Dialog Pribumisasi Islam antara Agama dan Budaya Nusantara

0
55
views
Dialog agama dan budaya
Dialog agama dan budaya Ngopi Aktual Lakpesdam

PCINUSUDAN.COM – Pembahasan seputar agama dan budaya selalu menjadi topik yang eksis karena keduanya memiliki peran penting dalam dinamika sosial kemasyarakatan. Kali ini Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia ( LAKPESDAM) PCINU Sudan mengadakan acara Ngopi Aktual pada hari kamis (17/3) bertempat di halaman Wisma PCINU Sudan dengan tema “Pribumisasi Islam; Buah Dialog antara Agama dan Budaya” dalam rangka mengulas dan memperdalam kembali urgensi antar keduanya.

Hadir sebagai Pemantik Pertama, Kyai Ali Rif’an Khudlori, B.S. (A’wan Syuriyah PCINU Sudan), Ustazah Mala Himmah Ulya (Ketua PPPI Sudan) sebagai pemantik kedua, dan Ustazah Mubarokatul Auliya (Sekretaris Muslimat NU Sudan) sebagai moderator, serta hadir pula K.H. Ribut Nur Huda, M.A. (Mustasyar PCINU Sudan) dalam acara yang berlangsung lancar dan aman tanpa ada hambatan yang berarti ini.

Antusiasme para peserta berupa komentar, tambahan, bahkan kritik materi hadir turut andil dalam menyemarakkan acara ngopi aktual kali ini.

Acara ini terbagi beberapa sesi. Sesi pertama pembukaan, sesi kedua penjabaran materi dari tiap pemantik yang kemudian moderator menyimpulkan, sesi ketiga berupa tambahan materi dari peserta, selanjutnya sesi tanggapan, dan terakhir sesi penutup dan doa oleh K.H. Khafidzul Umam, M.A. (Rais Syuriyah PCINU Sudan).

Hasil dari Diskusi Ngopi Aktual

Definisi dari budaya adalah suatu kebiasaan dalam masyarakat yang bersifat kompleks. Secara historis sekitar abad 14-16 M., Walisongo mampu mengakulturasikan antara agama dan budaya, seperti tradisi mengganti hewan sapi dengan kerbau untuk disembelih sebagai bentuk penghormatan terhadap masyarakat Hindu yang menganggap sapi merupakan hewan suci, tradisi alat luku (bajak) pacul yang memiliki 10 bagian, masing-masing memiliki makna filosofis Islam mendalam, dan sebagainya. Hal ini merupakan bentuk manifestasi kehidupan Islam melalui tradisi dan budaya lokal. Dalam artian, keduanya tidak mengalami reduksi sehingga satu sama lain tidak bersifat dominatif.

Pribumisasi Islam
Sumber gambar: bincangsyariah.com

Melalui pendekatan analisis historis Walisongo, muncullah gagasan istilah konsep Pribumisasi Islam terkait dengan terma Islam Nusantara yang oleh K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Adapun alasan tidak memakai istilah Domestikasi Islam karena terdapat unsur politik berupa penjinakan sikap dan pengebirian pendirian yang langsung tertuju pada budaya lokal Nusantara, sedangkan sesuatu yang terpaksa akan sulit diterima.

Pribumisasi merupakan perwujudan Islam melalui pendekatan koordinat animisme-dinamisme tradisi terhadap budaya lokal Nusantara. Standarisasi syariat terhadap suatu adat budaya yang telah tercantum dalam rumusan kaidah Ushul Fikih yang berbunyi:

المعروف عرفا كالمشروط شرطا والثابت بالعرف كالثابت بالنص

“Yang baik menurut adat-kebiasaan adalah sama nilainya dengan syarat yang harus dipenuhi, dan yang mantap benar dalam adat-kebiasaan adalah sama nilainya dengan yang mantap benar dalam nash”.

Faktor gagasan Pribumisasi Islam muncul karena semakin maraknya fenomena keislaman di Indonesia yang justru mereduksi budaya dan tradisi lokal dengan dalih Islam adalah Arab, sehingga menolak bentuk keislaman lokal yang mana merupakan bentuk manifestasi universalisme Islam.

Oleh karena itu, urgensi akan gagasan Pribumisasi Islam terkait terma Islam Nusantara wajib terus kita galakkan karena budaya tanpa agama tidak mempunyai makna, sementara agama tanpa budaya tidak akan bisa diaktualisasikan.//(Aazliansyah)

Baca juga Menuju Pribumisasi Islam: Antara Indonesia dan Sudan dalam Seminar Internasional

Tinggalkan Balasan