Menakar Peluang dan Peta Jalan Peran PCINU Timur Tengah sebagai Duta Nahdlatul Ulama

0
64
views

PCINUSUDAN.COM- Dalam rangka memeriahkan Harlah NU ke-96, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan mengadakan webinar dengan topik “Menakar Peluang dan Peta Jalan Peran PCINU Timur Tengah sebagai Duta Nahdlatul Ulama”, Rabu (9/02). Kegiatan ini bertujuan untuk menakar peluang PCINU Timur Tengah dalam mewujudkan peran global dan mendesain langkah taktis dan strategis PCINU Timur Tengah sebagai Duta Nahdlatul Ulama.

PCINU sebagai duta dari PBNU diharapkan dapat menerjemahkan visi dan misi dari Rais Aam (KH. Miftakhul Akhyar) dan Ketua Umum (KH. Yahya Cholil Staquf) PBNU yang menjadi tujuan besar dalam menapaki langkah NU untuk kedepannya. Yakni, menduniakan NU. Atau dalam bahasa Kiai Miftakhul Akhyar, “Mendhotkan NU”, sebagaimana yang tergambar dari lambang Nahdlatul Ulama.

“Menduniakan NU dalam arti, menyampaikan tipologi-tipologi yang dimiliki NU kepada Dunia dalam hal konsepsi manhaj Aswaja an-Nahdliyah dan tata cara bagaimana NU menghadapi tantangan perubahan yang tidak menentu arahnya seperti masa sekarang ini,” ujar Ketua Tanfidziyah PCINU Sudan, M. Abdur Rokhim.

Menurut Abdur Rokhim, Peran Nahdlatul Ulama dengan Duta PCINUnya diyakini akan mampu menjadi fasilitator dalam menawarkan konsep yang tepat ala Nahdlatul Ulama sebagai iktikad ikhtiyar menuju cita-cita perdamaian Dunia.

“Dengan menakar peluang yang ada serta menyusun peta jalan langkah-langkah kedepannya dalam mengonstruksikan dan menyampaikan gagasan yang dimiliki oleh NU. Sebagaimana PCINU sebagai bentuk representasi duta dari PBNU,” ujarnya.

Seminar daring yang menggunakan aplikasi Zoom dan tayang di kanal YouTube TVNU ini menghadirkan dua pembicara yang merupakan akademisi dan tokoh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Narasumber pertama, K.H. Zulfa Mustofa (Wakil Ketua Umum PBNU periode 2022–2027) menyampaikan sub-tema “Menakar Peluang Dikancah Global Duta PCINU Timur Tengah”. Beliau mempresentasikan beberapa poin besar terkait langkah strategis PCINU menaungi proyeksi masa depan, yakni:

  1. Memperbanyak literatur tentang Indonesia dan NU di berbagai media atau karya tulis secara langsung.
  2. Menyampaikan kepada Dunia tentang tata cara bagaimana NU dalam mengelola peradaban yang ada di Indonesia.
  3. Menyampaikan tipologi fikrah Aswaja an-Nahdliyah, dan Mengenalkan karya-karya Ulama Nusantara kepada khalayak dunia sebagaimana manhaj dari NU yang tertuang dalam kitab Tuhfatul Qashi wal-Dani yang ditulis oleh K.H. Zulfa Mutofa:

وحبذا الطريقة النهضية # تهدي إلى فكرتها السامية
توسط توازن اعتدال # تسامح فاسمع لما يقال 

Keterangan beliau: “Termasuk prinsip dasar NU adalah ‘tawassut, tasamuh, dan i’tidal’, yang tergambarkan dalam manhajnya Syekh Nawawi al-Bantani, ‘Termasuk murid-muridnya Syekh Nawawi adalah para murid yang berjuang dengan cara tawassut, tasamuh, dan i’tidal’, atau biasa kita kenal dengan manhaj Wasathiyyatul Islam.”

“Harapan besar dari PBNU adalah menulislah sebanyak-banyaknya tentang Indonesia dan NU, agar sampai gagasan NU dan bisa dibaca oleh Dunia. Itulah bagian cara menduniakan NU (secara otomatis juga menduniakan Indonesia),” kata beliau yang merupakan tokoh yang aktif menelurkan karya-karya berbahas Arab.

Pada sesi kedua, Dr. K.H. Hilmy Muhammad, M.A. (Katib Syuriyah PBNU periode 2022–2027) menyampaikan sub-tema “Peta Jalan Peran Global Duta PCINU Timur Tengah”. Beliau mempresentasikan tentang rumusan prinsip dasar NU dengan beberapa prinsip, diantaranya:
1. Mengaktualkan prinsip kemasyarakatan (berusaha berada di posisi tengah, tidak ekstrem kanan dan kiri).

2. Menguatkan prinsip masyarakat teladan (mabadi’ khoiru ummah, yang tergambar dalam sikap as-shidqu, al-amanah wal wafa bil ‘ahdi, al-’Adalah, at–ta’awun, dan Istiqamah.

3. Meneguhkan prinsip  keagamaan dalam akidah Aswaja an-Nahdliyah dan mengeksplorasikan prinsip-prinsip kebudayaan Nusantara, dengan jargon, “المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح “, yang artinya, “Menjaga tradisi terdahulu yang baik, serta mengambil hal baru yang lebih baik”.

4. Terakhir adalah bagaimana Duta PCINU harus mempunyai prinsip berdakwah dengan cara mengajak bukan mengejak, merangkul bukan dengan cara memukul, seperti yang teraktualisasikan oleh cara dakwah Walisongo.

“Kita ini (NU) menjadi masyarakat teladan dari masyarakat dunia. Marilah para ananda semua sebagai Duta Nahdlatul Ulama di PCINU tempat ananda berada, untuk menjadi umat yang mengajak kebaikan (أمة يدعون إلى الخير), tidak lain dengan menyampaikan prinsip-prinsip keagamaan dan sosial masyarakat yang menjadi prinsip dasar NU,” kata tokoh yang juga lulusan Khartoum International Institute for Arabic Language Sudan ini.

Webinar ini berjalan dengan lancar disertai dialog interaktif yang aktif dengan narasumber. Terdapat pertanyaan dari peserta Webinar dan Narasumber kedua, Dr. K.H. Hilmy Muhammad, M.A., sedikit menjabarkan terkait pengalaman PCINU Sudan yang sudah dekat jalinan hubungan kerja samanya dengan pemerintah setempat dalam gerakan membumikan NU di Sudan yang hingga sekarang terus berjalan.

Kesimpulan yang dapat kita ambil dari webinar ini, bahwa peran PCINU sebagai Duta PBNU adalah; Menyampaikan kepada masyarakat setempat mengenai kehebatan ulama Nusantara dengan cara menulis melalui berbagai akses media maupun karya tulis lainnya, menampilkan pementasan-pementasan seni yang menceritakan tentang kehidupan tasamuh (toleransi) masyarakat Indonesia, dan memperkuat jalinan hubungan PCINU dengan masyarakat setempat. Dengan menjadikan hubungan tersebut menjadi hubungan resmi, maka akan mempermudah akses penawaran sekaligus penyampaian mengenai prinsip-prinsip dasar dan gagasan Nahdlatul Ulama di Timur Tengah.//(Najmuddin)

Baca juga Bahtsul Masail Santri Meriahkan Harlah NU ke-96

Tinggalkan Balasan