Gerakan LDNU Sudan Menggali Potensi Pendakwah Nahdliyin Sudan

0
63
views

PCINUSUDAN.COM – Dalam rangka menggali potensi sumber daya pendakwah, LDNU Sudan mengadakan pelatihan dakwah dengan mengusung tema “Aktualisasi Dakwah NU, Road to Creative Society” yang dilaksanakan pada Selasa (22/3) di halaman Wisma PCINU Sudan. Acara ini cukup sukses, terbukti dengan antusias peserta yang menghadiri pelatihan yang dimulai 18:30 CAT tersebut.

Pelatihan ini dibagi menjadi tiga pertemuan; pertemuan pertama LDNU Sudan mengangkat sub tema “Pengantar Ilmu Dakwah dan Sejarah Perkembangannya” dengan mengundang KH. Khafidzul Umam B.Sh. (Rais Syuriah PCINU Sudan) dan Kiai Ribut Nur Huda, MA. (Mustasyar PCINU Sudan). Selanjutnya, LDNU akan mengadakan pertemuan kedua dan ketiga di hari dengan sub tema yang berbeda-beda. Pertemuan kedua akan mengangkat tema “Metode dan Media Berdakwah”, sedangkan pertemuan ketiganya akan mengangkat tema “Retorika dan Materi Dakwah”. Diharapkan dari rangkaian acara ini akan melahirkan pendakwah NU yang berkualitas dan berkompeten.

KH. Khafidzul Umam sebagai pemateri pertama menyampaikan bahwa menjadi seorang pendakwah di era sekarang dituntut untuk bijak dalam menyampaikan permasalahan-permasalahan yang muttafaq dan mukhtalaf alaih, mengamalkan apa yang didakwahkan, sabar, menjaga muru’ah, tingkah laku, retorika, kepercayaan diri, dan wibawa ajaran Islam.

“Tak hanya itu, pendakwah juga dituntut cermat dalam memilih diksi dan menyesuaikan isi materi sesuai dengan golongan objek dakwah (bangsawan, pemerintah, masyarakat umum, munafik, dan ahli maksiat). Terakhir, seorang pendakwah harus bisa mengevaluasi kegiatan dakwahnya,” tutur beliau.

Kemudian acara dilanjutkan dengan penyampaian kedua dimana Kiai Ribut Nur Huda sebagai pemateri menyampaikan bahwa seorang pendakwah harus menjaga diri serta terus meningkatkan kemampuan retorika, mampu menjadi pendidik, pengingat umat, sabar, menata cara pandang, serta tadarruj dalam menyampaikan dakwahnya (bertahap, menyampaikan yang mudah sebelum yang susah, dan menyampaikan hal ushuli sebelum furu’i).

“Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam pernah diancam dan diperangi karena melawan oligarki dan kapitalisme Jahiliyah yang terjadi di masyarakat Makkah. Beliau bisa membaca konteks permasalahan aktual dan tidak menghilangkan ruh dakwah dengan tetap menyertakan dalil di setiap permasalahan,” tutur beliau.

Baca juga: Demonstrasi dalam Legalitas Syariat

Perihal dakwah dan politik, Kiai Ribut mengutip perkataan salah satu masyayikh Sudan “Agama sebagai dasar, dan politik sebagai pengawal”. Hal ini sebagai tanda betapa besarnya kontribusi Kerajaan Sinar dalam menjaga eksistensi Mazhab Maliki di Negara Sudan.

Adapun dalam hal finansial, beliau sangat menegaskan bahwa menjadi seorang pendakwah harus bisa mandiri sehingga tidak bergantung dari bisyaroh dari jamaah. Beliau menuturkan cerita ketika Ning Allisa Wahid dan KH. Sahal Mahfudz menolak bisyaroh dan malah menyarankan untuk disalurkan ke kas NU, sungguh sangat baik untuk dijadikan contoh.

“Bicaralah dengan perkataan Rasulullah saw., dengan pemahaman ulama dan berbasis aktual,” tutur Mustasyar PCINU Sudan tersebut yang berbicara tentang keilmiahan isi dakwah.

Sudah semestinya khotbah-khotbah tidak lagi menjadi obat tidur, melainkan berbasis kontekstual dan bisa menjawab permasalahan umat. Beliau sangat terinspirasi dengan salah satu anggota DPD di Jawa Tengah yang memantik problematika kurangnya generasi petani muda dengan mengadakan lomba pembuatan khotbah dengan tema pertanian.

Di termin pertanyaan, cukup banyak pertanyaan yang ditanyakan peserta. Di antaranya adalah salah seorang peserta yang bertanya kepada Kiai Ribut perihal pendakwah yang merasa selera humornya rendah, langkah apa yang harus ia tempuh. Beliau menjawab agar tidak memaksakan dan memperbaiki kualitas konten dakwahnya. Berdakwah di kalangan masyarakat bawah juga dianjurkan menggunakan bahasa yang ringan dan menghindari penggunaan bahasa-bahasa ilmiah yang sulit dipahami.//(Arif Susanto)

Tinggalkan Balasan