Harlah NU ke-96; PCINU Sudan Menggelar Ngaji Dirayah Tasawuf

0
75
views

PCINUSUDAN.COM – Tanfidziyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan menggelar Majelis Dirayah kitab Jawahir at Tasawuf karya Yahya bin Mu’adz ar Razi pada Ahad (6/02) di Wisma PCINU Sudan dan akan dilaksanakan setiap seminggu sekali.

Kegiatan ini adalah rangkaian untuk menyemarakkan Harlah NU ke-96 di mana PCINU Sudan juga menyelenggarakan berbagai acara dan kegiatan selama hampir dua pekan.

Dalam majelis tersebut, PCINU Sudan mengundang salah satu tokoh Majelis Ulama Sudan yang juga menjabat kepala program studi Sirah Nabawi wa Syamail fakultas Ushuluddin di Universitas Islam Omdurman, Syaikh Yasin Muhammad Taha, sebagai pengkaji (qari’) pada acara tersebut. Beliau merupakan tokoh Aswaja Sudan yang mendalam dalam berbagai bidang keilmuan seperti Fikih, Tafsir, Hadits, dan disiplin ilmu keislaman lainnya.

Sekilas tentang kitab dan pengarangnya

Kitab yang dikaji merupakan kitab tentang tasawuf. Menurut Tanfidziyah, pemilihan kitab tersebut bukan tanpa alasan. Di samping kitab tersebut merupakan rekomendasi dari Syaikh Yasin Muhammad Taha sendiri, peserta juga dapat mengambil keberkahan kitab serta pengarangnya yang penuh faidah yang koheren dengan zaman sekarang, serta maklumat dalam kitab tersebut dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kitab tersebut dijelaskan, tasawuf adalah disiplin ilmu untuk mencapai derajat insan kamil dan ma’rifat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara berakhlak yang baik dan berpijak pada laku spiritual sebagaimana yang digambarkan oleh syari’at. Ada juga yang mendefinisikan tasawuf sebagai laku etika dengan menekuni landasan syari’at itu sendiri.

Baca juga: NU Care-LAZISNU Sudan Bantu WNI yang Menderita Breast Cancer

Guru besar para sufi memberikan urutan tahapan-tahapan yang bermacam-macam dalam mencapai derajat sufi, salah satunya adalah Imam Yahya bin Mu’adz ar-Razi, sufi besar yang lahir pada tahun 830 Masehi, di Kota Rayy, Iran. Diceritakan pada saat usia remaja, beliau meninggalkan Rayy menuju ke Balkh, Afghanistan. Suatu masa ketika ia balik ke negerinya, ia tidak kembali ke Rayy, tapi lebih memilih mukim di Nishapur, Iran, sampai ia meninggal di sana pada tahun 871 M. dalam usia yang relatif muda, yakni 41 tahun. Ia masyhur mendapat julukan sebagai lautan kebenaran, pembimbing ulama, dan penjelajah jalan menuju Tuhan.

Menurut Yahya bin Mu’adz ar-Razi dalam karya monumentalnya Jawahir at Tashawwuf yang dikaji di Wisma PCINU Sudan kemarin, mengemukakan tahapan seseorang mencapai derajat sufi sejati dengan tahapan sebagai berikut: Niat dan ifadah, ilmu, hikmah, mahabbah, ikhlas, khauf, raja’ (husnudzan ila Allah), taubat (penyesalan), wara’, faqir, sabar, tawakkal, risha, mujahadah, lapar (ju’), zuhud, tawadhu’, sakha’, khalwat, shuhbah, nafs (ruh dan kalbu), dunia, akhirat, rijal, do’a, dan munajat.//(Najmuddin)

Tinggalkan Balasan