Cerita Ramadan Kami di PCINU Sudan

0
51
views

Ramadan merupakan bulan yang spesial bagi umat islam di seluruh dunia. Bulan yang dirindukan dan memberikan beribu kenangan. Terutama bagi kaum rantau yang belum bisa berjumpa dengan sanak saudara, terutama keluarga. Tahun ini pun masih sama seperti tahun kemarin, di mana kami masih ditemani dengan suhu yang tinggi dan sering kali terjadi pemadaman listrik. Di sisi lain, kami masih tetap bersyukur karena setidaknya ramadan kali ini tidak seperti ramadan tahun lalu, di mana masa-masa lockdown yang sepi dam sunyi. Pada tahun ini kami sudah bisa mendengarkan lantunan ayat suci al-Qur’an yang dibaca setiap kali salat tarawih berlangsung, kami pun masih bisa mengikuti kajian-kajian kitab serta kegiatan-kegiatan yang lain. Seperti halnya yang dilakukan oleh santri-santri PCINU Sudan. Setiap harinya mengadakan kajian-kajian ilmu; mulai dari pagi sampai malam hari tiba, dan inilah cerita ramadan kami di PCINU Sudan.

Bulan ramadan merupakan bulan yang penuh keberkahan, banyak orang yang berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan di bulan ramadan, Mulai dari Mengaji, Bersedekah, Infak, Zakat, Khotmil Qur’an, dan masih banyak lagi. Lebih indahnya lagi, pada tahun ini kami sudah bisa mengadakan kumpulan-kumpulan yang menurut orang jawa itu sesuatu yang sangat penting “mangan ora mangan seng penting kumpul”. Apalagi sebagai anak rantau yang jauh dari keluarga dan hidup di negeri orang, tentunya kumpul-kumpul dengan teman merupakan salah satu pengobat rindu akan keluarga. Untungnya di PCINU Sudan selalu ada kegiatan yang bisa mengumpulkan kami semua, seperti saat sebelum mamasuki bulan ramadan, kami semua berkumpul untuk bersama-sama membersihkan sekretariat PCINU Sudan agar nantinya dapat kita gunakan untuk sholat tarawih berjemaah.

Selama bulan Ramadan, PCINU Sudan mengadakan ngaji rutin setiap harinya, yang biasa disebut “ngaji pasanan”. Ada beberapa pilihan pengajian yang bisa diikuti mulai dari pembahasan tentang permasalahan-permasalahan sosial, sejarah nabi, mutiara-mutiara mimpi 40 hadist yang disusun oleh imam soleh ja’fari. Diawali dengan pengajian usul fiqh di pagi hari jam 10.00 CAT/15.00 WIB. Pengajian ini dibawakan oleh Rois Suriyah PCINU Sudan Kiai Dzakwanul Faqih, B.Sh. dengan menggunakan kitab Lubbul Ushul karangan Imam Syekh Al-Islami Abi Yahya Zakariya Al-Ansori. Pengajian ini dilaksanakan setiap hari mulai dari hari pertama ramadan, dan alhamdulillah sudah bisa diselesaikan pada tanggal 16 ramadan. Berlanjut lagi di sore hari tepatnya mulai dari jam 17.00 CAT/22.00 WIB hingga menjelang magrib; berupa pengajian kitab Maulid Al-Barzanji yang membahas tentang Sejarah Nabi Muhammad SAW.

Pengajian tersebut dibawakan dengan santai dan penuh makna oleh Gus Ali Rif’an, A’wan Syuriah PCINU Sudan atau yang biasa dikenal dengan panggilan Gus MU. Momen tersebut biasa digunakan oleh santri-santri NU sebagai kegiatan “ngabuburit” sembari menanti azan Magrib. Pengajian Maulid Al-Barzanji tersebut dimulai dari tanggal 3 ramadan dan berakhir pada tanggal 13 ramadan. Tidak berhenti di situ saja, dikarenakan santri-santri NU yang sangat suka dengan kajian-kajian kitab apalagi untuk menunggu waktu magrib, pengajian dilanjutkan Bersama mustasyar PCINU Sudan, Kiai Ribut Nur Huda dengan menggunakan 2 kitab. Pertama, kitab Tuhfatul Qoum yang membahas tentang mutiara-mutiara mimpi, karangan Syekh Muhammd Bin Abdul Karim Al-Madani dan diterjemahkan oleh Kiai Ribut sendiri. Kedua, kitab Al-Fawaid Al-Ja’fariyah yang membahas tentang 40 hadist nabawi yang disusun sendiri oleh Syekh Soleh Ja’fari.

Baca Juga: Darrosah Spesial Ramadan; Muslimat NU Sudan

Saat malam tiba, tentunya kami tidak akan melewatkan ibadah langka yang hanya ada di bulan mulia ini, yaitu shalat tarawih. Sama seperti tradisi NU pada umumnya kami melaksanakan salat tarawih sebanyak 20 rakaat di halaman wisma PCINU Sudan. Sengaja kami salat berjemaah di wisma karena di sini kami belajar menjadi imam serta bilal guna mempersiapkan diri untuk terjun di masyarakat nantinya. Jadwal imam berserta bilal pun telah dipersiapkan oleh ketua KRT beserta Ketua tanfidziyah, di mana imamnya adalah para senior dan bilal dari para junior PCINU. Usai salat tarawih kegiatan pun terus berlanjut dengan tadarus Al-Qur’an dengan batas mininal 3 juz setiap malamnya. Sehingga, setidaknya di malam ke-20 ramadan kami telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 2 kali. Kemudian pada 10 malam terakhir ramadhan, tadarus Al-Qur’an diganti dengan Khotmil Qur’an bil Ghoib yang dilaksanakan oleh para hufadz NU.

Tidak hanya beribadah saja, santri NU Sudan sama seperti santri pada biasanya yang bisa melakukan berbagai macam hal atau dalam kata lain “multitalen”, santri-santri NU berkreasi dengan merenovasi Wisma PCINU Sudan, mulai dari menambal kembali tembok-tembok yang berlubang, bersih-bersih, dan mengecat ulang seluru Wisma. Ini merupakan sebuah kegiatan yang menghidupkan malam-malam bulan ramadan; sebuah bentuk yang dengan izin Allah bisa dikatakan ibadah jariyah. Pekerjaan dilakukan dimalam hari, karena tentu tidak bisa dilakukan pada siang hari dengan keadaan cuaca yang sangat panas. Sembari saling bercanda ria, minum kopi bersama, dan saling bertukar pikiiran, tentu tidak ada yang sia-sia di sini.

Menjelang akhir-akhir ramadan, tidak sempurna rasanya bila orang Indonesia tidak melakukan buka bersama, seakan-akan buka bersama merupakan suatu kewajiban yang harus ada di bulan mulia ini, seperti prinsip orang jawa “mangan ora mangan seng penting kumpul”. Bisa kita lihat setiap tahunnya, pasti ada dari setiap ormas atau kekeluargaan yang mengadakan buka bersama. PCINU Sudan pun tak luput dari hal tersebut, pada hari Sabtu, 9 Mei 2021 mengadakan buka bersama di Wisma PCINU Sudan. Seluruh santri NU hadir dan juga beberapa tamu undangan yang ikut memeriahkan. Acara ini diawali dengan sedikit mauidoh hasanah oleh Kiai Dzakwanul Faqih, B.Sh. kemudian dilanjutkan dengan acara inti, “buka puasa bersama”.

Penulis: Kays Reza
Editor: Suprianto

Tinggalkan Balasan