Potret Sosial Literasi Sudan-Afrika

0
92
views
The beautiful architecture and the setting on foot of the Taka mountains, huge granite rocks rounded by erosion, make it exceptional. It was damaged in 1885 and is currently not used for regular service, but for important ceremonies only. (sumber gambar: unsplash.com)

Literasi peradaban Islam Afrika tidak bisa lepas dari simbolisasi sejarah keulamaan dengan iconic material, seperti Universitas Qarawiyin Maroko, Zaitunah Tunisia, Al-Azhar Mesir, dan Gordon (UofK) Sudan hingga menjadi sub-sistem dalam dunia branding dan marketing yang dibutuhkan oleh negara muslim di era revolusi digital, terutama oleh diaspora pelajar Indonesia dalam memetakan jaringan ulama Afrika. Semua institusi Afrika itu berdiri dan mencetak ulama berpengaruh dunia sebelum negara-negara Arab-Afrika dijajah oleh Barat dan terpisah-pisah seperti yang ada sekarang. Di masa Turki-Utsmani misalnya, wilayah Laut Merah-Sudan yang dikenal menjadi lalu lintas dagang dan jamaah haji dikategorikan bagian dari wilayah Hijaz (Mekkah dan Madinah).

Sebelum Sudan memisah dari Mesir pasca Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955 dan merdeka dari Inggris tahun 1956 sulit dikatakan “Mesir bukan Sudan” atau “Sudan bukan Mesir”, di sisi lain, Sudan diidentikkan dengan Nubia dan bangsa kulit hitam alias negro yang berbeda dengan umumnya kulit warga Mesir. Abdallah Husein menyebut Nuba berasal dari kata “Nub”, dalam bahasa Nuba artinya emas. Daerah Nuba berarti daerah kaya tambang sebagaimana potensi Sudan hingga saat ini. Selain itu, Sudan dan Mesir dipertemukan langsung oleh sungai Nil dan memiliki hubungan lama dan erat sebagaimana kemiripan piramida meskipun Sudan mengklaim piramidanya jauh lebih tua (senior) dari Mesir. Selain itu, ada fase sejarah yang sama dimulai dari masa Fir’aun, Romawi, Ptolemaik, Arab, Turki-Utsmani, Kerajaan Islam Lokal hingga berdirinya negara modern (nation state). Cukup beralasan jika di Bandara Internasional Khartoum disuguhi tulisan; “Sudan Induk Peradaban”.

Pondasi pemerintahan modern di Sudan didasarkan pada kesepakatan antara Sudan-Mesir dan Sudan-Inggris tahun 1899 (Abdallah Husein; Tarikh Sudan, 2016). Namun demikian, Mohamed Awadl Abusy menyebutkan sejak Sudan merdeka hingga saat ini masih ada persoalan internal Sudan berupa etnisitas tersembunyi (Ma Ba’da Istiqlal al-Sudan, Aina Yakmunu al-Kholal?, 2018). Artinya, belum ada infrastruktur demokrasi yang bisa menyelesaikan persoalan etnisitas Sudan dan mendongkrak kebebasan literasi.

Secara senioritas berpolitik, Mustasyar PCINU Sudan, Syekh Hasyim al-Mu’tashim, tahun 2021 menyebut Sudan pernah mengumpulkan Presiden Mesir dan Raja Saudi Arabia di Khartoum untuk mendamaikan konflik antara kedua negara. Secara edukatif, Sudan memiliki kekuatan learning yang handal meskipun belum banyak berkolaborasi dengan industri dan perusahaan yang membutuhkan fasilitas material di samping skill-production. Gerakan ilmiah Sudan yang berasal dari institusi pendidikan Sudan idealnya dikaji melalui pendekatan tokoh yang berkiprah di luar negeri serta karya-karya yang masih manual alias belum digital, bukan melalui pendekatan institusi itu sendiri.

Di samping itu, eksplorasi literasi Afrika untuk peradaban bangsa dinilai belum merata dan masih dipusatkan ke institusi-institusi akademik yang mengandalkan studi literatur-literatur kuno. Sebagai upaya pemerataan kajian literer tersebut, pada tahun 2017, Sudan meresmikan program; “Sennar, the Capital of Isamic Culture” diperkuat dengan misi dan peran Universitas Internasional Afrika (UIA) dan Kerajaan Maroko pada tahun 2015 mendirikan The Mohammed VI Foundation of African Oulema yang berpusat di Kota Fes.

Menggali Literasi Afrika

Posisi Indonesia yang telah menjadi tuan rumah dalam Konferensi tersebut – menurut hasil penelitian disertasi Christope Dorigne-Thomson di Universitas Indonesia (2022) – merupakan jalan Indonesia menuju kekuatan besar dunia jika saja Indonesia dapat meningkatkan kapasitas pengetahuannya tentang Afrika. Di sisi lain, kehadiran ulama Afrika ke Indonesia, terutama Ibnu Batuthah asal Tangier, Maroko sekitar tahun 1345 M dan Syekh Ahmad Surkati asal Dongola, Sudan pada tahun 1911 M setidaknya mewariskan khazanah dan menjadi investasi sejarah bagi Indonesia yang seimbang dengan peran Presiden Soekarno dalam Konferensi Asia-Afrika.

Kehadiran Islam di Afrika – Sub Sahara – melalui cara damai para pedagang yang diterima lantaran kemuliaan akhlak dan keterbukaan dengan warga setempat. Sebelum masuknya Islam, masyarakat Afrika telah memiliki dan mempraktikkan ajaran paganisme dan isme-isme lain. Penampilan para pedagang Arab yang bersih dan berwibawa menjadi daya tarik tersendiri, terutama kehadiran Nabi dan Sahabat dari Mekkah ke Habasyah untuk memulai dakwah dan disambut baik oleh Raja Najasyi serta warga setempat memperkuat citra positif umat Islam berikutnya. Selain menganut kepercayaan kepada benda, kawasan Afrika Utara yang meliputi Sudan, Mesir, dan Maghribi pernah dikuasai imperium Romawi menganut agama Nasrani.

Abdul Madjid Abidin (Tarikh as-Tsaqofah al-Arabiyah Fi as-Sudan, 1953) menilai hubungan aktivitas dagang antara Arab dengan pelabuhan Mesir, Sudan dan Habasyah sudah terjalin sejak sebelum Islam melihat jalur laut antara kedua kawasan tepi Laut Merah yang mudah diakses. Terutama pada masa itu, Afrika sudah dikenal dengan perdagangan gum arabic, susu, gading, dan emas ditambah arus imigran Hijaz, Yaman dan Maghribi (Libya, Aljazair, Tunisia dan Maroko) ke Sudan, terutama jejak interaksi sosial Arab-Humair (Yaman) dengan masyarakat Nuba (Habasyah Bagian Utara) yang sama-sama menyembah matahari.

Baca juga: [Telah Dibuka] Beasiswa PCINU Sudan Pendaftaran Mahasiswa Baru

Di antara jejak yang bisa ditelusuri adalah asal usul penyusun Maulid Diba’; Al-Imam al-Hafidz Abdurrahman bin al-Daiba as-Syaibani yang disebut berasal dari Yaman sedangkan kata “diba” berasal dari kata Sudan (Maulid Diba di-takhrij oleh Sayed Mohamed Alawi bin Abbas al-Maliki al-Hasani, Mekah, 1985) dan kitab Ushul Magharibah fi as-Sudan karangan seorang Penasihat Presiden Bosnia dan Presiden Turki sekaligus Mustasyar PCINU Sudan, Syekh Dr. al-Fatih Ali Hasanain.

Islamisasi ke Afrika Utara secara masif dilakukan di masa Uqbah bin Nafi’ (w. 63 H/683 M) yang dijuluki sebagai Penakluk Afrika. Dirinya menggunakan tiga jalur, yaitu ekspansi militer, dakwah dan alami (perdagangan). Jasanya berdampak hingga saat ini di mana negara-negara Afrika sub-Sahara mayoritas beragama Islam dan menganut mazhab sunni-maliki. Berbeda dengan kawasan Afrika Barat terutama Nigeria dan Senegal yang terdapat kelompok Syi’i dan bahkan mendirikan gerakan Hizbullah sebagaimana diungkap oleh Dr. Abiir Dzaki (King Faisal Center for Research and Islamic Studies: Mutaba’at Ifriqiyah, 1442 H). Sebagai Gubernur Afrika pertama, ekspansi Uqbah bin Nafi menembus wilayah Kawar dan beberapa wilayah negro hingga pada periode kedua; Yazid bin Muawiyah, Islamisasi menembus Maroko. Perkembangan selanjutnya di Afrika Utara, Islam dikawal dengan kekuasaan dinasti-dinasti, di antaranya: Idrisiyah, Rustamiyah, Aghlabiyah, Murabbitun, Muwahhidun, dan Fatimiah.

Proses Islamisasi Afrika berbeda dengan Indonesia yang menggunakan tiga jalur; alami, edukasi dan organisasi. Dalam hal ini, Indonesia bisa menawarkan jalur organisasi (high-politic) dan arus bawah (bottom-up) dalam upaya memperkuat nation-building ke negara-negara Afrika. Dalam lingkup Afrika (bukan Arab atau Timur Tengah), Sudan cukup unggul dalam kiprah regional dan global dibanding negara-negara Afrika lain meskipun penilaian Bank Dunia di tahun 2021 tidak memasukkan Sudan dalam kategori negara ekonomi terbesar Afrika, yaitu Nigeria kemudian Mesir, Afrika Selatan, Aljazair, Maroko, Ethiopia, Kenya, dan Ghana.

Etnisitas Sudan-Afrika

Penduduk asli kuno Afrika adalah suku negro, zinji, dan abid. Selain etnis Asli, ada etnis Asia dan negara-negara sekitar, seperti Habasyah, Mesir (Qibthi) dan Barbar (negara-negara Maghribi). Sehubungan dengan etnisitas Arab-Sudan, Abdallah Husein menyebut etnis Sudan sangat banyak dan asal usulnya adalah Zinji, Beja, Arab, Nuba, peranakan dan imigran. Seorang akademisi Sudan; Dr. Khaled Husein Mohamed dalam buku hasil penelitiannya (Nadzaraat fii al-Azmah al-Sudaniyah: al-Hiwaar al-Wathani wa Maalaatihi, 2015) menyebut komposisi masyarakat Sudan saat ini terdiri dari 40 % etnis Arab dan mayoritasnya (30 %) tersebar di bagian utara Sudan (Negara Bagian Syimaliyah) serta pertengahan Sudan dan kawasan sungai Nil (Khartoum).

Dalam hal ini, situasi politik Sudan tidak bisa lepas dari pengaruh etnisitas. Jen. Omer Al-Bashir dan rezimnya berasal etnis Arab-Ja’li yang berkoalisi dengan etnis lain di antaranya etnis Hamiyun dan Beja (keturunan Kush bin Ham bin Nuh a.s) yang mendominasi Sudan Bagian Timur dengan jumlah 7 % dari komposisi masyarakat Sudan. Persaingan etnisitas ini kemudian mempengaruhi dunia politik dan secara tidak langsung berdampak pada dunia literasi sosial-keagamaan.

Di masa pemerintahan Omer Al-Bashir (1989-2019), etnis Arab-Ja’li yang menjadi mayoritas penduduk Sudan telah berhasil melakukan pendekatan dengan tokoh etnis Sudan Bagian Timur dan dalam proses pendekatan dengan komposisi lain; etnis-etnis Afrika (30 %) seperti kawasan Darfur, Nuba Ujung Utara (12 %), Nuba Jabal Nuba (3 %), dan sisa lainnya dari kalangan peranakan Asing dan imigran. Prof. Zakariya Bashir Imam menyebut etnis Ja’li tidak memiliki sentimen etnis dan merupakan etnis Arab yang paling banyak berbaur dengan etnis-etnis non-Arab (Abdalullah Thayib; Dzlika al-Bahr al-Zakhir, 2011). Selain itu, etnis Arab secara umum lebih berperadaban, cerdas, dan berilmu meskipun pada mulanya merupakan bangsa primitif dan nomaden.

Lebih dari itu, Prof. Zakariya Bashir Imam mengutip kesimpulan Prof. Abdallah Thayib yang didukung oleh Prof. Hasan al-Fatih Qaribullah, Dr. Ja’far al-Mirghani, Prof. Hasan Makki, dan lainnya bahwa Sudan merupakan pusat dunia Arab. Abdallah Thayib menyebut asal etnisitas Arab adalah Sudan dengan dasar Sudan bagian timur dikenal bagian dari Jazirah Arab sebelum pembentukan batas Laut Merah yang memisahkan antara Sudan bagian timur dan Jazirah Arab.

Budaya Arab Sudan

Di samping etnisitas Sudan yang asal usulnya adalah Arab, Prof. Ibrahim al-Qurasyi menyimpulkan adat-adat Sudan asal usulnya Arab meskipun letak geografisnya Afrika (‘Adaat Sudaniyah Ushuluha Arabiyah, 2015). Penyair Sudan, Ahmed al-Amin Ahmed “Abu Jamma”, menyebut kemurnian Arab Sudan nampak dari istilah-istilah budaya yang bisa ditemukan sumbernya dari syair-syair Arab kuno. Misalnya adat makanan seperti kisra, roghif, asidah, madidah, dan fattah, adat minuman; syai bil laban (teh susu), pakaian; amaim (sorban di kepala) warna putih dan adat menggunakan tongkat seperti tongkat jenis “ukaz wud hasunah”. Selain itu, terdapat adat khitan bayi perempuan, memperhatikan nasab onta, memuliakan tetangga dan tamu, berakrab-akrab ketika baru bertemu orang lain, dan pantang meminta-minta seperti terukir dalam puisi Abu Jamma’ :

مَاءٌ، وَمِلْحٌ، كِسْرَةٌ، وَقَدِيْدُ # مَاءٌ، وَبَعْضُ بَلِيْلَةٍ، وَعَصِيْدُ
لَا نَبْتَغِيْ فَيْضَ الْكِرَامِ فَحَسْبُنَا # كَلَّا وَلَا خُبْزَ اللِّئَامِ فَحَسْبُنَا

Potret Literasi

Sebagai negara persemakmuran Inggris dan Turki, Sudan memiliki budaya literasi yang tidak hanya mencerminkan peradaban Arab dan Afrika, melainkan juga peradaban Eropa. Namun demikian, Sudan sangat kuat menjaga tradisi keislamannya seperti tercermin dalam sebuah literasi yang dipengaruhi budaya tabu percampuran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Di masa-masa awal berkembangnya karya sastra Arab di Sudan, novelis Sudan tidak menunjukkan kisah-kisah romantisme seperti novel sastrawan Mohamed Ahmed Mahjoub dan Dr. Abdel Halim Mohamed yang terbit pada tahun 1946 M dengan judul “Mautu Dunya” (kematian dunia) yang membawa nilai cinta tanah air berbeda dengan novel sastrawan Mesir; Mustafa Lutfi Al-Manfaluti berjudul “Al-Majdulin” (Magdalena) terbit tahun 1912 M dengan nilai kehormatan dan romantismenya.

Baca juga: Menjadi Sosok Wanita Idaman pada Generasi Milenial

Hingga saat ini, literatur sastra Sudan lebih dikenal coraknya yang heroik-nasionalis, di samping corak pendidikan sufistik. Corak pendidikan modernis bisa digali dari jejak literatur da’i Sudan di Indonesia sekaligus pendiri al-Irsyad; Syekh Ahmad Surkati. Dalam literatur Indonesia, Syekh Surkati mengakui keilmuan dan kezuhudan pendiri organisasi Islam tradisionalis dengan berkata: “Saya baru pertama kali bertemu dengan beliau (Kiai Hasyim Asy’ari) dalam satu jamuan. Melihat bawaan badannya, saya tertarik. Beliaulah adalah seorang ulama yang zahid, dan dari tulisan-tulisannya, kelihatan penyelidikannya di dalam mazhab Syafi’i amat dalam dan luas”. (Muassis NU: Manaqib 26 Tokoh Pendiri Nahdlatul Ulama, 2016).

Tokoh-tokoh prolifik Sudan yang pengaruhnya menembus dunia literasi sosial kebudayaan baik tingkat kawasan maupun global, antara lain Adallah Thayib (Sastra Arab), Zakariya Bashir Imam (Filsafat Ilmu dan Sosial), Ibrahim Qurasyi (Kebudayaan Arab), Khalifah Abu Bakar (Bahasa Arab), dan puluhan bahkan ratusan lainnya yang tidak bisa disebutkan karena keterbatasan waktu. Dalam memahami penyebutan nama-nama pakar Arab dimaksud dalam konteks literasi sosial di sini perlu memahami hubungan bahasa dengan sosial budaya yang bisa dilihat lebih kongkret dalam jurnal online berjudul “Patriarchal System in Arabic Grammar” yang diterjemahkan dari versi Arabnya (UII, 2021).

Penulis: Ribut Nur Huda, S.Hum., M.Pd.I., M.A.

*Disampaikan dalam Diskusi Literasi yang diselenggarakan oleh LTN NU Sudan untuk Memperingati Harlah NU ke-96 pada 8 Februari 2022.

Tinggalkan Balasan