Menuju Pribumisasi Islam: Antara Indonesia dan Sudan dalam Seminar Internasional

0
52
views
Sumber: Pecihitam.org

Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM) PCINU Sudan bekerja sama dengan Majma’ Fikih Sudan menyelenggarakan Seminar Internasional yang akan dilaksanakan pada hari Senin (28/6) pukul 08.00 CAT, bertempat di Auditorium kantor Majma’ Fikih Sudan.
Sesuai agenda perencanaan, seminar kali ini akan diisi langsung oleh perwakilan dua Negara; antara Indonesia dan Sudan, yakni instansi PCINU Sudan dan Majma’ Fikih Sudan. Keynote Speaker oleh KH. Yahya Cholil Staquf yang biasa disapa Gus Yahya akan menjadi pembuka dalam acara Seminar (meskipun kehadiran beliau melalui rekaman video). Beliau dikenal sebagai anak ideologis Sang Guru Bangsa, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dalam pemikiran, beliau selalu menyuarakan jas kebesaran akan gaya pemikiran guru besarnya, dibarengi wawasan intelektual kegamaan serta kebangsaan yang luas dalam membaca situasi nasional maupun internasional. Sebagaimana jargon Gus Yahya:
“Semangat ramah mengajarkan agar kita berhenti menciptakan kebencian kepada sesama, apalagi atas nama agama. Jika semua agama menciptakan teologi kebencian, dipastikan peradaban kemanusiaan musnah sebab setiap agama saling menegasikan.”
Modal yang diterapkan dari guru bangsa (Gus Dur) berupa modal Pribumisasi Islam itu sendiri. Gus Dur membangun narasi bahwa Indonesia dipandang sebagai muslim terbesar di dunia akan mampu memberikan sumbangsih wacana mengenai Islam yang mampu memperbaiki keadaan. Memandang Gus Dur melalui berbagai ide, pemikiran, dan kehidupan yang konsisten membela tradisi sebagai cermin nilai-nilai kemanusiaan. Menjaga rajutan budaya dan agama dalam nilai-nilai yang berkembang di masyarakat.
Prof. Dr. Abdurrahim Adam, Rais Majma’ Fikih Sudan sebagai keynote speaker kedua setelah Gus Yahya. Beliau akan membawakan gambaran tipologi khas dari corak khazanah Islam Sudan, dengan identitas peleburan antara agama dan kultur lokal. Mengenalkan lebih dalam mengenai sistem-sistem budaya berupa pewarisan nilai-nilai melalui tradisi. Nilai-nilai yang telah mengakar pada masyarakat. Banyak kajian sejarah dan kajian kebudayaan yang mengungkap betapa besar peran Islam dalam perkembangan kebudayaan suatu bangsa. Dalam perkembangan budaya suatu daerah, terlihat betapa nilai-nilai budaya Islam telah melebur dengan nilai-nilai budaya yang ada di daerah tersebut; baik dalam wujud seni budaya, tradisi, maupun peninggalan.

Baca juga: Syeikh Hammad An-Nil
Ribut Nur Huda, MA, sebagai Mustasyar PCINU Sudan, akan menjadi delegasi perwakilan sebagai pemantik pertama pada Seminar Internasional. Beliau mempunyai jam terbang yang padat dalam acara-acara seminar besar, di samping itu relung kedalaman ilmunya menunjukkan represantasi kuat dalam mengenalkan khazanah pemikiran pembaharuan Islam dari bumi Nusantara, Pribumisasi Islam dari sang guru besar (Gus Dur). Ini akan menjadi hasil eksplorasi berkelanjutan serta pijakan dasar untuk memberikan motivasi dalam kebangkitan suatu bangsa dan negara.

Prof. Dr. Adil Hasan Hamzah, sebagai delegasi dari Instansi Majlis Ulama Sudan. Belum lama ini beliau memperoleh gelar pengukuhan guru besar dalam bidang teologi Islam dari Universitas Za’im Azhary Sudan. Manifestasi kapabilitas keilmuan teologi Aswajanya terbukti dengan beberapa karya ilmiah yang telah beliau hadirkan. Salah satunya adalah kitab Ruusu Aqlam fi Aqidati Ahl al-iIslam. Menurut hemat penulis, beliau bisa menginterelasikan antara spirit spiritualitas dengan jalur kesufian dan spirit intelektual dengan jalur akademis.
Adapun tujuan dari acara seminar internasional ini adalah sebagai sebuah perwujudan syi’ar dan gerakan awal untuk mengenalkan sebuah khazanah Islam dari sebuah produk pemikiran ulama Nusantara yang tidak lekang dari masa maupun tempat. Dengan selalu proporsional dalam mendudukkan antara agama dan kultur budaya lokal; antara agama dan identitas jati diri sebuah bangsa. Bagi kita, pemahaman seperti ini sangatlah perlu. Sebab itu sebuah distingsi berupa relasi agar manusia tidak disorientasi dalam memahami ajaran Tuhan. Selayaknya membuka mata lebar-lebar dan melapangkan dada, maka di sanalah aķan terungkap sebuah makna dari realitas yang ada. Berangkat dari sebagai seseorang yang belajar dari kepahitan akan kegagalan, yang nantinya akan menuai kesuksesan demi cita-cita dan harapan besar suatu Bangsa.

Penulis: Suprianto

Tinggalkan Balasan