Bagaimana Para Entrepreneur Menjalani Ramadan Mereka di Sudan?

0
65
views
Gambar: befast.tv

Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, momen rizki melimpah-ruah, di mana para hamba mendapat berbagai anugerah dari Sang Pemberi rahmat. Tidak terkecuali para hamba-Nya yang tidak mau melewatkan kesempatan untuk memperbanyak ibadah dengan tadarrus Al-Quran, salat malam, dan mencari rizki yang halal dengan niat menjalankan kebaikan.

Tulisan singkat ini akan sedikit menggambarkan keadaan para diaspora Indonesia khususnya pegiat usaha atau entrepreneur di Negeri Seribu Darwis ini, karena corak yang kaya dari berbaurnya dua budaya, Indonesia dan Sudan, belum cukup terwakilkan hanya dengan sebuah tulisan.

Sudan adalah negara yang terletak di timur laut benua Afrika yang diapit oleh negara-negara timur tengah dan Afrika, Sudan menjadi negara yang unik dengan kombinasinya akan budaya Arab dan Afrika. Sama seperti beberapa negara tetangganya, Sudan memiliki cuaca yang relatif ekstrem terutama di bulan Maret sampai September dengan puncak suhunya yang mencapai 47° C. Dengan hadirnya Ramadan pada tanggal 13 April yang rata-rata suhunya berkisar 34-43° C, menjadikan ibadah puasa di negeri Dua Nil ini menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian umat Islam di dalamnya, terutama para entrepreneur Indonesia.

Delivery amplop dialokasikan pada sore hari agar saya tetap dapat menjaga daya tahan tubuh. Karena kita tahu, ketika bulan Ramadan cuaca di Sudan sangat ekstrem yang mana mencapai 45 derajat bahkan lebih,” ucap salah satu mahasiswa yang berbisnis jasa penukaran uang. “Akan tetapi semua ini harus kita hadapi dengan sabar dan tetap bersyukur, semoga setetes keringat yang tercucur mendapatkan keberkahan,” imbuhnya.

Para entrepreneur Indonesia di Sudan memiliki berbagai kegiatan dan lini bisnis untuk mengisi waktu mereka di bulan suci ini. Salah satunya adalah Ma’rifat Dzaki, owner dari Gopo Corporation, startup Indonesia yang sedang berkembang di Sudan.

“Berawal dari situasi lockdown sebelum Ramadan yang melanda Khartoum (ibu kota Sudan), dikarenakan pandemi covid-19, akses mahasiswa atau warga Indonesia yang berada di Sudan untuk daerah Khartoum khususnya menjadi sulit, penerapan kebijakan pemerintah ‘di rumah aja’ atau jadwal keluar rumah yang ketat, kegabutan di sore hari, dan ingin berbuat banyak untuk sesama. Saya memutuskan untuk membuka jasa titip belanja dengan sistem pre order. ‘Gopo: go pre order’ merupakan gambaran dari karakter saya yang gupuh atau segera (fast respon) maka jadilah Gopo untuk memenuhi semua kebutuhan harian,” terangnya.

Bisnis dari Ma’rifat pun yang berawal dari jasa antar jemput barang kemudian berkembang merambah jasa penukaran uang, kuliner, laundry hingga gerakan sosial yang dia beri nama Gopo Foundation. “Tidak ada inovasi baru, hanya memperbaiki apa yang kurang baik. Mendirikan Gopo Foundation yang merupakan gerakan sosial dengan program perdana untuk launching yaitu, berbagi 100 paket menu berbuka puasa untuk warga Sudan. Tentunya dengan uluran tangan para donatur dan bantuan tenaga dari PCI Muslimat NU & NU Care-Lazisnu Sudan,” jawabnya ketika ditanya akan inovasi baru di bulan Ramadan.

Baca juga: Corak Salat Tarawih di Sudan

Baca juga: Antara Tradisi dan Keunikan Sudan di Bulan Ramadan

Sedikit berbeda dengan perihal diatas, di Sudan juga ada beberapa lini bisnis yang posisinya untuk mendongkrak berjalannya organisasi. Salah satunya adalah organisasi yang menaungi para mahasiswa pascasarjana di Sudan bernama FORPASS (Forum Pascasarjana Sudan). Organisasi FORPASS ini memiliki beberapa lini bisnis seperti jasa bekam, barbershop, kuliner, dan laundry serta bisinis unggulannya yaitu Asian Resto yang bernaung di bawah binaan FORPASS Corporation.

“Usaha ini dibentuk bukan semata untuk meningkatkan finansial, tetapi juga untuk pemberdayaan mahasiswa yang usahanya dalam bentuk kerjasama dan pembinan. Mulai dari awal membentuk usaha, penanaman modal, pembuatan master plan, pengarahan sistem promosi yang baik hingga pengaturan standard operating procedure (SOP) perusahaan yang akan diayomi langsung oleh ahlinya. FORPASS Corporation memiliki visi menjadi wadah edukasi para entrepreneur muda dalam pengembangan bisnis dari usaha mikro sampai usaha makro,” terang Zikra Juninawan, salah satu pengurus FORPASS.

Selain FORPASS, ada juga PCINU Sudan yang memiliki badan penggerak ekonomi untuk kemandirian organisasi. Seperti yang dilakukan oleh beberapa anggota PCI Muslimat NU Sudan yang tetap ber-entrepreneur di masa libur Ramadan seperti sekarang ini. Dalam praktiknya, mereka menerima barang-barang titipan dari luar kemudian menjualnya sebagai pemasukan finansial organisasi. “Ekonomi Muslimat tetap harus jalan. Walau hanya menjual dari titipan ataupun jualan sendiri seperti barang-barang dari Indo. Memang sebelumnya kita punya planning untuk menjual sesuatu di bulan Ramadan seperti menjual minuman es ataupun cemilan, tetapi karena beberapa kendala planning tersebut belum terlaksana,” ucap salah satu aktivis ekonomi PCI Muslimat NU Sudan.

Baca juga: Interpretasi Sufi Terhadap Al-Quran

Ada juga salah satu mahasiswa sebut saja Budi yang memiliki usaha menjual beberapa sayuran langka di pasaran yang mana banyak warga Indonesia tinggal di sana. “Kami menjual beberapa sayuran di antaranya kangkung, sereh, dan kacang panjang yang merupakan sayuran favorit orang Indonesia yang jarang ditemukan di pasar-pasar Sudan. Jadi kami membantu teman-teman di sini agar mudah mendapatkannya,” ucapnya.

Dalam prakteknya, dia mengambil sayuran tersebut langsung dari kebun milik warga Sudan yang jauh dari pemukiman warga Indonesia yang kemudian diantar ke para konsumennya. “Iya. Lokasi kebunnya cukup jauh sekitar 11 kilo meter dari rumah. Pagi setelah subuh kami ambil lalu sorenya kami kirim ke rumah-rumah konsumen. Ya sekalian ngabuburit menunggu azan magrib,” tambahnya.

Demikianlah sedikit gambaran aktivitas para entrepreneur Indonesia yang berada di Sudan. Masih banyak lagi cerita-cerita singkat tentang suka-duka menggerakkan roda perekonomian di luar negeri.

Rais Syuriah PCINU Sudan, KH. Dzakwanul Faqih dalam hal ini memberikan komentar terkait fenomena mahasiswa Sudan yang kuliah sambil kerja. Mengutip filosofi satu bait kitab Alfiyah ibn Malik,

“وَمَا يَلِـــىْ الْـمُضَافَ يَــأْتِى خَلَفَا ۝ عَنْهُ فِى اْلإِعْرَابِ إِذَا مَا حُذِفَا”

“Santri itu menjadi generasi penerus bagi perjuangan para ulama di muka bumi ini di kala banyak ulama yang telah dipanggil Allah. Maka dari itu santri harus multitalent. Bisa menjadi pendekar seperti Sayyidina Abu Bakar, bisa menjadi pemimpin pemerintah yang handal seperti Sayyidina Umar, bisa menjadi pedagang yang sukses nan dermawan seperti Sayyidina Utsman, dan bisa seperti Sayyidina Ali yang kepintarannya tidak diragukan lagi,” ucap sosok yang akrab disapa Gus Aan ini.

Penulis: Muhammad Najmuddin

Editor: Maya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here