Kejahatan Bani Israil dan Janji Allah SWT (Tafsir Surah al-Isra’ 4-8)

0
131
views
Gambar: darunnnajah.com
Gambar: darunnnajah.com

Bani Israil merupakan kaum yang mendapatkan kenikmatan yang berlipat ganda dari Allah SWT. Nabi Ya’qub yang bergelar Israil bersama keturunannya bertempat tinggal di Mesir secara turun-temurun atas anjuran salah satu anaknya yaitu Nabi Yusuf, sehingga jumlah mereka menjadi banyak.

Raja Fir’aun yang berkuasa di Mesir menjadikan mereka hina seperti budak karena takut akan menjadi kuat dengan jumlah mereka yang semakin banyak. Maka diutuslah Nabi Musa dan Nabi Harun untuk memimpin mereka, sampai mereka dibawa keluar dari Mesir menuju tanah yang dijanjikan Allah untuk mereka, yaitu Palestina, tanah yang subur, yang kaya dengan air susu dan madu.

Demikianlah asal mulanya Bani Israil dengan pimpinan Nabi Musa dan Nabi Harun, kemudian dengan pimpinan Nabi Yusya’, sehingga mereka menjadi bangsa yang kokoh dan kuat di Yerusalem, Palestina. Puncak kemegahan mereka ialah di zaman Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman, dua Nabi Bani Israil yang merangkap sebagai raja.

Kehancuran Bani Israil yang Pertama

Sebagaimana yang sudah diceritakan di dalam Al-Quran, bahwasanya mereka akan berbuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. Membanggakan diri sendiri di hadapan segala bangsa di dunia ini serta mengatakan bahwa mereka adalah kaum yang dipilih Tuhan dan kaum yang istimewa. Perbuatan-perbuatan mereka yang hanya mementingkan diri sendiri, akhirnya membawa kerusakan. Di antara banyak kerusakan itu, dua kali yang amat besar. Menurut keterangan sebagian ahli tafsir, pertama adalah menentang dan mengubah kitab Taurat serta menyembah berhala setelah wafatnya Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman. Kedua adalah membunuh Nabi Zakaria dan Nabi Yahya, serta berusaha membunuh Nabi Isa, bahkan mereka berani menuduh Nabi Isa, sebagai anak di luar nikah.

Yusyia, Raja Ya-huda telah berusaha menyatukan kembali untuk menyembah kepada Allah Yang Esa dan menghancurkan berhala-berhala yang mereka sembah. Tetapi hal tersebut sudah terlambat, karena kekuasaan Mesir di bawah pimpinan Firaun Nikho sudah menaklukkan Yerussalem dan tidak dapat ditangkis lagi. Pernah mencoba melawan Fir’aun ketika akan menyerang Syiria, tetapi di dalam peperangan itulah Yusyia, Raja Yahuda tewas dan kalah.

Beberapa tahun kemudian, Bukhtunashar dapat memerangi Firaun Nikho dan mengalahkannya, lalu mengambil Yerussalem dari kekuasaan Mesir. Pengganti-pengganti Yusyia mencoba membuat hubungan rahasia dengan Mesir untuk melawan Bukhtunashar, tetapi pada akhirnya terbongkar. Yerussalem diserang kembali, Yakhim Sebagai pengganti Raja Yahuda ditawan, dan kemudian bersama 10.000 orang tawanan dibawa ke Babil.

Karena Bukhtunashar tidak suka dengan Raja Sidkia sebagai pengganti Yakhim, maka dia datang yang ketiga kali ke Yerussalem, lalu menghancurkannya dan meruntuhkan Ru-mah Suci Nabi Sulaiman sampai rata dengan tanah. Kedua mata Raja Sidkia dicongkel setelah anak-anaknya dibunuh di hadapan matanya. Beribu-ribu tawanan dihalau ke Babil dan dirampas barang-barang pusaka berupa emas dan perak, dan dibawa ke Istana Babil.

Sejak itu hancurlah Yerussalem.  Kehancuran Yerussalem ini merupakan hukuman dari Allah bagi kejahatan yang dilakukan Bani Israil. Sebagaimana firman Allah, dalam QS. Isra’: 5 

فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولَاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ ۚ وَكَانَ وَعْدًا مَفْعُولًا

Artinya: “Apabila datang hukuman bagi kejahatan yang pertama dari kedua kejahatan itu, maka Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang perkasa, lalu mereka merajalela di kampung-kampung. Itulah ketetapan yang pasti terlaksana.”

Kehancuran Bani Israil yang Kedua

Setelah 100 tahun, Babil diserang oleh Persia di bawah pimpinan Raja Korusy (Syrus). Karena setelah Bukhtunashar mati disebabkan gila, Babil turun pamor dan Persia naik. Keturunan-keturunan tawanan Yahudi di Babil itu diizinkan pulang kembali oleh Raja Korusy ke Palestina untuk membangun kembali negeri mereka yang telah hancur.

Di bawah perlindungan Persia, Bani Israil dapat membangun kembali negerinya. Rumah Suci didirikan kembali, sampai datang Nabi Uzair (‘Izra’) memimpin mereka. Sebab itu maka Nabi Uzair diang-gap sebagai pembangun Bani Israil kembali. Beliau juga sangat dipuji karena berhasil mengumpulkan kitab Taurat menjadi satu kitab. Sehingga masuklah Raja Iskandar Masedonia (Zul Qarnain) ke Yerussalem.

Demikian hamba-hamba Tuhan yang perkasa, merajalela di negara itu secara bergantian, mulai dari Firaun Nikho dari Mesir, Bukhtunashar dari Babil, Cyrus dari Persia, dan Iskandar dari Makhedonia.

Allah memberi peringatan kepada Bani Israil, supaya pengalaman pahit yang telah lalu, mereka jadikan pembelajaran. Peringatan Allah tersebut dilukiskan di dalam QS. Isra’: 7 

اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗ وَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَا

Artinya : “Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, maka kerugian kejahatan itu untuk dirimu sendiri.”

Demikianlah jaminan yang diberikan Allah kepada mereka. Tetapi lama kelamaan, mereka melakukan kerusakan yang kedua kalinya dengan mengingkari janji-janji mereka dengan Tuhan, menolak ayat-ayat Allah, dan membunuh para nabi seperti Nabi Zakaria dan Nabi Yahya.

Hati mereka sudah tertutup dan imannya sudah hilang. Ketika Allah SWT menunjukkan kekuasaannya dengan menjadikan Maryam Binti Imran bisa hamil tanpa ada hubungan suami istri, maka mereka langsung menuduh Maryam dengan tuduhan yang hina, anaknya Maryam yaitu Isa Al-Masih dituduh sebagai anak zina. Padahal Nabi Zakaria yang menjadi seorang Rasul dan penghulu Baitul Maqdis menjadi saksi atas kesucian Maryam, tetapi mereka tidak mempercayainya.

Isa Al-Masih diangkat menjadi Nabi dan mengajak mereka kembali kepada agama yang benar dengan mengikuti ajaran kitab Taurat. Tetapi mereka menolak ajakannya dan bahkan memfitnahnya kepada penguasa Romawi. Mereka mengusulkan Nabi Isa supaya disalib sebagai orang jahat.

Karena desakan mereka itu, maka Pilatus, penguasa Romawi mengabulkan permintaan mereka. Tetapi Allah menolong Nabi Isa sehingga selamat dari disalib. Yang disalib adalah muridnya yang mengkhianati dia, Yudas Eskharinti.

Kemudian muncul seorang Yahudi yang mengakui dirinya telah diangkat Nabi Isa menjadi Rasul, namanya Paulus.

Dia mengajarkan ajaran-ajaran yang berbeda dengan ajaran Nabi Isa dan mengakui bahwa ajarannya inilah ajaran Nabi Isa yang sebenarnya. Yaitu bahwa Tuhan adalah satu tetapi tiga dan tiga tetapi satu.

Ini adalah kerusakan kedua kali yang lebih hebat dari pada yang pertama, yang sampai sekarang tersebar di dunia karena kejahatan Bani Israil.

Bangsa Romawi yang menguasai Yerussalem telah meresmikan agama Kristen ajaran Paulus, sebagai agama resmi kerajaan Roma. Sejak itu Yerussalem di bawah kekuasaan Roma-Nasrani, terjadi banyak penindasan dan pengusiran kepada orang Yahudi, sehingga hilanglah kebesaran Bani Israil untuk selamanya.

Sebagaimana yang dijanjikan Allah, bahwasanya mereka akan hancur dan terpecah belah, sehingga sebagian mereka ada yang melarikan diri ke Mesir, ke Spanyol, ke India dan lain-lain. Setengahnya lagi pindah ke tanah Arab, di antaranya di Khaibar dan di Madinah yang terdiri dari Bani Nudhair, Bani Qainuqa’, dan Bani Quraizhah. Rahmat Allah yang  luas  Allah masih memberikan kesempatan kepada Bani Israil dengan memberikan rahmat kepada mereka, yang tertulis di dalam QS. Isra’: 8 

عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يَّرْحَمَكُمْ ۚ وَاِنْ عُدْتُّمْ عُدْنَا ۘ وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكٰفِرِيْنَ حَصِيْرًا

Artinya : “Mudah-mudahan Tuhan kamu melimpahkan rahmat ke-pada kamu, tetapi jika kamu kembali melakukan kejahatan, niscaya Kami kembali mengazabmu. Kami jadikan Neraka Jahanam penjara bagi orang kafir.”

Bani Israil masih mempunyai harapan untuk membangun kembali kehidupannya. Sebab di dalam kitab Taurat dan kitab-kitab yang lain, diterangkan bahwa akan diutus seorang Nabi akhir zaman, yang mereka sebut dengan nama Messias.

Harapan tersebut sering mereka kabarkan kepada penduduk Arab di Madinah. Tetapi Nabi itu ternyata tidak lahir dari kalangan Bani Israil, melainkan dari kalangan Bani Ismail, yaitu Nabi Muhammad SAW.

Ketika Nabi Muhammad SAW Hijrah ke Madinah, beliau membuat perjanjian persahabatan dengan Bani Israil, tetapi akhirnya mereka mengkhianati perjanjian tersebut, karena kesombongan mereka, dan akibatnya kehancuran bagi mereka.

Epilog 

Inspirasi dari kisah yang terlukis di dalam QS. Isra’: 4-8 adalah:

 Kesombongan adalah  awal penderitaan.

 Ketetapan Allah pasti  terlaksana, tertunda bukan berarti dilupakan.

 Kemenangan dan kekalahan adalah bagian dari  roda kehidupan. Tetapi  mukmin sejati akhirnya  yang akan menang.

 Pesan penting yang  paling perlu untuk di  ulang-ulangi, jika kamu  berbuat baik maka kamu  berbuat baik untuk diri  sendiri. Begitu juga sebaliknya, jika kamu berbuat jahat maka kerugian  kejahatan itu untuk dirimu sendiri.

 Lepas dari masalah  masa lampau, manusia  masih dapat memperoleh  pengampunan Allah dan  Rahmat-Nya. Jika mereka masih saja menerus  kan perbuatan dosa, azab  Allah juga akan tetap  menyertai mereka.

Makalah ini bersumber dari penafsiran QS. Isra: 4-8 dan berpijak pada beberapa kitab tafsir yang mu’tabar, di antaranya adalah:

1. Abu Hayyan Al-Andalu-si, Al-Bahrul Muhit, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, Bairut, cet. I, 1993, vol VI, hal. 8-11.

2. Dr. wahbah Az-Zuhaili, At-Tafsir Al-Munir, Darul Fikri, Damaskus, cet. X, 2009, vol. VIII, hal. 20-28.

3. Jalaluddin As-Suyu-ti, Ad-Durrul Mantsur, Markaz Hijr, Kairo, cet. I, 2003, vol IX, hal. 251- 265.

4. Dr. Hamka, Tafsir Al-Azhar, H. Abdul karim-H. Ahmad Sjafei, Surabaya, vol. XV, hal. 22-28.

5. Abu Abdillah Al-Qur-tubi, Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an, Muassasah Ar-Ri-salah, Bairut, cet. I, 2006, vol XIII, hal. 19-33.

6. Muhammad Th ohir bin Asyur, At-Tahrir Wat-Tan-wir, Ad-Dar At-Tunisi-yyah, Tunis, 1984, vol. XV, hal. 28-39.//

Penulis: M. Alim Najieb. Lc. MA.

Pernah dimuat di majalah Tathwirul Afkar PCINU Sudan edisi Mei 2018

Baca juga : Kurdistan, Antara Impian dan Kenyataan

Tinggalkan Balasan