Timur Tengah, Awal Mula Punahnya Budaya Islam?

0
49
views
minanews.net
Sumber gambar: minanews.net

Rahmatan Lil ‘alam adalah julukan terpopuler untuk agama penuntun jalan kebenaran yang diutus kepada Nabi terakhir, Nabi paling mulia yang mana dengannya para manusia sadar dan bertaubat menuju hal yang menentramkan hati, membantai berbagai keraguan atas apa yang disembah, melihat titik tujuan hidup, dan meniti jalan cahaya kehidupan. Agama yang tentram dan damai, merajut rindu para pemeluknya akan syariatnya, berbagai kasih sayang terdapat di dalamnya, santun pada yang tua dan menyayangi yang muda, cinta alam dan seluruh isi bumi yang diciptakan oleh Sang Pencipta.

Setiap hurufnya mewakili lima perkara wajib yang harus dikerjakan setiap harinya. “I” untuk isya, “S” untuk subuh, “L” untuk lohor, “A” untuk asar, dan “M” untuk magrib. Sungguh indah bukan? Bahkan perkara wajibnya sampai menjadi komponen susunan abjad dari namanya. Iya, benar. “ISLAM”, itulah agama dengan pemeluk terbanyak di dunia, yang telah kita ketahui perkembangan sejarahnya dari dahulu hingga sekarang.

Asal dan Kisah tentang Ajaran Islam

Islam, ialah agama penyelamat ummat manusia. Sesuai dengan namanya yang berasal dari bahasa Arab “Aslama” yang artinya keselamatan. Sebuah kepercayaan yang membuat para pemuka kaum kafir quraisy terdahulu luluh akan keindahan nikmat iman yang disuguhkannya, seakan menyelamatkan mereka dari keraguan dan kesesatan atas apa yang dianutnya menuju keselamatan yang hakiki untuk hari akhir yang kekal.

Seperti Umar bin Khattab yang dulunya adalah orang yang paling disegani dan ditakuti oleh penduduk Makkah, serta penentang garis keras ajaran Islam yang kemudian luluh oleh beberapa bacaan ayat suci Al-qur’an surah Thaha ayat 1 sampai 8, lalu memeluk Islam. Seperti Zaid bin San’ah seorang ahli Taurat yang mana saat itu Rasulullah berhutang padanya, lalu dengan sengaja ia mencekik Rasulullah saat menagih hutangnya yang belum jatuh tempo pada saat itu, dengan tujuan untuk membuktikan kebenaran tanda kenabian. Rasulullah bukannya marah atas tingkahnya, melainkan beliau menahannya dan menunjukkan kasih sayangnya terhadap Zaid. Beliau melunasi hutangnya dan memberikan tambahan harta kepada Zaid, yang mana dengan hal ini hilanglah semua keraguan Zaid atas Rasulullah karena kasih sayang beliau yang dapat mengalahkan amarahnya dan membuat hatinya yakin untuk memeluk Islam.

Tegas, tapi tak kejam, segan tapi tak menakutkan, lembut tetapi tak lemah, itulah gambaran untuk Nabi Muhammad saw, sang pembawa ajaran Islam untuk umat manusia di muka bumi ini. Islam adalah agama yang tidak memaksa keinginan seseorang untuk memeluknya, agama yang sangat toleran dan menghormati keputusan siapa pun.

Ia indah dengan segala syariatnya, yang memerintahkan para perempuan untuk menjaga diri dengan mengenakan pakaian tertutup dari ujung kepala hingga kaki, kewajiban salat lima waktu yang menjadikan para pemeluknya dekat dengan Tuhannya, berzakat dan bersedekah sebagai sarana berbagi dan peduli pada sesama, hukum ditegakkan secara adil sesuai dengan peraturan yang ada, menyediakan berbagai wahana kerohanian untuk meningkatkan keimanan dan keislaman para pemeluknya, serta menjadi solusi berbagai masalah baru di zaman serba kekinian ini.

Karakteristik Budaya yang Disuguhkan oleh Islam

Sebuah agama yang menciptakan sebuah budaya yang indah dipandang dari segi mana pun itu. Ajaran yang menciptakan berbagai budaya di dalamnya seperti; budaya berhijab atau menutup aurat untuk laki-laki dan perempuan agar terhindar dari fitnah yang tidak diinginkan, serta menciptakan keamanan secara individu, budaya mahram yang dengannya para perempuan akan aman ketika bepergian ke suatu daerah, budaya salam yang mana doa keselamatan akan sesama selalu terucap ketika bertegur sapa, budaya hormat dengan selalu menjaga sopan santun saat berinteraksi kepada orang lain, budaya kasih sayang dengan mengasihi serta menyayangi yang muda dan menghormati yang tua.

Budaya memberi dengan bersedekah dan berzakat, budaya kesetaraan bagi siapa saja yang melanggar aturan hukum, budaya toleransi dengan tak memaksakan kehendak atas sesuatu, budaya tegas dengan meninggalkan segala yang buruk dan melaksanakan segala perintah agama, budaya akan mengingat Sang Pencipta dengan lantunan doa di setiap awal dan akhir aktivitas, budaya ilmiah yang mana setiap kejadian ilmiah yang terjadi di muka bumi ini sesungguhnya telah termaktub dalam Al-qur’an, dan budaya-budaya positif lainnya yang bisa didapatkan dalam ajaran Islam.

Oleh karena berasal dari bahasa Arab “aslama”, yang mana bahasa Arab adalah bahasa khas masyarakat daerah Timur Tengah, maka tidak heran jika budaya-budaya yang telah disebutkan sebelumnya banyak dijumpai di Timur Tengah dengan ciri khas masyarakatnya yang berkulit putih dan berhidung mancung. Sebagai daerah lahirnya Islam, Timur Tengah mempunyai adat atau kebiasaan tentang Islam yang sangat melekat pada diri masyarakatnya di kehidupan keseharian mereka.

Timur Tengah merupakan sebuah wilayah yang selalu di idam-idamkan oleh para penuntut ilmu syar’i untuk dikunjungi. Menyajikan beribu wisata religi dari zaman terdahulu yang sangat diminati umat manusia seluruh dunia terkhusus pemeluk Islam. Menyajikan kisah tentang perjuangan Rasulullah dan para sahabat tentang Islam dalam bentuk miniatur hingga peninggalan-peninggalan beberapa kerajan Islam terdahulu.

Penggolongan Wilayah Timur Tengah

Timur Tengah atau dalam bahasa Inggrisnya adalah Middle East, merupakan sebuah wilayah yang secara politis dan budaya merupaakan bagian dari benua Asia atau Afrika-Eurasia yang dalam hal ini kita sebut saja bagian dari benua Asia, Eropa dan Afrika. Dalam hal ini, organisasi internasional menganggap batasan wilayahnya terletak di Asia bagian barat daya ditambah Mesir yang berada di utara Afrika.

Ada 19 negara yang dikategorikan sebagai negara Timur Tengah yang mana bahasa resminya merupakan bahasa Arab yaitu; Arab Saudi, Bahrain, Irak, Iran, Israel, Kuwait, Lebanon, Mesir, Oman, Qatar, Siprus, Suriah, Turki, Uni Emirat Arab, Yaman, Yordania, Sudan, Libya, dan Palestina.

Definisi Menutup Aurat dengan Hijab

 Seperti yang kita ketahui, dari beberapa negara Timur Tengah yang telah disebutkan di atas, budaya Islam yang paling mencolok adalah hijab. Tak dapat dipungkiri hijab syar’i adalah tren yang telah berlaku sejak dulu hingga sekarang. Dahulu, perempuan sangat indah dan anggun dengan pakaiannya yang menutupi lekuk tubuhnya dan khimar yag menutupi mahkotanya.

Namun sekarang, di zaman yang serba kreatif dan inovatif ini, muncullah berbagai ide pada definisi “menutup aurat”. Banyak yang menyamakan “menutup” dengan “membungkus” badan. Ibaratkan sebuah kotak yang ditutup dengan kain, maka ia tidak akan “terjiplak” bentuknya, lain halnya dengan kotak yang dibungkus dengan kain, maka ia akan “terjiplak” bentuk sebuah kotak tersebut Tidak hanya itu, model pakaian yang disuguhkan saat ini pun sangat beragam, mulai dari gamis, baju atasan, rok hingga celana yang mempromosikan unsur syar’i  telah banyak kita jumpai di kawasan Timur Tengah saat ini.

Modis merupakan tujuan yang mendominasi tren hijab masa kini. Bukannya menutup aurat, melainkan berpenampilan modis dan mengikuti perkembangan zaman lah yang menjadi tujuan perempuan saat ini. Seakan penggambaran mengenakan hijab bertujuan untuk “membungkus” badannya.

Baca juga: Kejahatan Bani Israil dan Janji Allah SWT (Tafsir Surah al-Isra’ 4-8)

Kain persegi panjang yang lebar, kini dimodifikasi menjadi agak kecil dengan melipat salah satu sisinya ketika dikenakan, bukanlah menjadi hijab standar yang telah di-syari’at-kan. Lantas kemana tren budaya hijab pada awal peradaban Islam? Bukankah ia berasal dari Timur Tengah? Lalu apakah dengan ini, budaya Islam sedikit demi sedikit akan terkikis dari mulanya berawal?

Kebijakan Baru Arab Saudi terhadap Perempuan

Perempuan hanya bekerja di rumah. Budaya ini sangat melekat pada perempuan di seluruh dunia, khusunya Arab Saudi. Dahulu, sebelum kebijakan pemerintah Arab Saudi 2 tahun silam yaitu tahun 2018, perempuan Arab Saudi dilarang untuk mengikuti kegiatan diluar rumah seperti; menyetir mobil, menonton di stadion, pergi ke pusat perbelanjaan tanpa seizin wali, dan lain sebagainya.

Tetapi semenjak tahun 2018, pemerintah mencabut 5 larangan untuk perempuan yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu; Pertama, perempuan diperbolehkan untuk menyetir mobil atau dengan kata lain dengan hal ini perempuan diperbolehkan memilki pekerjaan yang berhubungan dengan setir-menyetir. Kedua, perempuan diperbolehkan menonton di stadion sepak bola. Ketiga, perempuan diperbolehkan pergi tanpa seizin wali, yang mana dalam hal ini peran laki-laki atau wali mulai mengalami penurunan untuk melindungi dan menjaga perempuan. Keempat, perempuan diperbolehkan untuk menginap di hotel sendirian, yang mana dalam hal ini tak ada yang bisa menjamin Tindakan apa yang akan dilakukan olehnya. Kelima, perempuan diperbolehkan untuk menjadi tentara, yang mana hal ini mulai ada kesetaraan derajat antara perempuan dan laki-laki dalam hal pekerjaan.

Tanpa disadari, 5 kebijakan pemerintah Arab Saudi ini dapat berdampak positif maupun negatif untuk kehidupan perempuan Arab Saudi ke depannya. Sisi positifnya adalah perempuan sekarang tidak terlalu bergantung pada laki-laki untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan mulai adanya kesetaraan dalam mencari pekerjaan, dan anggapan akan perempuan hanya akan berakhir di dapur, sedikit demi sedikit mulai musnah.

Dampak negatifnya adalah dengan dijalankannya kebijakan-kebijakan tersebut bisa memicu perempuan untuk bertindak berani dan kurang memikirkan akibat kedepannya. Dia menganggap dirinya mandiri walau sebenarnya dia tahu dia tak sanggup untuk melakukan hal itu sendirian. Menjadikan perempuan tidak takut akan semua hal yag ada, padahal sejatinya perempuan itu perlu mendapatkan izin dan didampingi oleh wali dalam melakukan hal-hal tertentu, karena sejatinya perempuan perlu dilindungi dalam berbagai hal. Semoga dengan dikeluarkannya kebijakan ini, baik perempuan maupun laki-laki dapat saling menghormati kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah tersebut.

Budaya Islam Tak Sepenuhnya Punah di Timur Tengah

Kajian kitab-kitab turats dan kajian berbagai ilmu tentang Islam, baik itu tentang tajwid, akidah, tauhid dan lain sebagainya adalah budaya intelektual yang sangat melekat di Timur Tengah. Banyak masyarakat dari berbagai belahan dunia yang tergiur untuk mencicipi kelezatan akan ilmu akhirat yang banyak disuguhkan di Timur Tengah, mengapa? Karena telah diketahui, bahwa Timur Tengah merupakan pusat pertama peradaban Islam berada, mulai dari pemerintahan dinasti Abbasiyah yang berpusat di Madinah dan berpindah ke Baghdad, lalu dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus dan di beberapa kota terkenal lainnya, seperti Turki pada masa dinasti Utsmaniyah.

Berbagai ilmu akhirat dapat kita jumpai di Timur Tengah, karena asal ilmu-ilmu tersebut adalah wilayah Timur Tengah. Seperti berbagai kitab hadis yang banyak diciptakan oleh pakar hadis yang berasal dari Timur Tengah. Tak hanya ilmu akhirat, ilmu-ilmu dunia hingga penemuan-penemuan alat cangih zaman sekarang juga bermula dari Timur Tengah, seperti konsep matematika Al-Jabbar, penemu kamera Ibn Haytam, dan lain sebagainya.

Adat istiadat dengan pakaian sorban dan gamis panjang untuk laki-laki juga masih melekat kental di kawaan Timur Tengah, khusunya Sudan. Tak dipungkiri dari tukang jualan permen hingga dosen pun sangat menyukai tren ini. Berpakaian seperti itu dengan menyanyikan lagu dan menyalakan musik khas Timur Tengah yang beriramakan darbuka menjadi ciri khas negara Sudan yang berbeda dari negara kawasan Timur Tengah lainya.

Sikap tawadu akan suatu hal dan tidak berlebihan dalam menampakkan sesuatu, juga menjadi budaya khas Timur Tengah yang masih ada sampai sekarang. Jadi, dapat disimpulkan dalam tulisan ini, bahwa budaya Islam tidak seutuhnya hilang dari Timur Tengah. Hanya sebagian hal duniawi yang menghilang, seperti cara berpakaian dan perizinan wali. Mengikuti zaman, soal modis tidak bisa ditolerir bagi kaum hawa, sedangkan sejatinya dalam Islam modis itu tidak diperlukan. Suguhan ilmu syar’i juga banyak tersedia di Timur Tengah yang menandakan bahwa sumber perdaban Islam itu tidaklah punah.

Penulis: Laili Maya Ramadani

Referensi:

Tinggalkan Balasan