Kesalahpahaman dalam Membedakan Nabi dan Rasul

0
63
views
Gambar: dream.co.id

Definisi Nabi dan Rasul mungkin bagi sebagian orang adalah pembahasan yang sudah pakem atau tidak perlu ada diskusi yang membahasnya. Namun, pernahkah kalian terbesit bahwa definisi yang telah kalian ketahui sedari dini tersebut memiliki sisi kesalahpahaman oleh sebagian orang?

Mengetahui definisi Nabi dan Rasul serta perbedaan antara keduanya merupakan perkara yang penting dalam agama. Bagaimana tidak? Sebab ada ungkapan “tak kenal maka tak sayang”, yakni dengan mengenal dan meneladani ajaran mereka, kita dapat mencintai dengan mengetahui bagaimana mereka menyampaikan risalah dari Tuhan kepada kepada umat manusia. Lebih-lebih sekarang banyak orang yang kurang perhatian untuk mengetahui perkara penting ini hingga terjatuh ke dalam kesalahpahaman.

Nabi dan Rasul sama-sama menerima wahyu, sama-sama menyampaikan syariat Tuhan kepada umat. Hanya saja, Rasul menyampaikan syariat yang mengganti beberapa ajaran dan hukum-hukum yang berlaku pada masa Rasul sebelumnya. Singkatnya, Rasul itu membawa syariat baru yang belum dibawa oleh para Rasul sebelumnya.

Adapun Nabi (yang bukan Rasul) adalah seseorang yang menerima wahyu untuk menyampaikan syariat Rasul sebelumnya. Definisi dan perbedaan inilah yang menjadi samar di antara kita hingga ada kesalahan dalam memahaminya. Silakan baca ulang paragraf ini dan sebelumnya sebelum menginjak paragraf selanjutnya.

Sebagai pendekatan, kita sekarang berfokus ke pembahasan kesalahpahaman sebagian orang dalam memahami definisi Nabi. Banyak yang mengira Nabi tidak memiliki tugas menyampaikan syariat. Padahal kalau diangan-angan, seseorang yang diistimewakan Tuhan untuk menjadi seorang Nabi namun tidak menyampaikan ajaran-Nya, itu kurang pantas dan kurang pas melihat kedudukan Nabi yang tinggi. Intinya, seluruh Nabi diperintahkan oleh Tuhan untuk berdakwah kepada umat.

Berikut penulis lampirkan pendapat banyak ulama serta kitabnya yang telah menjelaskan perkara ini. Diantaranya al Imam Abu Manshur Abdul Qahir bin Thahir at Tamimiy al Baghdadiy (w. 429 H) dalam kitabnya Ushuluddin (Hal. 154), al Allamah Kamaluddin al Bayadliy al Hanafiy (w. 1098 H) dalam Isyaratul Maram (Hal. 311 dan 333), al Mufassir Nashiruddin al Baydlawiy (w. 685 H) dalam tafsirnya Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil (Juz. 4 Hal. 57), dan masih banyak lagi yang semuanya merujuk bahwa Rasul dan Nabi sama-sama memiliki tugas menyampaikan syariat.

Mengutip tulisan dari Ulama asal Maroko yang mendedikasikan ilmunya di Universitas al Azhar dan meninggal di sana, as Syaikh Ahmad al Ghumariy al Hasaniy al Azhariy (w. 1380 H) dalam kitabnya Ju’natul Athar fi Tharafil Fawaid wa Nawadiril Akhbar:

“Perbedaan Nabi dan Rasul itu tipis namun samar pada sebagian orang. Masyhur dalam berbagai kitab-kitab ulama mutakallimin dalam menjelaskan perbedaan antara keduanya bahwa Rasul adalah seseorang yang menerima wahyu berupa syariat serta diperintahkan untuk menyampaikannya, sementara Nabi adalah seseorang yang menerima wahyu tetapi tidak diperintahkan untuk menyampaikannya. Ini adalah kalam jahil terhadap nash al Qur’an (QS. Al Hajj: 52) dan Hadits (HR. Bukhariy: 1/119).”

Ulama mendefinisikan Nabi dan Rasul sebagai utusan yang menyampaikan risalah dengan berpedoman dengan beberapa ayat yang menggunakan redaksi ‘wa ma arsalna min nabiyyin..’, ‘wa ma arsalna fi qaryatin min nadzirin..’, ‘wa kam arsalna min nabiyyin..’ ‘wa ma ya’tihim min nabiyyin..’ dan masih banyak lagi yang cukup menunjukkan bahwa Nabi dan Rasul adalah utusan yang menyampaikan risalah Tuhan kepada umat manusia (Qishashun la Taliqu bil ‘Anbiya, Hal. 26).

Dari berbagai argumen tadi, dapat kita simpulkan bahwa Nabi hanya sekedar menerima wahyu untuk dirinya sendiri tanpa menyampaikan kepada umat merupakan pemahaman yang tidak tepat. Keduanya sama-sama menyerukan risalah pada manusia untuk beriman kepada Tuhan semesta alam. Perbedaannya tipis namun samar. Maka tidak heran, banyak dari kita yang terjatuh ke kesalahpahaman.

Baca juga Sejarah Penulisan Kitab Aqidatul Awam

Alih bahasa: Muhammad Najmuddin

Editor: Nahjul Fikri

Tinggalkan Balasan