Historiografi Pra-Islam

0
54
views
gurupendidikan.co.id
Sumber gambar: gurupendidikan.co.id

Tidak bisa dipungkiri memang dalam suatu pembahasan dan pengkajian yang berorientasi pada historiografi (penulisan sejarah), tentu akan kita jumpai suatu ragam yang berbeda di dalamnya baik metode, pendekatan, karakteristik serta konten yang disajikan di dalam suatu tulisan. Secara sederhana historigrafi disini merupakan suatu disiplin suatu keilmuan guna mengerti proses, pendekatan dan metode yang digunakan oleh sejarawan dalam memahami dan menuangkannya dalam sebuah tulisan.

Masyarakat Arab pada saat itu memiliki suatu kecenderungan yang tidak manusiawi (Jahiliyyah), seperti adanya suatu pembunuhan bila yang bayi lahir itu seorang perempuan dan masih banyak lagi kasus-kasus lain yang menunjukkan akan jauhnya bangsa Arab dari suatu peradaban madani. Inilah suatu pembahasan yang sudah masyhur dalam ranah kajian historiografi Pra-Islam. Namun bangsa Arab ini memiliki ciri khas di bidang sastra. Mereka senantiasa mengadakan perlombaan dalam bidang sastra. Sehingga kecenderungan mereka juga berada dalam manivestasi bayangan fikiran. Al-Qur’an dengan muatan sastra yang tinggi di dalamnya, diturunkan guna memberikan suatu peradaban yang baik serta guna menyadarkan umat manusia bahwa dalam dunia bukan semerta-merta untuk bermain dalam suatu bayangan saja.

Suatu kebudayan dalam rangka menjunjung elektabilitas dan kwalitas suatu suku dan bangsa tertentu mereka lakukan dengan adanya suatu musabaqah syair. Para sejarawan dalam menuliskan sejarah mereka melakukan suatu analisis dan kajian terhadap beberapa syair yang ada, dan ini merupakan salah satu pendekatan yang menurut mereka sangat penting dan mebantu sekali dalam penulisan sejarah atau historiografi Pra-Islam. Dengan sebab itu pembahasan kali ini penting sekali untuk diuraikan dan disampaikan secara global dalam dimensi Ahwal Al-Ijtima’iy masyarakat Pra-Islam pada saat itu, definisi secara global, bentuk dan ragam metode. Tak cukup sampai disitu penulis juga mengajak bagaimana urgensi dan substansi historiografi Pra-Islam dengan penjabaran yang mudah difahami.

  •  Ahwal Al-Ijtima’iy (kondisi sosial) Masa Pra-Islam

Dalam pembahasan ini akan diuraikan secara global bagaimana kondisi masyarakat Arab Pra-Islam. Pentingnya pembahasan ini supaya bisa membantu dalam menghasilkan suatu natijah yang berkenaan dengan penulisan sejarah Pra-Islam senidri. Tentu setiap bangsa memiliki berbagai macam suku, , kabilah, ras, dan etnis yang berbedaa di dalamnya. Begitupun dengan masyarakat Arab pada saat itu sebelum Islam datang, terdapat dua kabilah yang besar antara bagian Arab selatan dengan Arab Utara. Dalam hal ini yang mengambil bagian dalam Kabilah adalah Bani Adnan dan Bani Qathan. Dalam hal ini Nabi Muhammad masuk dalam kalangan Bani Adnan atau Adnaniyyun bukan Qathaniyyun. Bani Adnan memiliki suatu daerah yang disegani oleh masyarakat bagian Arab Utara. Beda halnya bagian Arab Selatan dipegang langsung oleh kalangan Bani Qathaniyyun. Sebenarnya masyarakat Arab Pra-Islam pada saat itu hidupnya sebagian ada yang nomaden ada juga yang tidak. Tentu dengan adanya sebagian masyarakat yang memilki karakter tersebut, akan menghasilkan pertukaran budaya dan perkawinan silang di antara kedua kabilah besar tersebut.[1]

Sama seperti bangsa yang lain yaitu bangsa Arab Pra-Islam, seperti Bani Isra’il yang selalu menganggap bangsanya merupakan suatu bangsa yang paling mulya dan paling layak dihormati. Hal ini tentu memang dialami semenjak Islam belum memberikan secercah peradaban yang baik dan benar kepada mereka. Seperti yang didapati dalam suatu penjelasan mengenai persamaan karakter setiap suku, kabilah dan bangsa oleh tokoh Intelektual dalam pembahasan studi Israiliyyat dari Mesir yaitu Rasysyad Abdullah Asy-Syami dalam bukunya yang berjudul Al-Qawiyy Ad-Diniyyah fi Isra’il Bayna Takfir Ad-Daulah Wa Lu’bah As-Siyasah. Hal ini sebenarnya menjadi perhatian juga dalam setiap pakar sejarah guna memberikan suatu pemahaman yang obyektif dalam hal karakteristik suatu bangsa baik dari aspek kesamaan maupun perbedaan. Hal ini bertujuan mengungkap suatu Ahwal Al-Ijtima’iy yang ada pada saat itu semisal pada masa Pra-Islam sekarng yang sedang dikaji dan difahami secara bersama.

Masyarakat Arab Pra-Islam pada dasranya memilki suatu hubungan yang kuat jika itu terdapat dalam satu rumpun suku. Dalam hal ini suku merupakan suatu cabangan dari kabilah. Dimana kabilah merupakan titik pusat dari beberapa macam suku yang ada di bawahnya, seperti suku Quraisy. Dalam hal ini memang dapat suatu nilai positif dari aspek kesukuan yang begitu erat. Namun dalam hal diplomasi politik atau menjalin hubungan bilateral dengan beragam suku lain yang berbeda kabilah atau klan, seringkali memicu peperangan. Hal ini dinilai lemahnya mereka dalam bidang kebijakan hubungan eksternal. Dengan ini bisa disebutkan masyarakat Arab Pra-Islam sangat lemah dalam ranah percaturan politik Internasional. Bila suatu suku atau kabilah hanya mengandalkan suatu kinerja otot, maka pada saat itu masyarakat Arab Pra-Islam dinilai sangat hebat dan tangguh. Berbeda dengan kondisi pada saat ini masyarakat modern yang cenderung menggunakan kekuatan akal pikiran daripada kekerasan otot. Hal ini yang memicu mereka seringkali terjadi Safku Ad-Dima’ antar suku bahkan antar kabilah.[2]

 Pertikaian dan peperangan yang terjadi selama bertahun-tahun tak kunjung ada akhirnya. Hal ini didasari lemahnya moral dan pendidikan politik dalam diri masyarakat Arab Pra-Islam. dalam hal ini utamanya penyebab suatu peperangan terjadi dikarenakan adanya suatu keyakinan yang kuat dalam setiap suku akan martabat dan persaudaraan dalam diri mereka. Peradaban Islam dan peradaban masyarakat Madani belum mereka rasakan pada saat itu sehingga kebudayaan yang berkembang pada saat itu hanyalah syair-syair. Dalam hal ini mereka kerap kali melakukan event besar-besaran dalam syair. Mereka memberikan suatu imbalan barang yang begitu berharga dan kenamaan yang tinggi terhadap pemenangnya dengan dicantumkannya syair-syair yang telah menjadi pemenang di bagian dinding Ka’bah. Hal ini mereka lakukan guna menampakkan kepiawaiannya dalam pembuatan perubahan syair-syair. Mereka melakukan hal ini dipusat pasar Ukaz.[3]

Sekelumit persamaan suatu budaya dengan bangsa lain atau merupakan suatu adat  seperti berenang, memanah dan berkuda merupakan suatu tradisi yang memanga dituntut untuk laki-laki dari setiap suku Arab pada saat itu. Hal ini mereka lakukan supaya ada generasi ahli lanjutan dari setiap suku guna menjaga kedaulatan dan kekuasaan dalam suatu daerahnya. Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Ibnu Al-Habib Al-Baghdadi. Namun tetap saja budaya mengarsipkan suatu perisyiwa dalam suatu tulisan itu sangatlah jarang, hanya berlaku dalam syair-syair saja.[4]

  • Pengertian dan Urgensi Signifikansi Historiografi Pra-Islam

Dalam hal ini penulis akan menyajikan terlebih dahulu dari definisi yang dikaji dalam tulisan ini. Pertama kita harus mengertia apa asal kata dari Historiografi itu sendiri. Jika diterjemahkan sacara dipisah maka akan menghasilkan dua kata yang disambung jadi satu, seperti kata History dan Grafy. Secara etimologi kedua kata tersebut menjadi penulisan sejarah. Seiring dengan pergeseran masa dan pemaknaan terhadap suatu kata maka akan dihasilkan kembali suatu pemahaman bahwa literatur sejarah. Jika kita menilik kembali kata Istoria dalam bahasa Yunani yang berarti suatu pengetahuan sebenarnya menghasilkan suatu kata baru yaitu History. Sekilas agak sedikit sama dengan Scientia. Terdapat suatu pembeda diantara kata Istoria dan Scientia. Memanga keduanya memilki suatu pemaknaan yang sama yaitu ilmu atau pengetahuan.[5] Namun untuk lebih seringnya penggunaan kata yang pertama selalu diorientasikan pada suatu kejadian peristiwa yang di dalamnya bisa dikaji sebab musababnya atau kronologisnya. Berbeda dengan kata Yunani yang kedua yaitu Scientia yang seringkali dipergunakan dalam suatu kejadian gejala alam. Hal yang perlu digaris bawahi bahwa gejala alam dan gejala yang lain yang bersifat dimensi immaterial susah dan bahkan tidak bisa dikronologiskan kejadian tersebut.[6]

Pada poin yang lain disebutkan bahwa historigrafi merupakan suatu metode dalam suatu rumpun keilmuan yang disebut sejarah. Hal ini tentu diamini oleh Kuntowijoyo. Setidaknya dalam suatu sejarah bukan hanya berbicara soal penafsiran terhadap suatu sumber atau berbagai sumber yang telah ada. Di dalamnya terdapat lima aspek yang sangat harus dipegang oleh setiap sejarwan. Kelima hal tersebut bisa disederhanakan seperti pengumpulan sumber (Heuristik), validasi sumber yang telah ada, adanya suatu pengerucutan tema yang akan ditelaah secara mendalam sehingga tidak melebar kemana-mana, pemaknaan bukan secara legal normal saja melainkan dibutuhkan substansi makna di dalamnya dan yang terakhir adalah historiografi yang sat ini sedang dikaji. Tupoksi dari sejarwan bukanlah mudah dan tidak rumit. Melainkan dibutuhkan suatu kerja ekstra dalam hal ini. Karena hal ini semua berkaitan dengan apa yang mereka tulis bila nantinya ditemukan suatu kesalahan atau kekeliruan yang akan berujung konflik dengan sebab hal tersebut. Pada poin initinya pola atau tehnik yang berkaitan dengan sejarah disebut suatu metode penelitian sejarah.[7]

Urgensitas dalam pembelajaran dan pengkajian mengenai historigrafi mendapatkan perhatian yang utama dari kelima metode di atas. Historiografi masyarakat Pra-Islam memerlukan adanya suatu proses ilmiah yang sesuai dengan ekspektasi yang ada pada saat itu. Dengan demikian dalam hasil tulisannya akan bisa dihambarkan dengan sejelas-jelasnya beragam peristiwa yang ada pada masa itu. Dapat ditarik suatu pemahaman utuh mengenai ruh atau hakikat dari adanya historiografi sebagai sebuah metode penelitian sejarah, bahwa kemudahan dalam penulisan sejarah disebabkan adanya pengetahuan terhadap cara penulisan, pelaporan serta adanya pemaparan dari hasil penelitian yang telah dilakukan.[8]

Pada belakangan ini masyarakathanya bisa mengkaji dan memahami seputar sejarah. Tidak sampai masuk ke dalam beberapa ragam metode atau metodologi sejarah. Baik itu kajian yang bersifata dalam wilayah, agama, pendidikan dan persolana yang lainnya. Kesadaran ini seharusnya ditumbuh kembangkan dimasyarakat sekitar. Hal ini bertujuan supaya mereka memahami betul bahwa dalam penulisan sejarah terkadang ada yang mendistorsi dan perbuatan buruk yang lain. Hal ini dipicu oleh kecenderungan berpikir para penulis sejarah itu sendiri. Kajian historiografi Pra-Islam ini bertujuan ingin menjelaskan bahwa pemapaaran dan penulisan sejarah terhadap apa yang telah diteliti dalam sejarah tersebut memang benar adanya dan bisa dibuktikan dengan adanya pemparan terkait sumber-sumber yang ada.[9]

Secara rinci dijelaskan bahwa faedah yang ditemukan dalam kajian historiografi Pra-Islam sebagai berikut:

  1. Dapat mendalami kembali berbagai sumber-sumber yang telah ada atau ditambahkan dalam setiap masa penulisan sejarah
  2. Bisa menguji kesahihan suatu sumber yang digunakan oleh sejarawan dalam menuliskan suatu peristiwa.
  3. Bisa mengerti pendekatan atau metode apa yang dilakukan oleh peneliti pengamat atau pakar sejarah tersebut dalam menganalisis sumber-sumber atau terhadap bukti-bukti otentik yang lain. Baik yang bersifat data primer maupun sekunder.

Dilain hal tersebut banyak sekali manfaat dan urgensi yang diperoleh bila terus mengkaji historiografi yang dalam hal ini tidak bisa disebutkan secara menyeluruh. Namun kiranya penjelasan di atas bisa membantu dalam menumbuhkembangkan ruh kajian terhadap sejarah peradaban Islam baik yang ada di dalam negeri maupun yang ada di luar negeri. Para cendekiawan muslim tentu mereka akan sangat butuh sekali terhadap satu ragam metode penelitian sejarah yang berupa historiografi disini. Mengingat mereka akan berhadapan langsung dengan masyarakat luas dan juga akan berhadapan langsung dengan para ahli atau pakar lainnya yang membidangi sejarah juga ataupun yang lain. Dalam hal bagi generasi intelektual muda, sangat penting sekali diperhatikan sebagai suatu bahan dalam mengembangkan minat kecintaannya dalam mendalami api sejarah. Tidak hanya menjadi diam membisu melihat berbagai macam peristiwa yang ada. Namun dituntut untuk menganalisis, melakukan pendekatan atau metode dalam membahasakannya, mengumpulkan sumber-sumber yang berkaitan atas peristiwa yang terjadi dan untuk selanjutnya memberikan gambaran dengan penulisan sesuai dengan ekspektasi dan memberikan pemahaman yang real kepada masyarajkat secara obyektif nantinya. Inilah urgensitas pembelajaran historigrafi. Terkait dengan judul ini maka fokusnya pada Pra-Islam.

  • Bentuk, Metode atau Pendekatan dan Substansi dalam Historiografi Pra-Islam

Terkadang dalam sebuah syair-syair yang terkandung di dalamnya bukanlah suatu ungkapan fiksi saja. Namun banyak diantaranya menceritakan peristiwa-peristiwa dari setiap problematika masyarakat atau budaya setempat pada saat itu. Tak terkecuali dalam hal ini kebijakan politik antar suku juga terkadang dituangkan di dalamnya. Memang mereka tidak menuliskan peristiwa tersebut secara utuh dan kongkret seperti sebuah buku ataupun lembaran-lembaran yang dapat memberikan keterangan secara detail siapa pelakunya dan bagaiamana respon masyarakat pada masa itu, tetapi mereka sengaja membuat berbentuk sajak-sajak syair sehingga terkesan indah dan bahkan bisa membuat ketenaran di dalamnya. Masyarakat Arab Pra-Islam meskipun berada dalam zaman Jahiliyyah, mereka selalu menjaga bettul mata rantai suatu kekeluargaan baik dalam satu suku maupun dalam satu kabilah. Hal ini mereka lakukan demi menjaga marwah suatu suku tersebut. Mereka lakukannya dengan membuat seperti bentuk Maind Map atau pohon silsilah keluarga untuk selanjutnya dibagikan kepada yang bersangkutan dan dihafalkannya silsilah pohon keluarga tersebut.[10]

Perbedaan dalam bangsa Arab ini dengan Bangsa lain terletak dalam diri mereka yang memilki kecenderungan menghafal apa yang telah mereka temukan baik berupa suatu pengetahuan ataukah berupa syair-syair. Sehingga tak jarang dari mereka seperti ulama’ kenamaan dalam Islam seperti Al-Bukhori dan Imam Muslim mampu menghafal dalam beribu-ribu Hadist danditambah setiap Hadits atau Sunnah Nabi yang shahih tersebut disertai dengan hafal sanad atau mata rantai periwayatan Hadits. Dengan ini sudah jelas bahwa memang mereka tidak pernah membukukan suatu sejarah, melainkan mereka lebih cenderung mengingat dan menceritakannya kepada sanak keluarga akan setiap kejadian yang terjadi. Kekuatan hafalan atau daya ingat yang tajam yang dimiliki oleh orang Arab pada saat itu tidak bisa dipungkiri bahwa di atas rata-rata masyarakat Barat pada umumnya. Mereka senantiasa berbangga-bangga dengan kekuatan hafalan tersebut dengan sebab itu merupakan suatu keistimewaan yang jarang dimiliki oleh bangsa lainnya.[11]

Kepuasan dan kemuliaan yang ada dalam sebuah pemikiran yang dituangkan dalam bentuk suatu tulisan dianggapnya oleh mereka bentuk suatu kehampaan dan kering. Berbeda halnya dalam mengungkapkan dari beragam peristiwa dan pengetahuan atau bahkan gagasan pikiran yang jarang dimiliki oleh orang lain namun penyampaiannya atau mendialogkannya dengan menggunakan lisan, maka hal tersebut dinilai oleh mereka sebagai sesuatu yang prestise dan istimewa.[12] Dengan demikian mereka dapat mengagungkan dan mengangkap derajat suku, rasa tau budayanya.kendatipun demikian ungkapan menggunakan suatu lisan ini masih terjamin orisinalitas suatu peristiwa karena belum adanya pengaruh teori pemikiran tertentu.[13]

Setiap pakar sejarah ataupun sejarawan mereka terjadi perbedaan pendapat terkait kebsahan dan kesahihan suatu data sejarah yang dikumpulkan guna menuliskan suatu sejarah bila hal itu berasal dari suatu lisan tanpa didukung dengan adanya suatu validitas data lewat ungkapan suatu tulisan. Namun begitu sebagian dari mereka ada yang mempercayainya dan ada pula yang tidak mempercayainya. Dalam tataran empiriknya secara jelas warisan yang diberikan oleh masyarakat Arab Pra-Islam kepada kita hanya bisa didapati dengan Al-Ayyam dan Al-Ansab dalam diskursus historiografi. Karena untuk diskursus historiografi Arab Pra-Islam susah didapati bila di selain kedua hal di atas. Perlu diketahui bahwa memang setiap suku atau kabilah di bangsa Arab baik dari selatan maupun yang utara, mereka menamainya pendekatan penjelasan suatu peristiwa dengan kedua istilah tersebut. Jadi bukan dari penamaan oleh sejarawan atau generasi setelahnya yankni setelah Islam datang.[14] Oleh sebab itu penulis mengajak untuk memahami keduanya dengan penjelasan di bawah ini.

  • Al-Ayyam Atau Ayyam Al-Arab

Seperti penjelasan sebelumnya bahwa masyarakat Arab Pra-Islam kerap kali melakukan konflik baik hal itu disebabkan karena perebutan suatu kekuasaan atau bahkan karena perebutan suatu sumber daya alamnya. Ini seringkali terjadi pada masa tersebut, sehingga mereka menamainya suatu kejadian peristiwa berdarah karena memperebutkan sesuatu duniawi tersebut dengan istilah Al-Ayyam Atau Ayyam Al-Arab. Memang sekilas bila dilihat dari suatu pendekatan kebahasaan agak kontrs dengan makna yang dihasilkan seperti hari-hari Arab. Namun demikian sebenarnya yang dimaksudkan penyebutan terhadap suatu peristiwa pecahnya suatu konflik peperang antar kabilah dan suku.[15]

Seperti penjelasan yang sebelum-sebelumnya yaitu masyarakat Arab Pra-Islam tidak pernah menuliskan catatan sejarahnya berbentuk suatu deskriptif buku namun lebih berbentuk kepada sajak atau baiat-bait syair. Mereka menilai hal itu suatu keindahan dan prestise tersendiri. Terkadang dari mereka melakukan suatu catatan peristiwa dengan dicatatnya dalam suatu syair adakalanya dalam pemberian judul konflik atau peristiwa yang terjadi menggunakan nama tempat, nama orang, hewan atau hal yang lain yang berkenaan dengan peristiwa tersebut. Contoh peristiwa yang menggunakan menggunakan judul orang seperti Al-Basus (nama seorang wanita dalam suatu peristiwa), Dahis wa Al-Ghabra’ (nama kuda) dan yang menggunakan tempat seperti Yawm Ain Abagh ( sumber air Abagh).

Terdapat kesamaan juga dengan kisah masa lampau yang ada pada zaman dimana kitab Taurat diturunkan, dimana pada masa itu termasuk kategori sejarah tertua yang mengawali tradisi Al-Ayyam. Dengan ini menjadi jelas bahwa masa Pra-Islam yang menjadi suatu warisan terhadap historiografi bukan hanya selisish satu abad atau tiga abad Pra-Islam melainkan lebih dari itu. Memang benar adanya tradisi ingatan terhadap hari-hari bersejarah tidak disandarakan pada redaksi redaksi deskriptif naratif utuh dalam suatu buku. Hal ini juga diimani oleh Ahmad Tarhini.[16]

Karakteristik sejarah yang tertuang dengan pola Al-Ayyam ini pada berbagai syair seperti adanya pemikiran yang fanatik terhadap suatu suku, terdapat suatu rayuan, adanya suatu pola yang bisa merendahkan dan menjunjung terhadap kabilah tertentu. Dalam suatu syair memang tidak ditemukan adanya suatu runtutan dan bahakan tidak terdapat kronologi menurut Badri Yatim dalam buku Historiografinya.

  • Al-Ansab

Selain peran Al-Ayyam terdapat juga peran Al-Ansab dalam melacak suatu peristiwa Pra-Islam. sehingga Al-Ansab juga menjadi warisan lokal terhadap historiografi. Budaya Arab Pra-Islam dalam mengagungkan suatu kabilah dan suku, mereka melakukan pendataan silsislah suatu klan dengan mencatat atau merangkumnya menjadi satu kesatuan yang utuh di dalam pohon silsilah. Hal ini mereka lakukan bukan karena menginginkan kemuliaan tetapi lebih berdampak kepada orisinalitas genealogi klan mereka sendiri.[17]

Jejak leluhur dalam suatu peristiwa akan senantiasa mereka kenang dalam ingatan yang tertuang dalam syair-syair. Hal ini yang menjadikan mereka berbangga diri dengan prestasi yang telah ditorehkan oleh para leluhurnya. Dari sisi inilah yang akan menjadi komparasi antara pola Al-Ayyam dengan Al-Ansab sebagai local wisdom menjadi bahan di dalam historiografi Pra-Islam. Al-Ayyam dengan Al-Ansab sendiri memilki keterikatan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Hal ini diketahui bahwa mereka senantiasa berbangga diri ketika mengunggah suatu syair, adanya kesamaan topik dengan pelaku dalam suatu kabilah dan utamanya disana terdapat jejak leluhur mereka yang gemilang.[18] Hal ini yang diamini oleh Ahmed Faruqi. Dengan demikian mereka enggan menampilkan suatu nama pengunggah syair, tetapi mereka lebih bangga dengan menampilkan asal usul suatu syair dari suatu kabilah. Dengan demikian prestise yang dihasilkan lebih baik dan terjamin keasliannya menurut mereka.[19]

  • Metodologi Penelitian Dalam Penulisan Historiografi Pra-Islam
  • Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) yautu penelitian yang di lakukan dengan cara meneliti bahan-bahan kepustakaan yang relevan dengan masalah yang diteliti. Sedangkan ditinjau dari sifatnya, maka penelitian tergolong kepada penelitian deskriptif. Dimana terdapat analisa yang tentang setiap permasalahan yang menjadi pokok bahasan. Dalam hal ini analisa yang dikaji mengenai Historiografi Pra-Islam.

  • Teknik Pengumpulan Data

Berkaitan jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) maka teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan yakni aktif mempelajari tentang Ihtikar serta menelaah literatur-literatur kepustakaan lain yang memiliki korelasi dengan permasalahan yang diteliti tentang Historiografi Pra-Islam.[20]

  • Teknik Analisis Data

Dengan menggunakan content analisa yaitu menganalisa pendapat semua ketiga tokoh di atas kemudian ditambah pendapat lain, lalu diambil kesimpulan.[21]

  • KESIMPULAN

Dengan adanya penjelasan di atas kita dapat mengetahui beberapa hal:

  1. Dalam pembahasan yang agak sedikit panjang di atas, tentu kita semua mengerti bagaimana keadaan atau kondisis sosial masyarakat Arab Pra-Islam. memang benar adanya mereka memilki suatu kebudayaan yang dianggap sangat tajam dan gemilang namun itu hany berlaku dalam bidang syair-syair saja. Mereka semua belum mengerti adanya suatu keadaan dalam politik Internasional, sehingga mereka sering sekali terjadi bentrok antar suku dan peperanganpun tak bisa dihindari. Maraknya perjudian, perzinahan, pertikaian dan tindakan yang tidak bermoral lainnya sangat mewarnai kehidupan mereka. Dengan sebab itulah sematan Jahiliyyah ada dalam diri mereka yang melakukan tindakan di atas. Polemik seperti ini belum bisa diselesaikan atau bahkan diminimalisir, dengan sudah melekatnya kepercayaan yang salah dalam diri mereka terhadap apa yang telah mereka perbuat.
  2. Dalam tahapan ilmiyah pemahaman dan kajian yang berkaitan dengan tehnik penulisan suatu sejarah atau yang disebut Historiografi sangatlah penting. Historiografi dalam pemaknaan yang cukup simpel dan mudah dimengerti oleh setiap kalangan merupakan suatu bahan-bahan yang dikumpulkan oleh para sejarawan guna mengkaji dan menuliskannya secara utuh dan terstruktur dengan baik dan sempurna. Namun dalam tingkatan ranah intelektual pembahasan mengenai historiografi disni merupakan suatu langkah dalam memahami sejarah secara ilmiah tenttunya. Untuk selanjutnya nanti bisa melakukan analisis dalam aspek metode, tehnik, sumber dan pola pikir dari sejarawan tersebut.
  3. Dalam hal ini ketika mengkaji historiografi Pra-Islam menghasilkan suatu temuan, bahwa masyarakat Arab Pra-Islam masa itu belum mengerti akan urgensi dari sejarah bila dibentuk suatu tulisan. Namun dari itu mereka tetap giat menulis syair-syair sehingga dari hal tersebut bisa dijadikan suatu rujukan dalam sumber-sumber sejarah masyarakat Arab Pra-Islam. sebagian ulama’ dan para ahli sejarah mengumpulkan beberapa naskah syair-syair tersebut. Terlebih pada masa awal Islam terkadang mereka melakukan suatu penafsiran menggunakan pendekatan syair. Masyarakat Arab Pra-Islam hanya memilki suatu metode layaknya orang masyarakat pedalaman yang hanya bisa menuangkannya setiap kejadian secara lisan. Namun mengenai suatu pola historiografi Arab pada masa itu hanya terdiri dari dua yaitu Al-Ansab dan Al-Ayyam.

DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Badri Yatim, 2000, Sejarah Peradaban Islam: Dirasat Islamiyah II (Jakarta: RajaGrafindo Persada).

Badri Yatim, 1997, Historiografi Islam. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu).

Ajid Thohir, Bio-biografi dan Perkembangan Mazhab Fikih dan Tasawuf, dalam Miqot, Vol. XXXVI, No. 2 (Sumatera: Juli-Desember, 2012),

Kuntowijoyo, 2013, Pengantar Ilmu Sejarah, (Yogyakarta: Tiara Wacana).

Dudung Abdurrahman, 2011, Metodologi Penelitian Sejarah Islam, (Yogyakarta: Ombak).

Wilaela, 2016, Sejarah Islam Klasik, (Riau: Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Kasim).

Yusri Abdul Ghani Abdullah, 2004, Historiografi Islam: Dari Klasik Hingga Modern, (Jakarta: Raja Grafindo Persada).

Muin Umar, 1978, Historiografi Islam (Jakarta: Rajawali Pers).

Muhammad Ahmad Tarhini, 1991, al-Mu’arrikhûn wa al-Tarîkh al-‘Arab, (Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah).

Nisar Ahmed Faruqi, 1979, Early Muslim Historiography, (Delhi: Idarah Adabiyat).

Iqbal Hasan, 2008, Analisis Data Penelitian Dengan Statistik, (Jakarta: Bumi Aksara).

Mestika Zed, 2008, Metode Penelitian Kepustakaan, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia).

Gottschalk, Louis. 1986, Mengerti Sejarah, (Jakarta: UI Press).

Hariyono, 1995, Mempelajari Sejarah Secara Efektif, (Jakarta: Pustaka Jaya).

Poespoprodjo, W. 1987. Subjektivitas Dalam Historiografi, (Bandung: Remaja Karya).


[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam: Dirasat Islamiyah II (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2000), hal. 10.

[2] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam: Dirasat Islamiyah II, hal. 11.

[3] Syair-syair ini biasanya berisi mengenai peristiwa-peristiwa penting kabilah atau suku masing-masing penyair, seperti peperangan dan cenderung mengagungkan kabilah atau suku masing-masing. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Hal. 11-12.

[4] Badri Yatim, Historiografi Islam. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu 1997). Hal. 78

[5] Ajid Thohir, Bio-biografi dan Perkembangan Mazhab Fikih dan Tasawuf, dalam Miqot, Vol. XXXVI, No. 2 (Sumatera: Juli-Desember, 2012), Hal. 429.

[6] Badri Yatim, Historiografi Islam, (Jakarta: Logos, 1997), Hal. 1-2.

[7] Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2013), Hal. 73-82.

[8] Dudung Abdurrahman, Metodologi Penelitian Sejarah Islam, (Yogyakarta: Ombak, 2011), Hal. 65.

[9] Badri Yatim, Historiografi Islam, (Jakarta: Logos, 1997), Hal. 20-23.

[10] Wilaela, Sejarah Islam Klasik, (Riau: Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Kasim, 2016), Hal. 34-35.

[11] Badri Yatim, Historiografi Islam, (Jakarta: Logos, 1997), Hal. 28.

[12] Yusri Abdul Ghani Abdullah, Historiografi Islam: Dari Klasik Hingga Modern, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), Hal. 1.

[13] Wilaela, Sejarah Islam Klasik, (Riau: Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Kasim, 2016), Hal. 42.

[14] Muin Umar, Historiografi Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 1978), Hal. 10-11.

[15] Badri Yatim, Historiografi Islam, (Jakarta: Logos, 1997), Hal. 30.

[16] Muhammad Ahmad Tarhini, al-Mu’arrikhûn wa al-Tarîkh al-‘Arab, (Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, 1991), Hal. 11.

[17] Badri Yatim, Historiografi Islam, (Jakarta: Logos, 1997), Hal. 37-38.

[18] Nisar Ahmed Faruqi, Early Muslim Historiography, (Delhi: Idarah Adabiyat, 1979), Hal. 2.

[19] Badri Yatim, Historiografi Islam, (Jakarta: Logos, 1997), Hal. 35-37.

[20] Iqbal Hasan, Analisis Data Penelitian Dengan Statistik, (Bumi Aksara, Jakarta,2008), Hal. 5

[21] Ibid, 19.

Penulis: Syaifur Rahman (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta)

Baca juga: Sektarianisme dalam Sejarah Islam

Tinggalkan Balasan