Wanita

0
48
views
Gambar: id.pngtree.com

Cerpen WANITA –

“Pagi Pak, bagaimana kabarnya? Makin ganteng aja pagi ini,” ungkap Ibu Amel sekretarisku.

“Alhamdulillah baik Bu, hehe bisa aja nih Ibu. Bagaimana proposal yang mau diajukan kemarin udah selesai belum? Saya butuh besok pagi ya untuk meeting bersama perusahaan sebelah, ini proyek besar, jangan sampai keliru ya bu,” ujarku.

“Siap pak nanti saya selesaikan,” jawab Bu Amel.

Aku pun masuk ke dalam perusahaan melewati karpet merah yang terbentang dari parkiran depan sampai resepsionis, pintu otomatis menambah kesan mewah dari perusahaan iklan milik temanku ini, baru aku memasuki ruang karyawan, semua karyawan tersenyum padaku ramah menyapa, aku pun membalas senyum mereka sambil menyemangatinya.

“Semangat, fighting!” Ucapku.

Yoossh,” kata mereka serentak.

Namaku Reza, aku seorang manager di sebuah kantor yang terletak di pinggir kota metropolitan, umurku 26 tahun, aku termasuk kategori sukses untuk orang-orang seusiaku, tapi ada hal yang aku sampai sekarang tidak pernah dan tidak bisa kuselesaikan.

Guruku berkata, “Segala masalah ada kuncinya, temukan kuncinya lalu kau selesaikan masalah itu.” Logaritma bagiku kecil. Sin Cos Tan itu cemen. Fisika di luar otak. Tapi masalah ini sampai sekarang belum bisa aku selesaikan, yaitu “WANITA”.

Aku ingin pergi malam mingguan dengan pacarku, kebetulan aku sudah menyiapkan bahan dan mempelajari bahan meeting untuk esok hari, maka dari itu aku akan menjemputnya pukul 6 sore, waktu yang rasaku masih sempat untuk bertanya, “Mau kemana kita malam ini?”

Setelah aku sampai di depan rumahnya, kubunyikan klakson mobilku. Kebetulan dia sudah rapi dan cantik sedang menungguku di depan rumahnya, aku bersyukur karena aku tidak mau terjadi lagi menunggu wanita bersiap-siap alias berdandan. Minggu lalu, aku sampai sempat main catur 5 ronde dengan Pak Satpam di komplek karena lamanya menunggu wanita berdandan, “Itu dandan atau operasi muka yaa, kok lama amat,” pikirku dulu.

Dia pun masuk mobil. “Mau kemana kita Dek?” Tanyaku padanya, sambil memegang setir mobil seakan ingin memulai perlombaan balap. “Terserah aja,” jawabnya. “Enggak ada usulan ke mana gitu?” Tanyaku balik. “Enggak ada, Adek ngikut mas aja,” jawabnya sambil tersenyum. “Oke sip,” jawabku singkat, sia-sia rasanya aku datang cepat-cepat, gumamku.

Aku pun memacu mobil di tengah keramaian ibu kota, kulihat dia terlihat gelisah seperti sedang mancari sesuatu di luar sana. “Kenapa? Ada masalah?” Tanyaku. “Kita mau ke mana ini?” Tanyanya padaku. “Ke mall nonton film, ada film bagus yang ingin aku tonton malam ini,” jawabku. “Lah kok ke bioskop? Enggak ke taman gitu?” Tanyanya kesal. “Lah tadi ditanya jawabnya terserah, ngikut aja, eeh pas sudah mau sampai baru bilang taman, kan bisa bilang dari tadi donk,” ujarku dengan agak sedikit kesal. “Ya kamunya sih enggak peka, aku udah dandan-dandan cantik gini buat bisa foto sama kamu di pohon love yang terkenal itu, eeh malah diajak ke bioskop enggak asyik ah,” timpalnya sambil menunjukkan mukanya yang kesal dan melipat tangannya di dada.

(Salah lagi)

Minggu kemarin dibawa ke taman dia mintanya ke bioskop, sekarang dibawa ke bioskop mintanya ke taman, kalau gitu kenapa tadi bilangnya terserah, batinku geram.

“Ya udah deh kita batalin aja yaa jalannya, kalau gitu makan ke restoran favorit aku yuk kebetulan di dekat sini,” ujarku. Dia mengangguk.

Sampailah kami di restoran favoritku, restoran khas suku Jawa yang berpondasikan bambu beratapkan jerami serta menghadap ke sawah, mengingatkanku kembali ke kampung halamanku jauh di pelosok sana. Biasanya selesai menanam padi, aku habiskan waktu bersama Ayah di gubuk yang terletak di tengah sawah sambil menyantap makanan yang dibuatkan Ibu dari rumah. Aku merindukan momen itu, karenanya aku menyempatkan mampir ke sini 1 bulan sekali dari waktu liburku.

Pelayan berbaju batik bersongkok khas Jawa datang ke meja kami, “Permisi mas mba, monggo mau pesan apa?”. “Ayam bakar 1 mas, kamu mau apa Dek?”. “Terserah,” ungkapnya singkat. Kucing mengeong depan makanan yang berarti pertanda minta diberi makan, tetapi ia tak mau, lalu ketika diberi nasi sisa, sejenisnya berkerumun tanpa perintah, tapi yang satu ini? heran aku.

“Sebentar mas,” ungkapku ke pelayan tadi. Aku memutar pelan otakku, aku pinjam pena pelayan tadi sambil kuambil kertas kecil di kantong bajuku. Aku memasukkan seluruh rumus fisika yang aku tahu, aku cocokkan kata ini dengan sandi yang pernah aku pelajari sewaktu mengikuti kegiatan kepramukaan dulu, mungkin ada kalimat tersembunyi yang harus aku ketahui, laksana Detektif Konan, aku eja kalimat singkat ini.
T itu apa
E itu apa
R itu apa

Aku telfon dukun sakti kenalanku di kampung tapi dia pun tidak tahu, jin pembantunya pun tak tahu. Aku menyerah, aku asal bilang “Sama bebek sambal 1 ya mas.” Lalu dia melotot, mukanya merah, bibirnya terangkat tinggi bak pemimpin upacara Senin pagi.

Baca juga: Merdeka dan Setara

“Aku tidak suka bebek,” ujarnya. “Kalau gitu ayam aja yaa,” balasku. “Udah bosan,” ujarnya. “Ikan?” Tanyaku. “Alergi,” jawabnya singkat. Jadi kata TERSERAH tadi apa donk? Teriakku dalam hati. Sungguh sulit kata ini, bahkan intel pun tidak akan mampu memecahkan sandi tersembunyi di dalamnya.

“Segala masalah ada kuncinya, temukan kunci itu, lalu selesaikan masalah itu,” teringat lagi nasihat guruku dahulu. Aku menyerah Pak, aku tidak bisa menenukam kunci satu ini. Sepertinya kuncinya hilang ditelan ombak. Begitu susahnya memahami makhluk satu ini, baru satu kata ke luar darinya, kita akan dihadapkan pada petualangan Sunggokong yang mencari kitab suci mereka hingga ke ujung dunia.

Yaah makhluk multimakna, lampu sen kiri tetapi mereka beloknya ke kanan, lampu sennya ke kanan tapi malah mereka belok ke kiri, terus kalau ditabrak mereka yang marahnya paling kencang dan mengakui dirinyalah yang benar. Rumit kan? Yaah mereka makhluk terumit di bumi terempong sejagad raya, tapi tetap kami menyayangi kalian “WANITA”.

Penulis: Atikal Maula

Tinggalkan Balasan