Metode Muqorin dan Maudlu’i dalam Menafsirkan Al-Quran Al-Karim

0
22
views
Gambar: sifatusafwa.com

Al-Qur’an adalah kitab petunjuk bagi manusia khususnya untuk kalangan umat Islam, sebagai sebuah wahyu atau teks yang mati, al-Qu’ran secara tekstual tidak berubah, tetapi penafsiran atas teksnya akan berkembang sesuai dengan perkembangan ruang dan waktu manusia, maka diperlukan kerangka metodologis didalamnya untuk menghasilkan produk tafsir.

Perlu diketahui bagaimana seorang tokoh mufassir mampu menafsirkan kitab suci al-Qur’an secara luas, bahkan ketika disebutkannya cara baca al-Qur’an sesuai riwayat para Imam yang disertai dengan penafsirannya juga, hingga mencakup berbagai peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Penafsiran-penafsiran para mufassir tersebut tidak lepas dari empa teori, yaitu tahlili, ijmali, muqarin dan maudlu’i, maka sangat penting untuk dipelajari teori muqarin dan maudlu’i.

Adapun risalah dalam pembahasan ini akan menjelaskan sebuah teori yang praktis, bagaimana memetakan produk dan perkembangan tafsir di kancah benturan peradaban Islam antara timur dan barat.

Pembahasan

A. Metode Tafsir

1. Ditinjau dari Segi Penafsiran

Metode tafsir al-Qur’an ditinjau dari segi sumber penafsirannya, ada tiga macam, yaitu:

  1. Metode tafsir bi al-ma’tsur / bi al-manqul / bi al-riwayah, yakni metode menafsirkan al-Qur’an yang sumber-sumber penafsiran-nya diambil dari al-Qur’an, Hadis, qaul sahabat dan qaul tabi’in yang berhungan dengan penjelasan ayat-ayat al-Qur’an
  2. Metode tafsir bi al-ra’yi / bi al-dirayah / bi al-ma’qul, yaitu cara menafsirkan al-Qur’an yang sumber penafsirannya berdasarkan ijtihad dan pemikiran mufassir dengan seperangkat metode penafsiran yang telah ditentukan oleh para ulama
  3. Metode tafsir bi al-iqtiran, yaitu metode tafsir yang sumber-sumber penafsirannya didasarkan pada sumber riwayah dan dirayah sekaligus. Dengan kata lain, tafsir yang menggunakan metode ini mancampurkan antara sumber riwayah dan sumber dirayah atau antara sumber bi al-ma’tsur dan ijtihad mufassir.

2. Cara Penjelasan

Metode tafsir ditinjau dari segi cara penjelasannya terhadap penafsiran ayat-ayat al-Qur’an dibagi menjadi dua ketegori:

  1. Metode bayani atau deskriptif, yakni metode menafsirkan al-Qur’an yang hanya dengan memberikan keterangan secara deskriptif tanpa adanya perbandingan riwayat atau pendapat-pendapat mufassir dan tanpa ada tarjih diantara sumber-sumber tersebut.
  2. Metode muqarin atau bisa disebut juga dengan metode komparatif, yakni metode menafsirkan al-Qur’an dengan cara membandingkan ayat satu dengan yang lainnya, ayat dengan hadis, antara pendapat mufassir satu dengan mufassir lainnya serta menonjolkan segi-segi perbedaan.

3. Keluasan Penjelasan

Berdasarkan keluasan penjelasannya metode tafsir al-Qur’an dibagi menjadi dua kategori:

  1. Metode tafsir ijmali, yakni metode penafsiran al-Qur’an yang menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an secara global, tidak mendalam dan tidak pula panjang.
  2. Metode tafsir ithnabi yaitu metode menafsirkan al-Qur’an yang penjelasannya sangat luas dan detail, dengan uraian-uraian yang panjang sehingga cukup jelas dan terang.

4. Sasaran dan Tertib Ayat

Ditinjau dari sasaran dan tertib ayat yang ditafsirkan, semua tafsir yang ada saat ini tidak akan lepas dari kategori tahlili, nuzuli dan maudlu’i.

Tahlili merupakan cara menafsirkan ayat al-Qur’an dimulai dari surat al-Fatihah sampai surat al-Nas.

Metode nuzuli adalah menafsirkan ayat al-Qur’an diurutkan berdasarkan kronologis turunnya ayat al-Qur’an, sehingga apabila mufassir menggunkan  metode ini, ia akan memulai tafsirnya dengan surat al-‘Alaq.

Adapun metode maudlu’i adalah metode yang menafsirkan al-Qur’an dengan mengumpulkan ayat-ayat yang ditemui satu tema dengan pembahasan yang lebih khusus.

B. Tafsir Muqorin

1. Pengertian Tafsir Muqarin

Istilah metodologi tafsir terdiri atas dua variabel, yaitu metodologi dan tafsir. Kata metode berasal dari bahasa Yunani yaitu methodos yang berarti cara atau jalan. Disebutkan dalam bahasa inggris method, sedang bangsa Arab menerjemahkannya dengan thariqat dan manhaj. Sedangkan kata logos berarti ilmu pengetahuan, sehingga pembentukan dari kata-kata tersebut berarti ilmu tentang tata cara yang dipakai untuk mencapai tujuan (ilmu pengetahuan).

Metode tafsir muqarin sendiri adalah suatu metode yang ditempuh oleh seorang mufassir dengan cara membandingkan ayat al-Qur’an yang satu dengan yang lainnya, yaitu ayat-ayat yang mempunyai kemiripan redaksi dalam dua atau lebih kasus yang berbeda, dan atau ayat yang memiliki redaksi yang berbeda untuk masalah yang sama, dan atau membandingkan ayat-ayat al-Qur’an dengan hadis-hadis Nabi Shallahu alaihi wa Sallam yang tampak bertentangan serta membandingkan pendapat-pendapat ulama tafsir menyangkut penafsiran al-Qur’an.

Tidak hanya itu keistimewaan tafsir muqarin mengemukakan penafsiran para ulama tafsir terhadap ayat-ayat itu dan mengungkapkan pendapat mereka serta membandingkan segi-seginya dan kecendrungan masing-masing, kemudian menjelas-kan siapa di antara mereka yang penafsirannya dipengaruhi oleh perbedaan madzhab, dan siapa di antara mereka yang penafsiran-nya ditujukan untuk mendukung aliran tertentu dalam Islam di mana metode muqarin ini menurut Ridlwan Nasir ditinjau dari segi cara penjelasannya terhadap tafsiran ayat-ayat al-Qur’an.

Sedangkan menurut al-Farmawi adalah membandingkan ayat dengan ayat yang berbicara masalah sama, ayat dengan hadis dengan menonjolkan segi-segi perbedaannya atau menafsirkan al-Qur’an dengan cara membandingkan pendapat dari kalangan ahli tafsir mengenai sejumlah ayat al-Qur’an, kemudian mengkaji penafsiran sejumlah penafsir melalui kitab-kitab tafsir mereka.

Menurut pendapat Ridlwan Nasir tafsir muqarin dapat juga dengan membandingkan satu kitab tafsir dengan kitab tafsir lainnya, yakni mengkaji biografi mufassir yang diperbandingkan dan sistematika serta metode yang ditempuhnya berikut kecendrungan mereka dalam menafsirkan al-Qur’an.

Maksud dengan metode komparatif adalah:

  1. Membandingkan teks ayat-ayat al-Qur’an yang memiliki persamaan atau kemiripan dalam dua kasus atau lebih.
  2. Membandingkan ayat al-Qur’an dengan Hadis yang pada lahirnya bersifat bertentangan.
  3. Membandingkan berbagai pendapat ulama tafsir, M. Quraish Sihab mengatakan: Dalam metode ini khususnya yang membandingkan antara ayat dengan ayat, dan ayat dengan hadits biasanya mufassirnya menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan perbedaan kandungan yang dimaksud oleh masing-masing ayat atau perbedaan masalah itu sendiri.

2. Pembagian Metode Tafsir Muqorin

a. Membandingkan ayat al-Qur’an dengan ayat al-Qur’an yang lain

Mufassir membandingkan ayat al-Qur’an dengan ayat lain, yaitu ayat-ayat yang memiliki persamaan redaksi dalam dua atau lebih masalah atau kasus yang berbeda, atau ayat-ayat yang memiliki redaksi berbeda dalam masalah atau kasus yang (diduga) sama.

1) Perbedaan Tata Letak Kata dalam Kalimat

قُلْ اِنَّ هُدَى اللهِ هُوَ الْهُدٰى

Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk. (QS. al-Baqarah [2]: 120)

قُلْ اِنَّ هُدَى اللهِ هُوَ الْهُدٰى

Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah. (QS. al-An’am [6]: 71)

2) Perbedaan Penambahan Huruf

سَوَآءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

Sama saja bagi mereka, apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. (QS. al-Baqarah [2]: 6)

وَسَوَآءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

Dan sama saja bagi mereka, apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman juga. (QS. Yasin [36]: 10)

3) Awalan dan Akhiran

يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيْهِمْ

…yang membaca kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah serta mensucikan mereka. (QS. al-Baqarah [2]: 129)

يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِه وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ

…yang membaca ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah. (QS. al-Jumu’ah [62]: 2)

b. Membandingkan Ayat dengan Hadis

Mufassir membandingkan ayat-ayat al-Qur’an dengan hadits Nabi Muhammad Shallahu alaihi wa Sallam yang terkesan bertentangan, sedangkan para mufassir berusaha untuk menemukan kompromi antara keduanya, contoh perbedaan antara ayat al-Qur’an surat an-Nahl [16]: 32 dengan hadis riwayat Tirmidzi.

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Masuklah kamu ke dalam surga disebabkan apa yang telah kamu kerjakan. (QS. al-Nahl [16]: 32)

ﻟﻦ ﻳﺪﺧﻞ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻳﻌﻤﻠﻪ

Tidak akan masuk seorang pun di antara kalian ke dalam surga disebabkan perbuatannya. (HR. Tirmidzi)

Antara ayat al-Qur’an dan hadis tersebut di atas terkesan ada pertentangan, karena itu untuk menghilangkan pertentangan tersebut, al-Zarkasyi mengajukan dua cara:

Pertama, dengan menganut pengertian harfiah hadits, yaitu bahwa orang-orang tidak masuk kesurga disebabkan amal perbuatannya, tetapi karena ampunan dan rahmat Tuhan. Sisi lain, ayat di atas tidak disalahkan, karena menurutnya, amal perbuatan manusia menentukan peringkat surga yang akan dimasukinya. Dengan kata lain, posisi seseorang di dalam surga ditentukan amal perbuatannya. Pengertian ini sejalan dengan hadis lain, yaitu :

ﺇﻥ ﺃﻫﻞﺍﻟﺠﻨﺔ ﺇﺫﺍ ﺩﺧﻠﻮﻫﺎ ﻧﺰﻟﻮﺍ ﻓﻴﻬﺎ ﺑﻔﻀﻞ ﻋﻤﻠﻬﻢ

Sesungguhnya ahli surga itu, apabila memasukinya, mereka

mendapatkan posisi di dalamnya berdasarkan keutamaan perbuatannya. (HR. Tirmidzi)

Kedua, dengan menyatakan bahwa huruf ba’ pada ayat di atas berbeda konotasinya dengan yang ada pada hadis yang telah disebutkan. Ayat berarti imbalan, sedangkan pada hadis lain berarti sebab.

c. Membandingkan Pendapat Para Mufassir

Mufassir yang membandingkan penafsiran ulama tafsir, baik ulama salaf maupun ulama khalaf, dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, baik yang bersifat manqul (tafsir bi al-ma’tsur) maupun yang bersifat rasio (tafsir bi al-ra’yi).

Manfaat yang dapat diambil dari metode tafsir ini adalah:

  1. Membuktikan ketelitian al-Qur’an.
  2. Membuktikan bahwa tidak ada ayat-ayat al-Qur’an yang kontradiktif.
  3. Memperjelas makna ayat.
  4. Tidak menggugurkan suatu hadis yang berkualitas sahih.

Sedang dalam hal perbedaan penafsiran oleh para mufassir yang satu dengan yang lainnya, maka mufassir berusaha mencari, menggali, menemukan dan mencari titik temu di antara perbedaan-perbedaan itu, apabila mungkin dan perlunya mentarjih salah satu pendapat setelah membahas kualitas argumentasi masing-masing.

3. Kelebihan dan Kekurangan Tafsir Muqarin

a. Kelebihan

  • Memberikan wawasan penafsiran yang relative lebih luas kepada para pembaca bila dibandingkan dengan metode-metode lain.
  • Membuka pintu untuk selalu bersikap toleran terhadap pendapat orang lain yang kadang-kadang jauh berbeda dari pendapat kita dan tak mustahil ada yang kontradiktif.
  • Tafsir dan metode komparatif ini amat berguna bagi mereka yang ingin mengetahui berbagai pendapat tentang suatu ayat.
  • Dengan metode ini mufassir didorong untuk mengkaji berbagai ayat dan hadis-hadis serta pendapat para mufassir yang lain.

b. Kekurangan

  • Penafsiran dengan metode ini tidak dapat diberikan kepada para pemula seperti mereka yang sedang belajar pada tingkat sekolah menengah kebawah.
  • Kurang dapat diandalkan untuk menjawab permasalahan sosial yang tumbuh ditengah masyarakat.
  • Terkesan banyak menelusuri penafsiran-penafsiran yang pernah diberikan oleh ulama daripada mengemukakan penafsiran-penafsiran baru.

C. Tafsir Maudlu’i (Tematik)

Benih dari metode tafsir maudlu’i atau tafsir tematik ini sudah lahir sejak kehadiran Rasulullah Shallahu alaihi wa Sallam, dimana beliau seringkali menafsirkan ayat dengan ayat yang lain, seperti ketika menjelaskan arti zhulm (ظلم) dalam surah al-An’am [6]: 02 dengan surah Luqman [31]: 03, yang memiliki arti syirik.

Penafsiran ayat dengan ayat tersebut tumbuh subur seiring dengan berkembangnya zaman, sampai lahirlah tafsir pertama al-Thabari (839-923 M) kemudian mulai mengarah pada penafsiran ayat-ayat yang bertema hukum munculah karya al-Jashas dan al-Qurthubi, dan lain-lain. Meskipun tafsir di atas hanya membatasi tentang hukum saja, tetapi belum masuk dalam kategori tafsir maudlu’i yang khusus berdiri sendiri.

Tafsir maudlu’i mulai mengambil bentuknya melalui Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Musa al-Syathiby (720-790 H). Menurutnya, bahwa satu surah adalah satu kesatuan yang utuh, akhirnya berhubungan dengan awalnya, demikian juga sebaliknya, meskipun ayat-ayat itu sepintas terlihat berbicara tentang hal-hal yang berbeda. Jauh setelahnya muncul Mahmud Syaltut (1893-1963 M) juga menulis kitab tafsir dengan metode yang sama.

Setelah itu lahir bentuk baru dari metode tafsir maudlu’i yang tidak hanya dalam satu surah saja namun lebih mengarahkan pada tema-tema tertentu sehingga cakupan pembahasannya tidak hanya ada di bagian satu surah saja, melainkan juga membahas surah-surah lain yang ayat-ayatnya sesuai dengan tema yang diinginkan untuk ditafsirkan. Syekh Ahmad Sayyid al-Kumy yang ketika itu masih menjadi ketua Jurusan Tafsir pada Fakultas Ushuluddin al-Azhar Mesir, mencetuskan metode tafsir maudlu’i yang berbeda dengan apa yang diperkenalkan oleh para ulama sebelumnya.

Berikut ini dipetakan dua bentuk tafsir maudlu’i:

a. Bentuk pertama tafsir maudlu’i

Tafsir yang membahas satu surah al-Qur’an secara menyeluruh, memperkenalkan dan menjelaskan maksud-maksud umum dan khususnya secara garis besar, dengan cara menghubungkan ayat yang satu dengan ayat yang lain, dan atau antara satu pokok masalah dengan pokok masalah lain, sehingga surah tersebut tampak dalam bentuknya yang utuh, teratur dan sempurna, misalnya surah al-Kahfi yang secara harfiah berarti gua. Gua itu dijadikan tempat berlindung oleh sekelompok pemuda untuk menghindar dari kekejaman penguasa zamannya. Penjelasan dari ayat tersebut dapat diketahui, bahwa surah itu dapat memberi perlindungan bagi yang menghayati dan mengamalkan pesan-pesannya. Biasanya kandungan pesan suatu surah diisyaratkan oleh nama surah tersebut, selama nama tersebut bersumber dari informasi Rasulullah Shallahu alaihi wa Sallan.

Adapun kitab tafsir yang menekuni metode ini, di antaranya adalah karya Muhammad Mahmud al-Hijazi yang berjudul al-Tafsir al-Wadlih dan karya Muhammad al-Ghazali yang berjudul Nahw Tafsir Maudlu’i li Suwar al-Qur’a’n al-Karim.

b. Bentuk kedua tafsir maudlu’i

Tafsir yang menghimpun dan menyusun ayat-ayat al-Qur’an yang memiliki kesamaan arah dan tema, kemudian memberikan penjelasan dan mengambil kesimpulan dibawah satu bahasan tema tertentu. Al-Farmawi di dalam bukunya al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudhu’i menjelaskan beberapa langkah dalam menerapkan metode maudlu’i:

  • Menetapkan masalah yang akan dibahas (topik atau tema).
  • Melacak dan menghimpun masalah yang dibahas tersebut dengan menghimpun beberapa ayat-ayat al-Qur’an yang membicarakannya.
  • Mempelajari ayat demi ayat yang berbincara tentang tema yang dipilih sambil memperhatikan asbab al-nuzul-nya.
  • Menyusun runtutan ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan ayat-ayat yang sesuai dengan masa turunnya, khususnya jika berkaitan dengan hukum, atau kronologi kejadiannya jika berkaitan dengan kisah, sehingga tergambar peristiwanya dari awal hingga akhir.
  • Memahami korelasi (munasabah) ayat-ayat tersebut dalam surahnya masing-masing.
  • Menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna, sistematis dan utuh.
  • Melengkapi penjelasan ayat dengan hadis, riwayat sahabat, dan lain-lain yang relevan bila dipandang perlu, sehingga pembahasan menjadi semakin sempurna dan semakin jelas.
  • Setelah tergambar keseluruhan kandungan ayat-ayat yang dibahas, langkah berikutnya adalah menghimpun masing-masing ayat pada kelompok uraian ayat dengan menyisihkan yang telah terwakili atau mengompromikan antara yang ‘am (umum) dan khash (khusus), muthlaq dan muqayyad atau yang pada lahirnya bertentangan, sehingga kesemuanya bertemu dalam satu muara, tanpa perbedaan atau pemaksaan sehingga lahir satu simpulan tentang pandangan al-Qur’an menyangkut tema yang dibahas.

Sebagai contoh karya yang dihasilkan dalam metode ini adalah al-Mar’ah fi al-Qur’a’n al-Karim dan al-Insan fi al-Qur’a’n al-Karim oleh Abbas Mahmud al-‘Aqqad, Tema-tema Pokok al-Qur’an oleh Fazlur Rahman dan Wawasan al-Qur’an; Tafsir Maudhu’i atas Perbagai Persoalan Umat oleh M. Quraish Shihab.

Penutup

Demikianlah pembahasan tentang metode muqarin dan maudhu’i dalam menafsirkan al-Qur’an al-Karim yang berkembang di dunia keislaman sekarang ini. Tentunya kita sebagai penelaah sangat perlu untuk mengkaji lebih dalam dan detail tentang tafsir dan metodeloginya salah satunya yang dibahas adalah metode tafsir muqarin dan tafsir maudlu’i.

Metode tafsir muqarin sendiri sebagaimana yang telah dibahas adalah suatu metode yang ditempuh oleh seorang mufassir dengan cara membandingkan ayat al-Qur’an yang satu dengan yang lainya seperti perbedaan penambahan huruf, Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman:

سَوَآءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

Sama saja bagi mereka, apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. (QS. al-Baqarah [2]: 6)

وَسَوَآءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

Dan sama saja bagi mereka, apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman juga. (QS. Yasin [36]: 10)

Beda halnya dengan tafsir Maudhu’i yang membahas satu tema tertentu atau satu surah al-Qur’an secara menyeluruh, serta menghimpun dan menyusun ayat-ayat al-Qur’an yang memiliki kesamaan arah dan tema, sebagai contoh surah al-Kahfi yang secara harfiah berarti gua. Gua itu dijadikan tempat berlindung oleh sekelompok pemuda untuk menghindar dari kekejaman penguasa pada zamannya.

Pembahasan yang lalu dapat diambil kesimpulan, bahwa metode tafsir muqorin dan tafsir maudlu’i sangat penting untuk dipelajari lebih mendalam di zaman globalisasi ini. Tujuannya adalah untuk mengembangkan ilmu-ilmu tafsir dengan arah baru yang sejalan dengan perkembangan zaman.

Selanjutnya sebagai penutup dari secercah goresan pembahasan ini, akhir kata lebihnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Referensi

Abdul Hayy al-Farmawi, al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudhu’i, Kairo: al-Hadharah al-Arabiyah, 1977.

M. Quraish Shihab, Kaidah Tafsir: Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-Ayat al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2013.

———-, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Berbagai Persoalan Umat, Bandung: Mizan, 1996.

M. Quraish Shihab, Nasaruddin Umar, dkk. Sejarah dan Ulumul Qur’an. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2013.

M. Ridlwan Nasir, Memahami al-Qur’an perspektif Baru Metodogi Tafsir Muqarin, Surabaya: Indra Media, 2003.

Muhammad bin Abdullah al-Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, Lebanon: Darl al-Ikhya al-Kutb al-Araby, 1957.1

Penulis: LPQ NU Sudan

* Hasil diskusi LPQ NU Sudan pada 16 Agustus 2019 dengan narasumber Ustadz Nabilul Marom, S.Ag., M.A.

Tinggalkan Balasan