Antara Tradisi dan Keunikan Sudan di Bulan Ramadan

0
337
views
Gambar: zawaya.id

Sudan adalah negara yang terletak di timur laut benua Afrika, bertetangga dengan Mesir, Kongo, Afrika Tengah, Chad, dan Libya. Sudan juga memiliki sumber perairan yang bersejarah, yaitu Sungai Nil yang menjadi salah satu dari dua sungai terpanjang di Bumi, mengalir sepanjang 6.650 km dan membelah tak kurang dari sembilan negara yaitu: Ethiopia, Zaire, Kenya, Uganda, Tanzania, Rwanda, Burundi, Sudan, Sudan Selatan, dan tentu saja Mesir.

Negara Republik Sudan (Republik of The Sudan) ini memiiki ketinggian suhu mencapai 47 °C di bulan Mei-Juli sehingga menjadikan negara ini disebut sebagai negara dengan dua matahari. Di tahun 2019 lalu yaitu pertama kalinya penulis merasakan Ramadan di Sudan, Bulan Ramadan jatuh pada tanggal 05 Mei. Sedangkan pada tahun ini (2021) Bulan Ramadan jatuh pada tanggal 13 April. Dengan suhu puncak yang mencapai 47 °C ini tidak menjadikan penghalang bagi penduduk Negeri Sudan untuk melakukan ibadah puasa. Inilah yang menjadi ketertarikan penulis untuk mengamati kebiasaan, tradisi, dan keunikan penduduk Sudan di Bulan Ramadan di tengah-tengah suhu yang sangat berbeda dengan lingkungan penulis sebelumnya, Negara Indonesia.

Sesuatu yang menarik perhatian di pagi hari menjelang siang adalah sopir dan kondektur bus angkutan umum yang tetap bersabar mencari nafkah untuk keluarganya di tengah-tengah panasnya Sudan. Mereka mempunyai metode menarik dalam menghadapi suhu yang terus meninggi di setiap detiknya. Beberapa orang sopir yang diamati mengenakan handuk atau sorban basah di kepalanya untuk menghasilkan hawa dingin dari terpaan angin yang mengenai handuk basah tersebut. Karena pada umumnya bus angkutan umum di sudan tidak memiliki pendingin dan angin panas dari luar bus bisa menerobos masuk ke dalam. Beberapa orang kondektur juga memiliki metode yang tak kalah menarik. Terlihat mereka membawa botol berisi air yang tutupnya berlubang kecil-kecil. Botol tersebut digunakan untuk membasuh wajahnya ketika dirasa wajahnya merasa kepanasan dan digunakannya untuk berkumur ketika mulutnya merasa kekeringan.

Baca juga: PCINU Sudan Serukan Majelis Tahlil Virtual

Di siang hari dengan suhu yang memuncak, banyak dari penduduk Sudan melaksanakan ibadah salat Zuhur di masjid, dan dilanjutkan I’tikaf sampai Asar dan mereka pulang dari masjid kira-kira jam 4-5. Hal ini dilakukan setelah mereka melaksanakan kegiatan sehari-harinya, dengan keadaan sebelumnya yang membuat diri serasa terpanggang oleh matahari. Di sisi lain, pengurus masjid mempersilakan jama’ah untuk melaksanakan I’tikaf dengan menyalakan semua mukayif (pendingin) dan kipas angin yang ada di masjid, guna menghasilkan suasana dingin di dalam masjid.

Berlanjut kepada suatu tradisi dan keunikan Sudan yang hanya ada ketika bulan Ramadlan, yaitu Ifthar Jama’i, yang kemudian oleh warga negara Indonesia menyebutnya dengan Begal Ifthar atau Begal Ramadan. Mengapa disebut demikian? Karena tradisi ini dilakukan dengan cara memberhentikan setiap orang bahkan mobil dan bus yang melintas di jalan raya untuk mengajak dan mempersilakan buka bersama di atas tikar yang telah disediakan di pinggiran jalan. Ajakan ini dirasa agak memaksa sehingga terkesan seperti menghentikan jalannya seseorang layaknya begal.

Ifthar Jama’i ini juga dilakukan di depan rumah penduduk. Siapapun yang melintas disapa dengan sapaan khas Sudan, Keif? Tamam?, kemudian dipersilakan berbuka bersama di depan rumah dengan tikar yang cukup untuk menampung belasan orang. Hal yang sama terjadi di masjid-masjid Sudan. Sebagian dari aghniya’ (orang kaya) memberikan menu buka di masjid dekat rumahnya sehingga orang-orang yang hendak berjamaah salat Magrib bisa menyantap menu berbuka yang telah disediakan.
Menu yang disediakan oleh para pembegal pun bermacam-macam, makanan dan minuman khas Sudan tentunya. Diantaranya, Fuul (kacang polong yang direbus dan dicampur bumbu khas Sudan), Tho’miyah (kacang kabkabe yang digiling, dicampur bumbu kemudian digoreng), Asidah (sejenis bubur yang rasanya masam dan dicampur dengan kuah taqaliyah), Qurroshoh (adonan tepung yang digoreng, biasanya dimakan dengan kuah taqaliyah), ‘Adas (kacang-kacangan yang direbus hingga hancur), Sallathah (sayur-sayuran mentah yang dicampur cuka), Madidah (sejenis bubur khas Sudan), Dam’ah (gulai daging ayam, kambing atau sapi), Ashir Lemon (jus jeruk nipis), Ashir Manju (jus mangga), Ashir Abre (minuman khas Ramadan), Ashir Burtuqol (jus jeruk).

Inilah tradisi dan keunikan Sudan yang dapat dinikmati oleh semua orang, baik warga negara Sudan sendiri maupun warga negara asing. Bagi warga negara asing tradisi ini merupakan pelajaran dan pengalaman yang setidaknya bisa ditiru atas dasar berlomba-lomba dalam kebaikan. Bukankah pahala orang yang memberi makan orang yang berbuka puasa itu seperti pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga?

Penulis: Lukman Al Khakim

Editor: Suprianto

Tinggalkan Balasan