Apakah Al-Quran Menggunakan Ilmu Logika Yunani?

0
40
views
Sumber gambar: kabarkampus.com

Dalam dunia keilmuan, ilmu logika menempati posisi strategis karena ilmu logika digunakan untuk menilik apakah suatu bidang ilmu itu memiliki logika akurat atau tidak karena tuntutan suatu ilmu di antaranya harus bersifat koherensi dan substantif sebagaimana dituturkan oleh Dr. Tammam Hassan dalam kitabnya Al-Ushul yang membahas mengenai epistemologi tiga keilmuan dalam pemikiran Arab; nahwu, filologi, dan balaghah. Sedangkan koherensi dan ketepatan pengambilan suatu kesimpulan merupakan di antara kajian ilmu logika yang akan dibahas dalam kajian logika formal. 

Terlepas dari itu, ilmu logika pada abad klasik bahkan sampai akhir-akhir ini masih dianggap suatu hal yang problematis karena menurut sekte oposisi, ilmu logika adalah ilmu produk Yunani, sehingga ilmu ini tidak banyak dijumpai kecuali sedikit dan itupun hanya dikonsumsi oleh kalangan tertentu, di antaranya kalangan akademisi universitas. Lebih mirisnya lagi ditambah dengan ungkapan Ibn Taimiyyah dalam kitabnya Ar-Rad ala al-Mantiqiyyin yang mengatakan bahwa ilmu logika ini dibangun tanpa didasari dengan keilmuan. 

Sudah barang tentu, jika hanya berasumsi bahwa logika merupakan produk Yunani (non muslim) adalah bukan suatu landasan yang kuat untuk tidak bolehnya diterima sebab mayoritas ulama muslim sendiri notabenenya menerima ilmu logika ini bahkan berkontribusi banyak dalam perkembangannya. Adapun kontribusi ulama muslim dalam perkembangan ilmu logika sudah sangat banyak sekali, di antaranya dalam pembahasan proposisi dengan menambahkan proposisi kondisional yang awalnya hanya proposisi kategoris, kemudian konsep silogisme ditambah oleh ulama muslim dengan silogisme disjungtif (Qiyas as-Syarthi). Semua itu, merupakan gagasan dari cendikiawan muslim untuk melengkapi gagasan Aristoteles.

Di lain sisi, Aristoteles juga tidak membahas masalah term terlalu banyak. Namun ulama muslim memperhatikan hal ini dengan membuat term khusus dalam pembahasan logika seperti istilah Imam al-Ghazali; talazum, taanud, dan taadul sebagaimana dalam kitabnya yang berjudul al-Qisthas al-Mustaqim dan as-Syahruwardi dalam Hikmatu al-Isyraq. Jika boleh disandingkan, maka Ibn Taimiyyah jika berpendapat dengan semua alasannya, bahwa ilmu logika merupakan ilmu yang tidak dilandaskan dengan keilmuan, maka datanglah imam al-Ghazali dengan alasan-alasannya menyatakan, bahwa “Siapa saja yang tidak paham logika maka ilmunya tidak dapat dipercaya”.

Terlepas dari perdebatan sengit di masa itu, ternyata jika dianalisa kembali dengan lebih mendalam, metode logika Yunani dapat ditemukan dalam ilmu-ilmu keislaman yang dilihat dari sisi kesamaannya terkhusus dalam bidang kebahasaan dan ushul fikih. Spesifiknya, terdapat dalam pembahasan aturan analogi konvensional dan masalik illat. Penulis di sini tidak akan membahas perdebatan-perdebatan yang panjang ini secara terperinci, namun penulis akan lebih membahas diferensiasi antara ijaz Al-Quran dan logika Yunani.

Jika terpaksa kita katakan, bahwa dalam Al-Quran terdapat logika, maka Logika Al-Quran adalah logika akal dan hati, logika yang berdasarkan logika dalil dan argumentasi, logika yang berdasarkan logika retorika dan bahasa. Tidak seperti logika Yunani hanya berupa silogisme yang berlandaskan dengan proposisi untuk menghasilkan suatu konklusi sebagaimana dikatakan oleh Dr. Zahir Awwad al-Almai dalam kitabnya Manahij al-Jadal fi Al-Quran al-Karim. Logika Al-Quran ini sangat istimewa dikarenakan konsepsi yang diformulasikan oleh Al-Quran dalam berargumentasi adalah konsepsi kefasihan bahasa, balaghah, dan ijaz bayani (ilustratif) terlepas dari menggunakan argumentasi dengan hakikat-hakikat eksoteris yang bersifat common sense. 

Oleh karenanya, apabila argumentasi Al-Quran ini dipadankan dengan logika Yunani dan metode debat mereka maka keistimewaan dari logikanya akan hilang sebab konsepsi yang dicanangkan Al-Quran sulit untuk ditiru karena logika Al-Quran melebihi logika manusia itu sendiri. Sedangkan logika Yunani kritisasi masih dan bahkan mudah untuk dilakukan, semisal kritisasi dari aspek bentuk formulasi dan materi pembentukan paradigm of though-nya. 

Di lain sisi, metode Al-Quran dalam berargumentasi dan memberikan jawaban terhadap lawan lebih memuaskan karena memiliki gaya bahasa yang komprehensif baik dari sastra, stilistika, stuktur, dan lainnya sehingga Ibn Taimiyyah pada akhirnya mengatakan setelah melakukan bantahan pedas terhadap logika Yunani, “Siapa saja yang bereksperimen seperti eksperimenku maka dia akan berpengetahuan seperti pengetahuanku”.

Hipotesis ini diangkat karena jika berbicara logika maka kita harus membedakan kaca mata untuk menyoroti logika antara logika dipandang dari sisi gaya bahasa dan standarisasi kebahasaan kemudian logika dipandang dari sisi ilmu logika serta logika ditinjau dari sisi logika Yunani itu sendiri. Jika memandang logika dari sisi gaya bahasa, tentu setiap bahasa memiliki logika gaya bahasa tersendiri baik bahasa latin, bahasa inggris, atau yang lainnya. Namun dari kesemuanya itu, logika gaya bahasa arab lebih memuaskan jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lainnya.

Kemudian apabila logika dipandang dari ilmu logika sendiri, menurut Dr. Zahra, semua orang memiliki logika sendiri baik itu logika natrual atau logika formal hanya saja Yunani terlebih dahulu berkontribusi untuk mengkodifikasi ilmu ini, hal itu dapat dibuktikan bahwa Aristoteles konsep-konsep logikanya merupakan pemikiran gurunya dan kemudian dikembangkan.Adapun logika Yunani jika dipandang dari sisi pengkodefikasiannya masih diasumsikan hanya landasan dasar, hal itu ditinjau bahwa banyak ulama muslim yang menambah dan menyempurnakannya seperti al-Kindi al-Farabi, Ibn Sina, dan lainnya.

Baca juga: Antara Emansipasi dan Budaya Patriarki

Maka jika boleh ditarik kesimpulan, antara logika Al-Quran dan logika Yunani tidak dapat disamakan dan tidak memiliki relasi sebab logika Al-Quran dapat mengombinasikan bukan hanya satu logika namun banyak logika di antaranya seperti logika hati, akal, argumentasi, dan kebahasaan. Sedangkan logika Yunani tidak lain bertitik tolak dari proposisi dan ketepatan mengambil suatu kesimpulan. Kendatipun begitu, setiap tokoh yang menggunakan logika Yunani tetap memiliki kesimpulan yang berbeda sekalipun menggunakan konsep logika yang sama. 

Penulis: Sholah Ibn Mawardi

Tinggalkan Balasan