Bincang Santai Seputar Dilema Hidup di Sudan

0
55
views
Kegiatan kongkow LESBUMI PCINU Sudan

PCINUSUDAN.COM – LESBUMI PCINU Sudan kembali mengadakan Kongkow yang bertema “Dilema Hidup di Sudan”. Tema tersebut diangkat dari kegelisahan masyarakat Indonesia yang ada di Sudan terhadap situasi negara Sudan yang kembali tidak kondusif seperti pada awal bergejolaknya peristiwa “revolusi” beberapa tahun silam.

Situasi kacau yang disebabkan oleh keadaan ekonomi yang tidak stabil, inflasi yang tak karuan, dan kemunculan para demonstran yang menghadang akses jalan di berbagai tempat. Namun, kali ini ditambah dengan beringasnya kasus kejahatan yang tak sedikit dari Warga Negara Indonesia menjadi korbannya. Hal tersebut menimbulkan perasaan dilema terhadap sebagian Warga Negara Indonesia yang tinggal di Sudan.

Dalam acara Kongkow yang diselenggarakan pada (12/06/2021), Ustaz Dliya’ul Mubarok menjelaskan bahwa saat-saat dilema dalam situasi ini, kita dapat mengalami “degradasi karakter” atas 2 faktor besar, yakni kebudayaan pendidikan dan geopolitik. Kondisi Sudan yang seperti ini dapat menghambat pendidikan mahasiswa di Sudan. Kecenderungan kita yang selalu belajar pada waktu sebelumnya, kini lebih memilih untuk mencari pelarian.

Menurut Pemateri yang menerangkan perihal pendidikan tersebut, hal ini dapat menjadi peluang kita untuk mencari berbagai pengalaman, di antaranya membuat lapak kuliner, semakin fokus pada belajar di luar kampus, memberi waktu luang untuk menggeluti hobi, dan lain sebagainya.
Mengepakkan bakat yang telah ada dan menjual bakat tersebut sebagai jasa, juga menjadi saran dari Ust. Ma’rifat Dzaki Assindi sebagai pemateri kedua yang memberikan pertimbangan dalam perihal ekonomi. Beliau mengimbuhkan, “Kalau tidak bisa memaksimalkan, waktu akan terbuang sia-sia karena menjadi manusia monoton. Tingkatkan skill kita masing-masing, terutama skill mendengarkan.”

Sebagai orang yang sudah lama hidup di Sudan, Ust. Yusron Kamal sebagai pemateri ketiga menjelaskan bahwa, kita menjadi saksi atas transisi budaya tradisional Sudan yang beralih menuju westernisasi. Hukum-hukum Islam yang diterapkan sebelumnya menjadi hukum-hukum yang kurang tegas, sehingga menjadi faktor dasar munculnya orang-orang yang ingin melakukan kejahatan, karena memiliki kesempatan dan peluang untuk melakukan kejahatan apa pun itu bentuknya.

Kyai Ribut Nur Huda menambahkan, “Sudan merupakan Ummul Hadhorot (pusat peradaban) dengan perbandingan ulama Sudan pada tahun 80-an yang diberikan keleluasaan tanpa adanya tekanan politik dari pihak mana pun dengan ulama Sudan tahun 2000-an yang selalu mendapat tekanan pemerintah, sehingga pemerintah ikut mengintervensi keputusan para ulama.”

Dikarenakan kehidupan yang semakin sulit dan banyak pendatang yang tidak jelas status kependudukannya, menyebabkan banyak orang yang akhirnya melakukan segala cara untuk dapat bertahan hidup di Sudan. Begal “asli” pun ikut hadir di samping begal “cinta” yang sering ditemui pada bulan Ramadan. Masyarakat Sudan adalah masyarakat yang terbiasa dimanjakan oleh pemerintahnya. Sudan tercatat termasuk negara di Afrika yang paling banyak memberikan subsidi-subsidi pada rakyatnya, sehingga terbentuklah masyarakat yang terkesan santai dalam mencari rezeki. Sering kali kita jumpai mereka mengucapkan
“Rezeki itu datangnya dari Allah”.

Sedangkan pada zaman modern ini masyarakat Sudan dituntut untuk menghadapi perkembangan yang telah ada, serta harus memberikan inovasi-inovasi baru untuk kemajuan negara. Oleh karena tuntutan tersebut, masyarakat Sudan harus beradaptasi dengan keadaan, dengan merubah kebiasaan manja menjadi masyarakat yang “berdikari”.

Beliau menambahkan, salah satu hal yang membuat orang menjadi betah untuk hidup di Sudan adalah keramahan masyarakatnya dan bagaimana mereka bersikap baik kepada orang yang bahkan belum dikenal. Senyuman mereka yang selalu mengembang di setiap sapaan.

Ustaz Dliya’ul Mubarok memberikan saran, bagi yang masih dilema dan tidak bisa produktif dalam menghadapi keadaan Sudan, harus segera membuat keputusan, entah itu pulang ataupun bertahan. Bertahan dengan catatan akan berubah ke arah yang lebih produktif.

Menghayati dan menerima apa yang sedang kita hadapi, serta mencari alasan yang ada di baliknya. Mendekatkan diri pada Allah dan selalu berhusnuzan pada Allah adalah pesan dari Ustaz Ma’rifat Dzaki Assindi.

Ustaz Yusron Kamal menyelipkan guyonan,
“Semua masalah akan terasa mudah apabila ditinggalkan”.

Semoga Allah melapangkan hati orang-orang Sudan, serta semua orang yang hidup di dalamnya, mempermudah urusan mereka, dan merealisasikan harapan-harapan mereka. Harapan yang diridai oleh Allah dan dicintai oleh Rasul-Nya.

Penulis: Salwa Nailin Nuha

Baca juga : Kongkow LESBUMI: Hakam Mabruri, Pesepeda Melintasi 14 Negara di Benua Afrika

Tinggalkan Balasan