Sastra Arab dan Barat; Punya Hubungan Apa?

0
182
views
sastra-Arab-dan-barat
Sumber gambar: republika.co.id

Ilmu Balaghah adalah salah satu ilmu bahasa yang menerangkan tentang teori-teori dalam mengungkapkan perkataan yang indah tanpa meninggalkan kejelasan makna suatu kalimat. Ilmu Balaghah terbagi menjadi tiga cabang, yaitu: ilmu Bayan, ilmu Ma’ani, dan ilmu Badi’. Ketiganaya memiliki spesifikasinya masing-masing. Unsur-unsur balaghah meliputi: kalimat, makna, dan susunan kalimat yang disusun dengan memberikan makna yang kuat serta indah. Tak hanya itu, ilmu Balaghah juga memperhatikan kepada siapa berbicara, di mana tempatnya, bagaimana situasi dan kondisinya, dan lain-lain. Semua itu sangat berpengaruh pada keindahan  suatu kalimat.

Seorang penulis karya sastra diharuskan memiliki kejernihan jiwa dan penguasaan membedakan gaya bahasa dalam setiap kalimat. Hal semacam ini perlu dilatih terus-menerus untuk menciptakan bahasa yang indah dalam bertutur. Kalimat bahasa yang indah juga sangat berpengaruh bagi pendengar dan dapat memberikan makna yang lebih kuat. Ilmu Balaghah merupakan bagian dari sastra Arab karena sama-sama bertujuan untuk memperindah kalimat tanpa menghilangkan kesesuaiannya dengan situasi dan kondisi. Pada awal terbentuknya sastra Arab, ilmu Balaghah belum menjadi ilmu yang mandiri namun seiring berjalannya waktu, ilmu Balaghah semakin berkembang hingga menjadi disiplin ilmu pada saat ini.

Sastra Arab merupakan sastra yang terus eksis selama 15 abad lebih dan sangat berperan penting dalam komunikasi antar sesama manusia. Tidak sampai di situ saja, sastra Arab bahkan mampu memberikan pengaruh bagi bangsa-bangsa lain dalam hal sastra. Di sisi yang lain ia juga mengadopsi sastra asing, seperti sastra Barat.Sejak awal, sastra Arab hanya monoton pada ruang lingkup, genre, tema, dan sarana-sarana sastra saja (menurut istilah Robert Stanton). Kemudian hari, sastra Arab bertemu dengan kebudayaan lain dan jadilah ia berkembang lebih berkreasi.

Pada mulanya, sastra Arab berkembang atas bantuan kebudayaan Yunani Kuno atau kebudayaan Hellenis, yaitu pada masa keemasan (abad ke-5 SM) maupun psca pemerintahan Iskandar Agung (w. 323 SM) dengan diadakannya penerjemahan buku-buku Yunani secara besar-besaran oleh pemerintah Islam. 

Kegiatan penerjemahan tersebut dimulai sejak Dinasti Umayyah tahun 105-132 H / 727-754 M. kemudian niat baik tersebut disambut baik oleh Khalifah al-Ma’mun sehingga pada masa pemerintahannya dilakukan penerjemahan secara besar-besaran dengan mengambil manfaat dari buku karya Homerus, Sophocles, dan Euripides. Kebudayaan Islam menjadi sangat maju pada saat itu.  Tak hanya itu, sastra Arab juga tercatat pernah bertemu dengan kebudayaan India dan Persia setelah wilayah Persia ditaklukkan oleh Islam. Terjadilah penerjemahan karya sastra India dan Persia yang dipelopori oleh Ibnu al-Muqaffa’. Pada masa itu, orang-orang Persia sebagai negeri taklukan hidup berdampingan dengan bangsa Arab sebagai negeri penakluk. Dari sini terjadilah akulturasi yang berdampak besar bagi keduanya, juga bagi sastra Arab. Keduanya menyerap beberapa bahasa dan istilah ke dalam bahasa mereka. Di waktu yang sama, sastra arab juga masuk ke peradaban Turki dan saling memberikan pengaruh.

Hingga tibalah masa di mana sastra Arab berada di abad modern dengan kecanggihan teknologi menjadikan berbagai kebudayaan di seluruh dunia melakukan proses saling bertemu dan saling memberikan pengaruh kamudian tercipta sebuah karya baru bagi setiap sastra yang ada di dunia, terlebih bagi sastra Arab. Hal ini terjadi dengan adanya banyak sastrawan Arab yang mencari ilmu di wilayah Eropa dan yang lain. Dari sini kita mengetahui bahwa sastra Arab dan sastra Barat sama-sama memberikan pengaruh yang begitu besar. Bahkan tidak ada sastra yang dianggap mutlak murni dan mutlak tiruan, karena keduanya meminjam dari sastra lain tanpa meninggalkan sastra sendiri. Dan ada begitu banyak perbandingan di sana.

Sastra Arab Pada Masa Awal Pertumbuhan

Sejarah Sastra Arab merupakan ilmu yang menjelaskan kronologi awal kemunculan sastra Arab hingga perkembangannya sampai sekarang serta memperkenalkan tokoh-tokoh terkenal yang saat itu menjadi sastrawan Arab sehingga. Hal tersebut dianggap perlu dipelajari mengingat manfaat yang didapat. Dengan mempelajari sejarah sastra Arab, kita dapat mengetahui gambaran kondisi masyarakat dan kebudayaannya pada masa itu. Kita juga dapat mempelajari ide-ide dan pemikiran-pemikiran sastrawan Arab saat itu kemudian dilakukan perbandingan dengan masa sekarang.

Sastra Yunani telah berkembang 10 abad sebelum masa Jahiliyah bisa dikatakan jauh sebelum sastra Arab berkembang. Sastra Yunani dijadikan patokan pertama bagi sastra Arab untuk berkembang. Namun saat melakukan penerjemahan pada masa Abbasiyah, sastra Arab mengadopsinya tanpa besertaan dengan filsafat yang digunakan oleh sastra Yunani karena dianggap keluar dari kaidah keislaman. Imbasnya sastra Arab setelah masa Abbasiyah mengalami kemunduran. Berbeda dengan bangsa Romawi yang meniru semua karya sastra Yunani sejak mereka menaklukkan Yunani pada 146 SM. Kemudian muncullah sastra Romawi di abad 6 M. Selanjutnya muncul sastra Eropa di abad 14 yang berupaya membangkitkan kebesaran sastra Yunani dan sastra Romawi kuno. Dari kebangkitan bangsa Eropa tersebut setidaknya ada sedikit andil dari bangsa Arab saat itu dengan diterjemahkannya karya-karya Aristoteles. dan Homerus yang masyhur dikenal sebagai Bapak Epik Dunia.

Dalam awal pertumbuhannya, sastra Arab cenderung terlambat dalam menyerap karya-karya sastra Yunani dikarenakan beberapa sebab yang mendasari mengapa sastra Arab tidak langsung menyerap semua sastra Yunani tersebut. Berbeda dengan sastra Barat yang maju dengan cepat karena sejak awal pertumbuhannya ia telah meniru sastra Yunani dan Romawi sehingga ia menjadi sastra yang superior.Oleh karena sastra Barat merupakan sastra yang terhitung pesat perkembangannya dalam mengadopsi karya sastra bangsa lain maka muncullah dua aliran dari barat dalam kajian perbandingan sastra, yaitu: aliran Prancis dan aliran Amerika. Aliran Prancis menekankan kajian sejarah secara mendetail mengenai pengaruh antar penulis yang satu dengan yang lain atau pengaruh antara penulis dengan daerah-daerah berbeda yang disinggahinya. Sedangkan aliran Amerika berpendapat adanya kemungkinan tidak adanya pengaruh atau memberikan pengaruh yang disebabkan oleh penulis, aliran ini dipelolori oleh Rene Wellek.

Perbedaan lain dari kedua aliran ini adalah perbedaan bahasa. Aliran Prancis mensyaratkan adanya perbedaan bahasa antar dua sastra atau lebih. Sedangkan sastra Amerika sebaliknya. Aliran Amerika mempunyai alasan yang mendukung. Contoh misalnya bahasa Inggris yang dipakai orang Inggris, Australia, Amerika, dan yang lain. Maka dari itu, aliran Amerika tidak memberikan syarat adanya perbedaan bahasa dalam membandingkan sastra. Wellek menyatakan bahwa dalam menbandingkan sastra seharusnya dipelajari secara umum tanpa melihat batasan wilayah bahasa. Menurutnya perbandingan adalah metode umum yang dipakai dalam semua kritik sastra dan cabang ilmu pengetahuan, dan sama sekali tidak menggambarkan kekhasan prosedur studi sastra.

Dalam hal ini sastra Arab lebih cenderung mengikuti aliran Prancis sebab Ghanimi Hilal sebagai pelopor lebih banyak bersentuhan dengan sastra Prancis saat menimba ilmu di Sorbone Prancis. Usai dari Prancis, ia mengajak banyak akademisi saat itu untuk melakukan perbandingan sastra. Ia mengusulkan penelitian pengaruh prosa Arab terhadap prosa Persia abad 5-6 H dan kontribusi filosof Mesir Haibata dalam sastra Prancis dan Inggris abad 18-20 M.

Ghanimi Hilal berpendapat kebangkitan sastra Romawi disebabkan karena adanya pengaruh dari sastra Yunani Kuno. Oleh karena itu, ia menekankan adanya kajian perbandingan sastra bagi bangsa Arab untuk memperluas pengetahuan internasional seluas-luasnya dan hal itu diperlukan banyak analisis internasional serta mempelajari metodi seperti apa yang dilakukan bangsa asing. Jauh sebelum Ghanimi, al-Tahtawi telah menulis buku tentang perbandingan bahasa dan sastra Prancis dan Arab dari aspek balaghah dan yg lain. Buku tersebut diberinya judul Talkhis al-Ibriz fi Talkhisi Bariz (1834). Di waktu yang sama, asy-Syidyaq menulis dua buku; al-Saq ‘ala al-Saq dan Kasyf al-Mukhabba (1863) yang menjelaskan perbandingan bahasa dan sastra Arab dengan sastra Inggris dan Prancis. Tokoh lain lagi adalah al-Khalidi berkebangsaat Palestina yang selama 20 tahun tinggal di Prancis. Ia menulis artikel di majalah Hilal tahun 1902-1903 dengan judul “Sejarah Ilmu Sastra bagi Bangsa Frank, Arab, dan Victor Hugo”. Pada tahun 1934-1937, al-Su’ud juga menulis artikel di majalah al-Risalah tentang perbandingan sastra Arab dengan Barat dan perbandingan sastra Arab dengan Yunani.

Meski  begitu, Ghanami Hilal dianggap sebagai pelopor munculnya kajian perbandingan Sastra di wilayah Arab bahkan dijadikannya sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri dan dia lah yang melakukan kajian perbandingan sastra secara aplikatif.

Sastra Arab Pada Masa Kontemporer

Dalam dua dekade ini, sastra Arab mengalami kemerosotan dengan tidak adanya suasana baru darinya. Yang ada hanyalah menerbitkan buku-buku lama mereka dalam bentuk cetakan yang lebih baru. Atau hanya menerjemahkan sastra asing yang telah diterjemahkan. Tidak ada genre yang baru. Dari internal sendiri masih sering ditemukan konflik antar sesama pakar sastra. Sejak tahun 1989 hanya ada satu media yang melakukan kajian perbandingan sastra yang letaknya ada di Mesir. Padahal jika kita melihat, ada begitu banyak pakar sastra Arab yang ada. Hal ini menunjukkan tidak adanya perhatian terhadap ilmu pengetahuan perbandingan sastra. 

Sekarang kita berada di era globalisasi yang mau tidak mau kita akan sering bersinggungan atau bersentuhan dengan peradaban-peradaban lain di dunia. Seharusnya menjadi sebuah kesempatan bagi para pakar sastra Arab untuk melakukan kajian-kajian dengan memperbandingkan sastra Arab dengan yang lain, sebesar apa pengaruh sastra Arab bagi kebudayaan lain dan sebagainya. Ini perlu dilakukan akan agar kita tahu adakah kontribusi sastra Arab terhadap peradaban dunia. Jangan sampai ada salah paham bahwa sastra Arab hanya sastra yang bersifat lokal, bukan internasional.

Pada saat Najib Mahfuz menerima sebuah hadiah nobel pada tahun 1988 mata dunia internasional mulai melirik dan tertarik mempelajari sastra Arab. Hal ini sebagai bantahan bagi mereka yang mengatakan bahwa kebesaran suatu sastra tidak bergantung pada hadiah nobel. Padahal dengan perolehan tersebut dapat membuat penulis dan sastra yang tadinya nasional dapat dikenal di dunia internasional.

Kemajuan dan Kemunduran Sastra Arab

Awal kemunduran kebudayaan Arab dimulai pada masa Mamluk dan Utsmani yang saat itu para penyair hanya focus pada satu bentuk dan ekspresi tanpa mengembangkan potensi untuk berinovasi membuat kreasi sastra yang baru. Akhirnya kelihaian berbahasa mengalami degradasi.Terlebih lagi di Suriah bahkan tidak ditemukan karya sastra dalam bentuk novel yang bermunculan karena para penulis mengalami kesulitan ketika mencari penerbit yang berminat. Setidaknya muncul satu karya sastra dalam kurun waktu lima tahun. Ini jumlah yang sangat sedikit. (ath thanthawy 166-167).

Pada masa kekaisaran Utsmani saat itu menjadikan bahasa Turki sebagai bahasa resmi pemerintahan. Belum lagi adanya banyak gerakan-gerakan politik yang tidak stabil sehingga sektor pendidikan dikesampingkan oleh pemerintah. Imbasnya adalah kebudayaan Arab semakin menurun termasuk sastra Arab. Karya-karya tidak ada yang diterbitkan, merasa puas dengan kejayaan masa lalu, tidak ada pembaruan sastra, dan masih meniru gaya lama. Demikianlah keadaan masa kemunduran sastra Arab yang terjadi abad 18 M. Banyak puisi Arab saat itu yeng menerapkan gara akrobatik dalam pembuatannya, yaitu dengan cara menyamakan huruf awalan dan akhiran yang biasa ditemui di ilmu Badi’. Kondisi seperti ini menurut Eco, salah seorang linguis Italia menyebutnya dengan istilah “sebuah dusta struktural”.

Hubungan Sastra Arab dengan Barat

Salah satu ciri sastra yang hidup adalah sastra yang terus menjalin interaksi dengan sastra lain. Salah satu ciri sastra dikatakan telah mati atau tidak berkembang adalah ketika ia hanya puas dengan pencapaiannya sendiri dan hanya fokus dalam lingkup wilayahnya sendiri. Hal ini lah yang menjadikan sastra Arab terus melakukan interaksi dengan sastra lain sejak awal pertumbuhannya hingga sekarang. 

Seperti yang telah kita diketahui, dalam sejarahnya, bangsa Arab telah banyak mengadopsi peradaban Aramaik di Suriah yang saat itu dipengaruhi oleh Yunani. Di negara lain yaitu, Irak yang dipengaruhi Persia, bangsa Arab juga melakukan hal yang sama. Selanjutnya bangsa Arab mulai menerjemahkan karya-karya Aristoteles yang menjadi rujukan utama ilmu balaghah, dan karya-karya lain seperti Persia dan India. Salah seorang kritikus sastra, yaitu Qudamah bin Ja’far menulis buku Naqd al-Syi’ri yang menjelaskan tentang puisi dan cara penyusunannya disertai majaz dan tasybih. Buku ini terinspirasi dari karya-karya Aristoteles yang kemudian diadopsi ke dalam sastra Arab. Selanjutnya ia menulis buku Naqd al-Nasri yang menerapkan pemikiran cilsafat Aristoteles ke dalam kaidah sastra Arab. Proyek akulturasi ini selanjutnya diikuti oleh al-Jurjani dan Ibn al-Asir.

Tak hanya itu, al-Jahiz (776-868) menulis buku al-Bayan wa al-Tabyan yang menjelaskan teori dan istilah dalam ilmu Balaghah yang diadopsi dari pemikiran Plato. Buku Kalilah wa Dimnah karya Ibnu Muqaffa juga memberikan andil yang besar bagi sastra dunia. Buku ini hasil terjemahan dari bahasa Persi yang kemudian diterjemahkan kembali dari bahasa Arab ke bahasa yang lain, seperti Inggris, Turki, Yunani, Itali, Ibrani, Spanyol kuno, Latin kuno, dan latin pertengahan. Inilah gambaran hubungan sastra Arab dengan sastra Barat yang begitu erat. Akulturasi yang menciptakan inovasi dan kreasi yang baru sehingga sastra Arab dapat dikatakan hidup dengan adanya interaksi dengan peradaban sastra asing.

Pengaruh Sastra Arab Terhadap Sastra Barat

Sebuah interaksi memang sudah sepantasnya terjadi pengaruh dalam prosesnya, demikian juga sastra Arab dengan sastra asing, karena terjalinnya hubungan yang memang sudah sangat lama. Contoh misalnya bangsa Eropa di abad pertengahan. Saat itu mereka tengah mencari-cari patokan dalam memajukan bangsanya. Maka bangsa Arab adalah hasil pencarian mereka di saat bangsa Arab mengalami masa keemasannya. Namun di era modern justru kebalikannya. Bangsa Arab lebih banyak meniru bangsa Eropa. Menurut Lucien Portier, Arab-Islam pernah memberikan pengaruh terhadap karya sastrawan Itali Dante Alighieri -Divine Comedia- yang ditulis pada 1302-1321, terlebih lagi cerita Isra’ Mi’raj.

Kasidah Burdah adalah karya sastra monumental hasil tulisan al-Bushiry pada abad 13 masehi. Karya ini memuat puisi Panjang yang menceritakan kisah perjalanan hidup dan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW yang telah menjadi tokoh paling dikenal di kalangan Muslim maupun non-Muslim sehingga karya ini mendapat sambutan luar biasa dari orang-orang Barat dan popular selama berabad-abad bahkan hingga saat ini. Bahkan kasidah Burdah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain di dunia seperti Inggris, Belanda, Spanyol, Turki, Cina, Urdu, Jerman, Italia, Prancis, Italia, dan lain-lain. 

Sastra Arab juga memberikan pengaruh terhadap Rusia, terutama pada karya Mikhail Yureivich Lermontov (1814-1841) yang merasa kagum dengan kehidupan bangsa Arab. Hal ini pernah dikaji oleh Makarim Ahmad al-Ghamri. Pengaruh sastra Arab terhadap Prancis terhitung sangat besar. Bahkan memberikan pengaruh yang lebih besar daripada bangsa Eropa lainnya. Menurut Samiyah Ahmad As’ad, pengaruh sastra Arab terhadap Prancis ini dapat diketahui dari tulisan berjudul Le Fou d’Elsa karya Aragon seorang penyair Prancis. Tulisan tersebut sangat mirip dengan cerita Laila Majnun.

Catatan Hayyam Abu al-Husein mengatakan bahwa cerita seribu satu malam atau Alfu Lailah wa Lailah telah memberikan pengaruh yang besar sejak awal abad 19. Karya ini mulai diterjemahkan ke berbagai bahasa Eropa sejak tahun 1704 dan menjadi panutan bagi sastrawan Eropa dalam menciptakan karya sastra. Seperti seorang penulis Itali, Boccacio, menulis seratus cerita yang ternyata hasil inspirasi dari karya Alfu Lailah wa Lailah. Bahkan Gibb mengatakan bahwa bangsa Eropa takkan pernah bisa menikmati dua novel, yaitu Gullver’s Trvels dan Robins Karzou, jika karya Alfu Lailah wa Lailah belum pernah ada sebelumnya.

Novel dengan judul Robinson Crusoe karya Daniel de Foe seorang sastrawan Inggris juga terdapat kesamaan dalam alur dan penokohannya yang mirip dengan novel Hayy bin Yaqzhan karya Ibnu Thufail yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani tahun 1439, dan bahasa Latin dan Inggris tahun 1708. Bedanya karya Daniel de Foe ini memerankan seorang lelaki yang berwawasan pragmatis dan berpemikiran filosofis sedangan karya  Ibnu Thufail memerankan seorang filosof yang idealis. Sastra Arab juga memberikan pengaruh terhadap kebudayaan Spanyol. Terlihat dari novel heroik Don Quixote karya Cervantes yang tampak kental dengan budaya Islam Spanyol. Novel El Conde Lucanor karya Don John Manuel yang menggambarkan kehidupan budaya Arab di Spanyol menjadi bukti adanya pengaruh bangsa Arab terhadap sastra Spanyol. 

Contoh di atas merupakan beberapa contoh pengaruh sastra Arab terhadap sastra Asing. Juga dapat menjadi bukti bahwa saatra Arab bukanlah sastra nasional saja yang hanya diketahui oleh penduduk dalam wilayah Arab, tapi sastra Arab adalah sastra Internasional yang memberikan pengaruh yang besar bagi bangsa Eropa.

Pengaruh Sastra Barat terhadap Sastra Arab

Di mesir terdapat perkumpulan sastrawan yang bernama Jama’atul Diwan yang didirikan oleh Abdurrahman Syukri, Abbas Mahmud ‘Aqqad, dan Ibrahim Abdul Qadir al-Mazany. Ketiganya adalah sastrawan Arab asal Mesir yang terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran Barat dan termasuk ke dalam kelompok pre-romantics. Jama’atul Diwan ini terpengaruh oleh pandangan Wordsworth yang mengatakan puisi adalah spontanitas yang kuat dan tajam, maka tak heran jika Jama’atul Diwan ini bertemakan keindahan, kemuliaan, kejayaan, dan hal-hal yang berkaitan dengan perasaan.

Di Amerika tepatnya kota New York didirikan perkumpulan sastrawan Arab mahjar yang bernama al-Rabithah Qalamiyah pada tahun 1920 oleh Jibran Khalil Jibran, Michael Nu’aymah, Nasib ‘Aridhah, Rasyid Ayyub, dan Elya Abu Madha. al-Rabithah Qalamiyah lebih condong ke formalism, yaitu faham yang mereduksi teks sastra dari aspek non-sastra. Organisasi ini mengutamakan perhatian pada pembaruan gaya sastra yang tidak terikat dengan tradisi Romantics. Jama’atul Diwan dan al-Rabithah Qalamiyah adalah dua perkumpulan sastra yang menjadi pusat produksi karya sastra Arab modern yang tersebar ke dunia barat dan timur.

Karya sastra Arab Modern yang lain adalah Zaynab karya Muhammad Chussayn Haykal, al-Ayyam karya Thaha Chusayn, Ushfurun minas Syarqi karya Taufiq al-Chakim, dan Adibun fis Suqi karya Umar Fakhuri yang bercerita tentang kehidupan masyarakan Arab modern. Semua penulis dari karya sastra ini memiliki latar belakang pikiran konvergensial antara tradisi Arab dan sastra Barat.  Keadaan sastra Arab modern saat ini terbilang menurun produktivitasnya. Produktivitas teori sastra Arab pada awal pertumbuhannya terbilang sangat cepat, kemudian biasa-biasa saja, dan mengalami kemunduran secara perlahan. Kemudian bangkit Kembali namun bukan dari warisan sejarah terdahulu melainkan adanya pengaruh dari dunia barat. Jadi silahkan dikatakan bahwa teori sastra Arab modern ternyata hasil adopsi dari sastra Eropa, bukan sastra Arab tradisional.

Perbandingan Sastra Arab dengan Sastra Barat

Sastra Barat mulai berkembang setelah mereka mengadopsi sastra Arab dengan cara menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau yang lainnya sehingga tak heran jika sastra Arab dan sastra Barat memiliki banyak kesamaan. Jika kita mendalami kedua hasil karya sastra ini kita akan menemukan bahwa cerita-cerita dalam sastra Arab lebih menampilkan sesuatu yang di luar kebiasaan atau fantastis. Sedangkan cerita dalam sastra Barat sangat berkaitan dengan plot. Penokohan dalam cerita Arab diidentikkan dengan tokoh yang cerdas, bijaksana, tampan, cantik, dan selalu mengalami keberuntungan dalam hidupnya. Sedangkan dalam cerita Barat menampilkan tokoh individu tunggal yabg dikenalkan dengan beberapa kepribadian. Alur cerita sastra Arab bernuansa tidak masuk akal atau magic. Sedangkan alur cerita sastra Barat lebih relistis disertai ketegangan-ketegangan bagi pembacanya. Kita dapat menyimpulkan bahwa perbedaan sastra Barat adalah ia memiliki suasana yang analitis, psikologis, menampilkan permasalahan yang rumit, dan lebih menonjolkan kejadian-kejadian sosial dengan penokohan yang benar-benar hidup.

Dari perbedaan ini, bangsa Arab kemudian mengadopsinya dengan menerjemahkan karya-karya sastra Barat karena adanya pengaruh Barat di sektor pendidikan di daerah Suriah dan Lebanon abad 17. Penerjemahan ini dipelopori oleh Rafa’il Anton Zakhur yang bermigrasi dari Aleppo ke Mesir pada permulaan abad 18 dan dibantu dengan adanya koran, jurnal sastra, dan majalah yang banyak diterbitkan pada waktu itu. Tercatat Hadiqat al-Akhbar, jurnal al-Syarika al-Syahriya, dan jurnal al-Jinan adalah jurnal pertama yang diterbitkan dalam bentuk terjemahan dari bahasa asing.

Kesimpulan

Balaghah dapat dikatakan sebagai seni karena isinya yang menjelaskan tentang bagaiamana membuat kalimat menjadi indah, dan juga dikatakan sebagai teori ilmu karena memuat banyak kaidah-kaidah yang membuat orang yang berkata tidak salah dalam menyampaikan ucapannya.

Dalam perkembangan sastra Arab tentunya mengalami kemajuan dan kemunduran selaknya roda yang berputar. Sastra Arab mengalami kemajuan yang pesat sejak awal pembentukannya namun mengalami kemunduran di masa kekaisaran Utsmani yang kemudian kemundurannya tersebut digantikan oleh sastra Barat. Hal ini disebabkan karena berbagai faktor, seperti politik, kepedulian masyarakat, dan sikap orang-orang Islam yang telah merasa puas dengan kejayaan masa lalu. Dalam perbandingan sastra Arab dan Barat tentu keduanya saling memberikan pengaruh. Apalagi karya sastra Arab Kaidah Burdah dan Alfu Lailah wa Lailah yang telah melegenda di kancah Internasional. Pengaruh ini terjadi akibat adanya interaksi budaya Arab dan budaya Barat disertai dengan era globalisasi yang memudahkan interaksi tersebut.

Baca juga Warga Nahdliyin Kunjungi Khalawi Tertua Kedua Di Sudan

Oleh Lukman Al Khakim. Mahasiswa Universuty of The Holy Quran and Islamic Sciences Omdurman.

Daftar Pustaka

‘Abbud, ’Abduh. 1999. Al-Adab al-Muqāran: Musykilāt wa Āfāq. Kairo: Ittihād al-Kuttāb al-‘Arab.

’Iwad}, t.t.: http://www.wata.cc/forums/showthread.php?

Abbas, Ihsan. 1977. Malāmih Yūnāniyyah fi al-Adab al-‘Arabiy. Beirut: al-Mu`assasah al-‘Arabiyyah li al-Dirāsāt wa al-Nasyr.

Al-Fakhuri, Hanna. 1986. Al-Jāmi’ fī Tārīkh al-Adab al-‘Arabiy al-Adab al-Qadīm. Beirut: Dār al-Jīl.

Al-Ghamri, Makarim Ahmad. 1983. “Mu`atsirāt Syarqiyyah fi`sy-Syi’r ar-Rusi” dalam al-Adab al-Muqāran, jilid I, dalam Fushul –majalah kritik sastra-, Kairo, edisi 3, No. 3 April-Juni.

Al-Husein, Hayyam Abu. 1983. “Alfu Lailah wa Lailah fi al-Masrah al-Faransi” dalam al-Adab al-Muqāran, jilid I, dalam Fushul (Majalah Kritik Sastra), Kairo, edisi 3, No. 3 April–Juni.

Ali, Jawwad. 1993. Al-Mufashshal fī Tārikhi al-‘Arab qabla al-Islām, jilid. 2. Bagdad: T.tp.

Al-Rabi’i, Mahmud. 1983. Maqālāt Naqdiyyah. Kairo: Maktabah al-Syabāb.

Al-Su’ud, Fakhri Abu. 1997. Fī al-Adab al-Muqāran wa Maqālāt Ukhrā. Kairo: al-Hai`ah al-Mishriyah al-’Āmmah li al-Kuttāb.

As’ad, Samiyah Ahmad. 1983. “Qirā`ah fī Majnūn Ilza” dalam al-Adab al-Muqāran, jilid I, dalam Fushul (Majalah Kritik Sastra) Kairo, edisi 3, No. 3 April–Juni.

as-Sayyid, Syafi’. Nazhariyyatul-Adab, Dirdsatun fil Maddrisin Naqdiyyatil Chaditsah. Maktabatul-Adab, al-Qahirah.

asy-Syak’ah.Musthafa,1974. Al-Adabu, Maukibul-Chadhdratil-Isldmiyyah. Darul Kitabil Lubnany, Bayrut,

ath-Thanthawy, ‘Aly. 1992. Fikrun wa Mabdchitsun.Darul-Manarah, Jeddah.

Badawi, M.M. 1975. Modern Arabic Poetry. Cambridge University Press, Cambridge.

Belsey, Catherine. 1980. Critical Practice. Methuen&Co., London and New York.

Cachia, Pierre. 1990. An Overview of Modern Arabic Literature. Edinburg University Press.

Cantarino, Vincente. 1975. Arabic Poetics in The Golden Age. EJ. Brill, Leiden.

Dhif, Syauqi (ed.). T.t. An-Naqd. Kairo: Dār al-Ma’ārif.

Global Arabic Encyclopedia (al-Mausū’ah al-’Arabiyyah al-’Âlamiyyah). 2004.

Hartoko Dick dan B. Rahmanto. 1986. Pemandu di Dunia Sastra. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Hilal, Muhammad Ghanimi. 2003. Al-Adab al-Muqāran. Kairo: Nahdhatu Mishra.

Hitti, Philip K. History of The Arab. 2005. terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Jarim, Ali dan Musthafa, Al-Balaghah al-Wadhihah, maktabah al-Mishriyah, Cairo, Egypt, 1989

Moosa, Matti. 1997. The Origin of Modern Arabic Fiction. America: Lynne Rienner Publisher.

Musthafa, Kamal (ed.). 1978. Naqdu al-Syi’ri li Abi al-Faraj Qudamah bin Ja’far. Kairo: Maktabah al-Khaniji.

Nasr, Seyyed Hossein. 1994. Menjelajah Dunia Modern. Terjemahan dari A Young Muslim’s Guide to the Modern World. Mizan, Bandung.

Portier, Lucien. 1983. “Maudhū’ al-Mashādir al-Islāmiyyah li al-Kumedia al-Ilāhiyyah, dalam al-Adab al-Muqāran, jilid I, dalam Fushul (Majalah Kritik Sastra), Kairo, edisi 3, No. 3 April–Juni.

Scholes, Robert. 1977. Structuralism in Literature. Yale Upiversity Press,New Haven and London.

Wellek, Rene & Austin Warren. 1993. Teori Kesusasteraan, terj. Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.

Tinggalkan Balasan