PENCURI CILIK

0
76
views
pikist.com
sumber gambar: pikist.com

Setangkai Bunga Mawar
Aahh… Segarnya hari ini, ucapku dalam hati sambil menghirup udara pagi. Sembari menikmati sejuknya udara pagi, ku tata rapi beberapa tangkai bunga yang indah ke luar toko untuk dipajang. Namaku Nisa, aku mempunyai toko bunga kecil-kecilan yang menjual berbagai macam bunga tangkai, buket bunga, bunga hias, dan melayani beberapa pesanan merangkai bunga yang sudah menjadi hobiku.

Yup bunga, aku sangat menyukainya entah magnet apa yang dihasilkan olehnya terhadapku, yang pasti aku bisa memastikan diriku baik-baik saja jika berada bersama bunga-bunga ini. Selain bentuknya yang indah dan kaya akan berbagai macam warna, bunga seakan menjadi teman keseharianku. Ada melati si putih yang imut, harum dan menggemaskan, ada juga mawar si merah yang elegan, dan masih banyak lagi.

Setelah selesai menata rapi bunga-bunga, aku beranjak memasuki toko untuk merapikan beberapa barang di dalamnya. Taraa… sudah siap! Tepat jam delapan pagi tulisan open di depan toko pun akhirnya terpajang. Ku duduk di meja kasir sembari menunggu pembeli dan merapikan beberapa barang di sekitarnya.

“Hi hi hi hi”, tiba-tibaterdengar suara tawa anak kecil di depan tokoku, aku bergegas keluar untuk memastikannya. Apakah ada anak iseng yang sengaja mengambil bunga-bunga indahku ini? Sesampainya di luar tak kudapati satu orang pun berada di sana, tak ada yang bersembunyi dan tak ada juga yang melintas, tetapi aku mendapati sehelai bunga mawar merah tergeletak di jalan, seolah seseorang sedang meninggalkan pesan untukku yang berbunyi, “Sorry ma’am, I stole your flower”. Tak lama kemudian datang seorang pria berjas rapi yang berkunjung untuk membeli satu buket bunga tuk kekasihnya.

Jejak Si Pencuri Cilik

Keesokan harinya, aku memulai aktivitasku seperti biasa, menata bunga-bunga yang ada dan mempersiapkan segala sesuatu untuk memperoleh peruntunganku hari ini. Tanda open telah terpampang di pintu toko, dan aku pun duduk di depan meja kasir menunggu pembeli. Tak seperti hari kemarin, peruntunganku hari ini rupaya sedikit menurun karena hingga kini waktu menunjukkan pukul dua belas siang, belum ada satu pembeli pun yang datang untuk berkunjung.

Memikirkan hal ini membuatku lapar, lalu aku beranjak menuju dapur untuk memasak hidangan makan siang seadanya dan kembali lagi menuju kursi yang ku tinggali tadi. Aku pun menyantap hidanganku kali ini dengan lahap, sayur bening dengan tempe mendoan andalanku. Hmmm sedap rasanya, ucapku dalam hati sambil menikmati hidangan  makan siangku.

“Tok tok”, terdengar bunyi pintu diketuk dua kali. Aku pun menoleh ke arah pintu dan mendapati seorang anak kecil sedang memiringkan kepala sambil menatapku dengan satu tangkai bunga mawar di tangannya sambil tertawa “hi hi hi”. “Hey, kembalikan!” teriakku sambil berlari mengejar anak itu. Tapi wow ajaib! Anak itu sudah tak nampak lagi batang hidungnya, bahkan hanya dalam hitungan detik, dia lagi-lagi hanya meninggalkan satu helai dari bunga yang dicurinya. Dalam hati, ku bergumam, apakah itu anak yang sama dengan anak yang kemarin? Ntah lah, semoga dia tak lagi mengulangi pebuatannya ini. Lalu, ku buka pintu toko dan masuk ke dalamnya untuk melanjutkan makan siangku yang sempat terjeda oleh kehadiran singkat anak misterius itu.

Malam pun tiba, aku segera merapikan beberapa barang dan menutup tokoku. Setelah mengalami kejadian aneh dua hari berturut-turut, aku pun berpikir untuk merencanakan sesuatu agar dapat menangkap anak kecil pencuri bungaku itu. Banyak pertanyaan yang melayang di benakku, apa motivasinya untuk mencuri bungaku? Kenapa dia hanya mengambil satu tangkai mawar merah setiap harinya? Lalu, untuk apa dia meninggalkan jejak berupa satu helai bunga yang diambilnya? Dan, kemana dia pergi setelah melakukan semua hal itu? Oh Tuhan, siapa sebenarnya anak kecil itu? Malam ini, pikiranku benar-benar dipenuhi oleh banyak rencana untuk menangkapmu dik, ucapku dalam hati sembari menarik selimut, lalu tertelap.

Baca juga: Bersyukur Kepada Allah – اشكر الله

Misi Penangkapan

Jam menunjukkan pukul enam pagi, aku bersiap untuk melakukan aktivitasku hari ini dan juga tak sabar melaksanakan rencanaku untuk menangkap adik kecil yang tempo hari sudah mencuri bungaku. Seperti biasa, ku tata bunga-bunga dan ku buka toko untuk memperoleh peruntungan. Telah terpampang tanda open di pintu toko yang menandakan bahwa toko telah dibuka, dan aku pun duduk manis menunggu pembeli datang. Tik tok tik tok, suara detakan jam berbunyi. Sekarang sudah menunjukkan pukul dua belas siang dan aku menunggu saat-saat adik kecil itu muncul di hadapanku. Ku kunci pintu-pintu dan juga kasir, lalu duduk manis menunggu kedatangan si adik kecil.

Aku menolehkan kepalaku ke arah pintu dan betapa terkejutnya aku dibuatnya, ternyata adik kecil itu telah berdiri di depan pintu dengan senyuman manis, dan lagi-lagi, satu tangkai bunga mawar di tangannya. Tak boleh gegabah, ucapku dalam hati sembari menenangkan diri. Adik itu pun pergi dari hadapanku dan aku juga mulai mengikutinya perlahan-lahan. Dia tak lari, tak juga meninggalkan satu helai bunga curiannya seperti tempo hari, seolah dia tahu hari ini akan diuntit olehku, anak itu berjalan lumayan santai beberapa meter di hadapanku sambil tertunduk. Aku mulai penasaran, kenapa dia tak lari saja dari hadapanku? Seolah-olah jika seperti ini, ada hal yang ingin dia tunjukkan padaku.

Aku mengikuti adik kecil itu, hingga sampailah kami di sebuah pemakaman. Pemakaman ini tak terlalu jauh jaraknya dari toko bungaku, tapi mengapa aku tidak mengetahui keberadaan pemakaman ini? Pemakaman ini cenderung lebih kecil dari ukuran beberapa pemakaman biasanya, belum banyak batu nisan yang menghiasi tanahnya, harum saat memasukinya karena banyak beberapa pohon bunga kamboja dan kenanga mengelilingi pemakaman ini.

Aku terlalu fokus untuk mengamati pemakaman yang masih baru di pandanganku ini dan aku pun kehilangan jejak adik kecil itu. Aku berjalan mengelilingi pemakaman ini untuk menemukannya, kemana anak itu? Ucapku dalam hati karena tak kunjung menemukannya. Sampai pada akhirnya aku melihat satu pohon bunga kamboja besar berdiri kokoh di ujung pemakaman ini, lalu aku hampiri pohon itu dan mengagumi bunganya yang putih, cantik dan harum.

Baca juga: Jumat Berkah Bersama Lazisnu Sudan

Adik Polos Tak Berdosa

Tiba-tiba terdengar suara, “Ayaahh! Ini adek bawain bunga biar tempat tidurnya cantik. Spontan aku menoleh ke sumber suara, dan benar saja di sana telah duduk bersimpuh adik kecil yang aku ikuti tadi. Hatiku tersentuh melihat pemandangan ini, di hadapanku sekarang telah bersimpuh seorang anak kecil dengan pakaian lusuh, dia terlihat tidak baik-baik saja, tetapi bibirnya selalu tersenyum memandang batu nisan dan gundukan tanah yang ada di hadapannya, sesekali tangannya mengelus gundukan tanah sambil meletakkan tiga tangkai bunga mawar.

Iya, itu bunga-bungaku, ternyata adik itu membawakannya untuk ayahnya yang telah tiada. Hilang sudah semua prasangka burukku akan adik kecil ini, ku peluk dia dan elus rambutnya. Air mataku menetes, adik kecil itu menangis di pelukanku seolah-olah aku adalah tempat pertamanya untuk menumpahkan segala sesak yang ada di dadanya. “Nangis aja, ngga papa. Maafkan aku yang sudah mengira yang tidak-tidak,” kataku pada adik kecil itu.

***

“Rumahmu dimana?” tanyaku padanya ketika tangisnya mulai mereda. “Itu, disana!” Tunjuknya pada sebuah kardus mesin cuci. Ya Tuhan, pemandangan apa lagi ini? Kenapa ada anak sebelia ini yang harus menempuh duri kehidupan sedini mungkin? Ucapku dalam hati.  Aku gendong dia menuju kardus yang ditunjuknya lalu memangkunya duduk di sebelah kardus itu.

“Kaka ngga bisa masuk ya? Ngga muat kardusnya, hahahaha,” katanya sambil menertawakanku yang mencoba untuk memasuki rumahnya. Entah karena suara tawanya yang renyah atau aku yang terhanyut akan suasana, aku pun ikut tertawa sambil menangis melihat kondisi adik kecil ini. “Ikut kaka pulang ke rumah yuk! Adik suka bunga mawarnya kan? Ntar ngga papa bawain aja buat ayah setiap hari, asalkan adik mau tinggal di rumah kaka,” tawarku pada anak itu.

Tak ada sepatah kata pun terucap darinya setelah mendengar tawaranku itu, yang ada hanyalah sebuah senyuman bahagia yang terlukis di bibirnya dan tergambar di semburat mata bulatnya. Dia meraih tanganku, dan mengajakku untuk berpamitan dengan ayahnya lalu menuntunku untuk pulang ke rumah barunya alias rumahku. Hahahaha, gemas akan tingkah lakunya, aku pun menggendongnya di sepanjang perjalanan menuju rumahku.

Sejak kejadian itu, adik kecil itu pun menjadi pegawai tetapku, menjadi hiburanku, menjadi sumber tawaku, bahkan menjadi bunga mimpiku. Kejadian hari itu membuatku sadar, bahwa kita sebagai manusia tidak seharusnya berburuk sangka pada yang lain, karena bisa jadi hal yang dilakukannya itu semata-mata sebagai bentuk untuk menghibur diri dari luka yang sulit untuk disembuhkan.

Selalu bersyukur atas apa yang kita punya, serta tak pernah mengeluhkan hal sekecil apapun yang telah Tuhan berikan. Terima kasih adik kecil, si pencuri bunga berhati selembut kapas yang jiwanya sekuat baja, darimu aku belajar banyak hal akan pelajaran hidup di dunia yang sementara ini.

Penulis             : Laili Maya Ramadani

Mahasiswa      : International University of Africa

Tinggalkan Balasan