sambutan dengan cerita para ulama terdahulu yang berbeda dalam memberikan pendapat tentang hukum namun dapat saling menghormati.

“Kita perlu tau, jangankan kita, pendiri Nahdlatul Ulama Mbah Hasyim dengan sesama ulama di zamannya yaitu Mbah Faqih Maskumambang. Mbah Hasyim dan Mbah Faqih berbeda pendapat dalam hal kentongan. Mbah Hasyim tidak membolehkan sedangkan Mbah Faqih membolehkan. Tapi yang terjadi ketika Mbah Hasyim mendengar bahwa Mbah Faqih berbeda pendapat dengan beliau maka kemudian Mbah Hasyim mengumumkan ke semua santri beliau bahwa pendapat Mbah Hasyim begini dan Mbah Faqih begini, artinya agar saling menghormati. Demikian Mbah Faqih, ketika Mbah Hasyim hendak datang ke pondok Mbah Faqih maka seluruh musholla sekitar pondok diminta menyembunyikan kentongan untuk menghormati Mbah Hasyim,” kata beliau.

“Kiai-kiai dulu telah mengajarkan bahwa hal semacam itulah yang harus dicontoh,” lanjutnya.

Beliau juga berharap atas hasil acara Bahtsul Masail ini bisa bermanfaat. “Semoga nanti hasilnya membawa manfaat terutama untuk warga indo khususnya mahasiswa di Sudan.”

Dilanjutkan acara pembahasan as’ilah yang sebelumnya telah dikirimkan oleh si penanya kepada panitia Lakpesdam. Acara tersebut terbagi menjadi dua jalsah. Jalsah pertama dimulai pada pukul 09.00 CAT sampai 12.00 CAT dan dilanjutkan jalsah kedua dimulai pukul 13.00 CAT sampai 17.00 CAT. Para musyawirin pun nampak bersemangat dalam membantu menyelesaikan permasalah yang telah ditetapkan oleh panitia.

Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Kiai H Dzakwanul Faqih dan dilanjutkan foto bersama.//(Lukman)

Baca juga: Lomba Berbahasa Arab Meriahkan Harlah NU Ke-95

Tinggalkan Balasan