Modal “Mengkekinikan” Al-Qur’an

0
50
views
Sumber gambar: griyaalquran.id

Di akhir abad 20 berkembang pertanyaan kenapa tidak ada metodologi baru penafsiran al-Qur’an, Apakah sudah tidak ada metodologi tafsir yang bisa ditawarkan untuk menghadapi krisis pribumisasi tadabbur al-Qur’an, hingga memasuki abad 20 belum ada jawaban yang memuaskan fenomena sakralisasi pemikiran Islam dari kalangan tradisionalis.

Baca juga: Apakah Al-Quran Menggunakan Ilmu Logika Yunani?

Pada saat ini dihadapkan pada sakralisasi klaim kebenaran pemahaman al-Qur’an dari kalangan skriptualis yang tidak dapat berko-eksistensi dengan kalangan Islam lain yang berbeda dengannya, Apakah klaim kebenaran pemahaman al-Qur’an akan mampu dihadapi oleh kalangan tradisionalis dengan konsekuensi mengangkat gerakan pribumi Islam tanpa mengabaikan pemahaman otoritatif ulama klasik, Jawabannya kembali kepada epistemologi Ilmu seperti yang disebutkan Imam Syafi’i, Ilmu adalah apa yang bermanfaat dengan fokus pada kualitas umat Islam yang berstatus wajib untuk terus melakukan dialog dengan al-Qur’an bukan fokus kepada metodologi atau keilmuan metode tafsirnya yang selalu akan selalu relevan dengan watak kekinian al-Qur’an.

Konon Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah berpesan, Artinya: Ajaklah al-Qur’an berbicara. Pesan ini memberikan isyarat kepada generasi Islam sekarang akan pentingnya membumikan atau living Qur’an dan menerima perkembangan metodologi tafsir selama mengacu pada paradigma tafsir mencari kebenaran bukan tafsir untuk kepentingan manipulatif atau al-tafsir bi al-ra’y al-mahd (tafsir berdasarkan pikiran), Artinya keberadaan metodologi tafsir baru dibutuhkan selama mampu menghasilkan metode yang mudah untuk mengantarkan pada pemahaman yang benar tentang apa yang dimaksudkan Allah di dalam ayat-ayat al-Qur’an.

Pesan istintoq yang disampaikan Sayidina Ali tersebut tidak hanya berlaku untuk kalangan da’i dalam mengembangkan metode tafsir tematik maudlui’ melainkan juga bagi kalangan pribadi awam yang mengerti bahasa Arab dalam mengamalkan tadabbur al-Qur’an.

Pada prinsipnya istinthaq sebagai konsekuensi tadabbur tidak bisa dibatasi oleh pemenuhan syarat seorang mufassir yang ketat. Berbeda dengan tafsir sebagai konsekuensi istinbat al-nash yang terikat syarat yang ketat sebagaimana disepakati oleh para ahli tafsir. Istinthaq adalah bagian dari perintah membumikan dan mengkekiniankan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari dengan tanpa mengorbankan teks kepribadian budaya bangsa dan perkembangan positif masyarakat.

Dimulai dari tafsir ke tadabbur, jika merujuk ke tradisi tafsir awal Islam, maka pertimbangannya adalah kualitas keilmuan dan ketakwaan umat zaman Nabi dalam hal penafsiran al-Qur’an berbeda dengan dua qurun generasi setelahnya, sebagaimana legitimasi Nabi, bahwa sebaik baik masa adalah masa Nabi, kemudian masa setelahnya dan masa setelahnya, misalnya di masa Nabi kualitas Sayidina Ali yang tercermin dalam pengakuan beliau: “Demi Allah tidaklah ayat itu diturunkan kecuali saya tahu tentang apa ayat itu diturunkan dimana diturunkan dan kepada siapa diturunkan, Sungguh Tuhanku telah menganugerahiku akal yang jernih dan lisan yang fasih”, atau kualitas sahabat Ibnu Abbas yang didoakan langsung oleh Nabi agar menjadi pakar tafsir berbeda dengan sahabat lainnya dan juga generasi setelahnya.

Penafsiran zaman Nabi, sahabat dan tabi’in memiliki kualitas yang berbeda beda menurut kedalaman capacity masing masing meskipun pengajian tafsir sama sama bercorak kebahasaan dan periwayatan. Pada masa Nabi dan sahabat metode penafsiran ayat-ayat al-Qur’an dilakukan secara ijmali (global), artinya tidak memiliki rincian yang memadai dan merupakan metode yang pertama kali muncul dalam diskursus tafsir al-Qur’an.

Membahas generasi muslim di abad 21 terdapat fenomena yang menunjukan adanya pergeseran mindset dalam menekuni bidang keilmuan, seperti pergeseran dari minat menekuni bidang keilmuan Islam yang kaffah ke bidang keilmuan sains unsich yang kering dengan epistemologi Islam, Pada akhirnya akan dianggap sebagai hal biasa jika ada generasi muslim yang lebih mendahulukan khazanah ilmu fardlu kifayah, seperti sains dan mengakhirkan, bahkan meninggalkan ilmu fardlu ain seperti ilmu tajwid yang merupakan ilmu pertama dan dasar untuk dapat membaca secara tartil yang menjadi syarat keabsahan bacaannya.

Syarat tartil tersebut tidak hanya menyangkut syarat artikulasi bacaaan melainkan juga syarat pemahanan umum global atas apa yang dibaca sebagaimana terindikasi oleh ketepatan waqaf dan ibtida. Syarat ini ditegaskan oleh Sayidina Ali dalam pendefinisiannya atas makna. Tartil adalah mentajwidkan huruf makhraj dan sifat dan mengerti waqaf. Definisi ini setidaknya mengikat para pengguna bahasa Arab, sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak melakukan tadabbur memahami makna atas apa yang dia baca dari al-Qur’an.

Tadabbur disini merupakan bentuk tafsir level paling dasar bagi orang Arab atau non Arab Ajam yang belum berkapasitas untuk melakukan analisis metodologis dan merasa kesulitan dengan pembahasan metodis. Sahabat Ibnu Abbas membagi jenis tuntutan untuk mentadabburi al-Qur’an dalam empat macam, yaitu tuntutan bagi orang Arab yang menguasai ilmu Arab, bagi orang yang berbicara bahasa Arab, bagi kalangan ulama dan tuntutan bagi siapa pun untuk memasrahkan keterbatasan pengetahuan-nya kepada Allah. Pembagian keempat berlaku untuk setiap ayat yang membahas persoalan metafisika ghaibiyyat.

Klasifikasi sahabat Ibnu Abbas perlu dijadikan bahan otokritik dan diamalkan oleh seluruh umat Islam generasi sekarang yang mengaku muslim dan sadar dengan kebutuhannya untuk moco Qur’an angen angen sakmaknane. Lantas bagaimana dengan seorang muslim yang tidak pernah berbahasa Arab, tetapi hanya mengucapkan bacaan simbol Arab dalam ritual-ritual keagamaannya. Tentu jawabannya merupakan kewenangan kepala lembaga yang bertanggung jawab atas desainer mutu pendidikan al-Qur’an itu sendiri, Apakah generasi umat Islam dibiarkan dalam standar primitif layaknya masa sebelum transisi peradaban dari zaman politeisme ke monoteisme ataukah meningkatkannya ke standar modern dari era monoteisme tauhid syariat ke era gerakan keilmuan.

Berkaitan dengan revolusi ilmu al-Qur’an harus ditempatkan sebagai inspirator pemandu dan penghias gerakan keilmuan dimaksud. Tugas menghidupkan kembali al-Qur’an, Para penghafal dan guru al-Qur’an merupakan komunitas dan aset penting untuk membangun peradaban Indonesia yang religius dengan penduduk mayoritas muslim.

Perjuangan mereka perlu didukung dan dikembangkan  ke  tingkat

tadabbur al-Qur’an dan gerakan keilmuan dengan dukungan para akademisi dan ulama sebagai misi kenabian ke generasi berikutnya. Seandainya tidak ada ulama, maka akhlak manusia akan menjadi seperti binatang. Pola pendidikan dikotomik yang diwariskan oleh gerakan kolonialisme di negara-negara muslim termasuk gerakan. Belanda di Indonesia sedikit demi sedikit menggeser peran ulama sebagai pendidik umat dan pelopor peradaban setelah pemerintah dan rakyat.

Mereka digeser dengan peran birokrat dan tokoh sosial yang kurang memiliki kepedulian dengan warisan keagamaan sebagai kontrol perubahan sosial. Kenyataan ini menunjukkan perlunya revitalisasi peran penghafal dan guru sebagai pewaris paham keagamaan yang moderat dan penghambat provokasi kalangan tekstualis dengan klaim kebenaran pemahaman al-Qur’an.

Upaya revitalisasi ini bisa dimulai dari tahap pengembangan kompetensi bahasa Arab bagi Penghafal dan Guru al-Qur’an untuk pembekalan modal dasar penafsiran al-Qur’an sebagaimana isyarat Ibnu Abbas di atas. Selain pertimbangan normatif era, keterbukaan informasi serta revolusi ilmu dan industri perlu menjadi pertimbangan dalam merintis perubahan generasi Qur’ani tersebut.

Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim dengan tokoh-tokohnya yang revolusioner di bidang keilmuan memiliki kesiapan untuk mengawal peradaban dunia. Tugas pengawalan tersebut tidak lepas dari penguatan peran akademik dan pribumisasi bahasa Arab di Indonesia melalui komunitas penghafal dan guru al-Qur’an yang tersebar di seantero Indonesia.

Kualitas bacaan al-Qur’an yang dimiliki oleh penghafal dan guru al-Qur’an merupakan modal penting kefasihan berbahasa Arab. Dalam hal kefasihan tidak ada perbedaan antara orang Arab dan Indonesia yang tergolong ajam. Kedua-duanya adalah komunitas berbeda yang tidak diragukan kemampuannya dalam membunyikan artikulasi al-Qur’an secara fasih.

Dalam hal ini al-Qur’an tidak hanya sebagai kitab rujukan artikulasi ideal bahasa Arab melainkan juga sebagai kitab rujukan bagi uslub (gaya bahasa Arab). Oleh karena itu, al-Qur’an harus dikembalikan kewibaannya untuk menjaga keaslian bahasa Arab dan menggeser adanya klaim kebenaran pemahaman tekstual terhadap al-Qur’an itu sendiri.

Landasan spiritual al-Qur’an harus dijadikan pijakan untuk mengembalikan kewibawaan al-Qur’an. Landasan tersebut dimulai dari beberapa tahap, yaitu tahap menjaga diri dari perbuatan yang menyimpang dari ajaran al-Qur’ani disebut takhaliyah, tahap mengisi hati dengan tadabbur al-Qur’an disebut tahalliyah dan tahap menghiasi tindak tutur dengan rasa takut dan harap terhadap kesakralan al-Qur’an disebut tajalliyah.

Tahap ketiga tersebut senada dengan isyarat al-Ghazali dalam bait puisinya. Artinya yang ada adalah yang ada meski tidak aku sebutkan sebuah kabar yang engkau tidak perlu menanyakan sebabnya. Perlu ditegaskan bahwa penguasaan yang baik terhadap keilmuan bahasa Arab bukanlah syarat bagi orang yang hendak menafsirkan al-Qur’an melainkan syarat bagi orang yang hendak mengistimbat hukum dari al-Qur’an.

Penafsiran yang tugasnya mengungkap ambiguitas dan ketidakjelasan pesan simbolik al-Qur’an di era milenial membutuhkan kemampuan khusus dalam mengefektifkan bahasa dan memperindah logika serta tidak mencontoh apa adanya tradisi intelektual tafsir klasik seperti yang diwariskan oleh Imam al-Thabari, Ibnu Kastir dan al-Qurthubi yang banyak menampilkan diskursus kebahasaan yang begitu panjang njelimet dan tidak langsung menyampaikan pesan inti nash al-Qur’an itu sendiri.

Baca juga: Sayid Muhammad al-Idrisi as-Sudani, Cucu Pendiri Tarekat Idrisiyah

Modal mengkekiniankan al-Qur’an di zaman ini adalah mengembang-kan inspirasi keilmuan dan nilai rekonstruksi al-Qur’an melalui tadabbur ke wujud institusi Islam moderat melalui pendidikan yang menjadi modal utama bagi kemajuan peradaban bukan aspirasi kebenaran tunggal yang menjadi sebab utama bagi kemunduran peradaban. Wallahu A’lam.*

Penulis: Kyai Ribut Nur Huda, MA.

*Diambil dari hasil diskusi LPQ PCINU Sudan pada Jum’at, 28 Juni 2019


Tinggalkan Balasan