Memahami Ucapan Pak Dudung Lewat Kacamata Ilmu Logika

0
78
views
Pak Dudung
Sumber gambar: tribunnews.com

Perkataan Jenderal TNI Dudung Abdurrachman saat beliau di podcast Deddy Corbuzier sempat viral dan menuai banyak kritik. Puncaknya adalah saat Habib Bahar bin Smith menyinggung perkataan Pak Dudung saat ceramah di salah satu pengajiannya. Hingga Habib Bahar didatangi rombongan TNI untuk diproses hukum karena kritikannya yang pedas dan ‘menggoblok-goblokan’ Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) tersebut.

Saat itu Pak Dudung mengatakan, “Kalau saya berdoa setelah sholat, doa saya simpel aja, ya Tuhan… pakai bahasa Indonesia, karena Tuhan kita bukan orang Arab”.

Lalu dalam sebuah pengajian yang diisi oleh Habib Bahar, beliau menyinggung perkataan Pak Dudung dan menafsirkan bahwa perkataan Pak Dudung ini berbahaya karena menyifati Tuhan sama seperti makhluk. Beliau menyamakan Tuhan dengan manusia. Padahal Tuhan selamanya tidak boleh disifati seperti makhluk-Nya. Laitsa kamislihi syai’un.

Penafsiran ini dipahami dari penyataan bahwa jika Tuhan kita bukan orang Arab, berarti Tuhan kita orang non-Arab. Alias tuhan kita ini orang. Lantas apakah pemahaman seperti ini dibenarkan?

Sebulan yang lalu waktu saya dan teman-teman satu Fakultas Ushuluddin mengadakan mudzakarah bareng atau yang biasa disingkat “Mabar”, saat itu kami sedang mendalami ilmu mantiq atau ilmu logika. Di tengah-tengah pembahasan kami, salah satu teman saya, Ali Rahman, santri lulusan Pondok Pesantren Raudlotul Ulum Guyangan Pati mengatakan, “Sebenarnya saya tidak setuju dengan statement Habib Bahar soal kritikannya terhadap Pak Dudung. Kalau kita masukan perkataan itu dalam bab tanaqudl (kontradiksi), maka harusnya itu benar-benar saja. Kayaknya Habib Bahar yang harus memurajaah lagi Mantiqnya”. Saya dan teman-teman saat itu pun menyetujui perkataan Ali.

Jadi, dalam ilmu Mantiq atau ilmu logika ada yang namanya bab tanaqudl (kontradiksi) yang merupakan salah satu dari istidlal mubasyir. Istidlal mubasyir simpelnya adalah mencari kebenaran dari sebuah proposisi melalui proposisi lain. Maka konsep kontradiksi di sini adalah kita bisa mengetahui kebenaran sebuah argumen jika kontradiksinya salah. Ini sebuah keniscayaan karena ilmu logika adalah ilmu yang bukan bersifat syar’i. Berbeda dengan fiqh, tauhid, tafsir, dan sebagainya yang di mana ilmu-ilmu tersebut tidak bisa diamalkan oleh orang non Islam. Berbeda dengan ilmu logika. Ia harus diamini oleh setiap orang yang akalnya masih bisa berjalan, meskipun ia bukan orang Islam.

Maka jika kita masukkan kalimat “Tuhan bukan orang Arab” dalam bab ini, hasil kontradiksinya adalah “semua tuhan adalah orang Arab”. Karena dalam ilmu Logika, qadliyah hamliah (proposisi yang tidak memiliki kuantitor) hukumnya sama dengan juz’iyyah (partikular), maka kontradiksi dari hamliyyah salibah adalah kulliyah mujabah (universal positif).

Mungkin terlalu panjang jika saya jelaskan setiap istilah yang ada dalam ilmu logika ini satu persatu. Tapi yang jelas, kita sudah mendapatkan apa yang kita cari, yaitu kontradiksi dari kalimat “Tuhan bukan orang Arab” adalah “Semua tuhan adalah orang Arab”.

Maka kesimpulannya, jika kalimat “semua tuhan adalah orang Arab” itu salah –yang merupakan kontradiksi atau lawan dari kalimat “Tuhan bukan orang Arab”-, maka perkataan Pak Dudung “tuhan kita bukan orang Arab” dapat dibenarkan.

Jadi, jika perkataan Pak Dudung kita lihat dari kaca mata ilmu logika, sebenarnya sah-sah saja dan tidak ada masalah. Tapi alangkah baiknya kita selalu berhati-hati dalam merangkai kata. Jangan sampai apa yang keluar dari mulut kita disalah-pahami orang lain dan menimbulkan penafsiran yang kabur dan beresiko fatal.

Maka selain mempelajari ilmu cara berpikir, kita pun dituntut untuk mempelajari ilmu cara menyampaikan pendapat dan merangkai kata. Baik itu lewat gramatika Bahasa Indonesia beserta sastranya, atau lewat fan-fan ilmu lain, seperti nahwu, shorof, balaghah, adabul bahs, dan lainnya.

Penulis: M. Iqbal Marzuqi (Mahasiswa Al-Azhar Mesir)

Baca juga Peta Keilmuan Ulama Sudan

Tinggalkan Balasan