Iblis Tak Bersalah

0
144
views
Gambar: ahmadhaes.wordpress.com

Ternyata selama ini iblis tak bersalah. Semua makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt. tidaklah sia-sia. Semua memiliki peranannya masing-masing. Hanya saja ilmu pengetahuan manusia yang tidak cukup sehingga mengklaim bahwa sumber kejahatan dan kekejian umat manusia adalah berasal dari bisikan iblis.

Dan ternyata ada sesuatu di balik semuaitu , seperti dua sisi mata uang, manusia selama ini hanya memandang satu sisi dan tidak mau memandang sisi yang lain, padahal uang itu akan bernilai dan berharga ketika memiliki kedua sisi tersebut. Manusia juga sering berpihak kepada salah satu kelompok kemudian menjelek-jelekkan kelompok lain. Bisa jadi, karena iblis bukan dari kelompok manusia kemudian iblis dijelek-jelekkan dan dijadikan kambing hitam oleh manusia hingga saat ini.

ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذاب النار

“Ya Tuhan kami, tidaklah ُngkau menciptakan ini semua dengan sia-sia. Maha Suci Engkau maka jagalah kami dari siksa api neraka.”

Seperti yang kita ketahui, bahwa iblis adalah makhluk Tuhan yang sangat menakutkan, yang selalu menjerumuskan umat manusia ke dalam kesesatan dan menjauhkannya dari Sang Pencipta. Tidak hanya dari kalangan umat Islam bahkan hingga Kristen, Hindu, Budha pun selalu mengutuk iblis karena membawa sifat jahat. Mungkin sedikit yang mengetahui bahwa iblis merupakan makhluk Allah yang paling taat pada waktu itu, bahkan derajatnya lebih tinggi dari pada malaikat.

Pada suatu riwayat Ibnu Abbas mengatakan, “Iblis termasuk kelompok malaikat yang disebut Al-Hin, dan ditugaskan untuk menjaga surga. Di mana ia menjadi salah satu makhluk yang paling dihormati, paling rajin beribadah, dan paling banyak ilmunya.” Di dalam kitab karangan Imam Al-Ghazali pun dijelaskan bahwa, Iblis disebut memiliki gelar Al-Abid yang bermakna ahli ibadah. Beberapa ulama seperti Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, dan Said bin Musayib, juga mengatakan, “Iblis itu adalah pemimpin para malaikat yang ada di langit dunia.” Dari sini, dapat kita lihat bahwa betapa mulianya iblis saat itu sampai para malaikat pun hormat kepadanya dan bahkan ada yang berguru kepadanya.

Lantas kenapa iblis bisa menjadi makhluk yang terkutuk? Singkat cerita, ketika Nabi Adam diciptakan, Allah memperkenalkan Nabi Adam kepada para penghuni surga. Kemudian, Allah memerintahkan para penghuni surga untuk bersujud kepada Adam. Semuanya bersujud kecuali iblis. Seperti yang diceritakan dalam surah Al Baqarah ayat 34:

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, Sujudlah kamu kepada Adam! Maka mereka pun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.” [QS. Al Baqarah ayat 34].

Dari ayat tersebut dapat disaksikan bahwa iblis, yang pada waktu itu merupakan makhluk Allah yang sangat taat dan patuh, membangkang dan tidak mau mengindahkan perintah Allah Swt. dengan dalih bahwa iblis merupakan makhluk yang terhormat, ia diciptakan dari api sedangkan Nabi Adam diciptakan dari tanah liat yang dibentuk, dan pantaskah makhluk yang dihormati oleh semua ciptaan Allah, karena ketaatannya dan kecerdasannya, sujud terhadap makhluk yang baru saja diciptakan. Karena kesombongan dan ketidak-patuhannya itu di hadapan Sang Maha Kuasa, iblis lalu dilaknat dan akan dimasukkan ke dalam neraka-Nya.

Karena iblis tidak terima dirinya dimasukkan kedalam neraka-Nya, maka iblis meminta tangguhan hukuman hingga hari kiamat dan meminta agar diizinkan untuk menggoda anak cucu adam untuk ikut dengannya. Kemudian Allah pun mengabulkannya dan mengizinkannya. Dan mulai sejak itu, iblis mulai menggoda umat manusia sehingga pada saat itu Nabi Adam dan Siti Hawa pun diturunkan dari syurga akibat digoda oleh iblis untuk memakan buah Khuldi (buah terlarang).

Akan tetapi, tahukah kalian apa yang terjadi di balik itu semua? Siapa yang mengira bahwa di balik kejadian tersebut, ada sesuatu yang mungkin sedikit aneh dirasa dan apabila tidak kritis dalam membacanya, mungkin kalian akan berkesimpulan bahwa apa yang akan disajikan ini adalah kesesatan dan hal yang tabu untuk dibahas. Seperti yang dikutip dari buku “Iblis Menggugat Tuhan” karya dari sufi besar bernama Da’ud ibn Tamam ibn Ibrahim Al-Shawni atau yang sering disebut Al-Shawni, yang menceritakan tentang dakwaan iblis kepada tuhan. Shawni mengajak kita pada satu perspektif berbeda melihat kisah antara Tuhan, iblis dan penciptaan Adam.

Jika difikir secara logika, mungkinkah iblis yang telah beratus-ratus ribu tahun beribadah menyembah Allah bahkan mencapai derajat tertinggi menolak mentah-mentah perintah-Nya, sedangkan ia tau akan kuasa dan kekuatan-Nya? Di buku tersebut, dijelaskan bahwa, saat peristiwa itu terjadi Allah memerintahkan iblis untuk tidak bersujud selain kepada-Nya dan di sana memang telah diatur sedemikian rupa sehingga terjadinya pembangkangan iblis untuk tidak bersujud kepada Nabi Adam, iblis menyatakan bahwa melalui dirinyalah Allah menyeleksi seluruh makhluk-Nya apakah mereka benar-benar tunduk, patuh, dan cinta terhadap Allah dan apakah mereka benar-benar pantas masuk ke dalam syurga-Nya. Oleh karena itu, iblis diberikan izin oleh Allah untuk menggoda anak cucu Adam hingga hari Kiamat nanti dan bagi mareka yang tidak patuh terhadap perintah-Nya akan dibawanya untuk menghadap kehadapan-Nya bersama ia sebagai saksinya di hati kebangkitan kelak.

Banyak juga dari kita yang menyalahkan iblis, dikarenakan dialah yang menyebabkan Nabi Adam diturunkan ke bumi, karena Nabi Adam dihasut oleh iblis untuk memakan buah terlarang. Akan tetapi sudut pandang iblis berbeda dengan pemahaman kita. Iblis berkata “Kau bilang Adam berdosa (melanggar larangan Allah) gara-gara hasutanku? Kalau begitu, atas hasutan siapa aku melakukan dosa (enggan bersujud kepada Nabi Adam)? Aku bukanlah tuan bagi keinginanku sendiri, Tak ada ruang yang luput dari kuasa-Nya, semua telah diatur oleh-Nya.

Dan ketika kita fikirkan kembali, mungkin saja iblis menguji keimanan Adam, seberapa patuh dia dengan perintah tuhan untuk tidak memakan buah terlarang tersebut, dan ternyata Nabi Adam tidak bisa menahannya dan melanggar larangan Allah sehingga Adam diturunkan dari syurga-Nya.

Akan tetapi, jika iblis memang sebagai penyeleksi para manusia di bumi dan merupakan makhluk yang sangat taat kepada Allah, mengapa ia dirubah menjadi makhluk yang buruk rupa dan makhluk yang selalu dikutuk? Ketika itu iblis menjawab dengan ungkapan penuh cinta. “Ketika kau telah mencintainya, kau tidak akan memandang rupa, rupa sudah tidak lagi berharga, maukah kau menolak permintaan kekasihmu yang benar benar kau cintai, bahkan aku rela dirubah-Nya menjadi apapun sebagai bukti cintaku kepada-Nya. Biarkan saja kutukan-Nya bertahan melampaui keabadian. Biarkan saja kutukan itu diperpanjang melebihi ribuan tahun pengabdian ku. Biarkanlah mata-Nya memandangku entah dengan cinta atau kemurkaan. Tapi sesungguhnya Ia telah mengistimewakan aku, ketika aku menolak untuk tidak bersujud kepada adam. Dia berkata kepadaku: ‘mari kita berpura-pura bertengkar agar mereka yang membenci-Ku menampakkan dirinya memalui kau dan kesaksian mereka melaluimu akan memberatkan mereka di hari akhir nanti.”

Sebagai seorang muslim kita dianjurkan untuk mematuhi dan mentaati Al-Quran. Di dalam Al-Quran dijelaskan yang artinya Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Fathir: 5). Kita harus berhati-hati dengan kehadirannya karena ia selalu akan menggoda dan menghasut manusia, akan tetapi semua itu kembali kepada diri masing-masing ingin melakukannya atau tidak. Meskipun iblis merupakan musuh yang nyata bagi manusia, kita tidak sepatutnya terus membenci, melaknat, dan menghardiknya, pastaskah kita sebagai makhluk yang serba kekurangan menghina ciptaan Tuhan kita sendiri. Seburuk-buruknya iblis, dia juga merupakan ciptaan-Nya.

Seperti pada kisah anak Abu Lahab yang disebutkan dalam Al-Ishaabah karya Ibnu Hajar, bahwa ketika Durrah binti Abu Lahab datang ke Madinah sebagai muhajir, dia turun di rumah Rafi’ bin Mu’alla. Kemudian beberapa wanita bani Zuraiq berkata kepadanya, “Engkau puteri Abu Lahab, yang Allah berfirman tentang dia. ‘Binasalah kedua tangan Abu Lahab (QS. Al-Lahab, 111:1).’ Maka hijrahmu tidak berguna bagimu. Kemudian ia mengadu kepada Rasulullah sambil menangis dan menceritakan apa yang dialaminya. Setelah itu, Rasulullah keluar dan berkata bahwa, kenapa kalian menghinaku atas kesalahan keluargaku? Bagaimanapun Abu Lahab adalah pamanku, seburuk apapun dia.” Sama halnya yang terjadi pada iblis, bagaimanapun dia tetaplah ciptaan Tuhan. Kita tidak boleh menjelek-jelekkannya karena di dalam Islam sendiri diajarkan untuk saling mengasihi saling memaafkan, bukan saling menghina dan menjatuhkan.

Penulis: M. Kays Reza Fahlefy

Tinggalkan Balasan