Intenasionalisasi NU dan Peluangnya; PCINU, Wadah Kader Sekaligus Soft Diplomacy

0
90
views

Khartoum, Jumat (26/3) Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan dan Ikatan Keluarga Nahdlatul Ulama Sudan (IKANUSA) melaksanakan Madrasah Kaderisasi hari kedua dengan tema “Menempa Militansi Kader NU (Menyongsong Peta Jalan NU Abad ke-2)”.

Madrasah Kaderisasi (MK) kali ini mengundang Kiai Ribut Nur Huda (Mustasyar PCINU Sudan) sebagai pemateri. Setelah acara ini dibuka oleh Labudza Adila Zulfa selaku pembawa acara, kemudian acara ini dilanjutkan dengan pembacaan ikrar bagi peserta yang berhalang hadir pada hari pertama oleh Ketua Tanfidziyah Moch. Hibatullah Zain.

Dengan adanya kaderisasi diharapkan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) khususnya PCINU Sudan sebagai organisasi sosial keagamaan akan bertahan dalam waktu cukup lama dan berprestasi dalam mengemban visi dan melaksanakan misinya. Dengan demikian, PCINU Sudan dapat terus mempresentasikan nasihat KH. Hasyim Asy’ari “Siapa yang mengurusi NU saya anggap dia santriku. Siapa yang menjadi santriku, saya doakan husnul khotimah beserta anak cucunya”.

Muhammad Najmuddin selaku moderator memberikan kesempatan kepada Kiai Ribut Nur Huda dalam mendiskusikan Internasionalisasi NU dan Peluangnya. Beliau menjelaskan bahwa cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama tidak lepas dari rasa kepedulian Ulama Nusantara terhadap pentingnya menjaga manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Aswaja) di dunia.

Baca juga: Masa depan bahasa arab di Indonesia

Diantara kepedulian Ulama Nusantara adalah dibentuknya Komite Hijaz untuk menentang agenda Wahabisme di Arab Saudi tahun 1926 yang jika dibiarkan akan berdampak buruk, tidak hanya pada rusaknya tatanan mazhab, keberadaan makam nabi yang mulia dan beragam peninggalan sejarah Islam juga akan terancam. Disamping rusaknya solidaritas umat Islam dan situasi geopolitik global yang diwarnai konpirasi berwajah Islam.

Prediksi itu pun terbukti, Wahabi masih efektif dijadikan alat propaganda pihak-pihak yang tidak menghendaki umat Islam bersatu meskipun dibenarkan ada “ritme” berbeda ketika kepemimpinan negara yang “berideologi Wahabi” diberikan kepada Ibnu Salman. [1]

”Dari fenomena Komite Hijaz itu kemudian NU memperkuat basis Aswajanya terlebih menghadapi rivalnya yang masih mempunyai persepsi bahwa amaliyahnya Nahdliyah NU itu tahayyul, bid’ah dan khurafat, sampai sekarang NU sudah punya basis Aswaja yang sangat mapan, pesantren-pesantren melestarikan keilmuan akidah yang sanad keilmuannya jelas, melestarikan ilmu fikih yang sanadnya jelas sehingga bisa mendialogkan agama dengan negara karena kelembutan,” jelasnya.

NU sebagai kekuatan Aswaja, peran dakwahnya secara global ditegaskan oleh KH. Ma’ruf Amin “meng-NU-kan dunia”. Peran ini membutuhkan langkah taktis dan strategis dalam membuat keputusan politik luar negeri (polugri) yang tipologinya berbeda dengan negara. Sebagai promotor Islam Moderat, NU berpeluang untuk sinergi dengan Presiden RI melalui Kementerian Luar Negerinya, atau PBNU melalui PCINU-nya membentuk program-program kolektif.  Dalam hal ini, PBNU memiliki penanggung jawab khusus luar negeri dan menuju abad ke-2 NU perlu dilengkapi dengan sistem keorganisasian sehingga persuasi Islam Nusantara ke luar negeri jalur pergerakan PCINU bisa lebih efektif, disamping melalui jalur kebijakan Kemlu RI. Peluang PBNU dalam membangun kekuatan persuasinya adalah memanfaatkan kekuatan Lembaga Perekonomian NU/LPNU, Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama/LPTNU dan kekuatan lainnya yang ada di pusat.   

Penulis Arab Ismail Shabri Muqallid dalam bukunya Al-Alaqaat As-Siyasiyyah Ad-Duwaliyah (2010) menyebutkan bahwa dalam membuat keputusan polugri, negara butuh empat pendekatan, yaitu; diplomasi, propaganda, instansi ekonomi dan kekuatan militer. Lain dengan NU, pendekatannya adalah soft diplomacy (kultural) yang secara protokoler organisasi melalui PCINU Sudan dan atau International Conference of Islamic Scholars/ICIS dan International Summit of Moderate Islamic Leaders/ISOMIL yang sifatnya people to people bukan state seperti Organisasi Kerja Sama Islam/OKI.

Dengan semakin banyaknya kader-kader dan simpatisan NU jebolan luar negeri, NU semakin mumpuni dalam memahami wacana-wacana global dan terlibat dalam menyelesaikan persoalan-persoalan dunia internasional di tengah rivalitas antara kekuatan besar dunia semakin tajam. Terlebih Indonesia yang secara identitas keagamaan adalah negara muslim terbesar, posisi geografisnya diapit oleh negara strategis Amerika dan Tiongkok serta komitmen politiknya adalah Gerakan Non-Blok (GNB). Peluang NU dalam mengambil peran ini adalah mengisi literasi digital nu versi bahasa Asing untuk mengenalkan kepada dunia bahwa ide Islam Nusantara yang  merupakan produk komunitas Islam pinggiran (periphery) mampu merendahkan wibawa keislaman di jazirah Arab sebagai pusat Islam. [2]

Menurut beliau, setelah PCINU didirikan berdasarkan hasil muktamar NU tahun 1999 di Lirboyo, PCINU pada waktu itu secara kaderisasi bukan tidak ada, sebelumnya sudah banyak tokoh-tokoh NU di luar negeri yang mebangun komunitas tapi tidak mempunyai wadah resmi, kemudian mempunyai mandat yang luar biasa karena langsung mendapatkan Surat Keputusan (SK) dari PBNU. 

“PCINU yang SK nya langsung dari PBNU ini mandatory yang luar biasa, yang sangat berat, yang seandainya kalau kita mau disiplin, PCINU itu secara hierarkis adalah kedutaannya PBNU,” ujarnya.

“Namun persepsi awal, PCINU itu dibuat wadah kader, artinya ketika PCINU itu identik dengan wadah kader, maka PCINU tidak bisa diberikan mandat untuk dijadikan sebagai dutanya PBNU. Padahal kader tidak kuat untuk membawa gagasan besar, karena PCINU itu sudah matang,” sambungnya.

Misi internasionalisasi NU membutuhkan perubahan persepsi dari PCINU sebagai wadah kaderisasi penguatan SDM, menjadi wadah kaderisasi sekaligus soft diplomacy. Tidak bisa dipungkiri bahwa Anggota PCINU notabene adalah generasi muda milenial yang membutuhkan upaya akumulasi pengetahuan sekaligus perluasan jaringan atau diplomasi. Dalam berdiplomasi, NU pertama kali harus tetap dipandang sebagai kekuatan intelektual  (Aswaja) sebagaimana tersirat dari nama “Kebangkitan Ulama”, baru kemudian kekuatan politik. Membawa misi internasionalisasi NU hanya bisa dilakukan oleh kalangan mutafaahimin (memahami secara utuh), bukan faahimin (memahami sebagian). Disini akumulasi pengetahuan menjadi penting sebelum langkah-langkah diplomasi.

Dalam hal ini, NU terus melakukan proliferasi (pengembangbiakan) Aswaja melalui pemanfaatan akses, kerjasama, dan pengisian lembaga-lembaga negara serta kerjasama antar kekuatan Aswaja di tingkat internasional. Minimal proliferasi di Kemlu RI untuk memperkuat posisi PCI NU dimana jika dilihat dari struktur NU yang hierarkis secara geografis dan demografis mengikuti pola pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indoneisa. Jika PBNU adalah pemerintah pusat, maka PCINU adalah perwakilan atau kedutaannya. Jika PCI NU menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai perwakilan PBNU sementara SDM dan pendanaan yang dimilikinya relatif terbatas akan kah bisa efektif ?. Tentu  jawabannya kembali ke kaidah; “ما لا يدرك كله لا يترك جله”. Wallahu A’lam. [3]

Baca juga: Lewat Madrasah Kaderisasi, PCINU Sudan Siap Cetak Kader Militan

Di penghujung acara beliau menyampaikan bahwa dua kekuatan yang harus kita persiapkan menghadapi tantangan sulit , yaitu: akumulasi pengetahuan, kumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya, yang kedua perluas jaringan, kalau sudah punya teman, punya guru, punya jaringan itu dijaga yang baik, karena itu adalah kekuatan dakwah. Apalagi bersifat global internasional, karena dengan demikian, suatu saat kita akan bisa mendorong gerakan ekspor Islam Nusantara.

Acara terlihat aktif dengan ice breaking dan sesi tanya jawab yang dilontarkan oleh para peserta, kemudian berakhir dengan penyerahan sertifikat kepada pemateri oleh Ketua Tanfidziyah PCINU Sudan foto bersama.//(Ilman)


[1] Disampaikan dalam Acara Madrasah Kaderisasi PCINU Sudan, Jumat, 26 Maret 2021.  

[2] Disampaikan dalam Acara Madrasah Kaderisasi PCINU Sudan, Jumat, 26 Maret 2021.  

[3] Disampaikan dalam Acara Madrasah Kaderisasi PCINU Sudan, Jumat, 26 Maret 2021.  

Tinggalkan Balasan