Kece; Youtuber dan Dogmatic Mentality

0
142
views
Gambar: jpnn.com

Masih hangat berita  penistaan agama di media sosial yang perlu diambil pelajaran oleh anak bangsa. Setelah acting mengubah ucapan salam, seorang youtuber, sebut saja Muhammad Kece membuatnya terjerat kasus penistaan agama (Blasphemy). Pegiat medsos itu sedang diproses hukum atas dugaan melanggar pasal pencemaran nama baik dan juga penistaan agama.

Sebelumnya Kace sempat viral karena menyebut kitab kuning mengajarkan radikalisme, Nabi Muhammad seorang pengikut jin dan hal-hal lain yang dinilai menyinggung umat Islam dan berpotensi menimbulkan konflik sosial. Apakah dia sebagai aktor tunggal atau ada dalang di belakangnya, yang jelas  Bareskrim Polri telah  menangkapnya di Bali,  mengumumkan dirinya sebagai tersangka. Ternyata, ketika Polisi mengungkap alasan kenapa Kece menyebar sejumlah video yang diduga menista agama dan pasti beresiko? Jawaban Kece cukup dogmatis, dia meyakini apa yang dia katakan benar. Selain itu, meskipun telah mengundang kegaduhan, Kece menolak untuk meminta maaf.

Penangkapan kece mendapatkan apresiasi tidak hanya dari Menteri Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai institusi negara, melainkan juga dari dua ormas yang menjadi sayap kerukunan beragama di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Kedua ormas ini berharap umat beragama tetap tenang, percaya pada proses hukum yang berlaku dan menghargai upaya penegak hukum sehingga kerukunan antar umat beragama di Indonesia tetap terjaga.

Dari sisi fenomenologi, fenomena Kece bukan fenomena langka dimana ada faktor utama dengan gejala yang sama yaitu mental dogmatis. Dengan faktor yang sama, sosok youtuber yang juga mendapat kecaman publik adalah Joseph Paul Zhang. Bedanya Kece keluar dari agama Islam kemudian masuk Kristen, sedangkan Paul Zhang sudah Kristen sejak kecil. Paul yang posisinya tidak lagi berkewarganegaraan Indonesia telah ditetapkan Polri sebagai tersangka dan dimasukkan dalam daftar pencarian orang (DPO). Adanya mental dogmatis, seorang youtuber tidak hanya percaya diri dan mengklaim dirinya benar, tetapi secara tidak sadar – alias tanpa pijakan teologis –  telah memonopoli kebenaran dan membuat pemisahan (segresi) digital. Sikap monopolistik nampak dari diri yang merasa lebih tahu dan lebih berilmu dari siapa pun, terlebih lawan. Ini jenis penyakit yang disebut dengan mental dogmatis atau dogmatic mentality. Dogmatis artinya berpandangan kaku yang sulit dirubah atau menunjukkan matinya nalar. Jika seorang panutan mengalami gangguan mental dogmatis maka dampak kepada pengikutnya bisa diketahui dari sikap fanatik buta, mengabaikan peran nalar dan ilmu pengetahuan sebagai pondasi peradaban yang telah membuatnya tentram dan harmonis di tengah masyarakat majemuk. Kita rasakan bagaimana pengaruh Wali Songo di Nusantara. Apakah Kece memahami nalar yang ada dalam Islam, bisa diketahui dari narasinya sewaktu berceramah di youtube. Tidak sedikit yang menantikan narasi akademik dari Kece atas kebenaran yang diyakini. Pada prinsipnya, ketika seseorang tidak beruntung karena tidak punya nalar, maka tidak disebut bernalar orang yang tidak berilmu atau berisi. Nalar pun akan bertambah dan berlibat ganda  dengan jumlah akumulasi pengetahuan yang dimiliki.

Selain Muhamammad Kece menjadi sebuah fenomena sosial, sosok dirinya telah menjadi fenomena budaya keagamaan yang dibangun oleh kalangan milenial saat ini dengan memanfaatkan teknologi digital. Hanya saja tidak “segalak” dan  “senekat” Kece.  Apa yang  dilakukan Kece jauh dari tujuan pencerahan, dan lebih kepuasan diri dengan cara “ngece” dan “ngaco”. Mestinya dia menyampaikan pernyataan-pernyataan  kontroversial di ruang privat misalnya ruang tertutup atau tempat ibadah sebagai ruang bebas membicarakan kebenaran teologis menurut keyakinan agamanya, bukan di ruang publik seperti di  medsos yang jangkauan sangat luas. Tidak berlebihan jika hal ini dianggap sebagai dampak dari selera intelektualisme yang rendah akibat penyakit mental dogmatis yang sudah akut. Tipe orang semacam ini tidak mudah untuk diajak dialog karena merasa dirinya paling sadar dan benar dan tidak butuh perspektif lawan. Indikator ini nampak ketika Kece sampai di Bareskrim Polri dengan penuh percaya diri dia mengatakan; “Salam sadar, semoga bangsa Indonesia pada nyadar”. Keyakinannya membuat dirinya merasa akumulasi pengetahuan yang dia miliki sudah penuh. Ibarat batrei handphone yang sudah penuh tidak bisa diisi lagi.

Hal ini salah satu jenis penyakit mental manusia yang sulit diobati. Selain mental dogmatis, nampak ada gejala yang menunjukkan dirinya mengalami toksik atau Toxic people. Meskipun tidak dianggap sebagai gangguan mental namun, mungkin ada sesuatu masalah mental yang mendasari kenapa seseorang bertindak negatif atau membuat orang lain tidak nyaman. Murtadla Muthahari seorang ilmuwan Iran yang hidup pada abad-19 dan dikenal dengan gagasan kritik nalar agamanya yang tajam menggambarkan penyakit jiwa dan spiritual seseorang sebagai penyakit yang paling unik. Menurutnya, apabila tubuh manusia sakit, semakin parah maka semakin terasa, berbeda jika jiwanya yang sakit,  semakin parah semakin tidak terasa.

Pada dasarnya, siapa pun yang menduga dirinya memonopoli kebenaran maka berarti dia salah. Meskipun Muhammad Kece pernah memeluk agama Islam, belum tentu dia paham doktrin Islam secara komprehensif, utuh dan menyeluruh -meski faktanya demikkan-. Henndaknya dia tidak melontarkan cacian dan tetap mejaga perasaan agama lain, Lakum Diinukum Waliyadin. Kecuali jika dia menyampaikan narasi akademik yang berat dan padat isi objektifitasnya dengan sikap intelektual akademik yang matang  sebagaimana dilakukan oleh mantan Biarawati Hj. Irene Handono pasti tidak akan menyinggung perasaan umat lain. Nampaknya narasi itu tidak ada dan yang bersangkutan cenderung tidak mau tahu dengan doktrin Islam yang mengajarkan sikap open-minded sebagaimana dalam Al-Qur’an disebutkan; “Di atas orang yang berilmu masih ada yang lebih berilmu”. Ayat ini bagian dari pondasi  terbangunnya tradisi intelektual yang diwarnai oleh sifat rendah hati.

Seorang ilmuwan dan pemikir Sudan-Afrika yang telah mendedikasikan ilmunya di berbagai civitas akademika negara Arab; Prof. Zakariya Bashir Imam mengatakan bahwa; “separuh pendapatmu ada pada saudaramu”. Dia menambahkan; memang suara akal itu suara pelan, tetapi sangat kuat dan bermanfaat sekali. Tipologi penceramah seperti Kece, suara akalnya atau ulasan akademiknya dinantikan oleh ilmuwan dan cendekiawan lintas agama di Indonesia. Jika dinantikan narasi itu tidak kunjung datang, maka sejarah akan mencatat bahayanya mental dogmatis yang mempengaruhi seseorang.

Selain itu, setidaknya fenomena Kece memberikan pelajaran berarti betapa bahayanya penyakit yang disebut dogmatic mentality bagi keberlangsungan toleransi dan kerukunan umat beragama di Indonesia. Orang yang sudah terkena penyakit ini, filsafat yang biasanya dipakai alat melatih kelenturan berfikir dan pemetaan pikiran justru akan  disalahgunakan untuk hal yang tidak berguna dan kontra-produktif. Ibarat obat di tangan orang yang tidak tepat, filsafat menjadi racun pikiran yang mengancam kesehatan berfikir. Seorang da’i, penceramah dan youtuber keagamaan tidak cukup hanya dengan filsafat tanpa diawali dengan koridor berfikir agama dan membangun nalar inklusif dan dinamis yang bisa menciptakan pintu luas dan selalu terbuka terhadap kebenaran dan pengetahuan baru.

Dalam sejarah Islam, keterbukaan berfikir dan kecintaan pada ilmu telah  membuat umat Islam masa lalu maju. Kebalikan dengan umat Islam zaman sekarang.  Hal ini tercermin dalam kisah Khalifah Harun Al-Rasyid yang ingin menyeragamkan dan membatasi fikih hanya satu madzhab melalui kitab Al-Muwatha karya Imam Malik dengan rencana meletakkannya diatas Ka’bah dan membakar kitab-kitab fikih madzhab lain. Namun Imam Malik tidak mengizinkan Khalifah melakukan hal itu, dan menegaskan bahwa perbedaan diantara ulama adalah rahmat. Ini cerminan dalam hubungan muslim dengan muslim. Adapun hubungan muslim dengan non-muslim tercatat bagaimana Nabi Muhammad Saw membangun sistem terbuka  melalui kesepakatan piagam madinah, suka mengajak non-muslim bukan mengejek, dan melarang menista agama pihak lain yang sudah pasti akan merusak harmoni sosial karena akan terjadi saling balas tidak berujung.

Persoalan yang lebih penting dari Keca adalah Kece bukan  fenomena tunggal. Fenomena Kece adalah fenomena nalar teologis dan kecerdasan intelektualisme yang sangat rendah. Penghinaan dan penistaan yang dia lakukan membuatnya pantas dibawa ke meja hijau agar mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pengadilan yang akan menentukan kepastian hukumnya, terlepas apakah ada tekanan luar dalam proses hukum yang dia jalani. Terlepas apakah dia kebal hukum karena masuk lingkaran  “segitiga emas”, yaitu jalinan  penguasa, pengusaha dan politikus yang tentu sulit disentuh, ataukah dia orang biasa yang sedang mengawali dogmatic mentality? Lagi-lagi waktu yang akan menjawabnya dengan sangat memuaskan.

Ibarat perbuatan Muhammad Kece adalah satu aksi, maka reaksi yang mucul bisa berjumlah lebih dari satu dan bahkan  sulit terkendali. Sebagaimana tidak menutup kemungkinan satu sebab memunculkan banyak akibat.

Setelah penangkapan Kece oleh Polri, tidak menutup kemungkinan kasus-kasus serupa segera dilaporkan dan harus ditangani oleh Polri sebagaimana penangkapan Yahya Waloni atas kasus penodaan agama dan dugaan ujaran kebencian (SARA) paska penangkapan Kece. Apakah hal ini bersumber dari panyakit yang sama; dogmatic mentality ?. Lagi-lagi proses hukum yang akan mengungkapnya. Upaya Polri sangat diharapkan menjadi terapi tersendiri bagi para juru dakwah apa pun agamanya agar mewaspadai wabah penyakit dogmatic mentality sehingga penjara tidak dipenuhi oleh youtuber-youtuber yang gagal paham dan tidak bisa membedakan antara mengritik dan menghina. Sinergi dan kolaborasi antar umat beragama dalam membangun harmoni sosial di Indonesia akan terealisasi dengan baik jika masing-masing pemeluk agama mampu mengindahkan  keragaman, keberagamaan dan peraturan di ruang publik.

Penulis: Ribut Nur Huda, M.Pd.I., M.A.

Tinggalkan Balasan