Sayid Muhammad al-Idrisi as-Sudani, Cucu Pendiri Tarekat Idrisiyah

0
70
views

Tarekat Al-Idrisiyyah dinisbahkan pada nama Syekh Ahmad bin Idris al-Fasi al-Hasani (1173-1253 H / 1760-1837 M). Sebenarnya tarekat ini berasal dari Tarekat Khidhiriyyah yang berasal dari Nabi Khidir as, kemudian diberikan kepada Syekh Abdul Aziz bin Mas’ud ad-Dabbagh r.a.

Setelah Syekh Ahmad bin Idris r.a, tarekat ini mengalami perkembangan lebih jauh yang melahirkan berbagai jenis tarekat lainnya, hal ini disebabkan karena beberapa murid Syekh Ahmad bin Idris membuat komunitas tarekat yang dinisbahkan kepadanya dengan mengembangkan ajarannya menjadi suatu sistem ajaran yang lebih spesifik. Oleh karenanya tidaklah heran, jika Tarekat Idrisiyyah ini memiliki hubungan yang erat dengan nama-nama tarekat lainnya, seperti Sanusiyyah, Mirghaniyyah, Rasyidiyyah, Khidhiriyyah, Syadziliyyah, Dandarawiyyah, Qadiriyyah.

Bahkan Syekh Muhammad bin Ali Sanusi sebagai murid Syekh Ahmad bin Idris, menguasai 40 tarekat yang dikumpulkan dalam sebuah masterpiece-nya Salsabil Mu’in fi Tharaa-iq alArba’iin. Istilah 40 tarekat dari kitab ini mengilhami istilah tarekat mu’tabarah (diakui) di Indonesia (yang berjumlah 40) yang mana tarekat ini tersebar di Hijaz, Yaman, Syam, Mesir, Somalia, Libya, Sudan, Indonesia, dan Malaysia.

Bahkan, Sayyid Muhammad Ali al-Sanusi dalam kitabnya al-Manhalu aI-Râwî al-Râ’iq fî al-Sânîd al-‘Ulûm wa Ushûli al-Tharîq, menyebutkan bahwa tarekat ini berkaitan dengan al-Muhammadiyah juga, ada pula catatan yang menyebutkan bahwa tarekat ini merupakan Ahmadiyah, nama yang dinisbahkan kepada Ahmad bin Idris.

Tarekat al Ahmadiyah al Idrisiyah ini, dikenal juga sebagai tarekat ulama. Karena para syekhnya yang terkenal akan keahliannya dalam bidang ilmu yang tinggi. Karangan-karangan di berbagai bidang dan dalam masa yang sama. Selain itu, disamping membuat karangan dalam berbagai bidang, mereka juga (para syekh) dapat menguruskan urusan masjid, sekolah tahfiz, memberi petunjuk dan pelajaran kepada murid-murid, juga menyelesaikan masalah persengketaan. Syekh dalam kalangan masyarakat Sudan mempunyai kedudukan yang istimewa di hati mereka, karena ‘syekh’ diibaratkan sebagai bapak bagi semua yang dapat menyelesaikan segala urusan yang ada di masyarakat. Dan salah satu dari masyaikh tarekat ahmadiyah idrisiyah adalah assayyid Muhammad al-Idrisi.

Beliau adalah Muhammad ibn Idris ibn Muhammad al-Syarif ibn Abdul Aal ibn Sayyid Ahmad ibn Idris ibn Muhammad ibn ‘Ali ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Abdullah ibn Ibrahim ibn Umar ibn Ahmad ibn ‘Abdul Jabbar ibn Muhammad ibn Yamluh ibn Masyish ibn Abu Bakar ibn ‘Ali ibn Hurmah ibn ‘Isa ibn Salam ibn Marwan ibn Haidarah ibn Muhammad ibn Idris al-Asghar ibn Idris al-Akbar ibn ‘Abdullah al-Kamil ibn al-Hassan al-Muthanna ibn Saiyyidina Hassan al-Sibt ibn Saiyyidina ‘Ali dan Saiyyidatina Fatimah al-Zahra’ binti Habibuna Saiyyidina Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sayid Muhammad al-Idrisi dilahirkan di wilayah utara kepulauan badin pada tahun 1941. Beliau telah menghafal Al-Qur’an dengan Syekh Haji Farhan di Kepulauan Badin. Kemudian beliau melanjutkan belajarnya pada tingkat pertama di sekolah dasar di Badin pada tahun 1948.

Lalu beliau berpindah ke Mesir dan belajar pada tingkat menengah di madrasah Daraw Annamuzijiyyah tahun 1949-1951. Kemudian beliau meneruskan pelajarannya di Azhar al-Syarif di kuliah ‘Ulumul Qur’an pada tahun 1952-1954. Setelah belajar di Azhar jiwanya merasakan suatu kerinduan kepada ilmu tarekat tasawuf.

Akhirnya beliau mendekati ayahnya sayid Idris al-Idrisi yang menerima ijazah dari ayahnya sayid Muhammad al-Syarif al-Idrisi dari ayahnya sayid Abdul Aal dari ayahnya sayid Ahmad bin Idris al-Idrisi. Ayah beliau pun memberitahunya suatu petunjuk untuk berada di Madinah, maka beliau pun segera pergi menuju Madinah dengan ditemani ruh semangat datuknya sayid Ahmad bin Idris.

Sesampainya di Mekkah, beliau mengambil suatu perjanjian. Kemudian pergi ke Mesir bertemu dan berkumpul dengan bapak saudaranya yang semuanya adalah wali-wali qutub, mereka yaitu; sayid Ahmad al-Syarif al-Idrisi dan sayid Mirghani al-Idrisi yang merupakan ketua masyaikh tarekat sufi pada waktu itu, maka sayid Mirghani memuliakannya serta memuji akan kecerdasannya dan kesungguhannya.

Beliau pun tinggal bersama shekhnya di Mesir selama 7 tahun, dan bertalaki berbagai macam ilmu, baik dzahir maupun batin. Setelah semua itu beliau lewati, maka shekhnya mengijazahkannya segala ijazah dan memberi kabar gembira bahwa beliau akan mencapai derajat qutub yang agung dan wali yang hebat.

Shekhnya memerintahkan beliau untuk berdakwah menyebarkn tarekat al-Ahmadiyah al-Idrisiyah di sana (Mesir), seterusnya di Sudan dan di wilayah Arab. Kemudian beliau menetap di tanah kelahirannya yaitu Badin dan Dunqola, yang di mana makam datuknya sayid Abdul Aal al-Idrisi dan sayid Muhammad al-Syarif al-Idrisi bersemayam.

Masjid-masjid yang telah dibina dan dibangun oleh beliau menjadi saksi atas usaha-usahanya di Kepulauan Badin. Begitu juga madrasah al-Imam Sayid Ahmad bin Idris yang melahirkn imam-imam dan pendakwah-pendakwah di Dunqola. Banyak orang datang kepada beliau, karena kemasyhuranya yang terdengar sampai ke penjuru negeri. Allah telah menjadikannya sebagai satu sebab untuk menghidupkan sunah-sunah yang telah mati dan hilang dari perjalanan salaf saleh dan para ulama.

Beliau adalah orang yang mengikut jejak langkah ulama salaf saleh dari sudut agama, berakhlak, beradab dengan adab-adab Nabi Muhammad, berjalan di atas manhaj Rasul, dermawan, pemurah, memuliakan tamu, sabar atas segala ujian, baik budi pekertinya, rida dengan segala pemberian Allah, meninggalkan dari mencampuri urusan orang lain, berkasih sayang kepada semua makhluk Allah, dan berusaha untuk memperbaiki hubungan antar manusia. Terpancar darinya dan juga pengikut-pengikutnya akan cahaya-cahaya Muhammadi. Para wali-wali yang besar juga bersaksi akan kewaliannya yang sempurna.

Beliau menjadikan isi kandungan tarekat Ahmadiyah Idrisiyah sebagai satu manhaj tarbiah yang melazimi berdiri di atas ilmu dan penyucian hati, serta menjauhkan dirinya dari segala apa yang berhubungan dengan tasawuf dari perkara yang ragu dan salah. Petunjuk-petunjuk dari beliau dan juga anak-anak muridnya tidak dapat dihitung, karena terdapat banyak sekali petunjuk, baik itu dari dalam dan luar Sudan.

Tarekat Ahmadiyah Idrisiyah dengan usaha-usahanya, telah mendapatkan tempat yang cepat dari tarekat lain yang di Sudan seperti, Tarekat Qadiriyah dan Syazuliyah. Didapati juga tarekat ini (Ahmadiyah Idrisiyah) diterima secara meluas dan tersebar luas di negeri Sudan.

Banyak dari anak muridnya yang berpegang dengan madad dan petunjuknya, sehingga mereka yang bukan dari tarekatnya juga mengakui bahwa beliau adalah mujadid yang menghidupkan tarekat al-Ahmadiyah al-Idrisiyah, yang memiliki kelebihan dan kesempurnaannya telah disaksikan oleh yang jauh dan dekat. Ditambah lagi dengan murid-muridnya yang amat banyak yang telah menyebarkan ajaran tarekat ini.

Sayid Muhammad al-Idrisi juga telah melantik khalifah-khalifah dan masyaikh sebagai wakilnya dalam memberikan petunjuk kepada manusia di seluruh pelosok dunia Arab dan Islam.

Penulis: Ahmad Farhan

Baca juga: Syekh Hammad An-Nil

Tinggalkan Balasan