Interpretasi Sufi Terhadap Al-Quran

0
111
views
Sumber: رصيف 22

Hai kawanku yang budiman, ketahuilah! para sufi ketika mereka ingin menarasikan pengalaman empirik dan pemikiran mereka, kita akan menemukan narasi interpretasi sufi yang terlihat sangat diferensial bahkan kontroversial dengan orang lain yang memiliki retorik biasa-biasa saja. Wahai kawanku yang budiman! untuk diketahui, sebagian para sufi ada yang tidak mampu untuk menarasikan interpretasi mereka karena yang akan mereka sampaikan adalah hakikat-hakikat yang mereka rasakan melalui eksperimen kerohanian intuitif yang diberikan oleh Allah Saw untuk mereka yang sudah merasakan suatu keadaan. Sehingga tatkala mereka menarasikan apa yang mereka temukan dari eksperimen intuitifnya dalam dunia kerohanian, ketahuilah, bahwa di sana akan ditemukan bahasa yang terlalu terbatas untuk menampung hakikat-hakikat itu.

Kalau boleh disamakan atau dianalogika antara interpretasi sufi dan cinta, maka di sana cinta didefinsikan atau dibuatkan narasi yang akan membuat maknanya menjadi sempit, padahal makna cinta sangat luas, nikmat dan indah. Sehingga muncul slogan dalam dunia arab “Setiap kali misi itu luas, maka narasi akan menjadi terbatas”. Mengapa demikian? Karena hakikat rasa hanya bisa dirasakan oleh hati, dan pusat segala rasa akan terbatas jika dinarasikan dengan kata-kata yang terbatas.

Oleh karena itu, para sufi membuat bahasa khusus untuk diri mereka dengan mengganti bahasa komunikasi sosial dengan bahasa rumus dan isyarat untuk mengungkapkan hasil dari pengalaman intuisi mereka mengenai tentang kedaan psikis dan maqom yang telah diberikan oleh Allah Swt untuk mereka, singkatnya mereka para sufi memiliki terminologi tersendiri sebagaimana dalam disiplin ilmu lainnya untuk memberikan indikasi makna terhadap suatu maksud tertentu.

Mungkin ada yang bertanya, Kenapa para sufi membuat isyarat dan rumus-rumus yang sangat kompleks untuk dipahami? Kalau boleh penulis menukil pendapat Dr. Husain Ali Akkasy, mereka melakukan itu karena untuk mendekatkan pemahaman (Aproach of understanding) kepada yang dikhitob, dan menyembunyikan rahasia yang belum waktunya untuk diketahui oleh orang yang memang belum berhak untuk mengetahui rahasia-rahasia mereka. Sebab, sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa di dalam sana mengandung rahasia yang sulit untuk dinarasikan.

Imam al-Qusyairi (W 256 H.) mengatakan dalam kitab Risalahnya yang dinukil oleh Dr. Husain Ali al-Akkasyi; kaum Sufi menggunakan istilah-istilah di kalangan mereka yang dimaksudkan untuk menyingkap makna tentang diri mereka dan mengeneralkan, bahkan menutup rahasia dari orang yang memiliki keadaan jalan yang berbeda dengan mereka. Sehingga makna-makna itu samar dan orang-orang itu tidak mampu untuk menyebarkan rahasia-rahasia kaum sufi kepada orang yang belum pantas menerima rahasia. Sebab, rahasia-rahasia mereka bukan sebuah kumpulan taklifi atau kumpulan rahasia yang datang berupa perbuatan, tapi rahasia-rahasia mereka adalah kumpulan rahasia yang Allah Swt titipkan kepada hati orang-orang yang sudah dikeluarkan saripati hakikat untuk menjadi rahasia-rahasia mereka.

Kawanku, sebaiknya dengan perenungan filosofis di sepertiga malam, kita diperbolehkan untuk melanjutkan narasi tulisan ini agar persepsi kita sama untuk menikmati penjelasan metodologi sufisme dalam menginterpretasikan nash Al-Qur’an. Kawanku yang sangat budiman, dunia hukum itu jika kita sama dalam memahaminya, maka diklasifikasikan menjadi dua yaitu; dunia zahir dan dunia batin. Dan diantara keduanya memiliki ketentuan-ketentuan hukum.

Jika kita menganalisa lebih mendalam di dunia zahir dalam penentuan hukum, kita akan menemukan banyaknya kontroversial antara hukum yang dicetuskan oleh para ulama. Dan semua itu bukan debat kusir seperti netizen twitter dan instagram, namun hukum yang mereka cetuskan itu berlandaskan dengan pemaparan argumentasi bermetodologi rasional dengan memadukan akal rasio dan riwayat sehingga muncullah mazhab. Hanya saja kontroversial di dunia dzahir bagi orang yang tidak memahaminya dengan lugas dan akan menyalahkan satu sama lain.

Selanjutnya adalah dunia batin, jika saja terjadi dalam dunia zahir, perkhilafan antara ulama, maka apakah tidak boleh terjadi bagi para sufi untuk berbeda dalam dunia batin? Tentu bisa, bahkan banyak yang akan berbeda sebagaimana dikatakan oleh imam Ibn Siraj at-Tusi dalam kitabnya al-Luma yang dinukil oleh Dr. Husain Ali Akkasyi dalam kitabnya at-Tafsir as-Sufie al-Isyari li al-Quran al-Karim: “Para sufi juga ikhtilaf dalam berisitinbat”, hanya saja perkhilafan mereka itu tidak saling menyalahkan satu dengan yang lainnya. Karena pada hakikatnya, semua itu adalah keutamaan, kebaikan, kemuliaan, etika dan derajat.

Adapun perkhilafan para sufi menurut Dr. Husain Ali Akkasy tatkala memahami Al-Qur’an setidaknya disebabkan karena beberapa hal sebagaimana diisyaratkan oleh al-Kharraz,“Cara pertama memahami Al-Qur’an adalah dengan mengamalkannya, karena di dalamnya ada ilmu, pemahaman, serta pengistimbatan. Sedangkan pemahaman pertama adalah dengan cara “ilqo as-Sami (dengan menghadirkan hati) dan musyahadah” berlandaskan dengan firman Allah Swt dalam surah Qaf ayat 37.

Baca juga: Corak Salat Tarawih di Sudan

Ungkapan yang senada dengan al-Kharraz adalah ungkapan Ibn Siraj at-Tusi, beliau mengatakan perbedaan interpretasi al-Quran para sufi disebabkan oleh kecendrungan kerohanian, waktu (lingkungan yang dia hidupi), dan ahwal. Oleh karena itu, kita melihat para sufi berbeda dalam menginterpretasikan Al-Qur’an dengan para sufi lainnya. Maka dari itu, menurut Dr. Husain Ali al-Akkasy perbedaan mereka bukan berangkat dari kegelisahan intelektual atau logika dan hukum-hukum akal sebagaimana para ahli zahir, namun perkhilafan itu berangkat dari ahwal dan keadaan waktu yang ia berada pada masa itu.

Dan yang perlu diketahui bagi kita, bahwa jika dianalisis secara mendalam interpretasi Alquran yang dihasilkan oleh para sufi, maka akan ditemukan tidak ada yang kontradiksi dengan hukum zahir, karena yang diyakini para sufi adalah seperti dalam kitab al-Bughyah al-Mustafid fi Syarh Munyah al-Murid dikatakan “Setiap batin yang berbeda dengan zahir adalah batil”.

Adapun yang sering salah kaprah dalam memahami interpretasi Al-Qur’an para sufi adalah karena melihat interpretasi yang dilakukan para sufi dengan kaca mata konsep pentakwilan, yaitu memindahkan makna lafaz zahir kepada makna yang lain. Padahal sufi tidak demikian, namun mereka berangkat dari rasa yang merupakan pengalaman empiris sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

Oleh karena itu klaiman yang ditujukan kepada para sufi bahwa mereka menggunakan konsep pentakwilan dalam Al-Qur’an menurut Dr. Husain Ali al-Akkasy. Dijelaskan bahwa tidak tepat, sebab menurutnya interpretasi Al-Qur’an yang dilakukan oleh para sufi adalah dengan perenungan dan proses rasa untuk menguatkan makna zahir Al-Qur’an. Karenanya, menurut para sufi antara dzahir dan bathin adalah hal yang saling melengkapi bukan hal yang terpisah.

Ket. Kajian ini berdasarkan perspektif Dr. Husain Ali al-Akkasyi

Penulis: Sholah Ibnu Mawardi

Editor: Suprianto

Tinggalkan Balasan