Lewat Madrasah Kaderisasi, PCINU Sudan Siap Cetak Kader Militan

0
89
views

PCINUSUDAN.COM – Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan dan Ikatan Keluarga Nahdlatul Ulama Sudan (IKANUSA) mengadakan pembukaan Madrasah Kaderisasi dengan tema “Menempa Militansi Kader NU (Menyongsong Peta Jalan NU Abad ke-2)” pada Selasa (23/3) di Wisma PCINU Sudan.

Madrasah Kaderisasi (MK) menjadi inovasi proses pencarian sumber daya manusia yang handal, loyal, serta militan untuk melanjutkan tongkat estafet perjuangan organisasi yang dikemas sangat apik dan elegan oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Sudan (PCINU Sudan).

Hari Pertama MK PCINU Sudan sukses berjalan dengan lancar walaupun dengan cuaca yang cukup panas ditambah dengan kondisi listrik padam, namun tidak mengurangi rasa semangat para peserta untuk mengikuti acara ini.

Acara ini dilaksanakan secara offline dan online melalui  aplikasi Zoom, dibuka oleh Saudari Ismiatul Muawiyah sebagai pembawa acara.

Yusron Kamal mewakili Jajaran Tanfidziyah PCINU Sudan memberikan sambutan serta mengikrar para peserta dalam acara tersebut.

Yusron menuturkan bahwa acara MK PCINU Sudan ini sangat dikemas dengan apik penyajiannya, karena dilaksanakan secara berkala mulai dari tanggal 23 Maret hingga 10 April 2021. Dia berharap semoga semua peserta yang mengikuti MK PCINU Sudan ini bisa terus mengikuti acara  dan mampu menjadi  perwakilan kader NU dari Sudan yang militan, disiplin, dan luar biasa.

Turut hadir dan menyampaikan sambutan dari IKANUSA, yakni KH. Abdul Wahab Naf’an, dalam sambutannya beliau mengungkapkan tujuan dari diadakankannya Madrasah Kaderisasi ini. Menurutnya, para kader Nahdlatul Ulama harus mengetahui masalah-masalah fundamental yang ada dalam organisasai NU.

“Tentu saja, Madrasah Kaderisasi yang diselenggarakan oleh PCINU Sudan ini berfungsi untuk mengetahui apa sih yang menjadi misi, apa yang menjadi tugas dan apa yang diperjuangkan,” ujarnya.

“Apa yang menjadi narasi besar dari gerakan Nahdlatul Ulama itu apa, apa yang jadi masalah fundamental Nahdlatul Ulama,” sambungnya.

Beliau berharap dengan adanya pengaderan ini terlahir semangat serta ada gejolak jiwa yang berbeda dengan yang tidak berpartisipasi acara ini.

“Tentu dari pengkaderan ini yang diharapkan adanya semangat, ada gejolak jiwa yang ketika NU itu bergerak, maka kita ikut bergerak, berbeda dengan yang tidak mengikuti kader,” jelasnya.

“Semoga dengan melibatkan IKANUSA, PCINU Sudan semakin bermanfaat dan IKANUSA Juga mendapatkan manfaat untuk umat Islam umumnya. Kerjasama organisasi bisa continue dan harmonis, satu langkah, dan satu tujuan,” pungkasnya.

Acara ini menghadirkan dua pemateri dalam membahas Sejarah NU & Fikrah an-Nahdliyah yang dimoderatori oleh Saudara Muhammad Nahjul Fikri.

Pemateri pertama adalah H. Muthi’ullah Hibatullah (Ketua Tanfidziyah PCINU Sudan 2018-2019) yang hadir melalui zoom.

Dalam kesempatan ini dia menjelaskan bahwa sejarah Nahdlatul Ulama perlu dipahami oleh para kader. Kemudian juga beberapa poin dari materi yang disampaikan adalah Pengenalan profil tokoh NU seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Hasbullah,dan KH. Bisyri Syansuri serta beberapa gerakan yang menjadi embrio tumbuhnya NU yaitu : Nahdlatul Wathon, Nahdlatut Tujjar, dan Tashwirul Afkar.

Kemudian dia juga menjelaskan Komite Hijaz (Dimulai dari masa dikalahkannya pemerintah Turki Utsmani) hal yang membuat keresahan kaum muslim sedunia, dan akhirnya semua organisasi keislaman di Indonesia berkumpul dan berencana mengirimkan delegasi ke Saudi terkait Kota Makkah dan Madinah. Dipimpin oleh KH. Hasbullah melalui H.O.S. Cokroaminoto setidaknya menyampaikan 5 (lima) pesan :

Pertama, Kemerdekaan bermadzhab di Makkah – Madinah

Kedua, Meminta tempat bersejarah dipertahankan / diwakafkan

Ketiga, Tentang Perhajian

Keempat, Masalah Hukum-hukum di Madinah

Kelima, Meminta balasan surat dari kerajaan

Dilanjut dengan menjelaskan Resolusi Jihad, Partai Nahdlatul Ulama, dan mengutip Jargon NU yang begitu populer setelah KH. Achmad Siddiq menggunakannya untuk mengartikan khittah NU, yakni “NU tidak kemana-mana, tapi ada dimana-mana“.

Dalam penyampaian terakhir, Ia menyimpulkan kenapa NU didirikan?

  1. Sebuah kepedulian terhadap bangsa Indonesia
  2. Kepedulian kepada umat
  3. Kepedulian kepada Islam
  4. Kepedulian kepada Islam Ahlusunnah Wal Jama’ah

Mengutip dari ungkapan Habib Luthfi Ia mengatakan “NU itu hanya organisasi biasa, seperti kertas putih. Namun, ketika kertas putih itu ditulis bismillahirahmanirrahim, maka menginjaknya bisa mengakibatkan kekafiran,” ungkapnya.

“Begitu juga dengan NU, NU ini adalah hanya sebuah organisasi, namun di dalamnya ada yang diusung yaitu Ahlusunnah Wal Jama’ah, sehingga ini mengakibatkan kemuliaan NU ada didalamnya. Jadi ketika ada sesuatu di NU siapapun pemimpinnya, siapapun orang yang ada di dalamnya, maka kita harus memandang jamiyyahnya, dan bagi orang yang menghinakannya, maka ini akan berbahaya bagi orang yang menghinakannya,” sambungnya.

Baca juga: Kurdistan, Antara Impian dan Kenyataan

Dalam kesempatan yang kedua, materi disampaikan oleh Ahmad Dliya’ul Mubarok (Aktivis Lakpesdam NU Sudan), beliau menceritakan tentang kelompok-kelompok yang bertikai di Timur-Tengah lebih khususnya konflik berkepanjangan di Afganistan, sehingga ada delegasi dari negara itu datang ke Indonesia dan ingin mengenal Islam melalui konsep Islam Nusantara, sebagai wajah Islam yang baik dalam beragama dan juga bernegara, Islam moderat, toleran dan tidak menggunakan kekerasan.

Dia juga menjelaskan bagaimana NU itu berkembang di Indonesia, bagaimana tantangan NU yang tidak sedikit, tugas-tugasnya itu juga tidak mudah, seringkali tersandung fitnah, persoalan politik agama maupun negara.

“Jadi fitnah itu sangat banyak kemungkinan diberbagai pintu, tapi NU memiliki manhaj dalam berfikir secara metodologis,” ujarnya.

“Kalau kita mempelajari Aswaja disitu terbelenggu dengan definisi yang sangat luas, Aswaja itu bisa dilegitimasi dengan kepentingan-kepentingan orang lain, bukan NU saja tapi kelompok lain pun bisa mengatakan bahwa dirinya Aswaja,”. jelasnya.

“Kalau kita berkiblat kepada NU berarti kita memiliki manhaj,” sambungnya.

Kemudian beliau juga menjelaskan Fikrah Nahdliyah (pola pikir) NU, terdapat lima pola pikir yang harus diterapkan NU dalam menyelesaikan persoalan, yaitu :

Pertama, Fikrah Tawassuthiyyah (pola pikir moderat), artinya NU mempunya 2 (dua) indikator penting yaitu : Tawazun (seimbang) dan I’tidal (moderat). Sehingga dalam menyikapi persoalan Nahdlatul Ulama tidak tafrith atau ifrath.

Kedua, FikrahTasamuhiyyah  (pola pikirin toleran)  itu tercermin dalam sikap bernegara contohnya tatananyang berada di pemerintahan bersinergi dengan tatanan yang ada di tubuh NU. Sehingga menjadikan NU kuat dan terstruktur, tidak ada celah yang bisa meruntuhkan struktural NU.

Ketiga, Fikrah Ishlahiyah (pola pikir reformatif) maksudnya mengupayakan perbaikan tidak sampai ke masalah-masalah ushul, tapi hanya masalah furu’, kemudian juga masalah yang bersifat qoth’I kita hindari, dan berikhtiar pada masalah yang bersifat dzoni.

Keempat, Fikrah Tathowwuriyyah (pola pikir dinamis) artinya NU itu harus menyikapi segala permasalahan yang skalanya dinamis, responsif dengan permasalahan yang berlaku.

Kelima, Fikrah Manhajiyyah (pola pikir metodologis) artinya NU melakukan pola berfikir yang mengacu kepada manhaj yang telah ditentukan.

Pada pemaparan materi terakhir, ia memaparkan landasan pola bermazhab NU berlaku dalam semua aspek ajaran agama Islam, dalam bidang fiqh mengikuti salah satu dari 4 (empat) mazhab, dalam bidang aqidah mengikuti mazhab Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan mazhab Imam Abu Mansur al-Mathuridi, dan dalam bidang tasawuf mengikuti mazhab Imam al-Junaid al-Baghdadi dan mazhab Imam Abu Hamid al-Ghazali. 

 Setelah penyampaian materi selesai, acara dilanjutkan dengan ice breaking dan sesi tanya jawab yang dibuka oleh moderator.

Acara ini berakhir dengan penyerahan sertifikat kepada kedua pemateri oleh Wakil Ketua Tanfidziyah PCINU Sudan, dan dilanjutkan dengan foto bersama.//(Ilman)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here