Peran Muslimah untuk Pertumbuhan Generasi Bangsa

0
142
views
Gambar: kalam.sindonews.com

Pernahkah mendengar bahwa perempuan itu spesial? Setiap perempuan itu spesial dan berharga. Perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Maka benar jika ada istilah “Mendidik seorang wanita sama dengan mendidik suatu peradaban”, karena dari seorang perempuan yang salihah akan terlahir generasi-generasi yang baik pula. Di antara luasnya dunia, di antara jutaan perempuan yang ada, marilah menjadi bagian dari perempuan yang disebutkan dalam hadis “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita salihah.”

Hampir seluruh sekolah di Indonesia diliburkan sejak Maret 2020. Adapun kegiatan belajar mengajar diganti dengan mengerjakan tugas di rumah dengan pengawasan orang tua. Mekanismenya adalah guru memberi tugas untuk beberapa hari dan tugas langsung dikumpulkan tiap harinya via online. Langkah ini menindaklanjuti keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nadiem Anwar Makarim, dalam rangka mengantisipasi penyebaran Covid-19 di lingkungan lembaga pendidikan.

Keputusan untuk belajar dari rumah tersebut sekilas terkesan menyenangkan. Namun faktanya, ketika proses berjalan terjadi banyak keluhan. Terutama dari orang tua murid di tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD). Keluhannya beragam, mulai dari masalah teknis seperti tidak bisa mendisiplinkan anak untuk segera mengerjakan tugasnya, hingga keluhan pada tataran ketidakmampuan secara ilmu untuk membantu anak-anaknya dalam mengerjakan tugas di rumah.

Belum lagi ketidaksiapan yang dialami pada daerah-daerah yang minim fasilitas, baik piranti maupun jejaringnya. Sejumlah sekolah yang terbiasa menggunakan perangkat teknologi tentu tidak menjadi masalah, namun sangat bermasalah bagi daerah yang minim fasilitas. Kini proses pembelajaran di rumah telah berlangsung, meskipun kesiapan guru, siswa, dan sekolah bervariasi. Ada yang siap, benar-benar tidak siap, dan terpaksa siap.

Tidak bisa dipungkiri perubahan cara belajar jarak jauh ini berlangsung begitu cepat akibat persebaran pandemi Covid-19 yang semakin meluas. Dari situasi dan kondisi ini kita bisa menakar bahwa banyak yang patut dievaluasi dari sistem pendidikan dan pendidik yang ada di Indonesia. Selain itu, kita bisa menimbang sejauh mana peran orang tua selama ini dalam keberhasilan proses pendidikan anak.

Kita tidak bisa serta merta menyalahkan peran seorang muslimah atau ibu dalam proses pendidikan anak selama ini. Karena himpitan ekonomi akibat penerapan sistem kapitalisme yang eksploitatif telah memproduksi kemiskinan dan badai PHK di mana-mana, sehingga menyebabkan beban ekonomi keluarga semakin berat dan memaksa kaum ibu untuk ikut bekerja. Apalagi ditambah program pemberdayaan ekonomi perempuan yang dilegalisasi oleh penguasa, turut menjerat secara sistematis kaum ibu dalam jebakan dunia kerja atas nama kesetaraan gender. Sungguh karena desakan ekonomilah akhirnya kaum ibu selama ini lebih lama berada di luar rumah untuk bekerja dan sedikit sekali waktu untuk bersama anak dan keluarga di rumah.

Sejak diberlakukannya kebijakan social distencing oleh pemerintah untuk mencegah penyebaran covid-19, maka mulai dari aktivitas belajar, bekerja, dan beribadah diharuskan untuk dilakukan di rumah. Masyarakat diminta untuk mengarantina diri di rumah. Dan akhirnya kaum ibu banyak waktu di rumah intuk diluangkan dengan anak dan keluarga. Sayangnya karena terlalu lamanya kaum ibu meninggalkan peran dan tanggung jawabnya di rumah, sehingga ketika menjalani karantina, banyak Sebagian mereka yang mengalami stres dalam mengerjakan tugas-tugas rumah tangga dan menghadapi tingkah pola anak.

Seorang ibu harus dipahamkan kembali betapa besarnya peran dan tanggung jawabnya bagi pembentukan generasi, agar kaum ibu selama masa karantina tidak merasa stres dan gagap untuk mengawasi kegiatan belajar si anak. Agar kembalinya ibu di rumah tidak diisi dengan aktivitas mengalir begitu saja tanpa kontribusi positif bagi pembentukan generasi bangsa yang berkualitas.

Tidak ada kemulian terbesar yang diberikan Allah bagi seorang muslimah, melainkan perannya menjadi seorang ibu. Bahkan Rasulullah pun bersabda ketika ditanya oleh seseorang: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik?” Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?” Tanya laki-laki itu, “Ibumu.” Laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasul menjawab “Ibumu.” Laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasul kemudian menjawab, “Kemudian ayahmu.” (HR. Al-Bukhari No. 5971 dan Muslim No. 6447).

Seorang ibu memiliki pengaruh lebih terhadap anak-anak, yang lebih dekat terhadap anak-anak, dan memiliki lebih banyak waktu dengan anak-anak. Baik buruknya seorang anak, dapat dipengaruhi oleh baik atau tidaknya sosok ibu yang menjadi panutan anak-anaknya. Pernahkah kita membaca kisah-kisah kepahlawanan atau kemulian seseorang? Siapakah dalang di balik keberhasilan mereka menjadi seorang yang pemberani, ahli ilmu, atau bahkan seorang imam? Tidak lain adalah seorang ibu yang membimbingnya.

Tidak ada peran yang lebih mendatangkan banhak pahala melainkan peran dalam mendidik anak menjadi anak yang baik, saleh dan salihah yang setiap aktivitasnya di landasi atas iman dan semata-mata mencari rida Allah Swt. Karena anak-anaknyalah yang menjadi sumber pahala dirinya dan sumber kebaikan untuknya. Ketahuilah, banyak di kalangan orang-orang besar, bahkan sebagian para imam dan ahli ilmu merupakan orang-orang yatim, yang hanya dibesarkan oleh seorang ibu, yang mana mereka berkembang menjadi seorang ahli ilmu dan para imam kaum muslimin. Sebut saja, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Al-Bukhori, dan masih banyak yang lainnya yang juga merupakan para ulama yang dibesarkan oleh seorang ibu. Karena kasih sayang, pendidikan yang baik, dan doa dari seorang ibu merupakan kekuatan yang dapat menyemangati anak-anak mereka dalam kebaikan. Jika kita melihat akan keutamaan-keutamaan yang diberikan Allah untuk seorang ibu, jelaslah bahwa ibu sangat berperan untuk pembentukan generasi bangsa yang berkualitas.

Penulis: Ida Nurjannah

Tinggalkan Balasan